
Didalam kamarnya Sechil terus saja diam bahkan saat Ramon masuk. Wanita itu berbaring dengan posisi miring memunggungi pintu masuk.
Ramon yang melihat istrinya seperti itu hanya bisa tersenyum. Ramon mendekat pelan pelan pada Sechil yang sepertinya belum menyadari kehadiran-nya.
Sentuhan lembut tangan Ramon di punggungnya membuat Sechil langsung menoleh. Sechil menatap Ramon dengan pandangan penuh rasa sesal. Perasaan bersalah kembali menghampirinya.
“Ramon..” Lirihnya.
“Maaf ya aku keluarnya terlalu lama. Tadi aku keasikan ngobrol sama para satpam. Mereka sangat ramah dan enak diajak ngobrol.” Senyum Ramon.
Sechil hanya diam saja. Dadanya terasa sesak. Sechil sudah kembali menorehkan luka dihati Ramon meski Ramon belum tau. Sechil menyesal karna menuruti egonya. Seharusnya Sechil bisa menahan diri. Seharusnya Sechil memeluk Ramon, bukan Bastian.
“Oh iya, aku belikan kamu cimol pedas. Aku beli didepan indomaret. Aku pikir kamu bakalan suka.. Ayo bangun.”
Kedua mata Sechil terasa memanas. Ramon pria yang sangat baik. Tapi sayangnya Ramon tidak beruntung karna mendapat istri seperti Sechil. Istri yang tidak baik juga egois.
Ramon membantu Sechil untuk bangkit kemudian memberikan cimol yang dibelinya.
“Tadi saat aku membelinya cimol ini masih anget. Tapi sekarang sudah dingin. Maaf, aku malah ngobrol sama para satpam tadi.” Ramon terus saja berkata dengan sangat lembut. Ramon mengesampingkan perasaan-nya yang terluka.
Sechil menggelengkan kepalanya. Air mata mulai menetes membasahi pipinya. Sechil benar benar tidak kuat. Sechil tidak bisa menahan lagi air matanya. Ramon terlalu baik untuknya.
“Ceraikan aku.. Ceraikan aku Ramon..”
Ramon tersenyum mendengarnya. Ramon tau Sechil pasti sedang merasa bersalah padanya. Tapi Ramon tidak akan menyalahkan Sechil sebelum tau alasan-nya. Sejak dirinya menyanggupi untuk menikah dengan Sechil Ramon sudah berjanji pada dirinya sendiri. Ramon akan menerima apapun konsekuensinya. Termasuk luka dihatinya yang kembali terbuka karna melihat Sechil berpelukan dengan Bastian tadi.
“Kalau suatu hari nanti kamu merasa sudah bahagia dengan orang lain aku akan dengan senang hati melepaskan kamu Sechil. Tapi jika tidak ada orang lain yang bisa membuat kamu bahagia maka aku akan terus berusaha membuat kamu bahagia.” Senyum Ramon berkata dengan sangat lembut.
Ramon menusuk cimol yang dibelinya dengan tusukan-nya kemudian menyodorkan pada Sechil yang terus saja menangis. Pria itu sama sekali tidak memperlihatkan ekspresi marah meskipun sudah tau apa yang Sechil lakukan dibelakangnya tadi.
“Ramon aku...”
__ADS_1
“Ssstt.. Nggak usah cengeng ah, nanti cantiknya ilang loh..” Sela Ramon kemudian memasukan paksa cimol itu ke mulut Sechil.
Ramon tertawa pelan. Ramon sendiri tidak tau kenapa dirinya bisa begitu sangat mencintai Sechil. Tapi Ramon tidak menyesal. Ramon bahagia melihat Sechil bahagia, apa lagi jika dirinya yang membuat Sechil tersenyum dan bahagia.
“Ada yang mau aku bicarakan sama kamu.” Kata Sechil. Air matanya terus saja menetes menatap Ramon yang begitu penuh perhatian menyuapi cimol padanya.
“Aku akan dengarkan nanti. Tapi dengan satu syarat.” Senyum Ramon membalas.
“Apa?”
Ramon mengusap lembut air mata yang membasahi pipi Sechil dengan ibu jarinya. Pria itu kemudian mendekatkan wajahnya pada Sechil dan mengecup singkat pipi chuby Sechil.
“Nanti bobonya peluk aku yah...” Bisik Ramon membuat Sechil tersipu malu. Ya, mereka berdua memang jarang tidur dalam satu ranjang karna Ramon selalu tidur diatas sofa.
Setelah menghabiskan cimolnya, Sechil mengajak Ramon untuk duduk bersama diatas ranjang. Mereka berdua duduk berdampingan dengan punggung bersender pada hadboard ranjang.
“Aku minta maaf...” Sechil memulai untuk mengatakan apa yang baru saja dilakukan-nya saat Ramon tidak ada.
“Katakan saja, apapun itu aku akan mendengarkan. Jangan sungkan.”
Sechil memejamkan kedua matanya. Entah pengajaran apa yang diajarkan oleh kedua orang tua Ramon semasa Ramon kecil dulu sehingga Ramon bisa menjelma menjadi pria yang begitu baik dan bijak.
“Ramon tadi aku melihat seseorang. Kak Alana bilang namanya Bastian. Dia adalah salah satu orang kepercayaan kakak.”
Jeda sejenak. Sechil berusaha untuk mengumpulkan keberanian-nya untuk jujur. Ramon sudah sangat baik dan perhatian padanya. Dan Sechil ingin jujur segalanya pada Ramon.
“Aku sendiri tidak tau perasaan apa itu. Tapi tiba tiba aku ingin sekali memeluk Bastian.” Dengan terbata bata Sechil mengatakan semua yang dirasakan-nya.
Ramon menganggukan kepalanya. Ramon yakin Sechil pasti tidak bohong.
“Lalu apa kamu memeluknya?” Tanya Ramon dengan tenang.
__ADS_1
Sechil memejamkan lagi kedua matanya. Sechil mengangguk pelan. Sechil akan menerima jika Ramon marah dan meninggalkan-nya. Apa yang dilakukan-nya memang salah. Sechil menyadari itu.
“Syukurlah kalau begitu..”
Sechil langsung membuka kembali kedua matanya mendengarnya. Sechil menoleh menatap tidak percaya pada Ramon yang tampak begitu tenang dan santai menanggapi apa yang dikatakan-nya.
“Kamu tidak marah?” Tanya Sechil bingung bercampur kaget.
Ramon tertawa. Tangan-nya meraih tangan kecil Sechil menggenggamnya dengan sangat lembut.
“Aku tau kamu tidak sengaja melakukan itu bukan? Kamu hanya sedang ngidam. Kata orang tua kalau ibu hamil ngidam dan tidak terkabulkan ngidamnya anaknya akan ileran. Aku tidak mau itu terjadi. Anakku harus tampan sepertiku.”
Sechil tertawa dalam tangisnya. Ramon terus saja bijak meski apa yang Sechil lakukan dengan memeluk Bastian itu sudah sangat salah.
“Sudah ya.. Jangan menangis terus. Jangan membuat aku terus merasa seperti suami tidak berguna.” Ujar Ramon mengusap kembali air mata yang membasahi pipi Sechil.
Sechil menggeleng menolak apa yang Ramon katakan.
“Jangan begitu. Kamu suami yang sangat baik. Aku sangat beruntung memiliki kamu Ramon..” Lirih Sechil.
“Kamu membuat aku terbang Sechil. Terimakasih atas pujian-nya. Aku akan terus berusaha menjadi yang terbaik untuk kamu.”
Sechil menganggukan kepalanya dengan senyuman dibibirnya. Wanita itu kemudian mengangkat tangan besar Ramon yang menggenggam tangan-nya. Sechil mencium punggung tangan Ramon dengan tulus dan penuh rasa syukur.
Ramon merasa sangat bahagia mendengar kejujuran Sechil. Meski hatinya sempat terluka namun kejujuran Sechil mampu mengobati luka itu.
“Teruslah bersikap jujur dan baik dimanapun kamu berada Sechil. Lapangkan rasa sabar kamu.. Karna seorang ibu yang hebat adalah ibu yang bisa mengajarkan kebaikan pada anak anaknya.” Ucap Ramon menatap Sechil dengan penuh perhatian.
Sechil mengangguk setuju. Semua perbuatan-nya dulu sudah Sechil rasakan akibatnya. Sechil tidak mau mengulanginya lagi yang pasti akan membuatnya kembali merugi.
“Sudah malam. Lebih baik kita tidur sekarang.” Ramon berkata sambil membaringkan tubuhnya. Kedua tanganya dia rentangkan dengan tatapan penuh harap pada Sechil yang masih duduk disampingnya.
__ADS_1
“Bobonya sambil pelukan mamah..” Bisik Ramon membuat Sechil tertawa kemudian langsung berhambur masuk kedalam pelukan hangat Ramon. Malam ini mereka tidur satu ranjang dengan berpelukan.