Aku Bukan Pengganti

Aku Bukan Pengganti
Episode 133


__ADS_3

Mobil Rayan mulai memasuki pekarangan rumahnya membuat Alana yang sedang menunggunya diteras tersenyum. Wanita itu bangkit dari duduknya dan melangkah cepat mendekat pada mobil suaminya.


Begitu Alana sampai didepan mobil Rayan, Sari langsung keluar dari mobil Rayan.


Apa yang Sari lakukan membuat Alana terkejut. Wanita itu tertawa kemudian langsung berhambur memeluk ibu tercintanya. Alana merasa sangat lengkap sekarang. Rayan benar benar memenuhi keinginan-nya agar Sari tinggal bersama mereka.


“Besok aku akan suruh pak Lim untuk mengambil semua barang barang ibu. Untuk kamar ibu.. Alana dan bibi juga Fina sudah menyiapkan-nya.” Ujar Rayan.


Sari menganggukkan kepalanya. Meskipun sempat ragu saat Rayan datang dan memintanya untuk tinggal bersamanya namun akhirnya Sari merasa yakin saat Rayan mengatakan tentang rencana Caterine.


“Terimakasih banyak Rayan..”


Rayan tersenyum tipis.


“Saya yang harusnya berterimakasih karna ibu sudah mau tinggal bersama saya dan Alana.” Balas Rayan yang membuat Alana dan Sari bertatapan dan saling melempar senyuman.


Alana kemudian menuntun ibu dan suaminya untuk masuk kedalam rumah. Dengan sangat antusias Alana meladeni Rayan dan Sari yang hanya bisa tersenyum dalam diamnya.


Alana merasa sangat bahagia karna akhirnya bisa tinggal bersama lagi dengan Sari, ibu yang sangat dicintainya.


Setelah selesai makan malam, Alana mengantar Sari menuju kamar yang akan menjadi tempat tidur ibunya itu. Kamar yang akan ditempati Sari juga berada dilantai 2 tidak jauh dari kamarnya dan Rayan.


“Semoga ibu betah ya disini. Alana seneng banget karna akhirnya bisa tinggal bareng sama ibu lagi..” Senyum Alana menatap Sari yang duduk disampingnya ditepi ranjang.


“Ya sayang.. Ibu pasti akan sangat betah disini. Kamarnya sangat bagus dan luas.” Balas Sari membelai penuh sayang bibi chuby Alana.


Alana menganggukan kepala kemudian meraih tangan Sari yang membelai lembut pipinya. Alana menggenggam tangan wanita tua itu dengan lembut. Tidak ada lagi tangan kasar ibunya yang dulu. Sekarang tangan Sari sangat lembut karna tidak pernah lagi bekerja seperti masih jadi pelayan dulu. Dan itu semua tentu saja karna Rayan yang memberikan tempat dan fasilitas yang nyaman untuk Sari. Meskipun memang Alana sempat salah paham dan menganggap Sari menukarnya dengan harta yang Sari terima dari Rayan dulu.


“Apa ibu bahagia?” Tanya Alana pelan menatap Sari.


Sari tertawa pelan. Tidak ada hal yang mampu membuatnya bahagia selain melihat putri kesayangan-nya bahagia.


“Kebahagiaan ibu ada sama kamu sayang. Kalau kamu bahagia, ibu juga akan bahagia. Tapi sebaliknya, kalau kamu menderita, ibu akan lebih menderita.” Jawab Rayan.

__ADS_1


Alana tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Alana percaya apa yang Sari katakan karna sejak dulu Sari memang selalu mengusahakan yang terbaik untuknya.


“Alana sayang banget sama ibu...” Ujar Alana berhambur memeluk Sari yang langsung membalasnya dengan sangat lembut.


Selama Sari tinggal bersama Alana dan Rayan, bukan hanya Alana saja yang mendapat perhatian dan kasih sayang penuh dari Sari, tapi juga Rayan yang memang tidak pernah mendapatkan-nya dari Caterine. Pada awalnya Rayan merasa malu, namun setelah merasa terbiasa Rayan merasa sangat bahagia.


Pagi ini Sechil menelpon dan meminta agar Rayan menjemputnya. Rayan yang sudah tau maksud Sechil langsung mengiyakan bahkan sampai mengesampingkan lebih dulu pekerjaan-nya.


“Ada apa?” Tanya Alana saat menuangkan air putih kegelas Rayan.


“Aku sudah menanyakan langsung pada Sechil tentang Bastian. Dan sekarang kami berdua akan mencoba mencari informasi tentang Bastian pada teman Sechil.”


Alana mengeryit.


“Memangnya apa hubungan-nya dengan teman Sechil?” Tanya Alana bingung.


Rayan menghela napas. Rayan sendiri tidak tau tapi Sechil mengatakan teman-nya yang ada disampingnya saat itu sebelum dirinya mabuk berat.


“Aku tidak terlalu tau sayang. Kalau kamu penasaran kamu bisa ikut.” Senyum Rayan menjawab.


Alana menggelengkan pelan kepalanya.


“Untuk masalah ini sebaiknya aku tidak ikut. Aku takut Sechil akan malu jika aku ada disitu.” Ujar Alana disertai alasan yang cukup bisa diterima oleh Rayan.


“Baiklah kalau begitu.” Angguk Rayan mengerti.


Alana tersenyum tipis. Wanita itu entah kenapa tiba tiba memikirkan Ramon. Pria itu sangat baik dan pengertian. Tapi dengan apa yang akan Rayan dan Sechil lakukan kali ini belum tentu Ramon bisa mengerti. Ramon memang baik dan bijak tapi Alana tau Ramon tidak akan kebal jika menyangkut hati dan perasaan-nya.


“Eemm.. Rayan..” Panggil Alana ragu.


“Ya sayang...” Saut Rayan kembali menatap Alana dengan mulut penuh oleh makanan.


“Apa Ramon tau tentang ini?” Tanya Alana membuat Ramon langsung berhenti mengunyah makanan dalam mulutnya.

__ADS_1


Rayan menghela napas. Pria itu meraih segelas air putih dan meminumnya sedikit.


“Mungkin Sechil akan memberitahu Ramon nanti.” Jawab Rayan.


“Sebaiknya memang begitu. Beritahu dari awal agar tidak ada kesalah pahaman.”


Rayan tersenyum dan menganggukan kepalanya setuju mendengar apa yang Alana katakan.


“Aku akan mengatakan-nya nanti pada Sechil.”


Setelah menyelesaikan sarapan-nya Rayan pun pamit dengan Alana yang mengantar sampai depan rumah. Ketika ditengah jalan menuju kediaman lamanya, Rayan tidak sengaja melihat Sandi yang sedang ditodong oleh para preman. Rayan enggan perduli sebenarnya namun mengingat Sandi yang baik padanya dulu membuat rasa kemanusiaan Rayan muncul. Rayan keluar dari mobilnya dan membantu Sandi mengalahkan para preman itu.


“Terimakasih tuan Rayan. Saya berhutang jasa pada anda..” Ujar Sandi dengan napas ter-engah.


Rayan hanya menganggukan kepalanya saja kemudian segera berlalu dari hadapan Sandi. Rayan tidak mau banyak bicara mengingat apa yang Sandi katakan terakhir kali saat mereka bertemu. Bukan menyimpan dendam, Rayan hanya tidak ingin lagi berdebat dengan Sandi yang pasti akan membawa bawa nama Alana.


Rayan melajukan mobilnya dengan kecepatan maximal karna Sechil sudah menunggunya di pos satpam. Ya, mereka memang sepakat tidak memberitahu Caterine karna pasti akan sangat ribet jika Caterine sampai tau maksud mereka.


Ketika sampai didepan gerbang, lambaian tangan Sechil membuat mobil Rayan langsung berhenti.


“Kenapa tidak menunggu didalam saja?” Tanya Rayan setelah Sechil masuk kedalam mobilnya.


“Sengaja kak biar mommy tidak tau aku sedang menunggu kakak.” Jawab Sechil sambil memasang sabuk pengaman.


Rayan menghela napas. Caterine memang sangat susah untuk dipahami. Selain serakah Caterine juga selalu merasa benar sendiri.


“Kita jalan sekarang.”


“Ya kak..”


Tanpa Sechil dan Rayan tau Caterine memperhatikan-nya dari dalam taxi. Wanita itu tidak tau apa yang sedang Rayan juga Sechil rencanakan, tapi Caterine merasa penasaran dan ingin mengetahuinya.


“Ikuti pelan pelan mobil itu pak.” Perintah Caterine pada supir taxi yang ditumpanginya.

__ADS_1


“Baik nyonya.”


__ADS_2