
Pagi ini Alana meminta ditemani jalan jalan keliling pasar oleh Rayan langsung. Wanita itu mengatakan sedang ingin memakan mie ayam yang dari dulu memang menjadi langganan-nya juga Sari jika pergi berdua.
Rayan yang memang hari itu banyak jadwal metting dan pertemuan dengan para client-nya terpaksa harus melimpahkan semua pekerjaan-nya pada Luky yang memang selalu bisa diandalkan.
“Dimana tempatnya Alana? Kita sudah keliling pasar tapi tetap tidak menemukan gerobak tukang mie ayam langganan kamu dan bu Sari..” Rayan mulai merasa kesal sekarang. Pasalnya sudah hampir 1 jam mereka mengelilingi pasar namun tetap saja tidak menemukan tukang mie ayam yang dimaksud Alana. Apa lagi mereka juga sampai keliling kepasar ikan yang membuat Rayan hampir saja muntah.
“Aku juga lupa tempatnya Rayan. Sudah lama sekali aku tidak kesini..” Jawab Alana polos dan seperti tidak merasa berdosa sedikitpun pada Rayan yang wajahnya sudah memerah saking kesalnya.
Fina yang terus mengawal mereka hanya bisa menahan tawanya. Fina tidak menyangka Rayan yang begitu cool dan dingin bisa sangat pasrah saat Alana sedang menginginkan sesuatu. Benar benar sangat langka sampai Fina menganggap mungkin Alana adalah satu satunya pawang Rayan.
“Apa mungkin mamang itu sudah ganti tempat jualan-nya ya..” Keluh Alana dengan wajah sendu.
Rayan mengernyit.
“Mamang?” Tanya nya bingung.
Alana menoleh menatap Rayan dengan ekspresi sendu. Alana kemudian kembali mengedarkan pandangan-nya keseluruh sudut pasar dimana banyak sekali orang berdesakan mencari bahan bahan makanan dan yang lain-nya.
“Aku nggak tau namanya siapa. Tapi ibu tau. Aku biasa memanggilnya mamang.” Jawab Alana membuat Rayan memutar jengah kedua bola matanya.
“Jadi sebenarnya dimana tempat mamang itu jualan Alana?” Tanya Rayan mulai gemas.
Mendengar nada pertanyaan Rayan, Alana kembali menoleh. Kali ini bukan ekspresi sendu yang Alana tampakkan melainkan ekspresi sedih yang membuat Rayan menjadi tidak tega.
“Oke, baiklah. Kita cari lagi mamang itu.” Rayan langsung menyerah begitu melihat ekspresi sedih istri tercintanya.
__ADS_1
Senyuman Alana langsung mengembang. Alana tidak sedang berbohong atau mengerjai Rayan. Alana memang benar benar sedang sangat ingin memakan mie ayam langganan-nya dan ibunya Sari.
“Tapi aku capek banget.. Gendong..” Rengek Alana membuat Rayan ingin sekali menangis saat itu juga. Bukan perkara menggendong Alana yang membuat Rayan ingin menangis, tapi memutari pasar dengan jalanan licin dan becek karna habis turun hujan. Ditambah banyaknya pembeli yang berlalu lalang dan berdesakan tanpa perduli pada orang lain. Bahkan beberapa kali Alana hampir saja tertabrak oleh ibu ibu dan hampir membuat Rayan emosi jika Alana tidak mengatakan dirinya baik baik saja.
Rayan menggendong Alana dengan Fina yang mengikuti dibelakangnya. Pria itu berjalan dengan sangat hati hati agar tidak terpeleset.
Hampir 2 jam berkeliling pasar dan tetap tidak menemukan si Mamang yang Alana maksud membuat Rayan dan Fina akhirnya menyerah begitu juga dengan Alana. Karna pagi yang sudah menjelang siang akhirnya Rayan mengajak Alana untuk sarapan bubur ayam. Alana sempat menolak namun dengan berbagai cara Rayan merayunya bahkan sampai mengatakan akan mengundang si Mamang mie ayam itu kerumah dan membuatkan langsung mie ayam yang di inginkan Alana. Dan mendengar bujukan Rayan akhirnya Alana mau sarapan bubur ayam.
Setelah sarapan bubur, Rayan mengajak Alana pulang karna Rayan juga ada satu pekerjaan yang tidak bisa diwakili oleh Luky atau siapapun.
Saat ini Alana dan Rayan sudah berada disamping mobil mewah Rayan. Rayan juga sudah mengganti baju santainya dengan baju formalnya, yaitu setelan jas serba hitam yang membuat pesonanya semakin kuat.
“Aku masih terbayang bayang mie ayamnya Mamang itu..” Rengek Alana yang masih belum bisa melupakan keinginan-nya.
“Memangnya seenak apa sih mie ayamnya sampai kamu sebegitu pengen-nya?” Tanya Rayan lembut.
Alana diam dengan ekspresi berpikir. Alana mencoba untuk mencari kata yang pantas untuk mengungkapkan rasa dari mie ayam kesukaan-nya dan Sari dulu.
“Rasanya nggak bisa diungkapin dengan kata kata. Pokonya enak banget. Aku dan ibu selalu menyempatkan waktu mampir ketempat Mamang itu kalau ke pasar.”
Rayan yakin tidak akan mudah mencari sosok yang disebut Mamang oleh istrinya. Apa lagi Rayan juga tidak pernah melihat bagaimana rupa penjual mie ayam yang dimaksud oleh Alana.
“Bagitu ya?” Lirih Rayan menatap Alana dengan helaan napas pelan.
“Aku pengin banget makan mie ayam itu.. Aku nggak mau yang lain-nya..” Rengek Alana seperti anak kecil.
__ADS_1
Rayan benar benar melihat sisi lain seorang Alana sekarang. Alana yang begitu tangguh, dewasa, kini begitu manja dengan jurus rengekan-nya yang membuat Rayan tidak tega dan tidak bisa untuk menolak permintaan-nya.
“Ya sudah kalau begitu nanti aku coba tanya sama ibu siapa tau ibu taukan?”
Alana menganggukan kepalanya kemudian menyusup memeluk Rayan yang langsung membalas dan mencium puncak kepala Alana penuh sayang. Rayan tidak pernah menyangka dirinya bisa secinta itu pada Alana. Rayan rela melakukan apapun demi Alana. Alana yang sempat Rayan anggap sebagai pengganti Sakura disampingnya. Alana yang tidak pernah Rayan bayangkan sedikitpun bisa membuatnya begitu sangat tergila gila.
“Ya sudah kalau begitu aku kerja dulu ya.. Aku janji bakal membawa Mamang itu kerumah dengan gerobak mie ayamnya untuk kamu.” Senyum Rayan sambil mengusap lengan terbuka Alana lembut.
Alana menganggukan lagi kepalanya. Alana melepaskan pelukan-nya pada Rayan kemudian berjinjit mencium singkat bibir tipis Rayan.
“Aku cinta kamu.” Ungkapnya.
Rayan tertawa pelan. Rasanya seperti remaja yang baru mengenal cinta. Begitu sangat luar biasa saat Alana mengatakan mencintainya.
“Aku lebih dari mencintai kamu sayang. Kamu harus tau itu.” Balas Rayan.
“Aku berangkat..” Lanjutnya pelan.
Rayan masuk kedalam mobilnya berlalu dengan kecepatan sedang dengan Alana yang melambaikan tangan-nya. Alana tertawa pelan menatap mobil Rayan yang keluar dari gerbang. Entah kenapa Alana merasa dirinya aneh hari ini. Alana ingin terus dimanja dan diperlakukan istimewa oleh Rayan suaminya.
Alana menghela napas pelan. Tanganya mengusap lembut perutnya yang semakin bertambahnya bulan terlihat semakin membesar. Lagi, Alana tertawa ketika mengingat kembali saat Rayan menggendongnya memutari pasar. Janin dalam kandungan-nya terus bergerak gerak seperti sedang menyemangati Rayan yang berjalan dengan sangat waspada dijalan becek pasar.
“Sayang.. Jangan membuat mamah ingin ini dan itu yang terlalu berlebihan. Kasihan papah kamu..” Alana menunduk menatap dan mengelus pelan perut besarnya.
Sementara dalam perjalanan menuju perusahaan-nya Rayan tidak kehilangan akal. Rayan diam diam menghubungi Sari untuk menanyakan tentang Mamang penjual mie ayam yang pasti Sari ketahui.
__ADS_1