
Restoran jepang menjadi pilihan Alana dan Rayan. Mereka berdua duduk lesehan hanya berdua saja dan saling berhadapan.
“Bagaimana perasaan kamu sekarang?” Tanya Alana pada Rayan.
Rayan menghela napas. Entah apa maksud dari pertanyaan Alana sekarang.
“Maksudku setelah mengambil semua fasilitas yang kamu berikan pada Sechil. Aku tau kamu sangat menyayanginya.” Sambung Alana.
Rayan tersenyum. Ternyata Alana begitu sangat peka dan mengerti dirinya.
“Boleh aku jujur?” Tanya Rayan pada Alana.
Alana menganggukan kepala menjawabnya. Wanita itu menyangga dagunya dengan kedua tangan bersiap mendengarkan apa yang ingin Rayan katakan padanya tentang kejujuran itu.
Rayan tertawa pelan. Istrinya terlihat sangat menggemaskan sekarang. Ketika Rayan membuka mulutnya hendak mengatakan sesuatu, pesanan mereka datang membuat Rayan urung mengatakan-nya.
“Terimakasih.” Senyum Rayan pada pelayan direstoran itu.
“Sama sama tuan. Selamat menikmati.” Angguk pelayan tersebut kemudian berlalu dengan membawa nampan kosong.
“Jadi?” Tanya Alana tidak sabaran.
Rayan terdiam sesaat. Tatapan-nya mengarah pada berbagai menu makanan yang dipesan Alana untuk mereka berdua.
“Ada baiknya kita makan saja dulu.”
Alana menghela napas kesal. Wanita itu kemudian meraih semangkuk ramen dan melahapnya tanpa berkata apapun pada Rayan.
“Hey... pelan pelan makan-nya.” Rayan meraih tisu dan mengusap lembut sudut bibir Alana.
“Aku tidak sabar ingin mendengar apa yang ingin kamu katakan dengan jujur Rayan.” Katanya.
Rayan tertawa pelan.
“Baiklah.. Aku akan mengatakan semuanya dengan jujur nanti. Kamu makan saja pelan pelan oke?”
Alana tersenyum dengan menganggukan kepalanya. Dengan tenang mereka menyantap makan siang dengan menu makanan jepang yang di inginkan Alana.
Setelah selesai makan siang, Rayan mengajak Alana ketaman terdekat. Mereka duduk dikursi panjang bercat putih disamping pohon yang cukup rindang. Semilir angin membuat Alana tersenyum merasakan sejuknya udara yang menerbangkan rambut tergerainya.
“Kamu bisa mengatakan-nya sekarang Rayan.”
Rayan tersenyum tipis. Rayan meraih tangan Alana dan menggenggamnya dengan lembut. Itu membuat Alana menoleh menatap Rayan yang berada disampingnya.
“Jujur aku sedikit bingung Alana..”
“Kenapa?” Tanya Alana pelan.
Rayan menghela napas pelan. Tatapan-nya terarah pada Alana yang juga terus menatapnya.
__ADS_1
“Aku menyayangi Sechil. Dia adikku satu satunya.” Rayan berkata jujur dari lubuk hati kecilnya.
“Tapi aku juga sangat tidak suka dengan sikapnya yang kurang ajar padamu Alana. Aku mengambil semua fasilitas yang aku berikan pada Sechil bukan hanya karna itu saja.”
Alana mengeryit.
“Lalu?”
Rayan menghela napas lagi. Rayan takut sesuatu yang buruk terjadi pada Sechil.
“Pergaulan-nya diluar sana sangat bebas. Sechil bahkan pernah beberapa kali mengadakan pesta diklub malam, tepatnya setelah aku memberikan-nya uang bulanan.”
Alana tidak terkejut. Melihat dari gelagat Sechil rasanya itu sangat wajar. Alana bahkan pernah melihat tanda merah dileher Sechil yang kemudian langsung Sechil tutupi.
“Kamu tau Alana, Sechil bahkan tidak pernah masuk kuliah.”
“Apa mommy tau tentang ini?”
Rayan menggelengkan kepalanya.
“Mommy sangat memanjakan Sechil. Mommy pasti selalu percaya dengan alasan Sechil. Meskipun salah dimata mommy Sechil tetaplah benar. Mommy selalu menganggap Sechil anak kecil yang harus dimaklumi segala perbuatan-nya...”
“Bukankah kamu juga begitu? Memanjakan Sechil terlalu akut.” Sela Alana.
Rayan tertawa pelan.
“Ya, ini juga salahku sebenarnya. Aku terlalu memanjakan dan menuruti semua kemauan-nya.”
“Aku tebak itu Sechil.” Kata Alana.
Rayan mengedikkan kedua bahunya. Satu tangan-nya yang bebas merogoh saku dalam jasnya. Benar saja, Sechil menelpon-nya.
“Kamu benar..” Senyum Rayan menatap Alana kemudian mengangkat telpon dari Sechil.
“Halo..”
Alana yang merasa penasaran mendekat pada Rayan. Alana bahkan berpindah duduk dipangkuan Rayan dan mendekatkan telinganya pada hp milik Rayan.
“Kakak.. Kenapa kakak lakukan ini padaku?” Suara Sechil diseberang sana terdengar sangat memilukan. Suaranya bergetar seperti sedang menahan tangis.
“Kenapa Sechil?”
“ATM ku kakak blokir, Kartu kreditku juga kakak blokir. Apa salahku kak?”
Alana memutar jengah kedua bola matanya mendengar itu. Alana berharap Rayan tidak akan luluh hanya karna gadis nakal itu bersuara menyedihkan.
“Sechil.. Kakak melakukan ini demi kebaikan kamu. Mulai sekarang kamu harus bisa hidup secukupnya. Jangan menghambur hamburkan uang untuk sesuatu yang tidak penting.” Jawab Rayan tegas.
“Ya tuhan.. Kak.. Apa ini karna Alana? Kakak dihasut apa sama dia? Kenapa begitu kejam pada adik sendiri?”
__ADS_1
Alana mendelik mendengarnya. Ingin sekali wanita itu mendatangi Sechil kemudian berteriak didepan wajah memuakkan-nya bahwa Rayan melakukan-nya atas pemikiran-nya sendiri. Bukan karna hasutan-nya.
“Sechil, kamu benar benar sangat tidak sopan. Alana istri kakak. Kamu wajib menghormatinya.” Nada bicara Rayan terdengar sangat kesal karna pertanyaan tidak masuk akal Sechil. Bagaimana mungkin Alana menghasutnya.
“Kak..”
“Sudahlah. Jaga sikapmu jika kamu masih membutuhkan uang dari kakak.” Rayan menutup telpon setelah itu. Pria itu berdecak kesal karna Sechil bahkan sama sekali tidak menyadari kesalahan-nya sendiri.
“Kamu hebat.” Alana mengalungkan kedua tanganya dileher Rayan membuat pria itu menatapnya bingung.
“Kamu hebat karna bisa tegas pada Sechil. Aku yakin itu tidak mudah.” Senyum Alana.
Rayan ikut tersenyum. Semuanya memang tidak mudah, tapi Rayan yakin yang dia lakukan pada Sechil sudah benar. Rayan akan memberikan kembali fasilitas Sechil jika Sechil berubah dan mau menghormati Alana sebagai istrinya.
“Kamu suka?” Tanya Rayan pelan.
“Aku bukan orang jahat Rayan. Aku kasihan jika memang Sechil harus hidup tidak seperti biasanya. Tapi aku juga berpikir mungkin hanya ini cara satu satunya supaya Sechil bisa mengerti.”
Rayan tidak menyaut. Sechil sepertinya tidak akan bisa mengerti dengan maksudnya.
“Alana..” Panggil Rayan pelan.
“Hem?” Alana mengusap lembut pipi tirus Rayan. Kondisi taman saat itu sedang sepi dan hanya ada beberapa orang saja yang berada disana.
“Boleh aku minta sesuatu?”
Alana menatap Rayan dengan kedua mata menyipit.
“Kalau kamu mau meminta supaya aku kuat, aku sudah kuat. Kalau kamu mau meminta aku untuk terus bertahan disamping kamu aku akan melakukan-nya selama kamu juga menjaga hati dan cinta kamu hanya untuk aku. Dan kalau kamu mau meminta aku untuk percaya sama kamu, aku nggak punya alasan untuk tidak percaya sama kamu.” Alana ngoceh sendiri membuat Rayan berdecak pelan.
“Sudah?” Tanya Rayan sedikit jengah setelah Alana selesai bicara.
Alana meringis. Wanita itu merasa sepertinya kali ini Rayan tidak sedang memintanya untuk apa yang baru saja dia ucapkan.
“Aku hanya mau minta cium.” Kata Rayan.
Alana tertawa pelan. Permintaan Rayan hanya ciuman tapi pemikiran-nya begitu panjang.
“Dasar bawel.” Gemas Rayan sambil mencubit hidung mancung Alana.
“Awh.. Sakit Rayan..”
Rayan melepaskan langsung cubitan-nya di hidung Alana. Pria itu kemudian memeluk mesra pinggang Alana.
“Jangan dengarkan apapun kata mommy. Kamu Alana, bukan Sakura. Kamu bukan pengganti.” Ujar Rayan menatap dalam Alana yang sedang mengusap usap hidungnya yang memerah karna cubitan Rayan.
Alana tersenyum kemudian mengecup singkat pipi tirus Rayan.
“Tentu saja. Aku akan menutup telinga dari hal apapun yang tidak baik untuk hubungan kita. Karna aku tau, Aku memang bukan pengganti Sakura. Aku jodoh kamu.”
__ADS_1
Rayan merasa lega mendengar itu. Rayan yakin hubungan-nya dan Alana akan bisa kuat meski menghadapi berbagai rintangan nanti.
“I love you, Alana.”