
Sejak malam itu Cleo tidak lagi mau diajak bertemu dengan Bastian. Cleo bahkan tidak pernah mau mengangkat telepon dari Bastian lagi. Frustasi Bastian rasakan. Tapi Bastian tetap mencoba untuk tenang. Bastian yakin pasti ada jalan keluar dari permasalahan-nya bersama Cleo.
Pagi ini Bastian bermaksud datang kerumah Sechil dan Ramon untuk memberikan susu yang memang sempat dibelinya saat dalam perjalanan pulang dari rumah Cleo semalam. Meski beberapa hari ini Cleo memang menolak bertemu dengan-nya, tapi Bastian tetap yakin Cleo adalah wanita yang cocok untuk menjadi pendamping hidupnya.
“Tentang kamu dan Cleo, mamah aliya sudah menceritakan-nya pada saya juga Sechil.”
Bastian menghela napas mendengar apa yang Ramon katakan. Mamahnya memang mendadak sangat dekat dengan Ramon juga Sechil.
“Bastian, sebelumnya saya minta maaf. Bukan bermaksud melarang kamu untuk perduli pada anak dalam kandungan Sechil. Tapi kamu juga harus memikirkan perasaan Cleo.”
Bastian berdecak pelan. Cleo menyetujuinya saat Bastian mengutarakan niatnya untuk menanggung semua kebutuhan Sechil selama hamil. Tapi sekarang Cleo berubah pikiran dan tiba tiba menjauh darinya.
“Saya tau niat kamu baik Bastian. Tapi mengabaikan perasaan wanita yang kamu cintai juga tidak baik.”
“Sudahlah Ramon, kamu tidak perlu mengatakan apapun tentang saya dan Cleo. Saya tau apa yang saya lakukan sekarang. Saya tau mana yang benar dan mana yang salah.”
Ramon menghela napas. Masalah Cleo dan Bastian memang bukan urusan-nya. Tapi Ramon juga tidak Bastian menyesal dikemudian hari karna kehilangan Cleo, wanita yang sangat dicintainya.
“Setelah anak saya yang nona Sechil kandung lahir, saya akan segera menikahinya.” Sambung Bastian.
Ramon tersenyum. Bastian orang baik. Mungkin dengan adanya masalah antara Bastian dan Cleo itu sebagai pertanda Tuhan menyayangi Bastian dan sedang mengujinya.
Bastian bangkit dari duduknya setelah berkata demikian. Pria dengan setelah jas serba hitam itu berlalu keluar meninggalkan Ramon tanpa mengatakan apapun.
“Loh, Bastian mana?” Tanya Sechil yang baru saja selesai membuatkan minuman untuk Bastian.
“Dia baru aja pulang.” Jawab Ramon.
Sechil menganggukan kepalanya mengerti. Meski sebenarnya Sechil merasa aneh karna Bastian pulang tanpa lebih dulu berpamitan padanya juga janin yang sedang dikandungnya.
Sechil meletakan secangkir teh hangat yang dibawanya diatas meja didepan Ramon. Sechil kemudian duduk dan meraih paperbag yang dibawa Bastian untuknya.
Sechil menghela napas begitu mengetahui isi dari paperbag tersebut.
“Kenapa sayang?” Tanya Ramon bingung.
Sechil mencebikkan bibirnya. Bastian selalu saja membawakan apapun untuknya jika datang.
__ADS_1
“Aku benar benar merasa sangat merepotkan Bastian juga mamahnya.” Lirih Sechil.
Ramon tersenyum.
“Kamu kan nggak minta. Mereka sendiri yang datang dan bermaksud baik sama kamu dan anak kita sayang..”
“Tapi kan...”
Ucapan Sechil menggantung ketika merasakan sesuatu seperti dorongan dalam perutnya. Sechil meringis membuat senyuman dibibir Ramon seketika pudar.
“Sayang.. Kenapa?” Tanya Ramon khawatir.
Sechil menggelengkan kepalanya. Rasa seperti dorongan itu memang sudah beberapa kali Sechil rasakan sejak sore. Tapi Sechil tidak memberitahu Ramon karna tidak mau membuat suaminya itu khawatir.
“Aku nggak papa kok.” Jawab Sechil tersenyum manis. Rasa itu kembali hilang namun Sechil yakin pasti akan datang lagi.
Ramon menelan ludahnya. Sechil memang beberapa kali terlihat seperti menahan napas sejak dirinya pulang bekerja sore tadi. Namun saat Ramon bertanya kenapa, Sechil selalu tersenyum dan menjawab bahwa dirinya tidak apa apa dan baik baik saja.
“Awh....”
“Ya Tuhan.. Sechil kamu..” Ramon tidak bisa melanjutkan ucapan-nya. Rasa khawatir langsung menyergapnya.
“Akuh.. Aku nggak papa..”
Sechil tetap bersikeras mengatakan bahwa dirinya baik baik saja meski sebenarnya Sechil mulai merasakan kontraksi.
“Enggak sayang.. Kamu harus dibawa kerumah sakit sekarang.”
Ramon hendak membopong tubuh Sechil saat mendengar suara deruan mesin mobil Bastian.
“Kamu tunggu sebentar sayang. Aku akan panggil Bastian.”
Dengan cepat Ramon berlari keluar dari rumahnya. Saat itu mobil Bastian sudah melaju sedikit jauh dari sekitaran rumah kontrakan-nya. Ramon berlari mengejar mobil Bastian dengan berseru memanggil manggil nama Bastian namun Bastian tidak mendengarnya.
Selama hampir 10 menit Ramon terus berlari mengejar mobil Bastian yang memang sedikit tidak fokus saat mengemudikan mobilnya hingga akhirnya mata Bastian tidak sengaja terarah pada spion mobilnya dan melihat Ramon yang berlarian dibelakangnya sambil berseru memanggil manggil namanya.
“Ramon..” Gumam Bastian langsung menghentikan mobilnya. Bastian turun dan segera menghampiri Ramon yang masih sedikit tertinggal jauh dari mobilnya.
__ADS_1
“Ramon ada apa?” Tanya Bastian bingung bercampur khawatir.
Dengan napas tersengal dan ringisan Ramon berusaha untuk menjelaskan. Namun yang mampu Ramon ucapkan hanya nama Sechil saja.
Bastian yang merasa ada yang tidak beres segera mengajak Ramon ke mobilnya kemudian memutar balik ke kontarakan Ramon.
Ketika mereka sampai dikontrakan, Sechil sudah menangis dengan air ketuban yang membasahi lantai dibawah kedua kakinya. Sechil juga mengerang kesakitan sambil memegangi perut besarnya.
“Ya Tuhan.. Sechil..” Bastian terkejut melihatnya. Padahal tadi Sechil masih baik baik saja.
“Ayo kita bawa Sechil kerumah sakit.”
Saking khawatirnya Bastian bahkan langsung membopong tubuh Sechil dan membawanya keluar menuju mobilnya. Sedang Ramon, pria itu berjalan didepan Bastian dengan perasaan campur aduk. Ramon seharusnya yang membopong Sechil, bukan Bastian. Tapi Ramon tau sekarang bukan waktunya untuk memikirkan itu. Kondisi Sechil yang harus baik baik saja menjadi prioritas utama baik untuknya dan mungkin juga untuk Bastian.
“Biar aku yang nyetir.” Kata Ramon.
“Tidak, biar aku saja. Kamu jaga Sechil dibelakang.” Tolak Bastian yang kemudian langsung masuk kedalam mobil.
Ramon menganggukan kepalanya. Pria itu ikut masuk kedalam mobil Bastian dan duduk dikursi belakang memangku kepala Sechil yang memang Bastian baringkan dikursi belakang.
“Cepat sedikit Bastian.” Pinta Ramon.
“Ya..” Jawab Bastian yang merasakan ke khawatiran yang sama dengan Ramon.
Dalam perjalanan menuju rumah sakit, Sechil terus mengerang kesakitan. Sechil juga menangis karna merasakan kontraksi yang begitu hebat dan menyakitkan.
“Bertahan sayang...” Bisik Ramon dengan suara bergetar.
“Bastian, tolong lebih cepat lagi...” Ramon berkata dengan nada memohon pada Bastian. Suaranya pun bergetar karna ketakutan dan kekhawatiran-nya akan kondisi Sechil saat itu.
Bastian menurut. Pria itu menambah lagi kecepatan laju mobilnya. Bastian bahkan tidak perduli meski dirinya sampai melanggar peraturan lalu lintas karna menerobos lampu merah.
“Tuhan.. Tolong selamatkan Sechil dan anak yang sedang dikandungnya..” Batin Bastian dengan kedua mata berkaca kaca.
Tangan Bastian bahkan bergetar memegang stir mobilnya karna mendengar rintihan kesakitan Sechil dari kursi belakang.
“Bertahan Sechil.. Tolong perjuangkan yang terbaik untuk anak kita...” Bastian kembali membatin.
__ADS_1