
Sechil terus menangis melihat mobil polisi yang semakin menjauh darinya. Mobil polisi yang membawa suaminya yang tidak bersalah.
“Claudia.. Kenapa semuanya jadi seperti ini..” Lirih Sechil terisak pilu.
Sechil menahan napasnya sejenak kemudian menghembuskan napas yang menyesakkan dadanya itu dengan kasar. Sechil yakin dan percaya pada Ramon suaminya. Ramon tidak mungkin melakukan hal itu. Ramon tidak mungkin membunuh Claudia.
“Enggak, aku yakin Ramon akan bebas. Ramon tidak bersalah. Ini hanya salah paham.. Yah.. Aku harus tenang..” Lirih Sechil sambil mengusap air matanya.
Hubungan-nya dan Ramon memang tidak selalu mulus. Banyak rintangan yang sudah mereka lalui untuk sampai dititik sekarang. Dan adanya tuduhan itu juga pasti adalah rintangan yang harus kembali mereka hadapi. Sechil yakin dirinya dan Ramon bisa menghadapinya bersama.
“Aku nggak boleh lemah. Aku harus kuat. Ramon tidak bersalah... Ramon akan pulang.”
Sechil kemudian melangkah menuju rumah kontrakan mereka. Sechil masuk dan tetap bersikap dengan tenang. Seperti kata Rayan dan Alana, tuhan itu adil. Tuhan akan menunjukan mana yang benar dan mana yang salah. Dan Sechil percaya itu.
Sampai malam Sechil terus menunggu Ramon yang tidak kunjung menampakan dirinya. Sempat terbesit dibenak Sechil untuk menyusul tapi Sechil tidak berani. Disamping itu Sechil juga tidak mungkin mengendarai mobil sendiri malam malam dengan keadaan perutnya yang besar.
“Apa aku minta bantuan kak Rayan saja? Tapi ini sudah malam. Kakak pasti sudah beristirahat.” Gumam Sechil yang kembali dilanda kecemasan.
Sechil menghela napas. Sechil tampak berpikir sejenak sebelum akhirnya teringat dengan apa yang polisi katakan sebelum membawa Ramon pergi.
“Claudia meninggal?” Sechil tampak bertanya tanya. Claudia mungkin memang sakit hati dengan kenyataan yang ada. Tapi jika Claudia sampai nekat bunuh diri rasanya sangat tidak mungkin.
“Aku harus cari tau kebenaran-nya..”
Ketika Sechil membuka pintu rumah kontrakan-nya Sechil terkejut mendapati kedua orang tua Claudia sudah berdiri disana. Entah darimana kedua orang tua Claudia tau tempat tinggalnya dan Ramon.
“Om, tante..” Sechil sangat sangat bingung sekarang.
“Kamu dan Ramon pasti sudah merencanakan semua ini kan? Kamu bunuh anakku. Kalian kejam !! Kalian jahat !!”
Mamah Claudia langsung histeris dan hampir saja memukul Sechil jika saja suaminya tidak menahan-nya. Wanita yang masih terlihat muda di usia tuanya itu terlihat sangat terpukul dan frustasi dengan meninggalnya Claudia.
__ADS_1
“Mamah tenang mah.. Kita tidak bisa menuduh tanpa bukti yang jelas... Ayo mah kita pulang mah..”
“Enggak !! Biarkan aku bunuh wanita ini !! Biar dia merasakan bagaimana menjadi Claudia !!”
Papah Claudia terus berusaha menahan istrinya yang terus saja meronta ronta dalam pelukan-nya. Pria itu juga ikut menangis namun tidak menyalahkan Sechil yang diam dengan ketakutan yang melanda hatinya.
“Ya tuhan...” Sechil mengusap usap dadanya. Hampir saja dirinya terkena pukulan mamahnya Claudia. Beruntung papahnya Claudia bisa dengan sigap menahan-nya kemudian membawanya pergi dari sekitar kontrakan Ramon dan Sechil.
Setelah memastikan mobil orang tua Claudia benar benar tidak lagi terlihat, Sechil segera berlalu. Sechil berniat mencari informasi dari warga tentang meninggalnya Claudia ditaman. Dan informasi yang didapat oleh Sechil benar benar sangat mencengangkan. Claudia ditemukan dibawah pohon besar didalam taman dengan kondisi tanpa busana pagi tadi oleh petugas keamanan. Dugaan kuat Claudia dilecehkan sebelum benar benar dibunuh.
Sechil menangis mendengar itu. Mungkin dulu dirinya dan Claudia memang tidak pernah akur. Tapi tidak untuk sekarang. Mereka memang tidak bisa dikatakan akur, tapi Sechil sudah tidak punya lagi sedikitpun rasa benci pada Claudia seperti dulu.
Sechil kembali kekontrakan-nya dan Ramon belum juga kunjung kembali. Karna tidak sabar menunggu akhirnya Sechil memutuskan untuk meminta bantuan pada Rayan kakaknya. Dan Sechil segera menghubungi Rayan malam itu juga.
------
“Boleh aku tau apa yang siang tadi dokter Klara katakan pada kamu dan Sechil? Aku dan Ramon tidak bisa mendengar apa apa dari luar.”
Rayan terdiam sesaat. Pria itu menaikan selimut tebal untuk menutupi bagian dada istri tercintanya.
“Mommy mengalami gejala kegilaan. Dokter Klara bilang kita sebagai orang terdekatnya harus sering mengajaknya mengobrol agar mommy mau menceritakan sesuatu yang dipendamnya.”
“Sesuatu yang mommy pendam?” Bingung Alana.
“Ya, sedangkan aku dan Sechil tau yang mommy pendam pasti adalah kebencian tanpa dasar pada kamu dan Ramon. Mommy bahkan selalu histeris kalau mendengar nama kamu dan Ramon disebut. Bagaimana kami berdua bisa mendekati kalau seperti itu?”
Alana menghela napas. Harta benar benar membuat Caterine buta akan segalanya. Caterine bahkan membencinya dan Ramon tanpa alasan yang jelas.
“Mungkin aku akan coba bicara pada kepolisian nanti untuk membebaskan mommy. Aku akan sediakan tempat sendiri untuk mommy dengan penjagaan ketat.” Lanjut Rayan.
Alana hanya bisa menghela napas. Untuk saat ini Alana benar benar tidak bisa memberi saran apa apa pada suaminya. Alana percaya Rayan akan melakukan semuanya dengan totalitas yang sempurna.
__ADS_1
“Hey, kenapa diam saja?” Rayan meraih dagu Alana dan mendongakkan-nya agar Alana menatapnya. Dan ekspresi sendu Alana membuat Rayan langsung bisa memahami arti dari ekspresi itu.
“Jangan dipikirkan. Mommy pasti akan menerima kamu dengan tulus suatu hari nanti. Tetaplah tersenyum dan bahagia disampingku sayang..” Bisik Rayan sambil mengusap usap lembut dagu Alana.
Alana tersenyum mendengarnya. Bohong jika Alana tidak memikirkan Caterine yang tidak pernah menyukainya. Karna sejatinya Alana juga ingin bisa kompak dan saling menyayangi dengan mertuanya itu.
“Sudah malam. Lebih baik sekarang kita tidur. Dan terimakasih untuk yang tadi sayang. Kamu hebat dan aku sangat puas.”
Kedua pipi Alana merona mendengarnya. Alana memukul pelan dada bidang Rayan karna merasa malu dengan apa yang Rayan katakan.
“Apaan sih !” Katanya malu malu menatap Rayan.
Rayan kemudian mendekap Alana. Rayan juga beberapa kali mendaratkan ciuman singkatnya dipuncak kepala istrinya yang sedang hamil besar itu.
Saat Rayan hendak memejamkan kedua matanya, tiba tiba hp yang dia letakan dinakas samping tempat tidurnya berdering. Hal itu membuat Alana mengangkat kembali kepalanya agar Rayan lebih leluasa bergerak untuk meraih benda pipin tersebut.
“Siapa?” Tanya Alana begitu Rayan sudah memegang hp miliknya.
“Sechil..” Jawab Rayan pelan.
Alana mengeryit. Tidak biasanya Sechil menelpon malam malam.
“Sebentar, aku angkat dulu.” Ujar Rayan yang diangguki kepala oleh Alana.
Rayan segera mengangkat telpon dari adik satu satunya itu. Entah kenapa mendadak Rayan merasakan sesuatu yang tidak karuan yang hinggap di hatinya. Rayan tiba tiba mengkhawatirkan Sechil juga Ramon.
“Ya Sechil.. Ada apa?”
“.....”
“Apa?!”
__ADS_1