
Keesokan paginya tanpa berpikir panjang lagi Sechil dan Ramon segera mengemasi barang barang mereka. Mereka juga mengatakan apa yang menjadi keputusan-nya pada Caterine saat sedang sarapan.
“Sechil kamu tega ninggalin mommy?” Tanya Caterine dengan mata berkaca kaca menatap Sechil yang duduk didepan-nya.
Sechil menghela napas. Semua sudah menjadi keputusan-nya dengan Ramon. Sechil yakin semuanya akan mudah jika mereka menjalani semuanya berdua.
“Kamu juga Ramon, memangnya disini kurang apa sih? Makan tinggal makan. Tidur ditempat yang nyaman. Kurang apa lagi?”
Suara Caterine sedikit meninggi saat berbicara pada Ramon yang hanya diam saja disamping Sechil. Ramon bukan takut, Ramon hanya tidak mau mengesampingkan rasa hormatnya pada orang yang jauh lebih tua darinya. Apa lagi Caterine adalah mertuanya.
“Jangan salahkan Ramon mom.. Ini keputusan aku.. Aku yang minta Ramon buat bawa aku pergi dari sini.. Bukan kami tidak sayang sama mommy. Tapi karna kami ingin hidup mandiri. Kami ingin bisa menunjukkan pada mommy pada kakak bahwa kami bisa hidup berdua dengan cara kami sendiri.”
Ramon memejamkan kedua matanya. Sikap Sechil yang terlalu tegas pada Caterine membuat Ramon merasa sedikit khawatir. Ramon ingin menyela tapi Ramon tau itu akan membuat Sechil merasa tidak dihargai.
“Nak...” Dengan suara bergetar Caterine meraih tangan Sechil. Wanita itu menggenggam erat tangan Sechil dengan kedua mata berair. Tatapan-nya menyiratkan harapan yang begitu besar pada Sechil.
“Mommy nggak bisa sendirian disini. Kakak kamu sudah pergi meninggalkan mommy dan sekarang kamu juga akan pergi.. Apa kalian tidak memikirkan mommy? Kalian tidak perduli dengan mommy?”
Sechil menghela napas. Sechil juga tidak ingin jauh jauh dari Caterine sebenarnya. Tapi jika dirinya terus berada dirumah itu hubungan-nya dengan Ramon pasti akan tidak sehat. Caterine selalu menyudutkan dan menyalahkan Ramon yang terkadang juga membuat Sechil merasa emosi hingga akhirnya bertengkar dengan Ramon. Caterine juga selalu mengungkit tentang makanan juga tempat yang katanya tidak bisa Ramon sediakan untuk Sechil.
“Mom.. Justru karna kami perduli dengan mommy makanya kami tidak ingin membebani mommy dengan keberadaan kami disini. Kami akan tetap mengunjungi mommy. Akan meluangkan waktu untuk mommy. Tapi tolong mengerti keadaan kami. Kami hanya ingin hidup mandiri mom.. itu saja.” Ujar Sechil berusaha memberi pengertian pada Caterine.
Caterine menangis mendengarnya. Kepalanya menggeleng dengan genggaman tangan-nya yang semakin erat pada tangan Sechil. Caterine benar benar tidak rela jika Sechil juga menjauh darinya.
“Enggak sayang.. Mommy nggak mau jauh dari kamu.. Mommy sayang sama kamu..” Tangis Caterine.
Ramon menatap sendu pada Caterine yang terus saja menangis. Ramon tidak tau harus bagaimana sekarang. Tapi kepercayaan Sechil padanya membuat Ramon tetap harus kokoh dengan pendirian-nya. Ramon yakin dirinya bisa memberikan tempat yang nyaman untuk Sechil juga janin dalam kandungan-nya.
“Permisi tuan..”
__ADS_1
Suara berat Robin membuat Sechil, Ramon, juga Caterine langsung menatap kearah Robin yang berdiri tidak jauh dari meja makan.
“Barang barang anda sudah berada dimobil tuan.” Kata Robin menatap Ramon.
“Ah ya, terimakasih atas bantuan-nya Robin.” Senyum Ramon dengan anggukan kepala pelan.
“Sama sama tuan. Kalau begitu saya permisi.”
“Ya, silahkan.”
Robin kemudian berlalu dengan langkah lebar. Caterine yang sangat tidak rela semakin mengeratkan genggaman tangan-nya pada Sechil.
“Enggak Sechil, kamu nggak boleh pergi. Kamu harus tetap disini sama mommy.. Mommy sayang sama kamu..”
Sechil meringis merasakan sakit akibat genggaman terlalu erat tangan Caterine. Pelan pelan Sechil melepaskan genggaman tangan Caterine. Keputusan-nya tidak bisa diganggu gugat. Sechil akan mengikuti kemanapun Ramon membawanya pergi.
“Tolong jangan seperti ini mom.. Kami harus pergi.”
“Sechil tapi...”
“Mom ingin anak anak mommy bahagiakan? Kalau begitu biarkan kami pergi. Biarkan kami hidup dengan cara kami sendiri.” Sela Sechil sambil terus memeluk Caterine yang duduk dikursinya.
Ramon menghela napas. Pria itu tidak pernah sedikitpun berniat memisahkan Sechil dengan Caterine. Namun Ramon juga tidak mau menolak kemauan Sechil. Sechil juga berbesar hati menerimanya dengan segala kekurangan yang Ramon miliki terutama dalam hal materi dan ekonomi yang memang hanya pas pasan saja. Ramon tidak mau mengecewakan Sechil yang sudah sangat mempercayainya.
“Tolong mengerti mom.. Kami harus pergi.” Lirih Sechil dengan kedua mata terpejam.
Caterine menghela napas panjang kemudian mengusap air mata yang membasahi kedua pipi tirusnya.
“Baik kalau begitu. Tapi tolong izinkan mommy ikut mengantar.”
__ADS_1
Sechil tersenyum mendengarnya begitu juga dengan Ramon. Sechil merasa sangat lega karna akhirnya Caterine menerima keputusan-nya.
“Tentu saja mom. Mommy bisa bawa mobil sendirikan? Aku dan Ramon akan naik motor. Sementara barang barangku dan Ramon akan dibawakan oleh Robin nanti.”
Caterine langsung melepaskan pelukan Sechil. Wanita menatap tidak percaya dengan apa yang putrinya katakan.
“Sechil kamu bisa menggunakan mobil kamu, atau kamu naik mobil sama mommy..”
Sechil tersenyum. Dengan lembut Sechil mengusap air mata yang masih tersisa dipipi Caterine.
“Aku kan sudah bilang mom.. Aku dan Ramon akan hidup dengan cara kami sendiri. Aku juga tidak akan lagi menggunakan fasilitas dari kakak.. Aku yakin Ramon pasti bisa mom menghidupi aku dan juga anak dalam kandungan aku. Mommy juga harus percaya itu.”
Caterine beralih menatap Ramon yang hanya tersenyum tipis saat Caterine menatapnya. Caterine memejamkan sesaat kedua matanya mencoba untuk tenang. Caterine yakin Sechil tidak akan mampu bertahan lama dengan hidup seadanya bersama Ramon. Caterine yakin Sechil lama lama akan merasa bosan kemudian kembali mencarinya.
“Ya sudah kalau memang itu sudah menjadi keputusan kalian berdua. Mommy hanya bisa mendo'akan yang terbaik untuk kalian berdua. Dan untuk kamu Ramon tolong jaga putri kesayangan mommy. Penuhi semua kebutuhan-nya. Jangan sampai membuatnya hidup dengan kekurangan.”
Ramon tersenyum.
“Saya akan berusaha keras untuk itu mom.” Jawabnya.
Setelah menghabiskan sarapan-nya, mereka langsung berangkat dengan mengendarai kendaraan mereka masing masing. Sechil yang memang lebih memilih naik motor dengan Ramon tampak sangat bahagia memeluk perut Ramon.
Sementara Caterine, wanita itu mengendarai mobilnya mengikuti Ramon dan Sechil dari belakang dengan tatapan penuh rasa benci. Caterine merasa Ramon dan Alana adalah benalu dalam hidupnya. Kedua menantunya berhasil merusak rencananya dengan sangat mulus.
Tidak lama kemudian mereka sampai dirumah kontrakan milik Ramon. Rumah itu memang sangat kecil. Hanya ada 3 ruangan yaitu ruangan utama, kamar, kemudian dapur. ruangan-nya juga sangat pengap karna tidak ada pendingin ruangan. Hanya ada satu kipas berukuran sedang disitu.
Caterine yang melihat keadaan rumah kontrakan tersebut langsung berkomentar pedas namun Sechil dan Ramon hanya bisa diam dan tersenyum. Mereka sudah bertekad untuk menjalani hidup berdua dengan cara mereka sendiri.
“Kita pasti bisa Ramon. Jangan cemaskan aku.” Bisik Sechil dengan senyuman manis menatap Ramon.
__ADS_1
Ramon tertawa pelan kemudian menganggukan kepalanya setuju dengan apa yang Sechil bisikan padanya.