Aku Bukan Pengganti

Aku Bukan Pengganti
Episode 111


__ADS_3

Sampai menjelang pagi Sechil tidak juga bisa memejamkan kedua matanya. Sechil terus memikirkan Ramon yang belum juga pulang. Yang membuat Sechil khawatir adalah nomor Ramon yang tidak lagi aktif.


“Ya tuhan.. Ramon.. Kenapa sampai hampir pagi begini kamu belum juga pulang..” Sechil bergumam dengan perasaan tidak menentu. Berkali kali Sechil terus mencoba menghubungi Ramon namun nomornya terus saja tidak aktif.


Sechil bangkit dan turun dari ranjangnya. Sechil berniat keluar dari kamarnya dan menunggu Ramon diruang utama rumah mewah itu.


Sechil melangkah keluar dari kamarnya. Saat hendak menuruni anak tangga suara Caterine yang memanggilnya membuat Sechil menoleh.


“Mommy...” Sechil tersenyum mencoba menutupi apa yang sedang dirasakan-nya. Sechil tidak mau membuat Caterine salah mengerti dengan ketidak pulangan Ramon.


“Kamu sudah bangun? atau kamu memang tidak tidur?”


Sechil tergagap. Caterine menatapnya begitu serius dan seperti sedang membaca sorot matanya.


“Eemm.. Aku.. Aku lapar mom.. Ini mau turun cari makanan didapur.”


Caterine mengeryit. Wanita itu merasa janggal dengan alasan putrinya. Ditambah dengan Sechil yang menghindari tatapan-nya.


“Sechil, lihat mommy..” Perintahnya dengan tegas.


Sechil menghela napas. Sechil berusaha mengenyahkan pikiran pikiran tidak baiknya akan keadaan Ramon sekarang. Sechil tidak mau jika Caterine sampai tau jika Ramon tidak pulang sampai sekarang.


Sechil tersenyum menatap Caterine yang masih saja menatapnya penuh selidik.


“Mana Ramon?” Tanya Caterine kemudian.


Sechil terus berusaha mempertahankan senyuman dibibirnya.


“Ramon belum pulang mom.. Dia sedang mengantri untuk membelikan makanan yang aku mau...”

__ADS_1


Sechil tidak ingin berbohong sebenarnya. Tapi Sechil juga tidak mau jika suaminya disalahkan oleh mommy-nya. Ditambah Ramon yang sedang berusaha mencari nafkah untuknya juga janin yang sedang dikandungnya.


“Mengantri? memangnya makanan apa yang sedang Ramon beli sampai mengantri menjelang pagi seperti ini?”


Tepat saat itu Ramon muncul dengan membawa bingkisan. Pria itu tampak sekali kelelahan dari raut wajahnya. Sechil yang melihat melihatnya langsung menyambut dengan hangat.


“Darimana saja kamu Ramon? Kenapa baru pulang jam segini?”


Ramon tersenyum. Malam ini bengkelnya sedikit ramai ditambah salah satu montir yang menjadi rekan kerjanya meminta diantar karna tidak dijemput oleh ayahnya membuat Ramon dengan segala kebaikan hatinya menyanggupi. Itulah faktor utama keterlambatan pulangnya. Ayah teman-nya sakit dan harus dibawa kerumah sakit.


“Eemm.. Mom saya tadi..”


“Mom aku kan tadi udah bilang Ramon sedang mengantri untuk membelikan kebab buat aku.. Ini dia bawa kebabnya.” Sela Sechil buru buru mengambil bingkisan berisi kebab yang dibawa Ramon.


Ramon terlihat bingung. Tujuan-nya membeli kebab memang untuk Sechil. Tapi seingatnya, Sechil tidak pernah memesan kebab padanya. Ramon juga tidak mengantri saat membelinya.


“Eemm.. Ya udah mom kita kekamar dulu ya..”


Sechil meraih tangan Ramon dan langsung menariknya berlalu dari hadapan Caterine. Sechil tidak mau jika Caterine semakin banyak bertanya yang pasti akan membuat kebohongan-nya terbongkar. Sechil yakin, Caterine akan sangat marah jika tau Ramon memang pulang terlambat karna pekerjaan-nya.


Ketika sampai dikamar, Sechil segera menutup pintu dan menguncinya. Sechil menghela napas merasa lega karna berhasil menghindar dari Caterine.


“Kenapa kamu harus berbohong sama mommy?”


Pertanyaan Ramon membuat Sechil langsung menoleh. Sechil tau Ramon memang tidak suka jika dirinya berbohong apa lagi jika sampai berbohong pada Caterine, mommy-nya sendiri.


“Memangnya kamu mau mendapat amukan dari mommy karna mommy tau kamu pulang telat bahkan menjelang pagi?”


Ramon tidak bisa menjawab. Sechil berbohong demi melindunginya dari kemarahan Caterine.

__ADS_1


“Memangnya kamu darimana saja? Kamu hanya bilang pulang sedikit terlambat bukan pulang pagi.”


Ramon menghela napas pelan. Pria itu menundukkan kepalanya. Jika Sechil tau dirinya menolong rekan-nya mengantar pulang sampai mengantarkan ayahnya kerumah sakit Sechil pasti akan salah paham. Apa lagi jika Sechil sampai tau jika rekan kerja Ramon adalah seorang wanita.


“Maaf..” Lirih Ramon tidak tau harus menjawab apa.


Sechil berdecak. Marah pada Ramon juga hanya akan membuat masalah. Apa lagi sekarang Ramon baru pulang dan pasti rasa lelah masih menguasainya.


“Sudahlah lebih baik sekarang kamu mandi. Aku akan siapkan air hangatnya.” Ujar Sechil meletakan bingkisan berisi kebab yang sengaja Ramon belikan untuknya diatas meja disamping lemari baju mereka. Setelah itu Sechil melangkah menuju kamar mandi untuk menyiapkan air hangat untuk Ramon mandi.


Ramon hanya bisa menghela napas. Ramon tidak bermaksud menyembunyikan apa yang dilakukan-nya malam ini pada Sechil. Ramon hanya tidak ingin Sechil marah padanya.


Tidak lama Sechil keluar lagi dari kamar mandi. Wanita itu menyuruh agar Ramon segera membersihkan dirinya mengingat malam yang sudah hampir menjelang pagi.


Saat Ramon sedang membersihkan diri, Sechil membuka bingkisan kebab tersebut. Senyumnya mengembang menatap makanan berisi daging itu. Dan mendadak perutnya terasa lapar.


“Sudah dingin. Tapi nggak papa, dingin juga tetap enak kalau suami yang beliin.” Senyum Sechil kemudian melahap kebab tersebut.


Selesai menghabiskan kebab tersebut, Sechil tiba tiba merasakan kantuk. Sechil melangkah menuju ranjang dan langsung membaringkan tubuhnya disana. Perlahan kedua mata Sechil mulai tertutup hingga akhirnya Sechil benar benar terlelap dalam damai.


Ramon tersenyum begitu mendapati Sechil yang tertidur. Ramon menebak Sechil pasti tidak tidur karna menunggunya.


Ramon meraih ranselnya mengeluarkan hp nya yang kehabisan baterai. Pria itu segera mengecash nya sambil menghidupkan benda pipih itu. Tepat saat hp nya kembali menyala semua notifikasi panggilan dan pesan dari Sechil masuk. Ramon tersenyum lagi. Kepalanya menoleh menatap Sechil yang terlelap. Ramon merasa sangat bahagia ketika membaca pesan pesan yang dikirimkan oleh Sechil untuknya. Ramon meletakan hp nya diatas nakas kemudian mendekati Sechil. Pria itu menatap penuh perhatian pada wajah Sechil yang terlihat sangat polos dan cantik saat terlelap. Ramon masih tidak menyangka dirinya bisa memiliki Sechil lagi. Ramon bahkan sudah menjadi suami Sechil sekarang.


“Tuhan... Tolong izinkan hamba untuk selalu ada disampingnya.. Izinkan hamba menjadi satu satunya laki laki yang mendampinginya hingga maut memisahkan nanti.” Batin Ramon penuh harap.


Ramon meraih selimut dan menutupi tubuh Sechil sampai bahu. Memiliki wanita yang sangat dia cintainya adalah hal terindah bagi Ramon.


Ramon kemudian menguap. Rasa lelah dan ngantuk kembali menyerangnya. Tidak mau mengganggu Sechil yang sudah lebih dulu terlelap, Ramon pun bangkit dari duduknya ditepi ranjang dan melangkah menuju sofa. Ramon membaringkan tubuhnya diatas sofa kemudian mulai memejamkan kedua matanya. Masih ada waktu 1 jam sebelum subuh untuk dirinya tidur, pikir Ramon.

__ADS_1


__ADS_2