
“Bagaimana keadaan istri saya dokter?” Tanya Rayan pada dokter cantik berkaca mata yang baru saja memeriksa keadaan Alana. Karna takut Alana kenapa napa Rayan langsung saja mampir kerumah sakit untuk memeriksakan keadaan Alana.
Dokter cantik itu tersenyum menatap Rayan yang terlihat sangat mengkhawatirkan istrinya.
“Tidak ada yang perlu dikhawatirkan tuan, Nyonya baik baik saja. Merasa mual saat mencium bau menyengat itu hal yang wajar bagi ibu hamil.” Jawabnya.
Rayan menghela napas lega. Jika sesuatu terjadi pada Alana, Rayan bersumpah akan membunuh Dion dengan kedua tangan-nya sendiri tidak perduli apapun konsekuensinya.
“Kalau begitu saya permisi tuan.” Dokter cantik itu kemudian berlalu dari hadapan Rayan yang langsung mendekat pada Alana yang masih berbaring diatas brankar.
Rayan menatap Alana yang memejamkan kedua matanya. Rayan tau Alana tidak tidur. Alana merasa lemas karna terus mual mual saat direstoran bahkan sampai dalam mobil saat menuju rumah sakit.
“Kita pulang sekarang?” Tanya Rayan lirih.
Alana melenguh pelan. Wanita itu bergerak pelan mengubah posisi berbaring terlentangnya menjadi miring. Pelan pelan Alana membuka kedua matanya.
“Dingin..” Keluhnya.
Rayan tersenyum. Pria itu menggeser pelan tubuh Alana kemudian ikut naik keatas brankar. Rayan melepas jas hitam yang dikenakan-nya dan menyelimutkan-nya pada tubuh Alana.
“Sudah hangat?” Tanya Rayan sambil membelai lembut kening Alana merapikan anak rambut wanita itu yang sedikit menutupinya.
“Aku mau dipeluk..” Jawab Alana dengan nada rengekan.
Rayan tertawa pelan. Pria itu merengkuh tubuh Alana memeluknya dengan mesra. Rayan juga mencium puncak kepala Alana.
“Bagaimana? Apa sudah tidak dingin lagi?” Tanya Rayan lagi.
Alana mengangguk dalam pelukan Rayan sebelum akhirnya rasa kantuk menyerangnya. Alana mulai menyelami alam mimpinya dengan damai.
Rayan tersenyum sambil terus mengusap usap punggung Alana. Entah kenapa Alana tiba tiba muntah muntah begitu melihat Dion. Rayan belum menanyakan kenapa tiba tiba Alana muntah muntah tapi dokter mengatakan itu karna bau bauan menyengat yang artinya Alana merasa mual saat Dion berada disekitarnya.
Rayan merasa lega. Alana tidak bisa sedikitpun dekat dengan Dion yang sampai sekarang masih mengharapkan Alana kembali padanya.
__ADS_1
------
Sementara itu dirumah Caterine terus mencoba mempengaruhi Sechil agar membatalkan pernikahan-nya dengan Ramon. Caterine sampai menangis didepan Sechil yang hanya diam dengan rasa bimbang yang merayapi hati juga pikiran-nya sekarang.
“Mommy mohon Sechil.. Sebelum semuanya terlambat. Kamu harus memikirkan kembali keputusan kamu ini. Menikah itu tidak seperti orang pacaran nak.. Mommy tidak mau kamu menyesal suatu hari nanti.”
Sechil memejamkan kedua matanya. Ramon memang tidak kaya seperti Rayan yang memiliki segalanya, tapi Ramon pria yang baik. Ramon sangat tulus dan penuh perhatian pada Sechil. Ramon bahkan tidak mempermasalahkan apa yang pernah Sechil lakukan padanya dulu.
“Sechil, lihat mommy..” Caterine meraih tangan Sechil dan menggenggamnya erat membuat Sechil mau tidak mau menatapnya.
“Mommy sayang banget sama kamu nak.. Apapun yang mommy lakukan semuanya demi kamu.. Demi kebaikan kamu..”
Sechil menelan ludahnya menatap wajah cantik Caterine. Dulu Caterine adalah satu satunya orang yang sangat menyayangi dan memperdulikan-nya. Caterine tidak pernah marah apa lagi memukulnya dulu. Caterine selalu memanjakan-nya dengan menuruti semua yang Sechil inginkan.
“Mom.. Ramon laki laki yang baik.. Mommy harus percaya pada Sechil..”
Caterine mendesis merasa sangat gemas pada Sechil yang tidak bisa dikasih tau yang menurut Caterine benar.
“Mom... Ramon mau menikahiku itu saja aku sudah sangat bersyukur.. Ramon mau bertanggung jawab padaku yang hamil entah dengan siapa..”
“Kamu benar benar tidak tau siapa yang menghamili kamu?”
Sechil menundukkan kepalanya kemudian mengangguk pelan menjawab pertanyaan Caterine. Sechil memang tidak tau siapa ayah dari janin yang sedang dikandungnya.
“Mommy pikir kamu berbohong Sechil..” Ujar Caterine tidak percaya.
Sechil terus menundukkan kepalanya. Pergaulan-nya terlalu bebas. Sechil sering gonta ganti pasangan setiap kencan dengan lawan jenisnya. Namun Sechil juga tidak sembarang tidur dengan laki laki jika Sechil tidak merasa tertarik.
“Sechil.. Dengan siapa terakhir kamu kencan?” Tanya Caterine merasa ingin tau semuanya.
Pelan pelan Sechil mengangkat kepalanya. Sechil mencoba mengingat ingat namun sedikitpun tidak teringat kejadian terakhir malam dirinya mengunjungi klub malam milik teman-nya.
Sechil menggeleng pelan. Sechil tidak mengingat apa apa karna saat sadar Sechil sudah ada dikamar dengan segepok uang yang membuatnya marah dan merasa terhina.
__ADS_1
“Aku tidak tau mom.. Aku tidak mengingat apa apa malam itu. Aku mabuk berat dan aku..”
Sechil menggantungkan kalimatnya kemudian menatap Caterine yang berada disampingnya.
“Coba kamu ingat lagi pelan pelan nak.. Siapa tau kamu ingat siapa dia. Dengan begitu kamu tidak perlu menikah dengan Ramon..”
Sechil mengeryit mendengarnya. Caterine sedang berusaha menggoyahkan keyakinan-nya dengan menyuruhnya mengingat kejadian malam terakhir yang membuatnya hamil.
“Mom.. Aku tetap akan menikah dengan Ramon. Kakak sudah setuju.”
“Tapi mommy tidak setuju. Mommy yang melahirkan kamu. Mommy yang membesarkan kamu, bukan Rayan.” Sela Caterine cepat.
Sechil menghela napas. Entah kenapa Caterine sangat menentang pernikahan-nya dengan Ramon. Padahal sebenarnya Caterine harusnya berterimakasih pada Ramon karna Ramon mau bertanggung jawab atas perbuatan yang dilakukan oleh orang lain.
“Ramon orang yang baik mom..” Ujar Sechil pelan.
“Tapi dia miskin, dia tidak punya apa apa Sechil. Mommy yakin kamu tau itu.. Mommy melarang kamu menikah sama dia karna mommy nggak mau kamu hidup susah. Mommy nggak mau kamu menderita.” Caterine terus berusaha menggoyahkan keyakinan Sechil.
“Kakak menyayangiku mom.. Aku yakin kakak tidak akan membiarkan itu terjadi. Kakak akan membantuku dan Ramon..”
Caterine memejamkan kedua matanya. Desisan kesal keluar dari bibir merah berlipstiknya. Menggoyahkan keyakinan Sechil tidaklah mudah.
“Sechil..”
“Mom.. Aku menerima Ramon bukan tanpa alasan. Aku akui aku memang masih sangat mencintainya. Tapi disamping itu juga karna aku nggak mau anak aku hidup dan besar tanpa sosok ayah.. Ramon sudah mau bertanggung jawab dan menerima kekurangan aku itu perbuatan yang sangat mulia. Ditambah Ramon juga sudah aku sakiti saat itu. Kurang baik apa lagi Ramon mom..” Sela Sechil panjang lebar. Sechil benar benar tidak tau bagaimana cara berpikir Caterine.
Rahang Caterine mengetat dengan kedua tangan yang mengepal erat. Berhari hari Caterine selalu mencoba mengingatkan Sechil namun sama sekali tidak menghasilkan apa apa. Sechil tetap pada keyakinan-nya akan menikah dengan Ramon.
”Sepertinya kamu memang sudah tidak menyayangi mommy lagi Sechil. Kamu tidak perduli dengan perasaan mommy yang sangat perduli sama kamu..”
Sechil menggelengkan kepalanya.
“Aku sayang sama mommy.. Tolong jangan berkata seperti itu. Mommy segalanya buat aku..”
__ADS_1
Caterine meneteskan air matanya. Senjata yang mungkin bisa membuat Sechil tidak tega melihatnya.
“Kalau begitu batalkan pernikahan kamu dengan Ramon Sechil. Demi mommy..”