
“Semuanya sudah selesai. Aku sudah melaksanakan perintah kedua orang tuaku.” Ujar Juita saat mereka berada diluar gedung tahanan Caterine. Meski sempat ada tangisan drama dari Caterine namun akhirnya semuanya selesai sesuai dengan rencana.
“Sepertinya aku harus pulang ke amerika sore ini juga..” Lanjut Juita.
Rayan dan Luky hanya diam saja. Mereka tidak akan melarang ataupun menahan Juita untuk tinggal lebih lama di jakarta. Keduanya tau Juita punya kesibukan sendiri yang mungkin juga tidak bisa ditinggal.
“Emm.. Juita, kamu sudah jauh jauh datang dari amerika kejakarta hanya untuk menyelesaikan apa yang sebenarnya bisa diselesaikan hanya lewat sambungan telepon saja.”
Rayan dan Luky langsung menoleh pada Alana yang tiba tiba bersuara. Alana tampak terlihat sangat tenang seperti biasanya.
“Bagaimana kalau malam ini kamu dan Luky datang kerumah. Kita makan malam bersama.” Tawar Alana membuat Rayan mengeryit bingung juga tidak percaya.
“Kamu mengundang aku?” Tanya Juita menunjuk dirinya sendiri.
Alana menganggukan kepala dengan senyuman yang terukir dibibirnya. Sekarang Alana yakin bahwa Juita memang tidak tertarik pada suaminya. Alana juga yakin Juita tidak berada di pihak Caterine yang selalu menyalahkan-nya.
“Ah ya, sebelumnya kita belum berkenalan. Aku Alana.. Istri Rayan.” Alana mengulurkan tangan-nya memperkenalkan diri dengan bangga sebagai istri sah Rayan.
Juita terdiam. Juita menatap tangan Alana yang masih mengudara menunggu sambutan tangan-nya. Juita tidak mengerti kenapa Caterine bisa begitu sangat membenci orang sebaik Alana.
“Oke, Aku Juita. Jujur aku tidak tau kamu dan mommy Cat ada masalah apa. But, aku yakin kamu pasti orang baik.” Senyum Juita menyambut uluran tangan Alana, menjabatnya dengan mantap.
Rayan dan Luky saling menatap kemudian mengedikkan bahu. Sikap Alana memang sedang gampang sekali berubah ubah.
“Ada satu lagi Alana. Aku pikir kamu adalah Sakura.” Lanjut Juita membuat senyuman dibibir Alana langsung sirna.
Alana diam sesaat. Wanita itu kemudian menghela napas mencoba untuk meredam rasa yang hampir saja menyentuh emosi yang pasti akan langsung menguasainya.
“Bukan. Aku Alana.” Balas Alana kembali mengukir senyuman manis dibibirnya.
Juita mengangguk anggukan kepalanya kemudian melepaskan jabatan tangan-nya. Mereka kemudian membubarkan diri. Alana dengan Rayan, sedangkan Juita dengan Luky.
“Sepertinya Juita memang orang baik.”
__ADS_1
Rayan tersenyum dengan pandangan terus tertuju kedepan kearah jalanan ramai yang siang itu dilewatinya bersama Alana.
“Kenapa kamu tidak mau dijodohkan dengan dia Rayan? Sepertinya kalian sudah saling mengenal bahkan sejak kamu masih bersama Sakura.” Lanjut Alana lagi.
Rayan menghela napas.
“Tidak semua orang baik bisa kita terima sebagai pasangan Alana. Baik juga belum tentu cocok dengan kita.” Balas Rayan.
Alana tersenyum mendengarnya.
“Bagaimana denganku? Apa aku baik dimata kamu?” Tanya Alana kemudian.
Rayan tertawa mendengarnya. Pria tampan itu menggelengkan kepalanya tidak habis pikir dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh istrinya itu.
“Aku tidak bisa mengatakan kamu sangat baik karna kamu juga punya kekurangan. Tapi hati aku mengatakan bahwa kamu yang paling pantas mendampingi aku. Melengkapiku, juga menjadi ibu dari anak anakku.” Jawab Rayan dengan senyuman yang tersungging dibibirnya.
Alana tertawa pelan. Baik saja memang tidak cukup untuk membuat seseorang menjatuhkan pilihan.
“Kita makan siang dulu ya sebelum aku antar kamu pulang.” Kata Rayan ketika menghentikan mobilnya karna saat itu lampu merah sedang menyala.
Rayan mengajak Alana kerestoran untuk makan siang lebih dulu sebelum mengantarnya pulang.
------
Sementara itu dirumah kontrakan-nya Sechil baru saja selesai beres beres. Cukup melelahkan memang menurut Sechil mengingat dirinya yang tidak pernah sekalipun turun tangan sendiri mengerjakan pekerjaan rumah. Bahkan Sechil hanya berpangku tangan saat menginginkan apapun yang pasti akan selalu dituruti oleh Rayan.
Sechil mendudukan dirinya dikursi diruang tamu sempit rumah kontrakan-nya. Senyuman dibibirnya terukir mengigat masa lalunya. Sechil tidak pernah merasakan capeknya berusaha namun selalu mendapatkan apa yang dia inginkan. Dan lagi lagi itu semua karna Rayan yang selalu memanjakan dan menuruti segala apa yang Sechil inginkan. Mulai dari mobil bahkan sampai semua kebutuhan-nya.
“Kakak.. Aku nggak tau bagaimana jadinya aku kalau nggak punya kakak..” Gumam Sechil lirih.
Sechil tau dirinya dan Rayan beda ayah. Kekayaan yang Rayan miliki sama sekali tidak ada campur tangan dari siapapun. Semuanya murni milik Rayan yang diwariskan oleh Richard, daddy Rayan. Bahkan Caterine yang adalah ibu kandungnya juga tidak memiliki hak apapun atas harta yang Rayan miliki. Dan hebatnya Rayan tidak pernah menyombongkan diri. Rayan selalu membagi apa yang dia punya. Rayan bahkan memenuhi semua kebutuhan-nya dan Caterine.
Sechil menyeka peluh yang membasahi keningnya. Jika mengingat masa lalunya Sechil merasa dalam dirinya tidak ada satupun kebaikan. Sechil merasa begitu jahat dan buruk. Sechil juga merasa tidak pantas mendapat kebaikan dari Rayan.
__ADS_1
Suara deringan hp yang berasal dari kamar membuat lamunan Sechil buyar. Sechil menghela napas. Rasanya tubuhnya sangat lemas setelah membereskan rumah. Apa lagi Sechil juga baru selesai menyikat kamar mandi.
“Ya tuhan... Aku capek sekali..” Katanya mengeluh.
Sechil mengabaikan hp nya yang terus berdering. Sechil yakin jika itu Ramon yang menelpon-nya Ramon akan mengerti. Tapi jika orang lain Sechil tidak akan perduli.
Karna dikuasai rasa lemas dan lelah, pelan pelan Sechil mulai memejamkan kedua matanya. Semilir angin yang berasal dari kipas angin yang sengaja Sechil letakan didepan-nya untuk mengusir rasa panas dan gerah pun menjadi pengantarnya memasuki dunia mimpinya.
--------
“Kok nggak diangkat sih?” Dumel Luna karna Sechil tidak kunjung mengangkat telepon darinya.
“Apa aku kirim saja photonya?” Luna tampak berpikir. Luna kemudian menatap pada Ramon yang sedang fokus membaca dengan Claudia yang terus berada disampingnya.
“Tapikan Ramon itu cuma mantan-nya Sechil. Sechil juga sudah punya suami yang pasti kaya dan jauh lebih segalanya dari Ramon.” Katanya terus menatap Ramon dan Claudia.
Luna menghela napas. Meskipun yang Luna tau Sechil sudah menikah dan bukan dengan Ramon, tapi Luna masih berharap keduanya bisa bersatu. Luna tau bagaimana Ramon yang pasti baik untuk Sechil.
“Hhh.. Sudahlah, bukan urusanku juga.” Ujar Luna kemudian berlalu dari tempatnya memperhatikan Ramon dan Claudia.
“Kamu udah makan siang belum?”
Ramon menurunkan buku yang sedang dibacanya kemudian menoleh pada Claudia yang duduk disampingnya.
“Belum sih.. Tapi aku sudah dibawain bekal sama..” Ramon tidak melanjutkan ucapanya. Ramon hampir saja keceplosan mengatakan dengan jujur bahwa dirinya dibawakan bekal oleh Sechil.
“Dibawain bekal sama siapa?” Tanya Claudia penasaran. Siapapun tau Ramon tinggal sendiri dijakarta.
“Emm.. Sama..” Ramon bingung harus menjawab apa karna menjawab jujur tidak mungkin. Sechil tidak ingin teman teman kampusnya tau bahwa mereka sudah menikah. Entah karena apa Ramon sendiri tidak tau.
“Sama?” Tanya Claudia lagi.
“Sama ibu aku.. Ya ibu aku..” Jawab Ramon sekenanya. Berbohong memang tidak baik tapi mendapat kemarahan Sechil juga tidak baik untuk hubungan mereka.
__ADS_1
“Oh begitu..” Angguk Claudia tersenyum tipis.
Ramon tersenyum. Hampir saja Ramon keceplosan membuka tentang hubungan-nya dengan Sechil.