Aku Bukan Pengganti

Aku Bukan Pengganti
Episode 51


__ADS_3

Siang ini Alana dan Rayan berniat untuk membersihkan villa bersama. Meski itu sedikit memberatkan untuk Rayan namun Rayan juga tidak mungkin menolak keinginan istrinya. Hampir 4 hari bersama tanpa pelayanan dari para pekerjanya membuat Rayan merasa sedikit lelah. Rayan harus melakukan semuanya sendiri dan sekarang dirinya harus membantu Alana membersihkan villa yang sudah mulai terlihat dipenuhi debu dimana mana.


“Kita harusnya bersenang senang disini Alana bukan bekerja seperti ini.”


Alana tertawa pelan. Alana tau mungkin hari ini adalah kali pertama Rayan mengerjakan pekerjaan rumah seperti itu.


“Jangan manja tuan. Tidak ada pelayan disini. Ayo kita lakukan sekarang.” Senyum Alana menyodorkan sapu pada Rayan. Sedang dirinya membawa alat untuk mengepel.


“Tapi..”


“Aku akan memberikan hadiah untukmu nanti.” Sela Alana terus tersenyum menatap Rayan.


Rayan mengeryit.


“Apa hadiahnya?” Tanyanya penasaran.


Alana tersenyum lebar. Wanita itu kemudian berjinjit membisikkan sesuatu pada Rayan yang berhasil membuat Rayan tersenyum.


“Selamat bekerja suamiku.” Kata Alana kemudian berlalu menjauh dari Rayan.


Rayan terdiam sesaat kemudian tertawa pelan. Pria itu menggelengkan kepalanya. Alana wanita pertama yang berani menyuruhnya untuk mengerjakan pekerjaan rumah.


“Oke Rayan. Lakukan demi hadiahnya.” Gumam Rayan kemudian mulai mengerjakan tugasnya menyapu lantai.


Cukup lama keduanya berkutat membersihkan villa. Rayan merasa sangat lucu. Tujuanya untuk honeymoon adalah menghabiskan waktu bersama Alana untuk bersenang senang. Tapi setibanya di villa mereka berdua malah harus hidup tanpa pelayanan dari para pelayan. Alana dan Rayan melakukan semuanya sendiri bahkan sampai harus membersihkan villa.


------


Di sisi lain tepatnya tidak jauh dari kediaman Rayan Dion terus berdiri. Pria itu menghela napas merasa sedikit frustasi. Beberapa hari terus datang dan mengawasi kediaman Rayan namun Dion tidak kunjung melihat sosok Alana.


Dion berdecak. Alana menghilang begitu tiba tiba dan Dion sama sekali tidak bisa melacak keberadaanya.


“Apa mungkin Rayan mengurung Alana? Tapi kenapa?”

__ADS_1


Dion tampak berpikir. Selama ini Alana begitu bebas dan rasanya tidak mungkin jika Rayan mengurung Alana. Tapi dugaan itu semakin kuat karna Alana sama sekali tidak pernah terlihat disekitar rumah mewah itu.


“Aku harus cari tau lebih detail.” Gumam Dion sambil membuang batang rokok yang masih panjang miliknya kemudian menginjaknya.


Dion kemudian masuk kedalam mobilnya dan berlalu dari tempat itu. Selama kepergian Alana dan Rayan Dion memang selalu rutin datang dan mengawasi kediaman mewah Rayan karna ingin selalu melihat aktivitas Alana.


CIIITTTT


Dion menginjak rem mobilnya mendadak begitu sampai didepan gerbang kompleks perumahan mewah tempat Rayan dan Alana tinggal. Pria itu sangat terkejut saat melihat mobil mewah yang melaju cepat kearahnya dan hampir saja bertabrakan denganya. Beruntung Dion bisa dengan sigap menghentikan mobilnya meski kerja jantungnya menjadi 2 kali lipat lebih cepat dari biasanya.


“SITT !!” Umpat Dion kesal.


Dion kemudian turun dari mobilnya menatap penuh rasa kesal pada mobil mewah yang terus saja melaju tanpa perduli dengan apa yang sudah dilakukanya.


“Brengsek !!” Dion kembali mengumpat. Tanganya terasa sangat gatal ingin meninju siapa saja yang mengendarai mobil mewah itu. Entah dimana para satpam kompleks yang berjaga sehingga bisa membiarkan pengendara ugal ugalan seperti itu masuk dengan bebas.


Deringan hp dalam saku celana bahan warna hitam yang dikenakan Dion semakin membuat Emosi pria itu memuncak. Dion merogoh saku celananya meraih benda pipih yang terus berdering itu.


Dion memejamkan kedua matanya mencoba menahan emosinya melihat nama Michelle yang tertera dilayar hp miliknya.


Sedang didalam mobil mewah yang hampir saja bertabrakan dengan Dion tadi ternyata ada Sechil yang sedang mengemudikan dengan begitu santai. Sechil memang suka ugal ugalan saat mengendarai mobil maupun motor. Gadis belia itu sangat arogan dan tidak perduli dengan apapun disekitarnya.


Tidak lama mobil sport yang dikendarai Sechil sampai tepat didepan gerbang kediaman Rayan. Dengan sangat tidak sabaran Sechil berkali kali membunyikan Klakson padahal pak satpam sedang berusaha secepat mungkin membukakan pintu gerbang untuknya.


“Dasar lelet !” Umpatnya berdecak sebal.


Sechil kembali melajukan mobilnya begitu gerbang terbuka dan lagi lagi gadis itu melajukan-nya dengan sangat cepat. Pak satpam yang melihat itu hanya bisa geleng geleng kepala saja. Tingkah adik dari tuan-nya memang sangat keterlaluan.


“Darimana saja kamu Sechil ! Mommy bingung mencari informasi tentang keberadaan kakak kamu tapi kamu malah pergi seenaknya dan tidak jelas.” Mommy Rayan naik darah saat melihat Sechil dengan santainya turun dari mobil sport milik Rayan. Mobil yang menjadi salah satu koleksi favorit pria tampan itu.


Sechil memutar jengah kedua bola matanya. Pencarian Rayan dan Alana beberapa hari ini memang tidak pernah ada hasil. Detektif yang disewa Caterine tidak kunjung bisa mengendus keberadaan keduanya.


“Ayolah mom jangan marah marah sama aku.. Mungkin mom salah menyewa detektif. Mungkin dia kurang profesional.”

__ADS_1


Kedua mata Caterine melebar. Sechil begitu berani melawan-nya.


“Sechil kamu..”


“Mom please.. Aku capek dan aku mau istirahat.” Sela Sechil kemudian melenggang berlalu begitu saja tanpa mau mendengar apa yang ingin dikatakan Caterine padanya.


“Sechil !!”


Sechil melambaikan tanganya tidak perduli dengan teriakan Caterine. Gadis itu dengan santainya melangkah meninggalkan mommy-nya yang masih dikuasai oleh amarah.


Sechil memang tidak pernah memandang bulu bersikap pada siapapun. Gadis itu akan berbuat seenaknya selama menurutnya itu benar.


Sechil hendak masuk kedalam kamarnya ketika melirik kearah tangga yang menuju lantai 3. Gadis itu terdiam sesaat sebelum akhirnya mengurungkan niat untuk masuk kedalam kamar yang ditempatinya.


Sechil melangkah menuju tangga dan menaiki satu persatu anak tangga itu. Ketika sampai dilantai 3 Sechil langsung melangkah menuju kamar Rayan dan Alana.


“Apa apaan ini !! Luky, kamu tidak bisa seenaknya. Ini rumah anak saya !”


Sechil yang sudah memegang handle pintu kamar Rayan dan Alana mengeryit mendengar teriakan penuh kekesalan Caterine. Gadis itu menghela napas kesal kemudian mengurungkan niatnya membuka pintu kamar Rayan dan Alana.


“Ada apa sih?” Sechil mendesah frustasi. Mommy-nya selalu saja bertingkah berlebihan.


“Apa yang anda lakukan disini nona?”


Suara Luky membuat Sechil menoleh dengan cepat. Sechil mengangkat sebelah alisnya menatap Luky yang melangkah mendekat kearahnya dengan Caterine yang mengikuti dari belakang juga beberapa pria yang Sechil tidak tau siapa.


“Siapa kamu berani bertanya seperti itu padaku? Ini rumah kakak ku. Jadi terserah apa yang aku lakukan disini.” Sechil berkata dengan santai menatap Luky yang berdiri menjulang didepanya dengan tatapan meremehkan.


“Sebelum pergi tuan menitipkan keamanan rumah ini pada saya nona. Jadi segala apa yang ada dirumah ini adalah tanggung jawab saya selama tuan tidak ada.”


“Luky kamu..”


“Kalian semua, kerjakan sekarang.” Luky menyela dengan memerintahkan orang orang yang dibawanya agar segera mengerjakan tugas mereka yaitu membangun lift seperti yang pernah Alana inginkan.

__ADS_1


“Baik tuan !!” Balas orang orang itu serentak.


Sechil mengepalkan kedua tanganya. Luky selalu saja membuatnya naik darah.


__ADS_2