
Beast tiba tiba juga menjadi tokoh favorit Rayan sejak Alana mengatakan keduanya sama. Rayan bahkan diam diam selalu menonton serial Disney itu tanpa sepengetahuan Alana. Rayan sebenarnya sedikit merasa miris karna tampangnya yang ganteng disamakan dengan monster buruk rupa berbadan tinggi besar juga berbulu itu.
Rayan menghela napas. Tatapanya terus tertuju pada laptopnya yang sedang memutar serial disney itu.
“Beast.. Seram tapi mengagumkan. Lalu aku? apa seseram Beast juga?” Rayan bergumam bertanya tanya sendiri. Rayan merasa tokoh Beast sangatlah jelek dan tidak pantas disandingkan denganya. Tapi posisi belle tidak jauh berbeda dengan Alana. Belle berada disamping Beast demi menyelamatkan ayahnya. Yang artinya awalnya Belle tentu terpaksa berada disamping Beast.
“Tuan.”
Rayan tersentak saat mendengar suara Luky. Pria itu mengeryit karna Luky tidak mengetuk pintu terlebih dulu sebelum masuk kedalam ruanganya.
“Saya sudah beberapa kali mengetuk pintu tapi anda tidak menyaut tuan. Maaf kalau saya lancang.” Kata Luky menjelaskan.
Rayan menghela napas. Luky tidak mungkin bohong. Mungkin karna terlalu fokus menatap setiap adegan Beast dan Belle sampai suara ketukan pintu tidak bisa masuk ke indra pendengaranya.
“Oke, Ada apa?”
Luky hendak menjawab namun terdiam begitu mendengar alunan lagu yang dinyanyikan tokoh Belle dari laptopnya. Hal itu membuat Rayan sedikit salah tingkah dan segera mengecilkan volume laptopnya.
“Luky..” Panggil Rayan dengan nada menuntut.
“Ah ya tuan, maaf. Ada dokter Tirta didepan. Beliau mencari anda.”
“Dokter Tirta?”
Rayan sedikit merasa penasaran. Dokter Tirta adalah salah satu temanya saat diuniversitas dilondon. Dokter Tirta juga adalah salah satu teman dekat Rayan dulu dan mungkin sampai sekarang.
“Ya tuan.” Angguk Luky sopan.
Rayan tampak berpikir. Dokter Tirta adalah orang yang sangat padat jadwalnya. Selain memiliki rumah sakit sendiri, dokter Tirta juga memiliki beberapa cabang bisnis yang membuatnya tidak bisa bersantai barang sejenak saja.
“Kalau begitu ajak dia kemari sekarang.” Kata Rayan memerintah Luky.
“Baik tuan.” Lagi, Luky menganggukan kepalanya. Luky segera berlalu menjemput dokter Tirta untuk menghadap langsung pada Rayan yang sedikit kebingungan namun juga penasaran dengan kedatangan tiba tiba dokter muda itu.
Tidak lama Luky kembali masuk ke dalam ruangan Rayan dengan dokter Tirta yang berada di belakangnya. Dokter berdarah chinese itu tidak lupa berterimakasih pada Luky yang sudah mengantarnya sampai masuk kedalam ruang kerja Rayan.
Rayan bangkit dari duduknya menyambut kedatangan teman lamanya.
“Rayan..” Dokter Tirta tersenyum menatap Rayan yang begitu gagah berdiri di seberangnya.
“Dokter Tirta, seorang dokter muda dengan segudang prestasi ada apakah gerangan datang tiba tiba tanpa lebih dulu memberitahu?”
Dokter Tirta terkekeh mendengarnya. Pria itu kemudian melepaskan kaca mata yang dikenakanya.
“Ada yang ingin aku tanyakan Rayan.” Katanya tanpa basa basi.
Rayan mengeryit.
“Ah ya? tentang apa itu?”
“Ini tentang Sakura.”
__ADS_1
Rayan terdiam sesaat. Entah apa yang ingin dipertanyakan oleh dokter tampan itu sehingga tampak begitu sangat serius.
“Duduklah.” Titah Rayan.
Dokter Tirta mengangguk. Dokter Tirta melangkah mendekat pada Rayan dan mendudukan dirinya tepat dikursi didepan meja kerja Rayan. Dokter Tirta mengeryit ketika mendengar dialog Belle dan Beast.
“Beauty and the Beast?” Tanyanya pada Rayan.
Rayan langsung mematikan laptopnya kemudian duduk kembali dikursi kebesaranya.
“Eemm.. Hanya untuk mengisi waktu luang saja. Menghibur diri.”
Dokter Tirta mengangkat sebelah alisnya. Lucu sekali rasanya jika memang Rayan mencari hiburan dengan menonton serial Disney princess.
“Tadi apa yang ingin kamu tanyakan tentang Sakura?” Rayan bertanya lebih dulu agar Dokter Tirta tidak membahas panjang lebar tentang Beauty and the Beast yang di tontonya.
Dokter Tirta menganggukan kepalanya. Pria itu meraih pulpen milik Rayan dan memainkan dijarinya.
“Kemarin aku melihat wanita yang sangat mirip dengan Sakura dirumah sakit.”
Rayan langsung mengerti dengan apa yang dimaksud dokter Tirta. Rayan memang menyuruh pak Lim untuk mengantar Alana kerumah sakit milik dokter Tirta.
“Aku bahkan sempat menanyakan tentang kamu pada wanita itu.”
“Lalu apa yang dia jawab?” Tanya Rayan penasaran.
Dokter Tirta menggelengkan kepalanya.
Rayan menghela napas. Entah kenapa Rayan merasa sangat kecewa.
“Dia istriku Tir, aku yang menyuruh pak Lim mengantarnya kerumah sakit milikmu.”
Dokter Tirta terkejut mendengar itu.
“Istrimu? kapan kalian menikah? dan kenapa tidak mengundangku?”
“Kamu sedang diparis saat itu.” Jawab Rayan singkat.
“Tentang pernikahan kami ceritanya sangat panjang.”
“Aku siap mendengarkan.” Saut dokter Tirta cepat.
Rayan tertawa pelan.
“Sayangnya aku sedang tidak mood untuk bercerita. Kapan kapan saja.”
Dokter Tirta berdecak.
“Apa kamu menganggapnya Sakura?”
Rayan menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
“Tidak. Dia sangat berbeda dengan Sakura. Aku menganggapnya sebagai Alana, bukan Sakura.” Jawab Rayan santai.
Dokter Tirta menatap tidak percaya pada Rayan. Dokter Tirta juga mengenal Sakura. Dan dokter Tirta juga tau bagaimana perjalanan cinta Rayan dan Sakura dulu.
“Rayan aku serius bertanya, dimana kamu bertemu dengan wanita itu?” Tanya dokter Tirta tidak bisa menyembunyikan rasa penasaranya.
Rayan terdiam sesaat.
“Di depan gerbang rumahku.” Jawab Rayan jujur.
“Apa?” Sekali lagi dokter Tirta terkejut.
“Tapi bagaimana mungkin?”
Rayan mengedikkan kedua bahunya.
“Tidak ada yang tidak mungkin kalau tuhan sudah menghendaki.” Jawabnya santai.
“Aku tau itu. Tapi tiba tiba ada wanita mirip Sakura didepan gerbang rumahmu apa tidak membuatmu terkejut?”
Rayan tersenyum tipis. Rayan tidak terkejut. Rayan justru langsung menganggap Alana adalah Sakura yang kembali untuknya saat itu. Rayan langsung menyekapnya kemudian menikahinya secara paksa.
“Sejak kapan kalian berdua kenal?”
“Belum lama ini.” Jawab Rayan.
“Bagaimana bisa kalian menikah begitu singkat setelah perkenalan.”
Rayan hanya tertawa. Jika menjawab jujur dokter Tirta pasti akan menganggapnya gila. Menyekap seorang wanita hanya karna wanita itu mirip dengan mendiang kekasihnya kemudian menikahinya secara paksa. Rayan juga rela memberikan upah secara cuma cuma pada ibu Alana demi mendapat persetujuan dari ibu Alana.
“Jangan menyakitinya Rayan. Dia bukan Sakura.” Kata dokter Tirta mengingatkan.
“Aku tidak akan menyakitinya Tir. Aku mencintainya sekarang.”
“Sekarang? Apa itu artinya dulu tidak?”
Rayan enggan menjawab. Rayan yakin tanpa menjawab pun otak cerdas dokter Tirta bisa menebaknya dengan benar.
“Kenapa jadi membahasnya sampai panjang lebar? Ah ngomong ngomong bagaimana kabarmu Tir?”
Dokter Tirta tersenyum. Rayan mengalihkan topik pembicaraan.
“Seperti yang kamu lihat, aku baik.” Jawab dokter Tirta.
“Syukurlah kalau begitu.” Angguk Rayan.
“Tapi Ray, aku melihat datanya dirumah sakit dia memeriksakan diri kedokter kandungan. Apa dia sedang hamil?” Tanya dokter Tirta kembali mengungkit tentang Alana.
Rayan menghela napas. Rayan tidak ingin membahas apapun tentang awal mula hubunganya dan Alana terbentuk.
“Do'akan saja yang terbaik ya Tir.”
__ADS_1