Aku Bukan Pengganti

Aku Bukan Pengganti
Episode 57


__ADS_3

Saat dalam perjalanan menuju restoran yang dituju Rayan terus saja diam. Rayan benar benar sangat terkejut dengan tindakan Alana yang menampar Sechil. Karena semarah apapun Caterine juga Rayan pada Sechil mereka bahkan tidak pernah sekalipun melakukan kekerasan fisik seperti yang baru saja Alana lakukan beberapa menit lalu. Caterine dan Rayan sangat menyayangi gadis itu.


Tidak lama mereka tiba direstoran yang dituju. Memesan menu kemudian makan tanpa berkata apa apa membuat Alana merasa ada yang salah. Wanita itu tau mungkin Rayan keberatan dengan apa yang dilakukanya. Tapi Sechil sudah menghina bahkan menyebutnya dengan sebutan yang sangat rendah. Alana tidak bisa menerimanya.


Alana meletakan sendok dan garpu yang dipegangnya. Wanita itu kemudian meraih segelas air putih dan meminumnya sedikit.


Alana diam, tatapan-nya tertuju pada Rayan yang terus saja fokus dengan makanan-nya. Tidak seperti biasanya Rayan seperti itu. Alana bisa langsung menebak kenapa Rayan bersikap demikian. Rayan pasti keberatan dengan tindakan-nya menampar Sechil.


“Kamu bilang aku tidak boleh lemah. Aku harus bisa menghadapi mommy juga adik kamu.” Alana memulai. Alana tidak mau kediaman Rayan semakin berlarut larut yang tentunya akan jadi masalah diantaranya juga Rayan.


Rayan berhenti mengunyah makanan dalam mulutnya. Saat kata ****** yang Sechil tujukan pada Alana terucap Rayan juga marah sebenarnya. Rayan tidak suka siapapun menghina miliknya.


“Apa yang aku lakukan dengan menjunjung tinggi harga diriku sendiri itu salah Rayan?”


Rayan menatap Alana. Pria itu kemudian menghela napas pelan.


“Lanjutkan dulu makan-nya Alana. Kita bicarakan ini nanti.”


“Aku sudah kenyang dengan diamnya sikap kamu Rayan.” Balas Alana cepat.


Rayan menelan sisa makanan yang sedikit masih berada dimulutnya. Rayan tidak menyadari kali ini bahwa kediaman-nya menyinggung hati sang istri.


Rayan melepaskan alat makan yang dipegangnya kemudian meraih segelas orange jus dan menenggaknya sampai habis. Pria itu menghela napas lagi sembari meletakan gelas kosong bekas orange jus-nya disamping piringnya yang masih penuh oleh makanan.


Sesaat Rayan terdiam. Rayan mencoba memikirkan cara untuk mengatakan sesuatu pada Alana agar tidak lagi menyinggung.


“Kami hidup terpisah Alana. Daddy dan mommy sudah bercerai sejak aku duduk dibangku sekolah dasar. Bisa dikatakan aku ini anak broken home. Keluargaku berantakan. Mommy pergi keluar negeri dengan membawa Sechil yang masih kecil saat itu. Sedang aku? Aku diasuh oleh Daddy. Ibumu dan bibi adalah orang yang juga berjasa dalam hidupku sebenarnya. Dia menyiapkan semua keperluanku.” Rayan mulai menceritakan semuanya dari awal. Pria itu merasa sangat yakin dan percaya pada Alana.


“Saat aku masuk sekolah menengah atas Daddy mengalami kecelakaan yang merenggut nyawanya. Aku terpuruk bahkan hampir putus asa. Tapi lagi lagi hanya ada bibi dan ibumu yang disampingku. Mommy tidak tau dengan kejadian itu. Hingga saat aku beranjak dewasa dan bisa memimpin perusahaan sendiri mommy dan Sechil datang. Aku sangat senang juga bahagia karna masih memiliki mereka sebagai keluarga Alana. Aku menyayangi mereka dengan segala kekuranganya. Mereka memang sama. Judes, keras kepala, bahkan sikapnya juga sombong.”


Alana mendengarkan dengan seksama ucapan panjang lebar Rayan. Alana mencoba menjadi pendengar yang baik untuk suaminya.


“Kamu tau Alana, mommy dan Sechil juga bersikap demikian pada Sakura dulu.” Senyum Rayan.


Alana sedikit terkejut. Alana pikir mereka marah padanya karna menganggap Alana menggantikan sosok Sakura disamping Rayan.


“Tapi bagaimana mungkin?” Tanya Alana tanpa sadar.

__ADS_1


“Kenapa tidak mungkin? Mereka itu egois Alana. Mereka hanya mau aku memperhatikan mereka.” Jawab Rayan tenang.


Alana menggelengkan kepalanya. Prasangka Rayan terhadap mommy dan adiknya terlalu simpel.


“Apa Sakura tidak pernah marah dengan sikap mommy dan Sechil?” Alana kembali bertanya. Kali ini dengan sadar dan rasa ingin tahu yang besar.


Rayan diam sesaat kemudian menggeleng pelan.


“Sakura wanita yang sangat sabar.” Katanya.


Alana menahan napas sejenak kemudian menghembuskanya perlahan. Alana tidak menyangka jika Sakura pun juga mendapat perlakuan yang tidak baik dari keduanya.


“Apa kamu juga hanya diam saat Sechil atau mommy kamu bersikap tidak baik pada Sakura?”


Rayan tertawa pelan.


“Aku jarang melihatnya secara langsung Alana. Aku dan Sakura tinggal terpisah. Kami belum menikah perlu kamu tau. Mereka jarang bertemu. Aku hanya melihatnya lewat CCTV. Itupun saat Sakura datang kerumah.”


Alana mengeryit lagi.


Rayan tersenyum.


“Itu hanya persiapan sebelum kami menikah dulu Alana.” Jawab Rayan pelan.


Alana menatap Rayan aneh. Tapi kemudian pikiran Alana kembali pada sikap diam Rayan tadi.


“Oke, Lalu kenapa dengan diam-mu itu?”


Rayan tidak langsung menjawab. Pria itu menunduk memainkan sendok yang berada dipiring didepan-nya.


“Jujur, aku terkejut dengan tindakan kamu Alana. Aku mengaku aku sempat marah tadi. Tapi setelah aku berpikir dalam diam, mungkin memang Sechil perlu diberi pelajaran.”


Alana mengangguk mengerti. Tindakan-nya memang cukup keterlaluan.


”Sepertinya kamu dan mommy terlalu memanjakan-nya.”


Rayan menatap lagi pada Alana kemudian mengangguk.

__ADS_1


“Ya.. Kami memang selalu memenuhi semua yang dia inginkan.”


“Pantas saja.” Hela napas Alana.


“Lalu apa kamu marah padaku sekarang karna aku menampar adik kesayangan kamu itu?”


Rayan mengeryit. Nada pertanyaan Alana menyiratkan ketidak sukaan.


“Jangan berlebihan Alana. Aku memang menyayanginya. Dia adikku satu satunya. Tapi kamu juga tanggung jawab penuhku. Aku tidak marah. Selama kamu melakukanya dengan alasan yang jelas lagi tidak keterluan aku bisa mengerti. Harga dirimu juga adalah harga mati untukku.”


Jawaban yang Rayan lontakan membuat senyuman dibibir Alana mengembang. Wanita itu kemudian kembali menyantap makanan-nya yang sudah dingin karna terlalu lama diabaikan.


“Tadi katanya sudah kenyang.” Sindir Rayan.


“Laper lagi karna kamu tersenyum.” Ujar Alana asal.


Rayan tertawa dengan kepala menggeleng. Pria itu merasa lega karna bisa menceritakan semuanya pada Alana. Mungkin memang kesabaran Rayan akan sangat diuji dengan masalah yang akan timbul antara istri, mommy, juga adiknya. Emosinya juga mungkin akan naik turun layaknya wahana roller coaster. Tapi Rayan juga yakin Alana tidak akan berbuat sesuatu tanpa sebab.


Setelah selesai makan malamnya Rayan mengajak Alana pulang. Tapi Alana menolak. Alana meminta agar Rayan mengajaknya jalan jalan keliling mall terdekat lebih dulu.


“Alana sebenarnya apa yang ingin kamu beli? ini sudah malam dan kita sudah keliling mall lebih dari 1 jam.”


Alana mencebikkan bibirnya mendengar pertanyaan Rayan. Wanita itu sebenarnya tidak ingin membeli apapun. Alana hanya malas saja jika harus berdebat lagi dengan Sechil atau Caterine.


“Heh lihat, bukankah itu tuan Rayan? dia sedang bersama istrinya yang katanya sengaja mengubah wajahnya demi bisa seperti Sakura, mendiang kekasihnya.”


Alana menoleh cepat mendengar suara seseorang tidak jauh dari sampingnya. Disana banyak wanita yang berkumpul dan berbisik bisik sambil menatapnya menilai nilai. Alana kemudian menoleh pada Rayan yang ada disamping kirinya.


“Kamu dengar itu?” Tanya Alana pada Rayan.


Rayan menatap kearah sekumpulan wanita yang langsung melambaikan tangan menggodanya. Itu membuat Alana mendelik sebal. Wanita wanita itu berani menggoda Rayan didepanya.


“Hey apa itu? Mereka menggoda suamiku.” Protes Alana hendak mendekat namun Rayan langsung memeluk pinggangnya menahan Alana.


“Akan aku bereskan nanti. Jangan mempermalukanku.” Bisik Rayan membuat Alana berdecak.


Rayan kemudian menggendong Alana dan membawanya berlalu membuat sekumpulan wanita itu merasa iri bahkan ada yang sampai menggigit jari.

__ADS_1


__ADS_2