
Hari ini aktivitas Rayan cukup padat. Pria itu harus menghadiri rapat, metting, juga sampai bolak balik 2 kali untuk menemui Client-nya. Beruntung Rayan memiliki asisten dan sekretaris yang begitu sigap dan pintar yang juga sangat mengerti dirinya.
“Tuan makan siang anda sudah siap.” Ujar Luky pada Rayan yang masih fokus dengan laptopnya.
Rayan mengangkat kepalanya kemudian tersenyum menatap Luky.
“Ya, terimakasih Luky.” Balasnya.
“Sama sama tuan. Kalau begitu saya permisi tuan.”
“Em Luky tunggu.” Cegah Rayan membuat Luky menatapnya penasaran.
“Ya tuan. Ada yang lain yang bisa saya bantu?” Tanya Luky pelan.
“Tentang Bastian. Apa kalian masih keluar bersama?” Tanya Rayan menatap Luky serius.
Luky menghela napas. Bastian sedang sibuk mempersiapkan acara pertunangan dengan kekasihnya. Bahkan Luky juga diundang untuk menghadiri acara tersebut.
“Akhir akhir ini kami sudah tidak sering bertemu tuan. Bastian sedang sibuk mempersiapkan pertunangan-nya dengan kekasihnya.” Jawab Luky.
Rayan mengeryit bingung.
“Tunangan?” Tanya Rayan.
“Ya tuan.. Saya juga diundang untuk menghadiri acara itu.”
Rayan menganggukan kepalanya. Bastian sudah akan bertunangan. Tidak mungkin rasanya jika Bastian bisa menyempatkan waktu untuk bertemu dengan-nya.
“Apa ada yang ingin tuan bicarakan lagi dengan Bastian?” Tanya Luky.
“Sebenarnya iya. Ini tentang Sechil. Tapi rasanya sangat tidak mungkin. Bastian pasti sangat sibuk sekarang.”
Luky menganggukan kepalanya. Bastian memang sedang sangat sibuk dengan kekasihnya.
__ADS_1
“Ya sudah Luky, kamu boleh keluar.” Ujar Rayan kemudian.
“Baik tuan, selamat siang.”
“Ya...”
Rayan menghela napas setelah Luky keluar dari ruangan-nya. Pria itu bingung sekarang. Rayan ingin bertanya langsung pada Bastian tentang kejadian malam itu, tapi Rayan khawatir itu akan merusak kebahagiaan Bastian.
Malamnya tanpa disangka sangka Bastian datang sendiri kerumah Rayan. Pria itu dengan wajah yang sangat ceria menemui Rayan dan Alana. Bastian menyodorkan undangan pesta pertunangan-nya bersama kekasihnya yang memang akan diselenggarakan seminggu kemudian.
“Saya berharap nyonya juga tuan bisa datang ke pesta pertunangan saya..” Ujar Bastian tersenyum menatap Rayan dan Alana bergantian.
Rayan dan Alana saling menatap. Anggukan Alana membuat Rayan mengeryit bingung.
“Katakan saja sekarang.” Bisik Alana.
Rayan merasa ragu. Bastian terlihat sedang sangat bahagia sekarang. Tapi kejelasan tentang siapa ayah kandung dari anak yang dikandung Sechil juga penting menurutnya.
“Eemm.. Sebenarnya ada yang mau saya bicarakan sama kamu Bastian. Ini tentang kamu dan juga adik saya Sechil.”
“Saya dengan nona Sechil? Memangnya kenapa tuan?” Tanya Bastian penasaran.
Rayan menjelaskan maksudnya pelan pelan pada Bastian. Rayan juga mengungkit tentang malam dimana tiba tiba Sechil ingin memeluk Bastian. Meskipun sempat membantah, namun akhirnya Bastian mengerti. Rayan hanya seorang kakak yang sedang mengusahakan yang terbaik untuk Sechil, adiknya.
“Saya memang pernah menolong seorang wanita berambut pirang malam itu tuan. Dia dalam pengaruh obat perangsang dan hampir saja disentuh didepan banyak orang oleh seorang laki laki tua. Tapi saya juga dalam keadaan mabuk malam itu. Wanita itu yang membuat saya tidak bisa menahan diri hingga akhirnya saya menyentuhnya. Tapi saya tidak bisa mengingat dengan jelas bagaimana wajahnya karna cahaya temaram diruangan. Rambutnya memang pirang. Tapi saya sudah membayar. Saya sudah meninggalkan uang karna dia sudah memuaskan saya malam itu.”
Rayan memejamkan kedua matanya mendengar kata yang “Membayar” yang keluar dari mulut Bastian. Rayan mencoba menahan emosinya karna Bastian seolah menganggap Sechil adiknya adalah wanita murahan.
“Orang itu adik saya Bastian. Dia Sechil, wanita hamil yang memeluk kamu.” Kata Rayan membuat Bastian terkejut.
“Apa? Tapi bagaimana mungkin?” Lirih Bastian tidak percaya.
Alana menghela napas merasa lega. Semuanya sudah jelas sekarang. Alana merasa sangat yakin bahwa janin yang dikandung Sechil adalah benih yang ditanam oleh Bastian malam itu.
__ADS_1
“Cerita kamu sama seperti cerita Luna, teman adik saya yang saat itu juga berada ditempat yang sama dengan kamu juga Sechil. Sekarang adik saya hamil setelah malam itu.”
“Tuan tapi saya sudah punya kekasih.. Saya sudah mau tunangan. Tolong jangan seperti ini.. Itu hanya kecelakaan tuan.” Sela Bastian dengan tatapan memelas pada Rayan.
Rayan mengangguk mengerti.
“Adik saya juga sudah menikah. Saya tidak meminta kamu untuk bertanggung jawab untuk menikahi adik saya. Hanya tolong temui dia dan suaminya, jelaskan semuanya. Untuk lebih membuktikan-nya lagi kita lakukan tes DNA setelah bayinya lahir.”
Bastian terdiam sesaat dan tampak berpikir mendengar apa yang Rayan katakan. Bastian tidak tau harus bagaimana memberitahu kekasihnya nanti. Tapi Bastian juga tidak bisa mengelak kalau Sechil hamil. Malam itu Bastian melakukanya dengan sangat bergairah dan tanpa menggunakan pengaman.
“Baiklah kalau begitu tuan. Saya aku menemui nona Sechil dan suaminya besok.” Putus Bastian kemudian.
Rayan tersenyum. Semuanya tidak serumit yang Rayan bayangkan. Bastian pria yang gampang mengerti juga tenang dalam menyikapi sesuatu. Tidak heran jika Bastian mampu membuat perusahaan Dion krisis kembali dalam waktu singkat.
“Saya akan menyuruh Luky untuk mengirim alamat Sechil dan Ramon pada kamu nanti.”
“Baik tuan. Kalau begitu saya permisi.” Angguk Bastian tersenyum tipis.
“Ya.. Silahkan.”
Pria dengan kemeja biru tua itu kemudian bangkit dari duduknya. Bastian berlalu keluar dari rumah mewah Rayan dengan berbagai pemikiran-nya tentang Sechil.
Sedang Rayan, pria itu menghela napas merasa sangat lega karna akhirnya bisa menjelaskan dengan pelan pada Bastian secara langsung. Meskipun Bastian sempat membantah dan seperti akan marah.
“Ternyata semuanya tidak sesulit yang aku bayangkan sayang. Bastian datang sendiri kesini tanpa aku sangka..” Ujar Rayan dengan tatapan lurus kedepan.
Alana tersenyum. Segala sesuatu memang akan terasa berat juga sulit jika belum dicoba.
“Itulah pentingnya kenapa kita harus menanamkan rasa percaya pada diri sendiri. Tuhan mempunyai semiliar cara untuk membantunya hambanya dalam menyelesaikan masalah. Asal kita berusaha apapun hasilnya pasti akan kita terima.”
Rayan menoleh kemudian menarik tubuh Alana memeluknya dengan erat. Rayan merasa hidupnya benar benar berubah sejak bertemu dengan Alana. Rayan juga merasa apapun yang dilakukanya terasa nyata karna Rayan juga mengandalkan pikiran-nya bukan hanya uang yang dia punya.
“Kita tunggu besok Sechil atau Ramon yang menelpon kita sayang. Setelah itu kita pikirkan lagi bagaimana caranya menghadapi mommy..” Ujar Rayan mengusap lembut lengan terbuka Alana.
__ADS_1
“Ya..” Angguk Alana menjawab. Alana tersenyum dalam pelukan hangat Rayan. Meskipun terkadang Alana merasa kehilangan sosok Rayan yang seperti Beast. Tapi Alana juga tidak lupa bersyukur dengan sikap Rayan yang semakin hari semakin romantis dan mengerti dirinya.
“I love you Rayan.” Batin Alana memejamkan kedua matanya.