Aku Bukan Pengganti

Aku Bukan Pengganti
Episode 174


__ADS_3

Ucapan Agatha terus terngiang ditelinga Michelle bahkan saat Michelle sampai dirumah kedua orang tuanya. Michelle bukan menyesal atau berubah pikiran setelah melihat keadaan Dion. Michelle hanya tidak menyangka dengan Agatha yang bahkan tidak bisa sedikitpun mengerti keadaan-nya. Agatha sudah mengetahui semua perlakuan buruk Dion pada Michelle. Tapi Agatha masih saja berusaha agar Michelle bersimpati pada Dion. Agatha tidak pernah sedikitpun memikirkan bagaimana rasanya menjadi Michelle yang semasa perkenalan-nya dengan Dion hanya dijadikan budak nafsu saja. Agatha hanya memikirkan dirinya dan Dion tanpa memperdulikan perasaan orang orang disekitarnya.


“Michelle..”


Michelle mengurungkan niatnya melangkah menaiki anak tangga begitu mendengar Cindy memanggilnya. Michelle menoleh dan tersenyum ketika Cindy melangkah mendekat kearahnya.


“Mamah..” Senyum Michelle.


“Kamu darimana sayang? Kok mamah telepone nggak diangkat sih?” Tanya Cindy sambil menyentuh lembut pundak Sechil.


Michelle diam sesaat. Michelle berpikir tidak mungkin jika dirinya jujur dari rumah sakit jiwa untuk melihat keadaan Dion dan menemui Agatha. Cindy pasti akan marah padanya.


“Eemm.. Iya mah kebetulan Michelle lupa bawa hp. Kayanya ketinggalan deh dikamar.” Senyumnya bermaksud tidak menjawab pertanyaan awal Cindy.


Cindy menganggukan kepalanya mengerti.


“Terus ini kamu darimana? Kenapa nggak sama pak supir?” Tanya Cindy lagi.


Michelle mengangkat kedua alisnya. Cindy sepertinya tidak puas dengan jawaban Michelle tentang hp nya yang ketinggalan.


“Michelle.. Kamu darimana nak?” Cindy mengulangi pertanyaan-nya pada Michelle yang tidak kunjung menjawab pertanyaan-nya.


Michelle menghela napas. Meski jujur akan membuat Cindy marah, tapi berbohong juga akan lebih membuat Cindy marah jika sampai Cindy tau kebenaran-nya.


“Maaf mah.. Michelle dari rumah sakit.” Ujar Michelle pelan.


Cindy mengeryit.


“Rumah sakit? memangnya siapa yang sakit? Temen kamu?” Tanya Cindy yang masih belum bisa menangkap maksud Michelle.


Michelle menggelengkan kepalanya pelan.


“Michelle abis kerumah sakit jiwa mah.. Michelle cuma penasaran ingin tau bagaimana keadaan Dion. Dan juga Michelle ingin bertemu dengan mamah Agatha.” Jelas Michelle menjawabnya.

__ADS_1


Cindy menghela napas kemudian melipat kedua tangan-nya dibawah dada. Cindy menatap Michelle dengan ekspresi yang berbeda dari sebelumnya. Jika tadi ekspresinya begitu lembut dan menatapnya dengan penuh perhatian, kini ekspresinya berubah datar dan dingin.


“Kamu ngapain kesana Michelle? Mamah kan sudah bilang putuskan semua hubungan dengan keluarga Agatha. Mamah nggak mau kamu terpengaruh oleh omongan Agatha. Mamah nggak mau sesuatu yang buruk itu kembali kamu rasakan Michelle. Tolong mengerti maksud mamah..”


Michelle menundukan kepalanya. Michelle tau Cindy marah sekarang. Tapi Michelle juga tidak bisa melupakan perhatian Agatha padanya. Michelle akui Agatha sangat baik padanya dulu. Agatha begitu perhatian bahkan tidak segan memarahi Dion meski Michelle tidak pernah mengadukan bagaimana buruknya sikap dan perlakuan Dion padanya.


“Maaf mah.. Michelle cuma ingin berbicara dengan mamah Agatha tentang semua keniatan Michelle untuk bercerai dengan Dion. Itu saja.”


“Itu nggak perlu Michelle. Kamu tidak harus begitu hormat pada orang orang yang tidak pernah sedikitpun memikirkan perasaan kamu.” Sela Cindy dengan nada suara yang sedikit meninggi.


Michelle menelan ludahnya dengan kedua mata terpejam. Michelle sadar dan paham, perubahan sikap Cindy pada Agatha karna kasih sayang Cindy yang begitu besar padanya.


Melihat Michelle yang menundukkan kepala didepan-nya Cindy kembali menghela napas. Cindy menyesal karna berbicara dengan nada tinggi pada putri kesayangan-nya. Tapi Cindy benar benar tidak bisa menahan emosinya mendengar Michelle masih menemui Agatha tanpa izin darinya.


“Oke, kali ini mamah maafkan kamu Michelle. Tapi tidak untuk kedepan-nya. Sekarang lebih baik kamu makan setelah itu baru kamu istirahat. Mamah tunggu dimeja makan.” Katanya kemudian berlalu dari hadapan Michelle.


Michelle menghela napas. Siang ini Michelle berhasil membuat Cindy marah padanya. Pelan pelan Michelle mengangkat kepalanya. Michelle menatap punggung Cindy yang menjauh darinya. Perlahan seulas senyum mulai terukir dibibir Michelle. Michelle tau Cindy sangat menyayanginya. Cindy tidak maj Michelle kembali disakiti oleh Dion juga Agatha.


“Michelle sayang banget sama mamah. Michelle minta maaf kalau dulu Michelle sering bohong sama mamah..” Gumam Michelle lirih.


------


Alana menatap Rayan yang begitu fokus dengan kemudinya. 2 hari ini Robin terus menghubungi Rayan dan memberitahu tentang kondisi Caterine yang sudah membaik fisiknya namun tidak dengan mentalnya. Robin mengatakan Caterine tidak berhenti berteriak bahkan saat tengah malam membuat Robin kesusahan tidur selama 2 malam terakhir. Sedangkan siang ini, mereka berdua beserta Sari dan yang lainya sudah dalam perjalanan menuju rumah masa kecil Rayan.


“Kamu kenapa?” Tanya Rayan yang ternyata menyadari tatapan Alana.


Alana menghembuskan napasnya pelan. Alana tidak tau bagaimana pemikiran Rayan sekarang sehingga tidak menjenguk Caterine sama sekali meskipun Robin terus menghubunginya.


“Kamu nggak ada keniatan buat jenguk mommy?” Tanya Alana langsung pada apa yang ingin dia tahu.


Rayan tersenyum.


“Untuk saat ini biarkan dulu mommy seperti itu sayang. Kamu tidak usah khawatir dan terlalu memikirkan mommy sekarang. Aku ingin mommy bisa berpikir dengan baik. Aku ingin mommy bisa menyadari semua perbuatan-nya.” Jawab Rayan tenang.

__ADS_1


“Tapi bagaimana dengan Robin? dia pasti tidak nyaman dengan tingkah mommy yang sekarang.”


Rayan menghela napas. Robin memang sering menghubunginya dan mengeluh tentang Caterine yang membuatnya tidak bisa tenang memejamkan kedua matanya.


“Untuk itu aku sudah membicarakan-nya pada Robin kemarin. Aku menyuruhnya untuk tidak selalu berada didepan sel mommy apa lagi jika malam.”


“Tapi bagaimana jika mommy melukai dirinya sendiri lagi?”


“Aku yakin mommy masih bisa merasakan sakit dan tidak akan mengulangi perbuatan itu lagi.” Jawab Rayan.


“Bagaimana dengan Sechil? Apa dia tau tentang keadaan mommy sekarang?” Tanya Alana lagi.


“Tentu saja, Aku memberitahu tahunya. Tapi tidak mengatakan apapun. Sepertinya dia sedang fokus dengan dirinya sendiri dalam memperbaiki diri.”


Alana mengangguk pelan. Rayan memang tidak membiarkan Caterine begitu saja. Rayan selalu memantau keadaan Caterine lewat Robin. Rayan bahkan menyuruh orang agar melapisi dinding dan besi sel Caterine dengan sesuatu yang empuk agar Caterine tidak lagi menyakiti dirinya sendiri. Namun ada satu yang membuat Alana heran, Caterine tidak pernah melakukan aksi mogok makan. Caterine selalu teratur menyantap setiap hidangan yang diberikan padanya oleh petugas disana. Mungkin hal itu juga yang membuat Rayan tenang dan yakin bahwa semua yang Caterine lakukan dengan menyakiti dirinya sendiri hanya cara agar Rayan merasa kasihan kemudian membebaskan-nya.


Tanpa terasa mobil Rayan sampai tepat didepan gerbang tinggi menjulang kediaman keluarganya. Rayan tersenyum menatap kediaman masa kecilnya.


“Sayang..” Panggilnya menoleh pada Alana.


“Ya..” Saut Alana tersenyum manis membalas tatapan-nya.


“Boleh aku minta sesuatu sama kamu?” Tanya Rayan membuat Alana mengeryit.


“Apa itu?”


Rayan meraih tangan Alana dan menggenggamnya sambil mengusap cincin pernikahan yang melingkar dijari manis Alana.


“Kedepan-nya tolong jangan pikirkan yang lain lagi. Kita jalani apa yang harusnya kita jalani dan kita nikmati semua yang ada tanpa merasa ada beban apapun. Karna aku hanya ingin kita berdua bahagia bersama.”


Alana terdiam. Rayan sedang meminta agar Alana tidak membahas apapun lagi tentang Caterine secara tidak langsung. Alana menghela napas kemudian menganggukkan kepala dengan senyuman yang kembali menghiasi bibir pink nya.


“Ya.. Kita akan selalu bahagia bersama sama.” Balas Alana.

__ADS_1


Rayan tersenyum mendengarnya kemudian mencium lama punggung tangan Alana dengan kedua mata terpejam.


__ADS_2