
Sechil bangkit dari duduknya melangkah pelan menuju pintu untuk membukanya.
“Aku tau kamu pasti hari ini pulang...” Ucapan Sechil menggantung begitu melihat siapa yang berdiri didepan-nya. Dugaan-nya salah. Bukan Ramon yang berada dibalik pintu. Tapi Bastian dan seorang wanita yang sangat mirip dengan-nya. Sechil tidak tau itu siapa, karna Sechil belum pernah sekalipun bertemu dengan orang orang yang dekat dengan Bastian selain Cleo.
“Halo nona Sechil...” Sapa mamah Bastian Ramah.
Sechil terdiam sesaat. Sechil melirik Bastian yang ada disamping wanita itu sebentar.
“Boleh kami berdua masuk nona?” Tanya mamah Bastian dengan lembut.
Sechil langsung terlihat salah tingkah dengan pertanyaan mamah Bastian.
“Ah ya... silahkan masuk nyonya..” Katanya mempersilahkan.
Mamah Bastian tersenyum kemudian masuk kedalam rumah kontrakan Sechil dengan senyuman yang terus terukir dibibirnya. Mamah Bastian bahkan duduk dikursi tanpa Sechil mempersilahkan lebih dulu.
“Nona maaf.. Saya tidak bermaksud membawa mamah saya kesini..” Ujar Bastian pada Sechil didepan pintu.
Sechil hanya diam dan menghela napas saja. Sechil enggan membalas apapun yang Bastian katakan karna keterkejutan-nya atas kedatangan mamah Bastian yang tiba tiba.
“Saya sudah memberitahu Ramon akan datang tadi siang.” Tambah Bastian.
“Silahkan kamu juga duduk dulu. Aku akan buatkan minum.” Ujar Sechil kemudian berlalu masuk kedalam.
Bastian berdecak. Pria itu kemudian ikut masuk kedalam rumah Sechil dan Ramon. Bastian mendudukan dirinya disamping sang mamah yang begitu tenang.
“Ini rumah mereka sendiri?” Tanya mamah Bastian pelan.
“Enggak mah. Ramon dan nona Sechil ngontrak.”
Mamah Bastian mengangguk mengerti. Mamah Bastian tau siapa Rayanza Gilbert. Dan melihat langsung bagaimana tempat tinggal Sechil, adik semata wayang Rayan membuat mamah Bastian merasa salut.
“Mamah yakin Cleo tidak akan mau diajak hidup sederhana seperti ini Bastian.” Katanya tiba tiba menyinggung tentang Cleo.
Bastian mengeryit mendengarnya.
“Apa maksud mamah?”
“Oh tidak, tidak ada maksud apa apa. Hanya seandainya saja Bastian.” Tawa mamah Bastian menatap putra tunggal kesayangan-nya itu.
__ADS_1
Tidak lama Sechil datang dengan membawa nampan dimana diatasnya terdapat dua cangkir yang diatasnya mengepulkan asap. Ya, Sechil membuatkan teh hangat untuk Bastian dan mamahnya.
“Silahkan nyonya.. Maaf hanya ini yang bisa saya suguhkan.” Ujar Sechil membuat mamah Bastian tertawa.
“Saya suka teh hangat disore hari seperti ini nona.” Balasnya.
Sechil tersenyum dan mengangguk pelan. Sechil kemudian duduk disamping kursi panjang yang diduduki Bastian dan mamahnya.
“Nyonya apa kabar?” Sechil bertanya berusaha untuk sekedar basa basi pada orang tua Bastian yang baru kali ini dilihatnya.
“Kabar saya selalu baik nona. Eemm.. Bisa tolong nona duduk disamping saya saja? Jangan terlalu jauh seperti itu.”
Sechil tergagap. Lagi, Sechil menatap Bastian yang hanya diam saja.
“Kemari nona. Supaya kita bisa lebih dekat.”
“Ah iya.. iya nyonya..”
Sechil dengan pelan dan hati hati bangkit kemudian berpindah duduk disamping mamah Bastian dengan bantuan mamah Bastian.
“Pelan pelan nak..” Ujarnya penuh perhatian.
“Sayang, bisa tolong kamu pindah duduknya? Disini sempit ada kamu.”
Bastian mendelik mendengar apa yang dikatakan mamahnya. Bastian segera bangkit dan menunduk menatap tubuhnya sebentar. Bastian tidak mungkin membuat sempit hanya dengan tubuh kekarnya.
Sechil yang juga mendengar itu diam diam tertawa.
Bastian kemudian mengalah dan duduk dikursi tunggal yang ada diseberang kursi yang tadi diduduki oleh Sechil.
“Kamu tidak perlu memanggil saya dengan sebutan nyonya. Kamu bisa memanggil saya mamah Aliya saja.” Ujar mamah Bastian membuat Sechil kembali terkejut. namun Sechil bisa segera menguasai keterkejutan-nya itu.
“Nyonya tapi..”
“Saya yakin kalau kamu tetap memanggil saya nyonya, cucu saya juga akan memanggil saya dengan sebutan nyonya. Dan itu pasti akan sangat menyedihkan.” Mamah Bastian menyela apa yang ingin diucapkan Sechil dengan pelan. Hal itu membuat Sechil langsung diam.
“Sechil.. walaupun kamu tidak bisa menjadi istri Bastian tapi kamu sedang mengandung anak Bastian, cucu mamah. Jadi tolong jangan bersikap seperti pada orang lain ke mamah..”
Sechil gelagapan sendiri. Kali ini bahkan mamah Bastian menyebut namanya dengan begitu akrab dan mengajari Sechil agar terbiasa memanggil mamah dengan menyebut dirinya sendiri mamah saat berbicara padanya.
__ADS_1
Sedang Bastian, pria itu hanya diam dan sama sekali tidak berkomentar. Mamahnya pasti akan mencibirnya jika ikut ikutan berbicara saat sang mamah sedang fokus berbicara pada Sechil.
“Sechil, mamah tidak akan mengganggu hubungan rumah tangga kamu dengan Ramon suami kamu. Mamah kesini hanya ingin kenal dan menjalin hubungan baik dengan kamu juga Ramon. Ya mungkin seperti hubungan anak dan orang tuanya. Supaya jika anak ini lahir nanti dia tidak bingung.”
Mamah Bastian berbicara dengan mengusap lembut perut Sechil yang langsung mendapat respon dari janin yang dikandung Sechil.
“Lihat, bahkan dia mengenali mamah sebagai omanya.” Antusias mamah Bastian tersenyum lebar.
Sechil ikut tersenyum. Sechil menatap Bastian yang juga menatapnya kemudian mengangguk. Sechil melakukan-nya demi anak dalam kandungan-nya. Agar anaknya tidak bingung dengan keadaan-nya dan Bastian yang memiliki pasangan masing masing.
“Baiklah, mamah aliya. Semuanya demi anak ini..” Senyum Sechil menatap mamah Bastian.
Mamah Bastian tersenyum merasa sangat bahagia kemudian memeluk Sechil. Wanita itu merasa sangat menyayangi Sechil, wanita dengan segala kesederhanaan yang berhasil mencuri cinta dihatinya hanya dengan bertatap muka saja.
Bastian yang melihat itu tersenyum. Bastian bersyukur pada Tuhan karna mempermudah jalan-nya untuk bertanggung jawab pada anaknya tanpa harus menikahi Sechil.
Saat itu juga Ramon pulang yang tidak langsung disadari oleh Sechil, Bastian juga mamahnya. Ramon sempat bingung melihat mamah Bastian dan Sechil berpelukan, namun akhirnya Ramon tersenyum. Ramon yakin apa yang dilihatnya sesuai dengan apa yang dirasakan-nya sekarang.
Ramon mengetuk pintu dengan pelan membuat semua perhatian langsung tertuju padanya. Sechil tersenyum melihatnya kemudian bangkit dari duduknya dengan bantuan dari mamah Bastian yang bahkan sampai dengan sangat perhatian menuntun Sechil mendekat pada Ramon.
Sechil menyalimi Ramon seperti biasanya yang kemudian mendapat ciuman singkat dari Ramon dikeningnya. Mamah Bastian yang melihat keharmonisan hubungan keduanya merasa ikut bahagia.
Ketika Ramon mengulurkan tangan hendak menyalimi mamah Bastian dengan mulut terbuka siap berbicara, mamah Bastian langsung menyela.
“Mamah Aliya, panggil seperti itu.” Katanya.
Ramon terdiam sesaat. Pria itu menoleh pada Sechil yang tersenyum seolah berkata “Aku akan menjelaskan nanti padamu”. Ramon ikut tersenyum kemudian menyalimi mamah Bastian yang sudah menjabat tangan-nya.
“Baiklah, mamah Aliya.” Senyum Ramon menurut.
“Bagus, dengan begini kalian anak mamah Aliya sekarang.” Putus mamah Bastian yang membuat Sechil dan Ramon tertawa.
Bastian ikut tertawa mendengarnya. Mungkin memang lebih baik seperti itu. Meskipun mungkin itu juga akan berdampak buruk pada hubungan-nya dan Cleo, tapi Bastian tau semua yang mamahnya lakukan juga demi kebaikan anaknya dimasa depan.
---------------
Huaa.. Nggak nyangka banget udah 200 episode lebih.. Terimakasih buat kalian yang sudah meluangkan waktunya membaca karya saya ini..
Peluk sayang dari jauh...🥰
__ADS_1