Aku Bukan Pengganti

Aku Bukan Pengganti
Episode 36


__ADS_3

Alana mendengarkan dengan seksama cerita tentang hubungan Rayan dan Sakura dimasa lalu yang diceritakan oleh ibunya. Beberapa kali Alana protes jika mendengar kelakuan Rayan yang memang sangat mirip dengan Beast menurut Alana. Pemaksa juga pemarah.


“Mentang mentang kaya dan tampan dia begitu seenaknya pada wanita.” Dumel Alana.


Sari tertawa pelan mendengar itu.


“Sikapnya memang begitu nak. Sedikit egois mungkin.”


“Sedikit? Ibu bilang sedikit?” Tanya Alana dengan kepala menggeleng.


“Bu.. Jangan karna dia baik pada ibu dan pelayan teman ibu lainya, ibu jadi menganggap keegoisan-nya hanya sedikit. Menurut aku itu sangat egois bu.” Protes Alana lagi.


“Baiklah tuan Rayan sangat egois. Dan itu suami kamu.”


Alana berdecak pelan kemudian menghela napas.


“Akan aku buat dia jadi laki laki yang berhati lembut.” Tekad Alana.


-------


Malamnya.


Rayan menatap bingung pada Alana yang terus saja diam dengan ekspresi datar. Rayan tidak tau apa yang terjadi. Padahal Rayan sudah mengizinkan Alana berkunjung kerumah ibunya.


“Eemmm.. Bagaimana nyetirnya tadi siang?” Tanya Rayan yang tidak tau harus bertanya apa pada Alana.


Alana melirik sebal pada Rayan yang duduk disampingnya. Pria itu dengan tampang polosnya bertanya pada Alana sesuatu yang sebenarnya sudah ditanyakan siang tadi lewat sambungan telpon.


“Aku sudah jawab tentang pertanyaan itu tadi siang Rayan. Jangan konyol.”


Rayan meringis tanpa sepengetahuan Alana.


“Maaf, aku lupa. Kalau begitu bagaimana dengan yang telat 2 hari itu. Apa sudah di cek?”


Alana menoleh cepat pada Rayan yang kali ini berhasil mengenyahkan rasa sebal yang sedang dirasanya.


“Sudah lewat lebih dari 2 hari Rayan. Bahkan seminggu lebih. Bahkan sudah mau sebulan.”


Rayan mengeryit. Ternyata Alana tidak sepintar dan setanggap yang Rayan kira. Padahal Rayan pikir Alana sudah mengeceknya.


Alana langsung bangkit dari duduknya disamping Rayan ditepi ranjang. Alana bahkan mencampakkan begitu saja setangkai mawar merah yang memang selalu Rayan rutin berikan ketika pulang dari bekerja seharian perusahaan-nya.


Alana sibuk membuka semua laci dinakas samping tempat tidurnya juga laci laci yang ada dimeja tempat semua peralatan make up-nya berada. Alana bahkan sampai mengeluarkan semua isi laci itu guna mencari barang yang sedang sangat diperlukan-nya yaitu tespek.


Rayan yang melihat kesibukan istrinya membuka dan mengeluarkan semua isi lacinya hanya bisa menggeleng saja.

__ADS_1


“Ya tuhan...” Alana mengeluh. Dengan kasar menghela napas dan berkacak pinggang dengan tatapan sendu kesemua laci yang sudah dia keluarkan isinya.


“Kenapa?” Tanya Rayan bingung.


“Tespek. Aku tidak punya tespek Rayan.” Jawab Alana frustasi. Padahal Alana pikir dirinya sudah membelinya.


“Lalu?” Tanya Rayan lagi membuat Alana semakin merasa frustasi. Alana merasa suaminya sangat bodoh sekarang.


“Ayolah, bagaimana bisa aku mengeceknya jika tespek saja aku tidak punya. Kamu harus membelikan-nya untukku.”


“Aku? Membelikan tespek untukmu?” Tanya Rayan menunjuk dirinya sendiri.


“Iya. Kamu kan suamiku.” Jawab Alana mantap.


Rayan menggelengkan kepalanya. Alana menyuruhnya membeli tespek. Benar benar sangat konyol.


“Minta saja pelayan yang membeli. Aku tidak mau.” Kata Rayan enteng.


Alana mendelik mendengar ucapan enteng Rayan. Dengan cepat Alana mendekat pada Rayan yang masih berada diposisinya ditepi ranjang tempat mereka tidur. Alana berdiri dengan kedua tangan dilipat dibawah dada menatap Rayan dengan kedua mata menyipit.


“Aku mau kamu yang beli.” Tuntut Alana.


Rayan mendongak menatap Alana yang kini lebih tinggi darinya karna Rayan yang duduk dan Alana berdiri.


“Kenapa harus aku yang beli? Itu cuma tespek. Apa suami juga yang harus membeli malam malam begini?”


“Asal kamu tau Rayan, Beast saja rela terluka oleh serigala hanya demi Belle. Tapi kamu.. Membeli tespek untukku yang tidak membuat kamu terluka saja tidak mau. Suami tidak pengertian.” Kesal Alana.


Rayan mendelik. Lagi lagi Alana menyamakan-nya dengan tokoh Disney monster itu. Tokoh yang katanya sangat Alana kagumi.


“Aku bukan Beast Alana.” Tekan Rayan.


“Ya, tapi kalian sama. Sama sama pemaksa dan pemarah.” Balas Alana menantang.


Rayan berdecak kesal. Alana membuat tensinya sedikit naik kali ini.


“Bagaimana?” Tanya Alana seperti meminta kepastian.


“Bagaimana apanya?” Tanya balik Rayan berusaha menahan emosinya.


“Tespek lah.” Jawab Alana.


Rayan mengepalkan kedua tanganya. Gemas sekali rasanya menghadapi tingkah keras kepala istrinya itu. Rayan seperti sedang melawan bayanganya sendiri yang sama sekali tidak melunak walaupun sudah digertak.


“Kalau kamu tidak mau membelinya, aku akan berangkat sendiri membeli.”

__ADS_1


Menghela napas kasar Rayan kemudian bangkit berdiri. Wajah tampanya memerah menahan kesal pada Alana yang begitu berani memerintahnya membeli tespek.


“Oke, aku yang beli.” Rayan memilih mengalah dari pada Alana pergi sendiri malam malam ke apotek.


Alana tersenyum samar. Alana merasa langkah pertamanya berhasil untuk melembutkan hati suaminya.


“Tapi aku pengin ikut.”


“Apa?!” Rayan mendelik tidak percaya. Sudah menyuruh sekarang minta ikut. Benar benar ngelunjak menurut Rayan.


“Kamu..”


“Please...” Alana meraih tangan besar Rayan menggenggamnya lembut. Tatapan-nya mengarah penuh harapan tepat pada kedua bola mata coklat bening Rayan.


Rayan gusar sekarang. Alana tadi sangat menantangnya membuatnya marah. Tapi sekarang Alana bertingkah manja seperti seekor kucing yang memohon pada majikanya. Dan itu sukses membuat Rayan menjadi tidak tega. Rayan juga tidak sampai hati menolak permintaan ikut Alana.


“Rayan..” Alana menampakkan puppy eyes nya sebagai senjata agar Rayan kasihan dan tidak tega menolak permintaanya.


“Huft. Oke.” Angguk Rayan.


Senyum Alana mengembang mendengarnya. Meski memang Rayan terlihat sangat terpaksa menuruti permintaanya tapi Alana tidak mempermasalahkan-nya. Misinya kali ini untuk melembutkan hati Rayan harus berhasil.


“Tunggu sebentar.” Alana melepaskan genggaman tanganya pada tangan besar Rayan. Kedua kakinya melangkah cepat menuju nakas mengambil hp miliknya kemudian kembali mendekat pada Rayan. Alana bahkan melingkarkan kedua tanganya dilengan kekar Rayan.


“Ayo..” Ajaknya penuh antusias.


“Hem..” Saut Rayan kemudian melangkah dengan Alana yang terus bergelayut manja dilengan kekarnya.


Sepanjang perjalanan menuju apotek, Alana terus saja berceloteh yang tentu tidak ditanggapi oleh Rayan. Rayan bahkan berpikir apakah Alana salah memakan sesuatu saat makan malam tadi sehingga tiba tiba berubah menjadi sangat bawel seperti anak kecil yang baru bisa berbicara.


“Untuk apa beli sebanyak ini Rayan?” Alana menatap tidak percaya pada satu box tespek yang baru diterimanya dari pegawai apotek.


“Biar nggak bolak balik.” Jawab Rayan simpel sambil memberikan uang cash pada pegawai apotek wanita disana.


“Ambil saja kembalianya.” Kata Rayan saat pegawai wanita itu hendak memberikan kembalian.


“Terimakasih tuan.”


Rayan tidak menjawab. Pria itu meraih tangan Alana menuntunya berlalu dari apotek tersebut. Rayan tidak mau sampai keberadaanya dan Alana kembali menjadi pusat perhatian. Itu sebabnya Rayan mengenakan masker agar tidak bisa dikenali oleh orang disekitar mereka.


“Rayan tapi ini..”


“Alana aku sudah turuti mau kamu. Tespek sudah dibeli dan kamu sudah ikut. Jadi tolong, jangan banyak protes.” Sela Rayan tidak mau mendapat bantahan apapun dari Alana kali.


“Iiishh.. Iya iyaa..” Kesal Alana mengerucutkan bibirnya yang tersembunyi dibalik masker yang dikenakanya.

__ADS_1


“Ayo pulang.”


__ADS_2