
“Bagaimana keadaan putri saya dokter?” Caterine bertanya sembari mengusap air mata yang membasahi kedua pipi tirusnya. Kekhawatiran jelas sekali terlihat dari wajah basahnya.
Sam, nama dokter itu. Dokter kepercayaan keluarga Rayan sejak dulu bahkan sejak Caterine masih menjadi istri sah Ricard.
Dokter Sam menghela napas kemudian melirik Rayan dan Alana yang berdiri berdampingan didepan sofa. Dokter itu tau betul bagaimana Rayan tapi tidak terlalu mengenal Sechil.
“Nona Sechil.. Dia hamil.” Jawab dokter Sam menatap sendu pada Caterine yang berdiri didepan-nya.
Caterine, Rayan, juga Alana sangat terkejut mendengar itu. Caterine menggeleng tidak percaya. Putrinya masih sangat muda. Dan lagi Sechil belum menikah.
“Dokter pasti bercanda kan? Sechil masih sangat kecil.. Dia gadis baik baik..” Caterine menolak fakta yang ada. Wanita itu terus menggelengkan kepala tidak percaya dengan apa yang dokter Sam katakan.
“Nona Sechil pingsan karna terlalu kelelahan nyonya. Saran saya segera periksakan kandungan nona Sechil pada ahlinya. Takutnya sesuatu yang buruk terjadi karna kebiasaan nona Sechil yang mengkonsumsi alkohol.”
Tubuh Caterine meluruh kelantai mendengar itu. Putrinya yang selama ini selalu Caterine anggap anak kecil ternyata memang sudah keluar dari batas kenakalan-nya.
Dokter Sam yang melihat itu hanya bisa menghela napas. Tidak ingin berlama lama ditengah suasana tidak mengenakan hati itu dokter Sam pun memilih untuk berlalu. Tidak lupa dokter Sam berpamitan pada Rayan dan Alana.
“Rayan, mommy...” Lirih Alana yang masih terkejut dengan jawaban dokter atas pertanyaan Caterine tentang keadaan Sechil.
Rayan menghela napas. Rayan sudah menduganya sejak melihat Sechil yang muntah muntah karna Alana pun selalu mengalaminya dipagi hari.
“Aku ke mommy dulu..” Lirih Rayan mengusap lembut perut Alana.
Alana menganggukan kepalanya dengan senyuman dibibirnya. Hamil diluar nikah adalah sebuah aib bagi keluarga manapun. Dan sekarang Sechil hamil.
Alana ingin sekali mendekat pada Caterine untuk menenangkan mertuanya itu. Tapi Alana tau Caterine pasti menolaknya. Alana menghela napas. Alana memilih untuk tetap ditempatnya. Dia pikir mungkin akan lebih baik jika Rayan saja yang menenangkan Caterine.
“Mom..” Panggil Rayan lirih meraih kedua bahu bergetar Caterine.
Caterine yang terus menangis pelan pelan mendongakkan kepalanya menatap Rayan yang berjongkok didepan-nya.
“Dokter Sam... Dia pasti bohong kan Rayan? Sechil masih kecil.. Dia nggak mungkin berbuat seperti itu.. Sechil masih tidak tau apa apa.. Dia, dia pasti korban.. Sechil pasti korban Rayan.. Mommy yakin itu..” Caterine terus saja tidak bisa menerima kebenaran tentang kehamilan Sechil. Wanita itu bahkan kini menganggap Sechil adalah korban dari pria yang tidak bertanggung jawab.
__ADS_1
Rayan menghela napas pelan. Pria itu kemudian menarik pelan bahu Caterine menuntunya untuk berdiri. Rayan tidak tau harus berkata apa pada Caterine. Wanita itu sepertinya sangat terpukul dengan apa yang dokter Sam katakan.
“Rayan kamu tidak percayakan apa kata dokter Sam? Dia itu cuma bercanda Rayan. Mommy tau bagaimana Sechil adik kamu.” Caterine kembali mencoba meyakinkan Rayan. Air matanya terus saja menetes membasahi kedua pipi tirusnya menandakan bahwa wanita itu sangat frustasi dengan kenyataan yang dirinya sendiri saja tidak bisa mempercayainya.
“Mommy tenang dulu ya.. Kita tunggu Sechil sadar baru setelah itu kita tanyakan baik baik. Sechil juga kan perlu kedokter kandungan mom..”
Mendengar ucapan pelan Rayan, Caterine langsung menghempaskan kedua tangan Rayan dari bahunya. Wanita itu kembali menggeleng dan menangis hebat.
“Enggak Rayan, Sechil nggak hamil. Adik kamu anak yang baik. Dia masih sangat polos..”
Rayan menelan ludahnya. Dokter Sam tidak mungkin bohong. Sechil hamil itu sudah wajar mengingat pergaulan-nya yang begitu bebas dan sulit untuk dikontrol.
“Mom..”
“Sechil itu masih kecil Rayan..” Sela Caterine lagi.
Rayan mengangguk pelan. Sechil memang masih kecil. Rayan mengangguk bukan menyetujui ucapan Caterine. Rayan hanya tidak mau Caterine seperti orang gila yang mengoceh tidak mempercayai fakta yang ada.
Caterine melangkah mendekat pada Sechil yang masih tidak sadarkan diri diatas ranjang. Wanita itu meraih tangan Sechil dan menggenggamnya lembut. Caterine menciumi punggung tangan putrinya dan kembali menangis.
Alana yang menyaksikan bagaimana histerisnya Caterine hanya bisa menghela napas. Alana sangat merasa iba pada Caterine yang sudah seperti orang gila. Caterine memang jahat padanya, tapi disisi lain Caterine tetaplah seorang ibu yang tidak rela anaknya dicap buruk oleh siapapun.
“Ayo..”
Alana menatap tangan-nya yang digenggam oleh Rayan. Pria itu hendak mengajaknya keluar dari kamar Sechil.
“Bagaimana dengan mommy?” Tanya Alana mendongak menatap Rayan yang sudah berada disampingnya.
“Biarkan mommy tenang dulu. Setelah Sechil sadar baru kita ajak dia bicara juga mengecek kandungan-nya kedokter.” Jawab Rayan.
Alana menatap kembali pada Caterine yang terus menciumi tangan Sechil. Alana tau Caterine memang sangat menyayangi putri bungsunya itu.
“Alana, ayoo..” Ajak Rayan lagi.
__ADS_1
Alana menatap Rayan lagi kemudian mengangguk setuju. Mungkin memang akan lebih baik jika mereka berdua membiarkan Caterine sendiri dulu.
Alana menurut saat Rayan menggandengnya keluar dari kamar Sechil. Mereka berdua berjalan menuju lift bermaksud menuju lantai 3 dimana kamar mereka berada.
“Rayan...”
”Hem..” Saut Rayan menoleh dan tersenyum manis pada Alana.
“Kamu baik baik saja?” Tanya Alana lirih.
Rayan tertawa pelan. Semua sebab pasti akan menghasilkan akibat. Termasuk apa yang selalu Sechil lakukan.
“Aku sudah menduga ini Alana. Aku mencabut semua fasilitas untuk Sechil karna takut ini terjadi. Tapi ternyata sudah terlambat.”
Alana menghela napas. Wanita itu melepaskan genggaman tangan Rayan kemudian melingkarkan kedua tanganya di pinggang Rayan, memeluk dan menyenderkan kepalanya didada bidang suami tampan-nya itu.
“Ini semua bukan salah kamu.. Sechil yang berbuat. Kamu kakak yang baik menurut aku..” Kata Alana yang tidak mau Rayan menyalahkan dirinya atas apa yang terjadi pada Sechil.
Rayan tersenyum. Tentu saja Rayan tidak akan menyalahkan dirinya sendiri. Rayan memberikan fasilitas pada Sechil karna Sechil adalah adik satu satunya. Rayan ingin Sechil menikmati apa yang Rayan miliki, bukan malah untuk berpesta foya dengan pergaulan bebas tanpa batasan.
“Lalu bagaimana jika sebagai suami?”
Pertanyaan Rayan membuat Alana mengeryit. Alana melepaskan pelukanya dan mendongak menatap wajah Rayan yang perlahan mulai mendekat pada wajahnya.
“Rayan kamu..”
“Apa aku sudah cukup baik untuk menjadi suami untuk kamu hem?”
Ujung hidung mancung Rayan menempel pada ujung hidung Alana. Perlahan Alana melangkah mundur sedang Rayan melangkah maju membuat punggung Alana akhirnya menempel didinding lift.
“Jawab jujur Alana..” Lirih Rayan menuntut.
Pintu lift terbuka namun Rayan tidak memperdulikan-nya. Pria itu terus menyudutkan Alana yang masih diam dengan tatapan tepat mengarah pada kedua mata Rayan.
__ADS_1
Perlahan Alana tersenyum. Wanita itu memiringkan kepalanya membuat bibirnya bersentuhan dengan bibir Rayan. Alana mencium mesra bibir tipis Rayan kemudian mengalungkan kedua tanganya di leher Rayan. Alana tidak perduli jika siapapun melihatnya.
“Kamu lebih dari baik sebagai seorang suami Rayan.” Bisik Alana.