
Alana mengeryit ketika melihat Rayan yang tampak merenung dibalkon kamar mereka. Pria itu terus diam dengan kepala mendongak menatap langit malam bertabur bintang.
Pelan pelan Alana melangkah mendekat pada Rayan. Ketika sampai tepat dibelakang pria itu Alana langsung melingkarkan kedua tangan-nya memeluk Rayan dari belakang. Apa yang Alana lakukan berhasil menyentakkan Rayan memudarkan lamunan yang sedang menguasai pikiran Rayan.
Rayan tersenyum menunduk menatap kedua tangan Alana yang melingkari perut ratanya.
“Apa ada sesuatu yang mengganggu kamu sekarang?” Tanya Alana sambil menyenderkan kepalanya di punggung lebar Rayan.
Rayan menghela napas pelan dengan senyuman yang terus menghiasi bibir tipisnya. Entah kenapa tiba tiba Rayan merasa segala sesuatu yang membuatnya bingung sirna begitu saja begitu merasakan pelukan dari kedua tangan Alana. Pikiran-nya terasa plong. Dan masalahnya sirna seketika.
“Ya...” Jawab Rayan menyentuh tangan Alana yang melingkari perutnya. Mengusapnya lembut.
“Apa itu tentang mommy?” Tanya Alana lagi.
Rayan terdiam. Masalah yang dia hadapi bukan hanya dari satu sumber saja. Ada Sandi, Dion, juga Caterine, mommy nya sendiri.
“Kali ini bukan masalah tentang mommy. Tapi kamu..”
Jawaban Rayan membuat Alana mengeryit. Alana langsung melepaskan pelukan-nya membuat tubuh Rayan langsung berbalik menghadapnya.
”Tentang aku?” Tanya Alana menatap Rayan serius.
Rayan tersenyum dengan menganggukkan kepalanya. Pria itu kemudian menundukkan kepalanya dan mengecup singkat bibir Alana.
Rayan menatap ekspresi penuh tanda tanya Alana. Jika Rayan jujur dan mengatakan apa yang Sandi katakan tentangnya, Alana pasti tidak akan terima. Alana juga pasti akan langsung marah karna akhir akhir ini Alana memang gampang sekali marah dan tersinggung.
“Katakan sekarang. Kenapa denganku?” Tuntut Alana bertanya dengan rasa ingin tahu yang begitu besar.
Rayan terkekeh. Sekali lagi Rayan mengecup bibir Alana membuat Alana berdecak. Alana merasa dipermainkan sekarang.
__ADS_1
“Rayan...” Panggilnya penuh penekanan.
“Oke oke.. Jangan marah.. Aku hanya bercanda sayang. Jangan terlalu serius.”
Bibir Alana langsung mengerucut merasa kesal karna Rayan ternyata hanya meledeknya saja. Saat dirinya hendak berbalik dan berniat berlalu meninggalkan Rayan, Rayan langsung menahan-nya dengan memeluk pinggangnya mesra.
“Jangan marah... Aku merindukanmu Alana..” Bisik Rayan menempelkan keningnya di kening Alana.
Alana langsung diam. Rayan memang selalu sibuk. Rayan juga jarang bersikap mesra padanya. Mungkin karna jika sudah malam Rayan merasa capek karna aktivitas padat disiang harinya. Begitu yang selalu Alana pikirkan. Alana selalu mencoba berpikir positif pada Rayan.
Alana menghela napas pelan. Kepalanya mendongak menatap Rayan yang jauh lebih tinggi darinya. Tatapan Rayan begitu lembut padanya.
“Apa kamu mau aku pijit?” Tanya Alana menawarkan.
Rayan tersenyum lagi. Pria itu langsung menggelengkan kepala menolak tawaran Alana dengan halus.
“Cium saja aku.” Katanya.
“Apa hanya ciuman saja?” Tanya Alana untuk yang kesekian kalinya.
“Hey kamu adalah istriku. Aku minta cium bahkan minta lebih dari cium sekalipun tidak akan ada yang marah.. Kamu milikku seutuhnya.” Kali ini Rayan yang sensitif. Pertanyaan Alana membuat tensinya sedikit naik.
“Wow wow.. Sabar tuan sabar... Aku hanya bertanya. Oke?”
Rayan berdecak. Pria tampan itu kemudian melepaskan pelukan mesranya dipinggang Alana. Rayan menyentuh kedua bahu Alana dan pelan pelan membuka sedikit kain yang menutupi bahu putih bersih istrinya itu.
“Rayan.. jangan gila, ini dibalkon.” Lirih Alana khawatir. Rayan bisa sangat buas jika sudah tidak bisa menahan hasratnya. Rayan juga bisa melakukan-nya tanpa perduli tempat seperti saat mereka bulan madu dipulau. Rayan hampir saja menyentuhnya ditepi pantai jika saja saat itu Alana tidak protes.
Kedua alis Rayan sedikit bergerak. Pria itu tetap menurunkan baju Alana membuat bahu Alana langsung terbuka. Kulit putih bersih Alana membuat jakun Rayan naik turun. Pria itu langsung membayangkan bagaimana lembut dan halusnya kulit putih bersih Alana saat dia sentuh.
__ADS_1
Rayan kembali menutup bahu Alana kemudian tersenyum dengan mengedipkan sebelah matanya menggoda.
“Baiklah kita lakukan dikamar.” Katanya langsung membopong tubuh Alana dan membawanya masuk kedalam kamar mereka.
Alana tidak bisa menolak kemauan suaminya. Karna sejujurnya Alana juga merindukan kebersamaan-nya bersama Rayan. Alana merindukan sentuhan Rayan.
“Aku akan melakukanya dengan lembut Alana..” Bisik Rayan sembari membaringkan tubuh Alana diatas ranjang berukuran king zise itu.
Alana tersenyum dengan kepala mengangguk. Alana yakin Rayan pasti akan memperlakukan-nya dengan penuh kelembutan juga cinta.
-----
Sementara itu dikamar Sechil dan Ramon suasana hening menyelimuti. Sechil duduk sendiri diatas ranjang dengan berbagai pemikiran yang menguasai kepala cantiknya. Sedangkan Ramon, pria itu belum pulang. Ramon juga sempat menelpon dirinya akan pulang sedikit terlambat.
Sechil menghela napas dengan kedua mata terpejam. Hampir 2 bulan dirinya menikah dengan Ramon namun sekalipun Ramon tidak pernah menyentuhnya. Tidak jarang Ramon bahkan tidur disofa. Ramon memang sangat baik dan penuh dengan perhatian menyikapinya. Ramon juga selalu menuruti apa yang Sechil mau. Tapi Ramon tidak pernah melakukan kewajiban-nya sebagaimana seorang suami pada istrinya. Jangankan menyentuh, mencium saja selama mereka menikah Sechil bisa menghitungnya. Itupun hanya ciuman dipipi dan dikening.
Sechil membuka kembali kedua matanya. Semua itu selalu mengganggu pikiran Sechil. Sechil ingin mencurahkan segala apa yang membebani pikiran-nya tapi Sechil tidak tau harus mencurahkan pada siapa. Pada Rayan dan Alana, Sechil malu. Pada Caterine rasanya sangat tidak mungkin. Caterine pasti akan salah mengerti.
“Apa sebenarnya dia tidak mencintaiku lagi? Apa dia hanya merasa iba dan kasihan padaku?” Batin Sechil bertanya tanya.
Sechil menyentuh dadanya sendiri. Ada rasa sesak yang membuat napasnya sedikit tersendat. Memikirkan Ramon yang ternyata tidak lagi mencintainya membuat Sechil merasa sedih juga sakit.
“Enggak, aku nggak boleh berpikiran negatif sama Ramon. Ramon punya alasan kenapa tidak melakukan itu padaku. Mungkin dia malu. Ya, dia hanya malu dan merasa belum terbiasa..” Sechil kembali membatin mencoba mengenyahkan pikiran pikiran buruknya pada Ramon.
Sechil membuka kedua matanya dan menghela napas sekali lagi. Sechil meraih hp-nya menilik waktu sekarang. Jam di hp-nya menunjukkan hampir pukul 10 malam. Ramon menelpon-nya 2 jam yang lalu dan sampai sekarang Ramon belum juga pulang.
“Apa dia sesibuk itu?” Gumam Sechil dengan bibir mengerucut. Entahlah, Sechil tiba tiba ingin memeluk Ramon. Sechil ingin mencium aroma khas parfum Ramon yang memang harganya tidak semahal parfum miliknya.
Tidak sabar menunggu, Sechil pun memilih untuk menelpon Ramon. Namun beberapa kali menelpon Ramon sama sekali tidak menjawabnya. Terakhir bahkan nomor Ramon langsung tidak aktif.
__ADS_1
“Kenapa menjadi tidak aktif sekarang?”