
Semenjak kehamilan-nya terkuak, Sechil menjadi pendiam. Sechil bahkan terus mengurung dirinya dikamar dan tidak akan mau makan jika Rayan tidak membujuk dan menyuapinya. Sementara Caterine, sekalipun wanita itu tidak pernah memperdulikan Sechil. Caterine sibuk dengan aktivitasnya sendiri dan tidak pernah mau tau apa yang terjadi pada Sechil.
“Kamu harus makan yang banyak. Biar kamu sehat juga anak kamu..” Senyum Rayan saat Sechil menerima suapan darinya.
Sechil hanya diam saja. Tatapan-nya terus lurus kedepan juga kosong. Gadis itu seperti sudah tidak lagi punya semangat hidup.
Alana yang duduk disofa dikamar Sechil hanya bisa diam menatap Rayan yang begitu telaten menyuapi Sechil. Alana bisa melihat betapa besar kasih sayang Rayan untuk Sechil. Sayangnya kasih sayang itu tidak pernah dilihat dan selalu dimanfaatkan oleh Sechil maupun Caterine.
Alana menghela napas. Caterine sama sekali tidak perduli pada Sechil seminggu ini. Wanita itu menengok Sechil dikamarnya saja tidak pernah, apa lagi memperhatikan-nya.
“Kak..” Sechil memanggil Rayan dengan suara lirih juga serak. Gadis itu terlihat kucel dengan rambut berantakan. Pipinya yang biasanya chuby terlihat sangat tirus sehingga tulang pipinya sangat menonjol.
“Iya.. Kenapa? Kamu mau sesuatu?” Saut Rayan bertanya dengan sangat penuh perhatian.
Sechil kemudian menatap pada Rayan sebentar setelah itu menatap pada Alana yang duduk disofa diseberang ranjang yang menjadi tempat duduknya.
“Apa mommy tidak ada dirumah?” Tanya Sechil masih dengan suaranya yang sangat lirih.
Rayan diam sesaat. Caterine tidak pernah keluar rumah. Tapi Caterine tidak pernah mau melihat Sechil beberapa hari terkahir ini. Tepatnya sejak mereka pulang dari rumah sakit memeriksakan kandungan Sechil.
“Kak.. Apa mommy sudah tidak lagi menyayangiku?”
Rayan memejamkan kedua matanya. Rayan tidak bisa menjawab pertanyaan Sechil. Karna Rayan sendiri beberapa kali melihat Caterine menangis dalam diam. Rayan tau Caterine sangat terpukul dengan kehamilan Sechil.
“Apa aku harus turutin mau mommy untuk menggugurkan kandunganku supaya mommy sayang lagi padaku kak?”
Rayan menatap sendu pada Sechil. Sejak kecil Caterine sangat memanjakan Sechil, wajar jika gadis itu merasa sangat kehilangan karna Caterine tidak sedang perduli padanya.
“Sechil, dengar kakak. Kalau kamu menggugurkan janin dalam kandungan kamu, kamu akan sangat berdosa. Janin dalam kandungan kamu tidak bersalah.” Rayan meraih pipi tirus Sechil dan membelainya lembut. Adiknya terlihat sangat malang sekarang.
__ADS_1
“Tapi dia anak haram kak..” Tangis Sechil menggelengkan kepalanya.
Rayan menggeleng, menolak kata anak haram yang Sechil lontarkan.
“Semua janin bahkan bayi yang baru lahir itu suci Sechil. Yang salah itu apa yang kamu lakukan. Pertahankan dan jaga baik baik janin ini. Kakak akan terus berusaha mencari keberadaan Ramon.”
Bahu Sechil bergetar. Sechil sendiri tidak tau siapa ayah dari janin yang dikandungnya sekarang. Menuduh Ramon sebagai ayahnya mungkin hanya akan ditertawakan. Tapi jika Sechil jujur, Rayan juga pasti akan menyalahkan-nya.
Tanpa sadar Alana meneteskan air matanya namun dengan cepat Alana menghapusnya. Alana pernah merasakan bagaimana rasanya sakit karna merasa tidak diperdulikan. Tepatnya saat Alana tidak bisa keluar dari sekapan Rayan dan ibunya yang tidak pernah datang untuk menolongnya bahkan malah menerima harta dari Rayan seperti menjualnya. Tapi kemudian Alana mengerti. Itu hanya kesalah fahaman.
“Kamu ingin sesuatu Sechil?” Rayan bertanya dengan sangat pelan berusaha mengalihkan kesedihan Sechil.
Sechil menggelengkan kepalanya.
“Aku hanya ingin mommy memelukku kak. Aku kangen sama mommy..”
Rayan menghela napas kemudian meletakan piring berisi makanan yang dipegangnya. Rayan kemudian memeluk Sechil, mengusap lembut punggung bergetar adik satu satunya itu.
Setelah Sechil tenang dan berhenti menangis, Rayan pun mengajak Alana keluar dari kamar Sechil. Rayan tidak tau harus bagaimana bersikap pada Caterine yang terus bersikeras agar Sechil menggugurkan kandungan-nya.
“Bagaimana Ramon? Apa masih belum ada kabar?” Tanya Alana membuat Rayan menatapnya.
Mereka berdua duduk diruang tengah diatas sofa panjang dengan posisi berhadapan.
Rayan tersenyum lembut. Pria itu membelai lembut pipi chuby Alana. Alana terlihat semakin berisi sejak hamil. Meski setiap pagi Rayan harus menguatkan hatinya melihat Alana yang muntah muntah. Dan dokter bilang itu hal yang sangat wajar diusia kehamilan yang masih sangat muda.
“Dia kabur keluar kota. Tapi Luky bilang hari ini juga orang orang nya akan membawa Ramon kesini.” Jawab Rayan.
Alana menganggukan kepalanya. Wanita itu kemudian menundukan kepalanya. Tanganya mengusap lembut perutnya sendiri yang masih terlihat rata.
__ADS_1
“Pada Sechil mommy tidak mau menganggap janin dalam kandungan-nya cucu. Mommy bahkan meminta untuk Sechil menggugurkan kandungan-nya.”
Alana menjeda sejenak ucapan-nya. Wanita itu menghela napas membuat Rayan mengeryit.
“Apa mungkin mommy mau menerima anak yang aku kandung ini sebagai cucunya?” Lanjut Alana mengangkat kepalanya dan menatap Rayan dengan wajah sendu.
Rayan tertawa pelan mendengarnya. Pria itu kemudian meraih pinggang Alana mengangkatnya dan mendudukan-nya dengan lembut dipangkuan-nya.
“Wanita yang kuat tidak akan mengkhawatirkan soal itu.” Ujar Rayan menoel ujung hidung mancung Alana membuat bibir Alana mengerucut.
“Alana, meski mommy tidak mau mengakui anak kita sebagai cucu, kan masih ada ibu yang akan sangat menyayanginya. Masih ada bibi dan pelayan lain yang pasti juga akan sangat menyayanginya. Kamu tidak perlu khawatir. Tuhan tidak akan mempersulit jalan orang baik.”
Alana menatap Rayan dengan ekspresi berpikirnya. Ucapan Rayan langsung mengena dihatinya.
Alana melipat kedua tanganya dibawah dada. Tatapanya mengarah lurus kedepan mengabaikan Rayan yang berada didepanya namun dengan posisi menyamping.
“Kenapa?” Tanya Rayan bingung.
“Kamu sudah tidak lagi seperti Beast. Dan jujur, aku sedikit merasa kehilangan.” Kata Alana.
Mendengar itu Rayan langsung meraih wajah Alana dan mengarahkan-nya cepat agar Alana menatapnya. Rayan langsung meraih bibir Alana dan menciumnya dengan sedikit kasar. Rayan bahkan tidak memberikan celah sedikitpun untuk Alana bernapas sehingga Alana harus memukul bahkan mendorong dada bidang Rayan agar ciuman itu terlepas.
“Hey apa yang kamu lakukan Rayan. Kamu memaksaku?!” Alana mendelik pada Rayan yang dengan santai menyenderkan punggungnya disandaran sofa yang didudukinya. Pria itu sama sekali tidak terlihat merasa bersalah setelah membuat Alana hampir kehabisan napas karna ciuman-nya.
“Bukankah kamu bilang kamu merasa kehilangan sosok seperti beast yang pemaksa hem? Perlu kamu tau Alana, aku bahkan lebih hebat dari tokoh disney itu.” Jawab Rayan santai.
Alana menyipitkan kedua matanya merasa sangat kesal. Saat hendak membuka mulut untuk berkata, hp Rayan yang berada diatas meja kaca didepan sofa berdering. Rayan mengangkat tanganya memberi kode agar Alana tidak dulu berbicara apapun kemudian meraih hp miliknya.
“Ya Luky...” Rayan mengangkat telpon yang ternyata dari Luky.
__ADS_1
“Tuan saya sudah dalam perjalanan menuju rumah anda. Ramon sudah ada bersama saya.”