Aku Bukan Pengganti

Aku Bukan Pengganti
Episode 195


__ADS_3

Sampai rumah, Alana terus mendiamkan Rayan. Alana bahkan sama sekali tidak mengatakan apapun bahkan saat mereka sama sama sedang berbaring diatas tempat tidur untuk istirahat siang.


“Sini...”


Rayan menarik lembut Alana dan mendekapnya dengan mesra. Dan Alana meskipun sedang marah tapi tidak menolak. Tentu saja karna Alana sendiri tidak akan bisa memejamkan kedua matanya dengan tenang jika tidak dalam dekapan hangat suaminya.


“Tidurlah.. Jangan marah marah terus, nanti kamu cepet tua.” Canda Rayan dengan senyuman yang menghiasi bibirnya.


Alana berdecak sebal namun tetap menuruti apa yang Rayan katakan. Alana memejamkan kedua matanya mulai menyelami mimpi indahnya siang ini.


Sementara itu dibawah, bibi dan Sari melongo melihat barang barang yang dibeli Rayan dan Alana. Pak Lim dan Roky bahkan sepertinya tidak selesai selesai memindahkan barang barang tersebut dari mobil pengantar kedalam rumah.


“Bu Sari apa mungkin tuan Rayan memindahkan setengah isi toko kesini?” Tanya bibi sambil terus menatap semua perlengkapan bayi yang dibeli oleh Rayan.


Sedangkan Sari, wanita itu hanya tertawa saja. Sari memaklumi apa yang Rayan lakukan. Sari tau Rayan pasti sangat bahagia dan ingin semua yang terbaik untuk anaknya yang akan lahir nanti. Apa lagi Rayan adalah orang kaya yang pasti tidak akan merasa sayang jika hanya membeli semua barang barang yang berada didepan Sari dan bibi.


“Mungkin Rayan terlalu semangat ingin menyambut kelahiran anaknya bi. Mungkin juga semua ini belum ada apa apanya.” Balas Sari tersenyum.


Bibi ikut tersenyum setelah memahami apa yang Sari katakan. Wanita itu juga sejatinya tau bagaimana Rayan dari dulu.


“Ya sudah bi, lebih baik kita bantu pak Lim dan Roky. Sepertinya mereka kelelahan karna mondar mandir sejak tadi.” Saran Sari yang langsung disetujui oleh bibi.


Bibi dan Sari melangkah pelan keluar dari dalam rumah. Keduanya melangkah menuju mobil dimana masih banyak barang barang yang memang belum Roky dan pak Lim pindahkan. Ketika bibi dan Sari hendak meraih salah satu barang yang sudah diturunkan Roky, tiba tiba terdengar suara klakson mobil yang langsung masuk kearea luas halaman rumah Rayan. Mobil itu mobil yang sama dengan mobil yang mengangkut barang barang belanjaan Rayan. Dan mobil itu juga membawa barang yang dibeli Rayan.


“Ya tuhan.. Apa Rayan mau membuka toko dikompleks ini?” Batin Sari benar benar tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.


 -------


Selama setengah hari Ramon terus berbaring ditempat tidur. Sebenarnya Ramon merasa sangat tidak enak hati pada Sechil. Tapi apalah daya, tubuhnya terasa sangat lemas dengan kepalanya yang pusing. Bangkit untuk sekedar duduk saja rasanya akan jatuh terguling dari tempat tidur.


“Apa masih pusing?” Tanya Sechil datang mendekat dan langsung duduk disamping Ramon yang berbaring diranjang.


Ramon tersenyum. Ditengah kesibukan-nya membereskan rumah, Sechil terus bolak balik untuk mengecek keadaan-nya.


“Aku udah nggak papa kok. Cuma masih sedikit lemas saja.” Jawab Ramon membalas tatapan penuh khawatir istrinya.


Sechil menghela napas. Sechil tidak bodoh, Sechil tau Ramon hanya tidak mau dirinya khawatir. Ramon sedang tidak baik baik saja, terlihat dari wajahnya yang pucat dan berkeringat dingin.

__ADS_1


“Aku sudah masak. Kamu makan yah? Aku ambilin.” Ujar Sechil pelan.


Ramon menganggukan kepalanya menurut saja. Ramon tidak mau terus terusan sakit yang pasti akan semakin menyusahkan Sechil.


“Sebentar, aku ambil dulu.”


Ketika Sechil hendak bangkit Ramon meraih tangan Sechil menahan agar Sechil tidak berlalu begitu saja. Pelan pelan Ramon bangkit dari berbaringnya duduk didepan Sechil.


“Kenapa?” Tanya Sechil menatap Ramon bingung.


“Boleh tidak aku minta sesuatu sama kamu?” Tanya balik Ramon membuat Sechil terlihat bingung.


“Apa?”


“Cium aku.” Jawab Ramon membuat Sechil mendelik.


“Kenapa tiba tiba minta cium?” Tanya Sechil dengan sedikit malu malu karna permintaan Ramon yang sangat tidak biasa itu.


“Supaya aku semangat dan cepat sembuh. Anggap saja sebagai obat. Mau tidak?”


“Sayang.. Please..” Mohon Ramon dengan wajah memelas.


Sechil tersenyum malu malu kemudian mendekatkan wajahnya pada wajah tampan Ramon. Ketika wajahnya tepat berada didepan wajah Ramon, Sechil terdiam sejenak.


“Kamu tutup mata dong..” Katanya.


Ramon tertawa pelan kemudian menggeleng.


“Enggak mau, aku akan tetap membuka mataku saat kamu menciumku.”


Sechil merasa semakin malu. Saat hendak mendaratkan bibirnya dipipi Ramon, Ramon langsung menoleh membuat bibir Sechil menempel pada bibirnya bukan pipinya.


Keduanya bertatapan dengan bibir saling menempel. Ramon tersenyum kemudian memejamkan kedua matanya dan memperdalam ciuman mereka dengan kedua tangan menangkup kedua pipi Sechil mencegah kepala Sechil menjauh darinya.


Sesaat mereka menikmati ciuman penuh cinta itu hingga akhirnya Ramon melepaskan bibir Sechil karna Sechil yang sudah hampir kehabisan napas karna ciuman-nya.


Kening keduanya saling menempel dengan napas tersengal. Ramon kemudian tertawa begitu juga dengan Sechil. Ciuman itu seperti memberikan energi untuknya. Ramon benar benar tidak merasa lemas sedikitpun pada tubuhnya begitu bibir mereka menyatu.

__ADS_1


“Dasar mesum.” Ejek Sechil membuat Ramon tertawa lagi.


“Lihat saja nanti setelah anak kita lahir. Mungkin sebutan mesum saja tidak cukup untukku sayang..” Balas Ramon.


Sechil menjauhkan kepalanya dari Ramon kemudian bangkit dari duduknya.


“Sudah ah, aku ambilin makan siang dulu buat kamu.” Katanya kemudian berlalu keluar dari kamar meninggalkan Ramon yang tersenyum sambil menyentuh bibirnya sendiri.


Ramon tertawa sendiri membayangkan intimnya ciuman mereka tadi. Ramon sebenarnya ingin melakukan lebih tapi rasanya tidak mungkin mengingat dirinya yang sedang tidak sehat. Ditambah Sechil yang sedang hamil besar.


Ramon menghela napas. Tidak turun dari ranjang dari malam sampai siang membuatnya benar benar bosan. Ramon tidak biasa hanya berbaring santai seperti sekarang. Ramon selalu aktif bergerak mengeluarkan keringat yang bisa menghasilkan uang untuknya menyambung hidup dan membiayai kuliahnya sendiri.


Tidak lama kemudian Sechil datang dengan membawa nampan dimana diatasnya terdapat sepiring nasi beserta lauknya juga segelas air putih untuk Ramon makan siang.


“Kamu nggak makan sekalian?” Tanya Ramon melihat nasi dipiring yang hanya cukup untuk satu orang saja.


“Emm.. Aku nanti saja. Kamu dulu makan biar minum obat.”


Ramon mengeryit.


“Kenapa harus nanti? Kenapa nggak sekalian makan sama sama?” Tanyanya.


Sechil menghela napas dan memutar jengah kedua bola matanya. Tidak enak badan membuat Ramon sedikit bawel sekarang.


“Ya sudah aku ambil lagi nasinya..”


“Eh eh.. Nggak. Kamu disini aja duduk yang anteng. Biar aku yang ambil.” Cegah Ramon membuat Sechil mengerjapkan kedua matanya beberapa kali.


“Tapikan kamu..”


“Aku udah sembuh kok.. Obatnya tadi sangat ampuh. Nanti lagi ya sayang..” Senyum Ramon menyela ucapan Sechil. Ramon bahkan mengedipkan sebelah matanya membuat kedua pipi Sechil langsung merona.


“Apaan sih..” Gumam Sechil melengos merasa malu.


Ramon hanya tersenyum saja. Ramon kemudian turun turun pelan dari ranjang mereka dan melangkah keluar dari kamar mereka menguatkan tubuhnya yang sebenarnya masih lemas itu untuk bergerak. Ramon tidak mau membuat Sechil kelelahan karna mengurusnya.


“Aku sembuh sekarang.” Batin Ramon yakin.

__ADS_1


__ADS_2