
Ramon mengajak Sechil makan malam disebuah warung makan yang saat itu ramai oleh pembeli. Hal itu membuat Ramon merasa ciut untuk memesankan makanan untuk Sechil apa lagi setelah melihat daftar menu makanan diwarung itu yang tidak seperti menu makanan direstoran mewah. Ramon takut Sechil tidak mau memakan-nya.
“Kamu kenapa?” Tanya Sechil menatap Ramon bingung.
Ramon menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ramon bingung harus bagaimana sekarang.
“Ramon. Kamu kenapa sih?” Ekspresi bingung Sechil langsung berubah menjadi ekspresi kesal karna Ramon yang terlihat seperti orang bodoh didepan-nya sekarang.
Ramon masih diam dengan segala kebingungan-nya. Buku menu yang berada ditangan-nya dia pegang dengan sangat erat merasa takut jika Sechil mengambilnya.
Sechil berdecak kemudian merebut dengan kasar buku menu yang dipegang oleh Ramon.
“Sechil aku..”
“Ngomongnya nanti, aku udah laper.” Sela Sechil tidak mau dibantah.
Ramon hanya bisa menghela napas. Ramon merasa tidak percaya diri kali ini. Sechil tidak terbiasa memakan makanan yang berada dibuku daftar menu yang sekarang sedang dibacanya.
“Bagaimana rasa semur jengkol?” Tanya Sechil tanpa menatap Ramon yang semakin kebingungan.
“Ini juga... Sepertinya hanya rendang yang aku tau rasanya. Ramon. Boleh tidak aku pesan banyak? Aku ingin mencoba semuanya.”
“hah?” Ramon terkejut. Semua menu makanan didaftar buku menu itu enak menurutnya. Tapi Ramon tidak tau bagaimana menurut Sechil.
Tanpa memperdulikan ekspresi Ramon, Sechil langsung memanggil pelayan diwarung itu dan memesan semua menu makanan yang ingin dicobanya. Sechil memesan cukup banyak bahkan sampai memenuhi meja mereka.
Ramon yang melihatnya hanya bisa menelan ludah. Semua makanan yang Sechil pesan adalah menu sederhana yang mungkin saja Sechil belum pernah merasakan-nya.
“Sechil kamu..”
“Aku tau semua makanan ini. Tapi aku belum pernah mencobanya.” Sechil begitu sangat antusias. Sechil meraih salah satu menu yang dipesan-nya kemudian mencicipinya.
“Kangkung terasi ini sangat enak Ramon.” Katanya tersenyum.
Ramon terdiam sesaat. Ramon menatap lagi semua hidangan didepan-nya mulai dari sambal tempe, tahu goreng, dan semua makanan yang sangat jauh dari kata mewah. Namun dari semua makanan itu yang paling mencuri perhatian Ramon adalah semur jengkol yang Sechil pesan. Ramon tidak yakin Sechil akan menyukainya. Karna Ramon sendiri juga sangat tidak tahan dengan aroma khas dari makanan itu.
__ADS_1
“Kamu kenapa sih dari tadi diem terus? Makanan disini nggak enak menurut kamu? Atau aku mesan-nya terlalu banyak?”
Pertanyaan dan ekspresi Sechil membuat Ramon langsung bereaksi. Ramon menggelengkan kepalanya dengan cepat.
“Bukan, bukan begitu sayang.. Aku cuma takut kamu nggak suka dengan makanan disini.” Jawab Ramon jujur.
Sechil menyipitkan kedua matanya. Sechil memang belum terbiasa memakan semua hidangan didepan-nya. Tapi Sechil yakin dirinya akan terbiasa dan bisa menerimanya.
“Hhh.. Udahlah, aku laper. Aku mau makan ini semua. Kamu nggak usah makan ini. Ini makanan nggak enak.” Ketus Sechil kemudian mulai menyinduk nasi yang ada didalam wadah didepanya dan mulai menikmati semua hidangan didepanya.
Ramon hanya diam saja. Pria itu menatap Sechil yang begitu lahap menyantap semua hidangan yang dipesan-nya. Ramon benar benar tidak menyangka Sechil bisa dengan mudah menerima perubahan yang mungkin tidak pernah sedikitpun terbesit di pikiran-nya selama ini.
Setelah Sechil menghabiskan makanan-nya, Ramon pun mengajak Sechil untuk pergi dari warung itu tentunya setelah membayar semua yang telah Sechil habiskan termasuk semur jengkol.
“Aku baru kali ini makan sebanyak ini Ramon. Rasanya unik dan enak banget. Apa lagi semur jengkolnya. Bau tapi sedap. hahaha.” Ujar Sechil yang disertai tawanya.
Ramon tersenyum mendengarnya. Sekarang Ramon semakin yakin bahwa Sechil bisa mengimbanginya.
“Sechil..”
“Hhmm..” Saut Sechil yang menyenderkan kepalanya lagi di bahu belakang Ramon. Mereka memang sudah dalam perjalanan menuju tempat lain yang ingin Ramon sambangi.
Sechil mengeryit. Sechil merasa hubungan-nya dan Ramon selama beberapa bulan ini baik baik saja. Mereka bahkan jarang dan sepertinya hampir tidak pernah bertengkar karna memang Ramon selalu bisa mengerti dan memahami Sechil.
“Memangnya kenapa dengan hubungan kita?” Tanya Sechil bingung.
Ramon menghela napas. Saat itu juga motor metiknya berhenti karna Ramon dan Sechil sudah sampai ditempat yang memang menjadi tujuan Ramon.
Sechil segera turun dari boncengan Ramon. Wanita itu mengeryit ketika melihat ke sekitar.
“Taman?” Tanyanya menoleh menatap Ramon seperti meminta penjelasan.
Ramon tersenyum kemudian turun dari motor metiknya. Ramon melepas jaket yang dikenakan-nya kemudian memakaikan pada Sechil yang malam ini memakai dress selutut dengan lengan pendek.
“Kita duduk yuk?” Ajak Ramon.
__ADS_1
Sechil menganggukkan pelan kepalanya. Bingung sebenarnya tapi Sechil tetap mengikuti Ramon.
Ramon mengajak Sechil duduk dikursi panjang bercat putih ditaman yang memang lumayan ramai malam itu. Namun Ramon tidak langsung mengutarakan apa yang sedang menguasai pikiran-nya. Ramon terus diam membuat Sechil mulai khawatir. Sechil bahkan juga merasa takut karna tiba tiba Ramon menyinggung soal hubungan mereka.
“Ada apa dengan hubungan kita sebenarnya Ramon?” Tanya Sechil yang merasa sudah tidak bisa lagi menunggu.
Ramon menghela napas. Ramon teringat dengan kebohongan-nya pada Claudia siang tadi. Ramon mengatakan bekal yang dibawanya adalah bekal yang dibuatkan ibunya, bukan istrinya. Hal itu Ramon lakukan karna Sechil yang tidak mau teman teman mereka dikampus tau tentang pernikahan yang memang diam diam mereka selenggarakan.
“Bekal yang kamu bawakan buat aku tadi pagi. Itu sangat enak.” Ujar Ramon pelan.
“Aku tanya hubungan kita Ramon. Bukan bekal tadi pagi enak atau tidak.” Tegas Sechil yang mulai terbawa emosi.
Ramon tersenyum. Kebohongan-nya tercipta karna bekal yang Sechil bawakan untuknya.
“Sampai kapan kita akan menutupi hubungan kita pada teman teman dikampus?” Tanya Ramon menatap Sechil yang terlihat terkejut.
Sechil diam seribu bahasa. Wanita itu tidak ingin teman teman di kampusnya tau tentang pernikahan-nya dengan Ramon karna tidak ingin Ramon malu apa lagi jika sampai diejek karna menikahinya yang hamil diluar nikah.
“Ramon aku..” Sechil tidak tau harus bagaimana menjelaskan-nya sekarang.
“Apa kamu malu menikah denganku Sechil?” Tanya Ramon lagi.
Sechil menggelengkan kepalanya.
“Enggak Ramon.. Aku..” Lagi, ucapan Sechil terhenti. Sechil bingung juga takut sekarang.
Ramon menatap Sechil dalam. Tatapan-nya menyiratkan permintaan penjelasan pada Sechil yang tidak pernah ingin orang lain tau tentang hubungan mereka.
“Katakan apapun itu alasan-nya Sechil.. Aku akan menerimanya bahkan jika memang kamu merasa malu bersuamikan aku sekalipun.” Lirih Ramon yang membuat napas Sechil langsung memburu.
Sesak kini Sechil rasakan didadanya.
“Bukan.. Bukan seperti itu..” Gelengnya lagi.
Tidak tega melihat Sechil yang mulai menangis, Ramon langsung menarik Sechil dan memeluknya lembut. Ramon menyesal menanyakan hal itu dan membuat Sechil menangis. Harusnya Ramon bisa mengerti dan memahami bagaimana perasaan Sechil. Ramon sekarang maklum jika memang Sechil malu menikah dengan-nya. Tentu saja karna Ramon yang tidak punya apa apa.
__ADS_1
“Maaf.. Aku akan mencoba untuk mengerti sekarang..” Bisiknya pada Sechil yang menangis terisak dalam pelukan-nya.
Ramon memejamkan kedua matanya. Ada rasa perih seperti sayatan dihatinya. Tapi Ramon tidak bisa apa apa. Ramon hanya bisa berharap suatu saat dirinya bisa membuktikan pada semuanya termasuk Sechil bahwa dirinya pantas bersanding dengan Sechil.