
Rayan dan Alana benar benar menikmati waktu berduanya dipulau kecil itu. Tidak ada yang mengganggu mereka termasuk mommy dan adik Rayan, Caterine dan Sechil.
“Aku pengin makan ikan bakar..”
Rayan yang sedang duduk menikmati semilir angin dibibir pantai menoleh mendengarnya. Pria itu menatap Alana yang menatap lurus kedepan.
“Ikan bakar?” Tanyanya bingung.
“Ya, tapi harus ikan yang masih segar. Yang baru ditangkap. kamu mau kan nangkap ikan buat aku.”
“Apa? Aku? Nangkap ikan?”
Rayan menunjuk dirinya sendiri. Pria itu merasa tidak yakin dirinya bisa menangkap ikan apa lagi Rayan tidak memiliki alat apapun untuk menangkap ikan itu.
“Kamu nggak mau?” Tanya Alana menatap Rayan dengan wajah sendu.
Rayan menggaruk tengkuknya bingung. Sejak kecil Rayan sangat tidak suka dengan kegiatan itu. Entah memancing atau menjala ikan. Rayan tidak suka karna akan membuat bau amis menempel diseluruh tubuhnya. Tapi sekarang Alana yang memintanya. Rayan tidak mungkin menolak, tapi Rayan juga tidak mungkin bisa melakukan hal seperti itu. Hal yang tidak pernah sekalipun Rayan lakukan seumur hidupnya sampai sekarang.
“Eemm.. Kita kembali ke villa dulu.”
“Tapi..”
“Kita cari alat untuk memancing atau mungkin menjala ikan yang kamu mau.” Sela Rayan lembut.
Alana tersenyum mendengarnya kemudian menganggukan kepalanya. Wanita itu bangkit dari duduknya kemudian melangkah mengikuti Rayan yang lebih dulu melangkah didepanya.
“Kamu mau ikan apa?” Tanya Rayan sembari melangkah menyusuri bibir pantai.
“Apa aja boleh yang penting ikan segar dan bisa dibakar.” Jawab Alana.
Rayan mengangguk pelan. Rayan sedikit menyesal sekarang karna meliburkan para pelayan yang bekerja divillanya. Padahal jika mereka ada Rayan bisa saja meminta tolong pada mereka agar membantunya menangkap ikan untuk Alana.
Setibanya divilla Rayan langsung mencari alat untuk menangkap ikan digudang. Namun sayang, didalam gudang divillanya tidak ada joran untuk memancing ataupun Jala untuk menjala ikan. Gudang itu bahkan sangat bersih dan terawat tidak seperti gudang pada umumnya yang dipenuhi dengan debu dan sarang laba laba.
“Ada tidak?” Tanya Alana yang berdiri diambang pintu gudang.
Rayan menggeleng pelan.
__ADS_1
“Kamu tenang saja, aku bisa menangkap ikan dengan cara yang lain.”
Alana mengeryit.
“Oh ya?”
Rayan kemudian kembali melangkah mendekat pada Alana. Bagaimanapun caranya Rayan sudah bertekad. Dirinya harus bisa menangkap ikan segar untuk istrinya.
“Ayoo..”
Alana menurut saja saat Rayan menggandeng tanganya. Meski Alana merasa sangat mustahil Rayan bisa menangkap ikan menggunakan tangan kosong tapi mempercayakan semuanya pada Rayan juga bukan hal yang buruk.
Mereka berdua berjalan menyusuri bibir pantai. Rayan masih memikirkan bagaimana caranya menangkap ikan tanpa joran atau jala.
“Rayan..” Alana yang bingung dengan kediaman Rayan mulai bertanya tanya.
Senyum Rayan mengembang ketika melihat seorang nelayan yang entah muncul darimana. Nelayan itu berjalan dari arah berlawanan dengan membawa jala yang disampirkan dibahunya.
“Kamu tunggu disini sebentar.” Kata Rayan kemudian berjalan cepat mencegat nelayan tersebut.
Rayan bertanya pada nelayan itu yang ternyata adalah seorang penduduk yang bermukim tidak jauh dari pulau kecil tempat Rayan dan Alana menghabiskan waktu hanya berdua. Rayan kemudian menyewa jala yang dibawa oleh nelayan itu. Meski sempat ragu tapi nelayan itu akhirnya setuju karna harga sewa yang Rayan tawarkan sangatlah mahal. Rayan juga tidak lupa menyewa perahu milik sinelayan yang akan menjadi kendaraanya dalam menjala ikan.
Rayan tersenyum. Tuhan memberinya jalan untuk bisa menyenangkan hati istrinya.
“Dengan jala ini aku akan tangkap ikan yang banyak untuk kamu.” Katanya.
Alana menatap ragu jala tersebut. Tidak semua orang bisa melakukan keahlian itu. Apa lagi mengingat Rayan yang adalah seorang pengusaha yang pasti tidak pernah melakukan hal seperti itu.
“Rayan tapi aku sudah..”
“Kamu tunggu disini ya. Aku akan carikan ikan buat kamu. Jangan kemana mana.” Sela Rayan dengan sangat yakin. Rayan yakin sekarang dirinya bisa melakukanya, mencari ikan segar untuk Alana.
Alana menggelengkan kepalanya.
“Aku ikut..” Pintanya tidak tega membiarkan Rayan sendiri.
Rayan tersenyum. Dengan lembut dibelainya pipi chuby Alana.
__ADS_1
“Aku sama nelayan itu kok. Kamu disini saja ya..” Rayan menunjuk nelayan yang sudah menunggunya di perahu kecil yang terbuat dari kayu.
“Tunggu aku kembali.”
Rayan mengecup kening Alana singkat kemudian berjalan menjauh dari Alana yang merasa khawatir juga ragu. Alana benar benar tidak yakin sekarang Rayan bisa melakukanya.
Semilir angin menerbangkan rambut panjang tergerai Alana. Wanita dengan dress biru tua itu menatap perahu yang membawa suaminya menjauh dengan rasa khawatir yang amat sangat. Rayan, rela melakukan sesuatu yang belum tentu dia bisa lakukan demi bisa mengabulkan apa yang Alana inginkan sekarang.
“Ya tuhan.. Lindungi suami hamba..” Lirih Alana terus berdiri dibibir pantai menatap perahu yang membawa Rayan semakin menjauh darinya.
Sementara Rayan, tidak ada sedikitpun rasa ragu dihatinya sekarang. Rayan yakin dirinya bisa membawa ikan besar untuk dijadikan ikan bakar seperti yang dimau Alana.
“Dimana tempat ikan ikan besar itu pak?” Tanya Rayan pada pelayan yang bahkan tidak dia tau siapa namanya.
“Di dekat sana biasanya banyak tuan. Memangnya untuk apa tuan mencari ikan? Kenapa tidak membeli saja?”
Rayan tersenyum. Membeli sudah biasa baginya. Tapi menangkap sendiri dan mempersembahkanya untuk Alana mungkin akan menjadi hal yang cukup istimewa.
“Istri saya maunya saya menangkap sendiri pak.” Jawab Rayan dengan bangganya. Rayan merasa sedang sangat diandalkan sekarang.
“Wah.. istrinya lagi ngidam ya tuan?”
Rayan hanya tertawa saja. Rasanya tidak mungkin jika Alana sedang ngidam. Untuk seorang Alana menurut Rayan permintaan itu terlalu simpel jika memang sedang ngidam.
“Maaf tuan sebelumnya, saya sepertinya pernah melihat tuan. Wajah tuan sangat familiar menurut saya, tapi saya lupa dimana saya melihat tuan.”
Rayan tertawa lagi. Mungkin saja nelayan itu melihatnya di TV atau mungkin dimajalah.
Ketika sampai ditempat yang memang dituju oleh keduanya, nelayan itu segera menurunkan jala miliknya dengan Rayan yang membantu. Tapi begitu jala itu diturunkan tiba tiba langit biru cerah menjadi mendung. Awan hitam langsung menyelimuti membuat suasana terang menjadi gelap.
“Tuan sepertinya akan turun hujan. Ombak akan sangat besar kalau kita tetap mencari ikan sekarang tuan.” Kata si nelayan memberitahu.
Rayan terdiam. Pria dengan kaos biru tua berlengan pendek itu menatap kesekitar. Suasana memang gelap dan seperti akan turun hujan.
“Saya takut akan ada badai tuan.”
Decakan pelan keluar dari bibir tipis Rayan. Jika dirinya kembali sekarang itu artinya Rayan tidak bisa mengabulkan apa yang Alana inginkan. Rayan tidak ingin Alana kecewa.
__ADS_1
“Tunggu sebentar saja pak. Seekor saja tidak apa apa. Asal saya bisa membawakan ikan segar untuk istri saya.”