Aku Bukan Pengganti

Aku Bukan Pengganti
Episode 115


__ADS_3

Setelah apa yang Sechil katakan saat sarapan, Caterine kembali mengunci dirinya didalam kamar. Caterine bahkan juga menolak untuk makan dan minum.


Namun hal itu tidak membuat Rayan kembali berpikir untuk pindah. Rayan bahkan sudah menyuruh Luky agar mencari orang untuk membawa semua barangnya dan Alana kerumah baru mereka.


Suara ketukan pintu membuat Rayan yang sedang mengamati berkas berkas diatas meja kerjanya menoleh. Rayan tersenyum saat menemukan Sechil berdiri diambang pintu kamarnya dengan secangkit teh panas yang masih mengepulkan asap.


“Boleh aku masuk?” Tanya Sechil pelan.


Rayan menganggukan kepalanya.


“Masuklah..” Jawabnya kemudian kembali fokus dengan berkas berkas yang sedang dipilihnya.


Sechil mengangguk pelan. Wanita yang sedang berbadan dua itu masuk kemudian meletakan secangkir teh panas yang dibawanya diatas meja kerja Rayan.


“Diminum tehnya kak..” Katanya tersenyum.


“Ya, nanti saja. Terimakasih ya..” Balas Rayan menatap sebentar pada Sechil kemudian kembali fokus pada tumpukan berkas diatas meja kerjanya.


Sechil yang melihat apa yang Rayan lakukan hanya bisa menghela napas. Sechil tidak pernah ingin Rayan pergi dari rumah itu. Tapi Sechil juga tidak bisa melarang.


“Sejak kemarin pagi mommy tidak mau makan kak, aku takut mommy kenapa napa. Aku takut mommy mengulangi perbuatan berbahaya itu lagi.”


Tangan Rayan yang sedari tadi aktif memilah berkas didepan-nya langsung berhenti. Rayan mengangkat kepalanya menatap Sechil yang terlihat sedih dengan sikap Caterine sekarang.


“Kamu membuatkan kakak teh untuk membujuk kakak supaya tidak jadi pindah begitu?” Tanya Rayan langsung.


Sechil terkejut. Sechil tidak bermaksud seperti itu. Sechil hanya ingin mencari solusi bersama Rayan agar semuanya baik baik saja.


“Maaf Sechil, tapi sekali lagi keputusan aku sudah bulat. Aku tidak mungkin membatalkan-nya. Kenyamanan Alana dan calon anak kami yang paling utama untuk kakak.” Lanjut Rayan membuat Sechil menggelengkan kepalanya menolak apa yang Rayan tuduhkan padanya.


“Jangan salah mengerti kak. Aku hanya ingin bertanya bagaimana baiknya sekarang? Tidak mungkin bukan kita tetap pergi sedang mommy tidak menyetujui?”


Rayan tertawa mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut Sechil. Pria tampan dengan rambut berjambul itu menghela napas sembari menggelengkan pelan kepalanya.


“Memangnya saat kakak menikah dengan Alana mommy setuju? Dan juga saat kamu dan Ramon menikah, apa mommy memberi restu?”

__ADS_1


Sechil langsung kehilangan kata kata yang sebelumnya sudah Sechil pikirkan untuk berbicara pada Rayan.


“Sechil, apa yang kakak lakukan adalah demi kebaikan kita semua. Mommy juga Alana. Tentang kamu yang ingin mengikuti kemanapun Ramon pergi, itu bagus. Karna seorang istri memang wajib mengikuti kemauan suaminya selama itu baik.”


Sechil melengos. Wanita itu tidak menyangka Rayan akan menyerangnya dengan pertanyaan dan pernyataan yang membuat Sechil tidak bisa menjawab.


“Sechil, mommy itu masih sehat. Mommy masih muda. Kita sebagai anak harus bisa menyesuaikan dengan keadaan. Bahkan kita tidak tau bukan jika nanti mommy tiba tiba menikah lagi.”


“Apa maksud kakak?” Sechil mengeryit. Sudah cukup Sechil mengalami bagaimana daddy nya dulu bersikap tidak baik padanya juga Caterine. Daddy nya meninggalkan-nya dan Caterine, menelantarkan-nya tanpa sedikitpun perduli.


“Itu hanya mungkin Sechil. Jangan salah mengartikan maksud kakak.” Jawab Rayan santai. Pria itu menyenderkan punggungnya disandaran kursi kebesaran-nya dengan kedua tangan menyatu. Rayan merasa lucu dengan perubahan ekspresi Sechil yang begitu cepat. Rayan tau Sechil pasti kesal karna ucapan-nya.


“Kapan kakak berencana pergi?” Tanya Sechil kemudian.


“Besok siang. Kamu dan Ramon besok ikut yah..” Jawab Rayan dengan senyuman dibibirnya.


Sechil hanya menghela napas kemudian bangkit dari duduknya. Sechil menatap Rayan dengan wajah datarnya. Entah kenapa mendengar ucapan Rayan yang mengatakan bahwa bisa saja Caterine menikah lagi Sechil merasa kesal. Namun Sechil merasa takut. Takut Caterine kembali menderita.


“Aku nggak tau bisa ikut atau enggak kak.” Ujarnya kemudian berlalu keluar dari ruangan Rayan meninggalkan Rayan yang diam diam menertawakan-nya. Rayan tau Alana dan Sechil memang sedang dalam kondisi hati dan perasaan yang sama. Sangat sensitif dan gampang sekali marah.


Sedang Sechil, dia melangkah dengan ekspresi kesalnya melangkah menuju lift. Namun saat pintu lift terbuka Sechil berdecak begitu mendapati Alana didalam lift.


Sechil menghela kemudian memilih untuk berlalu menuju tangga. Sechil tidak ingin marah pada tempat yang salah, apa lagi Alana adalah orang baik dan tentu tidak tau menau tentang apa yang membuat Sechil merasa kesal dan marah.


Alana yang melihat ekspresi tidak biasa Sechil mengeryit bingung. Tidak biasanya Sechil jutek seperti itu padanya. Karna sejak Sechil berubah baik Sechil selalu ramah padanya.


“Dia kenapa?” Gumam Alana penasaran.


Alana menatap Sechil yang menaiki satu persatu anak tangga menuju lantai 2 dirumahnya. Saat itu Ramon datang dan mencegat langkahnya. Alana tersenyum melihat Ramon yang begitu lembut memperlakukan Sechil.


Merasa lega karna Sechil sudah bersama Ramon, Alana pun melanjutkan niatnya untuk menemui Rayan yang berada diruang kerjanya. Alana ingin mengajak Rayan untuk mencari cemilan pedas malam ini.


Begitu sampai diruangan Rayan, Alana langsung meraih teh hangat yang Sechil buatkan untuk Rayan dan menyeruputnya sedikit.


“Tehnya terlalu manis.” Komentar Alana membuat Rayan tersenyum.

__ADS_1


“Itu Sechil yang membuat untukku.” Ujar Rayan.


Alana mengeryit lagi.


“Sechil dari sini?” Tanya Alana menatap Rayan penasaran.


“Ya..” Angguk Rayan menjawab.


Alana tampak berpikir. Ekspresi Sechil seperti orang yang sedang sangat kesal saat bertatapan dengan-nya tadi. Alana yakin Sechil pasti kesal karna Rayan.


“Kamu membuatnya marah?” Tanya Alana menyipit penuh selidik menatap Rayan yang malah tertawa mendengar pertanyaan-nya.


“Hanya kesalah pahaman kecil. Biarkan saja, nanti juga marahnya reda sendiri.” Jawab Rayan santai.


Alana mendelik. Sepertinya memang sikap seenaknya Rayan susah sekali hilang. Dan sikap itu persis seperti sikap Caterine. Hanya bedanya Caterine memiliki sisi jahat, sedang Rayan sebaliknya. Rayan pria baik yang berkedok seperti Beast yang kejam juga seram.


“Kamu kenapa belum tidur. Apa masih lapar? Atau kamu mau sesuatu?”


Ekspresi Alana langsung berubah. Wanita itu terkejut karna Rayan bisa langsung menebak tepat sasaran.


“Darimana kamu tau aku sedang lapar dan sedang ingin memakan sesuatu?” Alana kembali bertanya dengan tatapan serius.


Lagi, Rayan tertawa. Pria itu kemudian bangkit dari kursinya dan mendekat pada Alana yang berdiri didepan meja kerjanya.


“Apapun yang menyangkut kamu aku pasti selalu tau Alana. Karna kamu tercipta hanya untukku.” Katanya tersenyum dan berdiri tepat didepan Alana.


Alana tersenyum. Rayan sering sekali berkata manis padanya akhir akhir ini.


“Baiklah kalau begitu ayo temani aku cari makanan pedas diluar.” Ajak Alana melingkarkan kedua tangan-nya dilengan Rayan.


“Dengan satu syarat.”


“Apa?”


“Cium aku..” Tunjuk Rayan ke bibirnya.

__ADS_1


Tanpa pikir panjang Alana langsung berjinjit mencium bibir Rayan yang tentu saja kesempatan itu tidak disia siakan oleh Rayan. Rayan semakin memperdalam ciuman-nya.


__ADS_2