
Rayan termenung diruangan kerjanya. Sikap Caterine benar benar membuatnya bingung. Caterine adalah ibu kandungnya, wanita yang melahirkan-nya. Tapi sikap wanita itu seperti orang asing pada Rayan. Penuh dengan taktik licik juga sandiwara.
Rayan menghela napas pelan. Kedua matanya terpejam mencoba untuk merilekskan pikiran-nya. Seburuk apapun Caterine dia tetaplah mommy-nya. Caterine adalah wanita yang melahirkan-nya juga menyusuinya. Caterine pernah susah berjalan, bahkan tidak mampu melihat kakinya sendiri saat mengandung Rayan. Hal itu membuat Rayan merasa sangat berhutang budi. Rayan sadar apapun yang dia persembahkan tidak akan bisa membalas air susu juga tenaga yang pernah Caterine keluarkan saat berjuang melahirkan-nya.
Suara pintu yang terbuka membuat Rayan membuka kedua matanya. Rayan tersenyum saat mendapati Sechil yang masuk kedalam ruangan-nya.
“Kakak...” Lirih Sechil.
“Masuklah..” Senyum Rayan.
Sechil mengangguk. Dengan ragu Sechil melangkah mendekat pada Rayan yang duduk dikursi kerjanya.
“Duduklah..”
Sechil mengangguk lagi kemudian segera mendudukkan dirinya dikursi didepan meja kerja Rayan.
Melihat logat penuh keraguan Sechil Rayan mengeryit. Rayan menebak Sechil sedang ingin mengatakan sesuatu padanya.
“Ada apa Sechil?” Tanya Rayan dengan nada pelan.
Sechil menelan ludahnya. Sechil ingin mengatakan sesuatu tentang Ramon juga Caterine yang berencana menguasai seluruh harta yang dimiliki Rayan sekarang.
“Kak...”
Sechil diam lagi. Sechil benar benar tidak tau harus bagaimana lagi. Memikirkan sendiri tentang Ramon juga Caterine membuat Sechil tidak bisa nyenyak tidur setiap malam.
“Ramon.. Dia menelponku tadi pagi. Dia mengajakku untuk bertemu.”
Rayan menganggukan kepalanya.
“Kakak juga sudah menyuruh Luky untuk mencari keberadaan daddy kamu.”
Sechil menghela napas. Meski tidak yakin Daddy-nya mau hadir dan menjadi wali jika Sechil menikah dengan Ramon, tapi menurutnya tidak ada salahnya jika dicoba dulu. Sechil masih yakin daddy-nya masih menyayanginya.
“Eemm.. Kak..”
__ADS_1
Rayan mengangkat kedua alisnya menatap Sechil penuh tanda tanya.
“Bisa tidak kakak sama kak Alana temani aku ketemu sama Ramon?” Tanya Sechil menatap Rayan ragu.
Mendengar permintaan bernada pertanyaan Sechil, Rayan tampak berpikir. Kesibukkan-nya setiap hari benar benar menyita waktunya.
“Hari apa kalian berencana bertemu?” Tanya Rayan kemudian.
“Besok malam kak..” Jawab Sechil.
Rayan kembali terlihat berpikir. Besok malam Rayan ada rencana pergi bersama Luky untuk menemui orang suruhan Luky yang ditugaskan masuk kedalam perusahaan Dion. Dan Rayan merasa tidak enak jika harus menunda lagi.
“Begini Sechil, kakak juga ada janji bersama seseorang.”
Wajah Sechil langsung merengut mendengarnya. Sechil ingin Rayan dan Alana menemaninya bertemu dengan Ramon. Karna Ramon sendiri meminta Sechil untuk mengajak keduanya untuk membicarakan tentang rencananya menikahi Sechil.
“Tapi kamu tidak usah khawatir, kakak akan pastikan bisa menemani kamu bertemu dengan Ramon.”
Ekspresi Sechil langsung berubah ceria mendengarnya. Sechil merasa lega karna Rayan mau menyempatkan waktunya bertemu dengan Ramon bersamanya besok malam.
“Tidak perlu sungkan sama kakak.. Kamu adik kakak satu satunya. Kakak dan kak Alana sayang sama kamu. Kamu harus tau itu Sechil.”
Sechil tersenyum haru. Rayan dan Alana sangat baik dan menyayanginya dan bodohnya Sechil tidak pernah menyadari itu. Sechil selalu jahat dan berbuat semaunya. Tapi sekarang, Sechil benar benar merasa sangat menyesal.
Senyuman Sechil perlahan memudar. Sechil mengingat kembali niatnya menemui Rayan. Bukan hanya ingin berbicara tentang Ramon, tapi juga tentang niat buruk Caterine. Sechil bukan tidak menyayangi Caterine, Sechil hanya tidak ingin Rayan dan Alana menjadi korban keegoisan mommy-nya itu.
“Kenapa lagi?” Tanya Rayan dengan sangat penuh perhatian pada Sechil.
Sechil memejamkan kedua matanya sembari menghela napas sebelum akhirnya kedua matanya terbuka dan menatap kembali pada Rayan yang menunggu apa yang ingin Sechil katakan.
“Ini tentang mommy kak..” Lirih Sechil seperti ingin menangis.
Senyuman Rayan memudar. Berbicara tentang Caterine, Rayan sendiri bingung harus bagaimana.
“Kenapa dengan mommy?” Tanya Rayan kemudian. Kali ini wajahnya terlihat datar dengan pandangan lurus kearah samping tidak menatap pada Sechil yang ada didepan-nya.
__ADS_1
Sechil menundukkan kepalanya. Rencana menguasai seluruh harta Rayan juga pernah menjadi rencananya.
“Aku minta maaf sebelumnya kak. Aku tau apa yang aku lakukan sama mommy itu sudah sangat keterlaluan. Kami pernah menjahati kak Sakura dulu. Kami, aku dan mommy bahkan membiarkan saja saat kak Sakura mengalami serangan jantung sampai akhirnya kak Sakura meninggal.” Sechil berkata dengan suara purau. Kedua matanya berkaca kaca bahkan air matanya sampai menetes membasahi kedua pipinya. Sechil sangat menyesali semua yang dia lakukan dimasa lalu terutama pada Sakura yang sampai akhir hayatnya Sechil tidak bisa meminta maaf.
Rayan mengepalkan kedua tanganya mendengar itu. Rayan tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika sampai Sandi tau tentang apa yang Caterine dan Sechil lakukan pada putri semata wayangnya Sakura.
“Kak, aku sadar apa yang aku lakukan selama ini salah. Maka dari itu sebagai permintaan maaf aku, aku mau memberitahu awal tujuan kami berdua datang dan pindah kesini..”
Rayan hanya diam mendengarkan. Dadanya terasa sangat bergemuruh karna emosi yang tertahan. Caterine dan Sechil secara tidak langsung menjadi penyebab kematian Sakura, mendiang kekasihnya yang telah tiada.
“Aku dan mommy.. Kami berniat menguasai seluruh harta yang kakak miliki sehingga kami tidak pernah merasa senang melihat kakak dekat bahkan sampai menikah dengan siapapun. Entah itu kak Sakura, maupun kak Alana. Aku sangat minta maaf kak.. Aku menyesal, sangat menyesal.” Air mata Sechil sudah tidak terbendung lagi. Rasa penyesalan-nya membuat Sechil merasakan sendiri sakit dihatinya. Jika saja mampu, Sechil ingin bertemu dengan Sakura dan meminta maaf atas semua yang telah dia lakukan pada Sakura, meskipun hanya lewat mimpi.
Kedua mata Rayan berkaca kaca mendengarnya. Rayan benar benar tidak menyangka adik dan mommy-nya mempunyai pikiran seperti itu. Padahal Rayan sudah rela berbagi pada keduanya. Rayan sampai mengesampingkan pesan daddy-nya untuk tidak sepeserpun memberikan harta yang Rayan miliki pada Caterine maupun Sechil.
“Apa itu artinya kalian berdua juga berniat menyingkirkan aku?” Tanya Rayan dengan suara sedikit serak. Rayan sangat terkejut dan sedikitpun tidak pernah memikirkan hal itu sebelum ini.
Sechil hanya bisa menundukkan kepalanya. Caterine tidak pernah dengan jelas mengatakan akan melakukan apa pada Rayan.
“Apa sebegitu tidak pantasnya aku mendapat kasih sayang tulus dari mommy? Apa mommy membenciku?”
Sechil menggelengkan kepalanya. Tangisan-nya pecah didepan Rayan. Tangis penyesalan karna telah berniat tidak baik pada Rayan yang jelas jelas sangat perduli dan sangat menyayanginya.
“Maaf kak.. Aku minta maaf..” Sechil mulai terisak.
Rayan tersenyum merasa pilu sendiri. Bahkan wanita yang mengandungnya selama 9 bulan lebih sama sekali tidak memiliki rasa sayang padanya. Caterine datang bukan untuk mengakuinya sebagai anak, tapi untuk menguasai semua hartanya.
“Keluar kamu Sechil..” Perintah Rayan dingin.
Sechil mengangkat kepalanya menatap Rayan dengan wajah memerah dan basahnya.
“Kak tapi...”
“Kakak bilang keluar Sechil, sekarang.”
Sechil tidak bisa berkata apa apa. Sechil memahami jika memang Rayan marah bahkan merasa sangat kecewa. Dengan pelan Sechil bangkit dari duduknya kemudian melangkah keluar dari ruangan kerja Rayan.
__ADS_1