
Ramon meraih kembali seplastik susu dan cimol yang dibelinya. Pria itu menghela napas pelan. Sesak dia rasakan didalam dadanya. Bagaimana tidak, Ramon melihat sendiri Sechil memeluk pria lain dengan mata kepalanya. Rasanya seperti mengulang kembali masa masa saat mereka kuliah bersama dulu sebelum Ramon memutuskan hubungan mereka.
Pelan pelan Ramon melangkah mundur. Kedua matanya terus terarah pada Sechil yang masih memeluk pria asing yang tidak Ramon tau siapa. Ramon lebih memilih untuk diam dan berpura pura tidak tau dari pada marah dan memberontak saat itu.
Ramon mencoba untuk paham. Mungkin dibalik apa yang dilihatnya saat itu ada penjelasan yang bisa membuatnya maklum nanti. Apa lagi disana juga ada Alana dan Rayan.
Ramon memejamkan kedua matanya sejenak mencoba untuk berpikir dengan jernih. Ramon yakin semuanya tidak seperti yang dia lihat.
“Oke ramon.. Tenang.. Anggap saja tidak terjadi apa apa..” Gumamnya meyakinkan dirinya sendiri.
Perlahan Ramon melangkahkan kakinya menjauh kembali dari gerbang. Ramon tau semuanya akan sulit jika Ramon menampakkan diri sekarang.
Ramon berhenti di pos satpam penjaga kompleks. Pria itu menyapa dengan ramah para satpam yang sedang asik bermain hp kemudian bergabung disana sembari menunggu Bastian dan Luky pergi. Ramon akan bersikap biasa saja seolah tidak terjadi apa apa nanti.
Setelah mobil Luky dan Bastian keluar dari area kompleks, Ramon pun bergegas untuk kembali. Alana pasti sudah lama menunggu susu yang memang akan segera diminumnya.
Begitu sampai dirumah Rayan dan Alana keadaan disana terlihat biasa saja. Alana duduk dengan Rayan diruang utama. Sedang Sechil, mungkin wanita itu sedang berada dikamarnya. Begitu pemikiran Ramon.
“Kak..”
Suara Ramon membuat Rayan dan Alana menoleh. Keduanya langsung bangkit berdiri menatap Ramon dengan ekspresi yang sangat tidak biasa. Ramon mengartikan tatapan keduanya sebagai tatapan kasihan.
“Ini susunya kak. Apa mau saya bikinkan sekalian?”
Alana tersenyum kemudian menggelengkan kepalanya menolak tawaran Ramon.
“Ya sudah kalau begitu saya ke Sechil dulu..”
“Ya...” Kali ini Rayan yang menganggukan kepalanya menjawab.
Setelah Ramon berlalu keduanya kembali duduk. Mendadak suasana hening tercipta diantara Alana dan Rayan. Mereka berdua memikirkan bagaimana perasaan Ramon jika tau apa yang baru saja terjadi.
“Ada yang mau aku bicarakan. Lebih baik kita kekamar.” Ujar Rayan memecah keheningan.
“Kamu duluan saja. Aku bikin susu dulu baru setelah itu aku nyusul.” Balas Alana yang diangguki oleh Rayan.
__ADS_1
Rayan bangkit dari duduknya berlalu dalam diam. Saat ini pemikiran buruk tentang Bastian dan Sechil sedang menguasai hati dan pikiran-nya. Entah apa yang sebenarnya terjadi antara keduanya Rayan benar benar merasa sangat penasaran.
Alana menghela napas pelan setelah Rayan berlalu. Tidak mau membuat suaminya menunggu lama, Alana pun segera bergegas kedapur membuat susu untuk dirinya sendiri.
Selesai menghabiskan susu buatan-nya sendiri, Alana langsung berlalu dari dapur dan melangkah menuju tangga menyusul Rayan yang memang sedang menunggunya dilantai 2 dimana kamar mereka berada.
Sesampainya dikamar Alana mengeryit. Rayan tidak ada disana.
“Rayan..” Panggilnya dengan nada sedikit tinggi.
Alana melangkah menuju ranjang dan mendudukkan dirinya disana. Wanita itu berdecak, Rayan sudah berlalu dari tadi namun begitu Alana menyusul kekamar pria itu tidak ada ditempat.
Suara pintu kamar mandi yang terbuka berhasil menarik perhatian Alana. Alana menghela napas kesal begitu mendapati Rayan yang baru saja selesai membersihkan dirinya.
“Sudah minum susunya?” Tanya Rayan sambil menggosok rambut basahnya menggunakan handuk. Pria itu bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana boxer diatas lutut saja.
“Sudah.” Jawab Alana singkat.
Rayan menganggukkan kepalanya kemudian berjalan menuju lemari baju mereka. Rayan sebenarnya merasa kepalanya akan pecah menghadapi permasalahan yang dibuat sendiri oleh mommy-nya. Jika hanya Dion saja, Rayan bisa langsung menuntaskan-nya. Tapi Caterine, dia adalah ibu kandungnya sendiri. Sulit bagi Rayan untuk bertindak terlalu tegas mengingat Caterine adalah wanita yang sudah bertaruh nyawa saat melahirkan-nya.
Pertanyaan Alana membuat Rayan terdiam sesaat. Pria itu segera mengenakan kaos polos warna putihnya kemudian melangkah mendekat pada Alana yang duduk ditepi ranjang.
“Tentang mommy dan Dion.”
Jawaban Rayan membuat kedua mata Alana melebar. Alana terkejut dengan apa yang dikatakan suaminya.
“Kenapa dengan mereka? Apa Dion menjahati mommy?”
“Memangnya kamu percaya mommy benar benar berubah Alana?”
Bukanya menjawab Rayan justru balik bertanya bahkan terkesan menyela pertanyaan Alana.
Alana menelan ludahnya. Alana memang meragukan perubahan Caterine yang meski kadang bersikap baik tapi juga kadang terkesan menyudutkan-nya.
“Mereka berdua bekerja sama Alana. Mereka berencana memisahkan kita berdua. Ramon dan Sechil juga. Apa aku harus diam saja?”
__ADS_1
Alana hanya diam. Entah dimana letak kesalahan-nya yang membuat Caterine bahkan tidak pernah sedikitpun menyukainya dari dulu.
“Lalu apa yang akan kamu lakukan?” Tanya Alana pelan.
“Kali ini aku akan bertindak tegas, tidak perduli meskipun itu mommy ku sendiri.” Jawab Rayan penuh keyakinan.
“Apa lewat Bastian?” Tanya Alana lagi.
Mendengar nama Bastian, Rayan kembali mengingat kejadian tadi. Kejadian langka yang menurut Rayan aneh namun juga sangat mencurigakan.
“Alana, apa Sechil ngidam ingin memeluk Bastian tadi?”
Alana menoleh. Wanita itu mengeryit menatap Rayan yang balik menanyakan sesuatu yang bisa dikatakan tidak nyambung dengan apa yang Alana tanyakan. Namun jika dipikir lagi, Alana juga sangat penasaran kenapa tiba tiba Sechil ingin memeluk Bastian, pria yang Sechil sendiri tidak tau siapa.
“Apa wanita hamil memang seperti itu? menginginkan sesuatu dengan sangat egois tanpa memikirkan perasaan suaminya?”
Pertanyaan Rayan kali ini membuat Alana mendelik. Rayan seperti sedang menuduh semua wanita hamil tidak berperasaan.
“Jangan sembarangan kalau ngomong Rayan. Insting wanita itu kuat. Menginginkan sesuatu saat hamil itu bukan faktor kesengajaan. Bukan juga karna kami egois. Tapi karna keinginan si janin.” Jawab Alana menatap Rayan dengan kedua matanya yang melotot.
“Kalau memang begitu kenapa Sechil tidak ingin memeluk Ramon saja? Kenapa harus Bastian?”
Alana berdecak. Rayan benar benar sangat cerewet sekarang. Rayan seperti menjelma dari Beast yang dingin, seram, juga galak menjadi ibu ibu tukang gosip pengrubung gerobak sayur.
“Aku tidak tau apa apa tentang itu. Aku hanya mencoba menjadi kakak yang baik dengan menuruti kemauan Sechil. Itu saja.” Jawab Alana seadanya.
Rayan tampak berpikir. Pria itu masih tidak mengerti dengan apa yang di inginkan oleh Sechil. Jika memang hanya ngidam saja itu keterlaluan menurut Rayan.
“Alana.. Apa mungkin Bastian adalah ayah kandung dari janin yang sedang dikandung Sechil?”
“Apa?” Alana sangat terkejut mendengarnya. Namun Alana juga merasa apa yang dipertanyakan Rayan masuk akal.
“Tapi bagaimana mungkin Rayan, mereka tidak saling mengenal.” Lirih Alana.
Rayan menghela napas. Tidak ada yang tidak mungkin mengingat pergaulan bebas Sechil dulu. Dan juga Bastian yang kata Luky adalah pria yang suka gonta ganti pasangan kencan.
__ADS_1
“Setelah masalah Dion dan mommy selesai, aku sendiri yang akan menyelidikinya.”