Aku Bukan Pengganti

Aku Bukan Pengganti
Episode 117


__ADS_3

Dalam perjalanan yang cukup memakan waktu, Rayan dan Alana sampai. Mereka disambut dengan hangat oleh Fina dan bibi yang diam diam mendekor ruangan utama rumah mewah berlantai 2 itu dengan bunga dan balon warna warni untuk menyambut keduanya.


“Saya dan Rayan sangat terkejut dengan sambutan ini. Terimakasih Fina, bibi.” Senyum Alana menatap keduanya bergantian.


”Sama sama nyonya, kami juga sangat berterimakasih karna tuan dan nyonya masih mau mengajak kami berdua untuk ikut dan bekerja dengan kalian.”


Alana tertawa pelan. Diantara para pekerja yang lain-nya Alana memang lebih dekat dengan Fina dan bibi.


Deringan hp dalam saku jas hitam Rayan membuat Alana menoleh menatap Rayan yang langsung merogoh saku jasnya.


“Siapa?” Tanya Alana penasaran.


“Roky..” Jawab Rayan setelah menilik layar hpnya.


Alana mengeryit. Roky tidak akan menelpon jika tidak ada yang akan dilaporkan.


“Sebentar ya.. Aku angkat telpon-nya dulu.”


“Oke..” Angguk Alana menyetujui.


Rayan kemudian berlalu menuju pintu samping rumah penghubung taman yang memang berada disamping rumahnya. Taman yang dipenuhi bunga dan beberapa pohon yang cukup rindang.


Tepat setelah Rayan menghilang dibalik pintu kaca itu, Sechil dan Ramon masuk kedalam rumah baru Alana dan Rayan. Keduanya melangkah beriringan dengan Ramon yang menggandeng tangan kanan Sechil.


“Kakak...”


Alana tersenyum menatap Sechil dan Ramon yang menghampirinya. Wanita itu merasa sangat lega karna ternyata keduanya mau datang kerumah barunya.


“Aku pikir kalian berdua tidak akan datang.” Ujar Alana.


Sechil tersenyum.


“Kita pasti datang lah kak.. Kita kan juga ingin tau bagaimana rumah baru kakak. Oh iya, kak Rayan mana?”


“Rayan sedang menerima telpon.” Jawab Alana tersenyum.


Sechil menganggukkan kepalanya kemudian meraih tangan Alana. Sechil meminta pada Alana agar mengajak berkeliling dirumah baru yang sebentar lagi akan menjadi tempat tinggal baru Rayan dan Alana nanti.


Sechil sebenarnya merasa sedih. Sechil juga pasti akan merasa sangat kesepian tanpa Rayan dan Alana dirumah itu. Apa lagi sekarang Caterine kembali mengunci diri dikamar mereka.

__ADS_1


Sechil dan Alana berdiri dibalkon kamar Alana dan Rayan. Mereka berdiri berdampingan dengan tatapan lurus kedepan menikmati pemandangan sejuk yang masih sangat asri dan enak dipandang oleh mata.


“Kak, menurut kakak bagaimana kalau aku juga mengikuti Ramon untuk keluar dari rumah?”


Alana menoleh menatap Sechil yang tampak sangat bingung mengambil keputusan. Alana paham mungkin Sechil merasa berat meninggalkan Caterine karna dari kecil Sechil selalu berada disamping Caterine.


“Pada dasarnya seorang istri itu memang wajib mengikuti kemanapun suaminya mengajak. Yah.. Selama itu berada dalam kebaikan. Baik untuk kamu juga suami kamu. Tapi itu semua juga masih harus didiskusikan dengan baik. Jangan sampai nanti kamu menyesal karna Ramon tidak bisa menuruti dan mengabulkan semua yang kamu mau.”


Sechil tertawa. Siapapun pasti menganggapnya tidak akan bisa menerima keadaan Ramon. Padahal sebenarnya sejak mereka pertama menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih dulu Sechil sudah menerima Ramon apa adanya. Sechil mencintai Ramon tanpa memandang status ataupun harta.


“Aku selalu berusaha menyesuaikan diriku dengan keadaan kak. Aku tidak mempermasalahkan apapun pekerjaan Ramon ataupun berapa gaji Ramon kak. Aku tau uang bukan tolok ukur dari kebahagiaan.”


Alana tersenyum dengan anggukan kepalanya. Alana juga tidak menyangka jika ternyata Sechil bisa begitu bijak dalam berbicara.


“Syukurlah kalau memang begitu. Ramon suami yang baik. Dia pasti bisa membuat kalian bahagia.” Ujar Alana sambil menyentuh dan mengusap lembut perut Sechil yang sedikit membuncit.


Sechil tertawa. Semua yang keluar dari bibirnya adalah hasil dari Sechil membeo ucapan Ramon. Alana memang benar, Ramon adalah suami yang baik bahkan sangat bijak dalam menyikapi segala sesuatu.


“Berapa usia kandungan kamu Sechil?” Tanya Alana penasaran karna perut Sechil terlihat lebih besar dari perutnya.


“16 Minggu tiga hari kak.” Jawab Sechil menatap perutnya sendiri dengan penuh rasa bangga.


“17 Minggu.” Jawab Alana singkat.


“Semoga sehat dan lancar sampai persalinan ya kak...”


“He'em.. Kamu juga.” Angguk Alana tersenyum menyetujui harapan besar Sechil yang juga adalah harapan terbesarnya.


 -------


“Ada apa?” Tanya Rayan begitu mengangkat telpon dari Roky.


“Nyonya Caterine tuan.” Saut Roky sedikit ragu.


Rayan menyipitkan kedua matanya. Roky pasti mengetahui sesuatu tentang Caterine.


“Ada apa dengan mommy? Dia baik baik saja kan?”


Helaan napas terdengar dari seberang telpon.

__ADS_1


“Tadi saya mendengar nyonya sedang menelpon tuan Dion tuan. Nyonya Caterine membicarakan tentang alamat rumah baru anda dan nyonya Alana.”


“Apa?!” Kedua mata Rayan membulat mendengarnya. Rayan memang sudah merasa ragu. Tapi mendengar Caterine berkomunikasi dengan Dion membuat Rayan tidak menyangka. Mommy nya sendiri bekerja sama dengan Dion, pria yang berniat merebut Alana darinya.


“Saya sempat merekam sedikit pembicaraan nyonya Caterine dengan tuan Dion tuan. Saya juga sudah mengirimkan pada tuan.”


Rayan langsung memutuskan sambungan telpon-nya. Rayan membuka pesan suara berisi rekaman pembicaraan Caterine dengan Dion yang dikirimkan oleh Roky.


Dengan tangan mengepal erat Rayan mendengarkan obrolan Caterine yang kembali sedang menyusun rencana untuk membuatnya merasa kasihan dan perlahan menghancurkan hubungan-nya dengan Alana. Tidak hanya berniat menghancurkan hubungan rumah tangga Rayan dan Alana saja, ternyata Caterine juga berencana memisahkan Sechil dan Ramon.


“Ya tuhan mommy...” Lirih Rayan dengan penuh penekanan serta rahang mengetat menahan amarah. Beruntung rasa cintanya begitu besar pada Alana sehingga Rayan sangat memprioritaskan kenyamanan wanita itu dan tetap pindah kerumah barunya. Rayan berhasil melawan rasa bimbang dan ragunya berkat rengekan Alana.


Rayan merasakan kedua matanya memanas. Caterine sama sekali tidak berubah seperti apa yang Rayan dan semua orang pikirkan. Caterine masih tetap mempunyai keniatan untuk memisahkan-nya dan Alana bahkan sampai Ramon dan Sechil.


“Kenapa mommy bisa sekejam ini.. Kenapa mommy seperti wanita yang tidak berperasaan..”


Rayan sekuatnya menahan tangis. Meski hatinya terasa sangat teriris tapi Rayan merasa tidak ada gunanya menangisi sikap Caterine yang memang sudah tidak baik dari dulu. Karna Caterine selain seorang penghianat juga seorang ibu yang sangat kejam menurut Rayan. Caterine memanfaatkan-nya demi harta. Bahkan lebih parahnya lagi Caterine berusaha menguasai semua yang Rayan miliki.


“Kak Rayan..”


Rayan tersentak begitu mendengar suara Ramon. Tidak mau Ramon mengetahui dirinya sedang menahan tangis, Rayan terus saja memunggungi Ramon.


“Kapan kamu datang?” Tanya Rayan dengan tatapan lurus kedepan.


“Belum lama kak.” Jawab Ramon.


Rayan mengangguk pelan. Setelah dirasa genangan air dikelopak kedua matanya berkurang, Rayan pun perlahan memutar tubuhnya berhadapan dengan Ramon yang berdiri didepan-nya sekarang.


“Tentang ucapan Sechil kemarin dimeja makan..”


“Sechil benar. Lebih baik kalian keluar dari rumah itu. Cari kehidupan baru diluar sana yang lebih baik.” Sela Rayan cepat.


Ramon terkejut mendengarnya. Secara tidak langsung Rayan sedang menyuruh Ramon dan Sechil agar meninggalkan Caterine.


“Tapi bagaimana dengan mommy kak?” Tanya Ramon bingung.


“Mommy bukan anak kecil. Tidak perlu dikhawatirkan.” Jawab Rayan tegas.


Ramon terdiam. Rayan adalah orang yang sangat baik yang tentu juga sangat menyayangi Caterine mommy nya. Ramon yakin Rayan mempunyai alasan kenapa mengatakan hal demikian.

__ADS_1


__ADS_2