
Begitu sampai dirumah sakit, Sechil langsung mendapatkan penanganan. Dan karena ada sedikit masalah dengan kondisi tubuh Sechil membuat Sechil tidak bisa melahirkan dengan normal. Sechil harus di operasi.
Ramon dan Bastian yang memang hanya bisa berharap dan berdo'a menyerahkan semua yang terbaik atas penanganan Sechil pada dokter.
“Operasinya akan segera kami lakukan tuan tuan.” Ujar dokter yang memang sudah siap dengan semua peralatan dan satu dokter lagi yang akan membantunya menangani Sechil.
Ramon meneteskan air matanya. Ramon benar benar takut sekarang. Bukan tidak percaya dengan kuasa Tuhan. Tapi mengingat Sechil yang hanya manusia biasa dan memiliki batas kemampuan yang Ramon sendiri tidak tau sampai sejauh mana Sechil bisa bertahan.
“Lakukan yang terbaik. Berapapun biayanya itu tidak masalah untuk kami. Tolong selamatkan anak saya dan Sechil.” Ujar Bastian dengan suara bergetar.
Dokter itu mengeryit bingung. Sebelumnya Bastian mengaku sebagai kakak sepupu Sechil dan Ramon. Tapi sekarang, Bastian mengatakan bahwa anak yang sedang Sechil kandung adalah anaknya.
Tapi dokter itu tidak ingin terlalu ikut campur. Yang terpenting baginya adalah keselamatan pasien yang ditanganinya.
“Kami akan berusaha sebisa kami tuan. Mohon bantuan do'anya.”
“Itu pasti dok.” Balas Bastian.
Ramon terduduk lemas dikursi tunggu depan ruangan tempat Sechil akan segera dioperasi. Ramon tidak tau harus bagaimana sekarang. Berdo'a dan menyerahkan semuanya pada Tuhan sudah dia lakukan. Tapi ketakutan-nya tetap saja menguasai hati dan pikiran-nya.
“Saya yakin Sechil akan baik baik saja.”
Bastian menepuk pelan bahu Ramon. Pria itu mendudukan dirinya disamping Ramon sama sama menunggu proses operasi sesar Sechil.
Sepanjang operasi berlangsung, Ramon dan Bastian hanya diam ditempat duduknya. Mereka berdua terus memanjatkan do'a pada Tuhan untuk keselamatan Sechil dan bayinya.
Bastian dan Ramon bahkan sama sekali tidak terpikirkan untuk menghubungi Rayan maupun keluarga Bastian. Yang berada dibenak mereka sekarang hanya Sechil dan bayinya harus baik baik saja.
Proses operasi terasa begitu lama bagi Ramon dan Bastian. Namun selama apapun mereka menunggu, mereka berdua sama sekali tidak berniat beranjak dari tempatnya. Mereka berdua akan menunggu sampai dokter keluar dari ruang operasi dan membawa kabar baik tentang Sechil dan anaknya.
Deringan hp dalam saku celana jins Ramon memecah keheningan antara Ramon dan Bastian. Ramon segera meraih hp nya dan menghela napas begitu mendapati nama Rayan tertera dilayar menyala benda pipih itu.
“Kenapa nggak diangkat?” Tanya Bastian pelan.
__ADS_1
“Kak Rayan yang menelepon. Saya tidak mau membuat kak Rayan khawatir.” Jawab Ramon.
Bastian mengangguk paham. Rayan memang sangat menyayangi Sechil, adik satu satunya.
Setelah menunggu beberapa jam, akhirnya dokter keluar dari ruang operasi. Dokter itu tersenyum ketika Ramon dan Bastian menghadangnya.
“Bagaimana keadaan istri saya dan anak kami dok?”
Lagi, rasa bingung melanda dokter itu. Pasalnya pertanyaan yang Ramon lontarkan seolah mengisyaratkan bahwa anak yang baru saja dilahirkan Sechil adalah anak mereka berdua.
“Eemm.. Maaf, maksud saya bagaimana keadaan istri dan anak saya?” Ramon mengulang lagi pertanyaan-nya dan mengganti kata yang membuat dokter didepan-nya kemudian mengangguk paham.
“Operasinya berjalan lancar tuan. Dan putra anda lahir dengan selamat. Untuk nyonya Sechil, keadaanya sedikit lemah dan membutuhkan perawatan intensif untuk beberapa hari disini.” Jawab dokter.
Ramon tidak tau harus bahagia atau sedih. Bayi yang dikandung Sechil lahir dengan selamat, namun keadaan Sechil cukup memperihatinkan.
“Saya permisi dulu tuan. Anda berdua bisa menjenguk nyonya Sechil nanti setelah nyonya Sechil dipindahkan keruang rawat.” Senyum dokter tersebut sebelum berlalu.
Ramon memejamkan kedua matanya setelah dokter itu berlalu. Tubuhnya melemas dan meluruh perlahan kelantai didepan pintu ruang operasi. Ramon merasa gagal menjaga Sechil sehingga sekarang istrinya harus terbaring kemah diatas brankar setelah berjuang melahirkan putra mereka.
“Nona Sechil akan baik baik saja Ramon. Percaya sama saya. Serahkan semuanya pada Tuhan.” Ujar Ramon membuat Ramon mengangguk pasrah.
Ramon sadar hanya Tuhan yang bisa dia andalkan dalam segala permasalahan hidupnya. Karna manusia hanya bisa berencana dan Tuhan lah yang menghendaki semuanya. Entah itu baik ataupun buruk.
Tidak lama kemudian Sechil dipindahkan keruang rawat. Sedang putranya dan Bastian, dibawa keruang bayi.
Bastian memili untuk menemani putranya yang tertidur dengan pulas. Sedang Ramon, pria itu terus berada disamping Sechil yang menutup kedua matanya dengan damai. Bibirnya begitu pucat, tidak merah alami seperti biasanya.
Setelah dirasa semuanya tenang, Bastian segera menghubungi Rayan juga mamahnya memberitahu bahwa Sechil sudah melahirkan putranya. Bastian juga tidak lupa memberikan alamat rumah sakit tempat Sechil berada sekarang.
--------
“Kamu kenapa?”
__ADS_1
Alana yang sedang menyusui Zoya menatap bingung pada Rayan yang terlihat sangat khawatir setelah menerima telepon dari Bastian.
Rayan langsung menutup laptop dipangkuan-nya kemudian mendekat pada Alana yang duduk bersandar diatas tempat tidur mereka.
“Aku harus kerumah sakit sekarang. Sechil baru saja operasi sesar.” Ujar Rayan memberitahu Alana.
Alana terkejut mendengarnya. Kedua matanya melebar dengan mulut sedikit terbuka.
“Kamu nggak papa kan aku tinggal sebentar?” Tanya Rayan dengan raut kekhawatiran diwajahnya.
Alana menganggukan kepalanya. Alana paham bagaimana Rayan sangat menyayangi Sechil.
“Kamu hati hati dijalan.” Lirih Alana.
“Ya sayang. Aku pergi dulu.”
Rayan meraih kunci mobil yang berada diatas nakas samping tempat tidurnya. Dan sebelum pergi, Rayan mencium kening Alana juga pipi gembul putrinya yang sedang kuat menyusu pada Alana.
Alana menghela napas. Sechil dioperasi itu artinya Sechil tidak baik baik saja. Dan yang menghubungi Rayan bukan Ramon yang penuh kebahagiaan karna anak yang dikandung Sechil telah lahir, tetapi Bastian. Hal itu sudah memperkuat dugaan Alana bahwa kondisi Sechil sekarang memang tidak dalam keadaan baik.
Sedangkan Rayan, pria itu berlarian menuju lift. Dan waktu yang tidak sampai 5 menit didalam lift terasa amat sangat lama menurutnya. Semua itu tentu saja karna rasa cemasnya akan keadaan adik semata wayangnya sekarang.
“Sechil.. Kamu harus baik baik saja..” Gumam Rayan.
Begitu pintu lift terbuka, Rayan segera melangkah keluar dengan cepat. Ketika tidak sengaja berpapasan dengan Sari, Rayan menyempatkan diri untuk pamit dan menitipkan Alana juga Zoya pada wanita itu.
“Memangnya kamu mau kemana nak? Ini sudah malam..”
“Iya bu.. Tapi saya harus kerumah sakit sekarang. Sechil, dia baru saja selesai operasi dan Bastian baru memberi kabar sekarang.” Jawab Rayan dengan wajah sendu.
Sari terkejut mendengarnya. Sechil dan Ramon memang jarang datang berkunjung kerumah Rayan.
“Ya sudah bu.. Saya titip Alana sama Zoya ya.. Saya pergi dulu.”
__ADS_1
“Ya nak, kamu hati hati. Kalau ada apa apa kabari ibu..” Balas Sari yang diangguki oleh Rayan.
Sari menatap Rayan yang melangkah cepat bahkan sedikit berlari menjauh darinya. Sari bisa melihat betapa Rayan sangat menyayangi Sechil meski tau Sechil bukan anak dari daddy nya.