
Setibanya dirumah Rayan langsung menghubungi Luky. Pria itu ingin mengklarifikasi segala isu tidak benar tentang Alana yang pernah menyebar dikalangan masyarakat. Rayan memang sudah memberhetikan berita itu, tapi nyatanya masih saja ada orang yang mengatakan sesuatu yang sangat tidak benar tentang istrinya.
“Besok siang Luky kumpulkan semua wartawan. Saya akan mengklarifikasi semuanya.” Kata Rayan dengan hp yang menempel ditelinga kanan-nya. Rayan tidak bisa diam saja jika istrinya menjadi bahan olokan orang diluaran sana. Apa lagi mereka masih mengait ngaitkan-nya dengan Sakura.
“Baik tuan. Saya akan mengaturnya besok.” Jawab Luky.
“Terimakasih Luky.”
“Sama sama tuan.”
Rayan memutuskan sambungan telpon-nya. Pria itu menatap Alana yang sudah terlelap diatas ranjang. Alana wanita yang tidak bisa diremehkan. Alana sangat berani dan tidak takut akan apapun selain kehilanganya mungkin. Rayan menyenderkan punggungnya pada sandaran sofa yang sedang didudukinya dengan tatapan terus lurus menatap Alana yang terlelap damai diatas ranjang diseberangnya.
Suara ketukan pintu terdengar membuat Rayan mengeryit. Rayan menatap layar hp-nya mengecek jam. Sudah lewat pukul 12 tapi masih ada yang mengetuk pintu kamarnya.
“Mommy?” Rayan bergumam pelan. Rayan yakin itu mommy atau mungkin adiknya. Karna rasanya tidak mungkin jika bibi yang mengetuk pintu lewat tengah malam. Itu sangat mengganggu waktu istirahat Rayan dan Alana.
Rayan melangkah pelan menuju pintu dan membukanya. Benar saja, Caterine berdiri didepan pintu kamarnya dengan kedua tangan dilipat dibawah dada. Wajahnya begitu datar menatap Rayan.
“Ada yang ingin mommy bicarakan sama kamu Rayan.” Katanya.
Rayan mengangguk pelan. Rayan tau mommy-nya pasti akan membicarakan tentang tindakan Alana pada Sechil.
“Kita kebawah saja.”
“Oke..”
Rayan menutup pelan pintu kamarnya karna tidak ingin mengganggu Alana yang sudah tertidur dengan pulas. Rayan kemudian melangkah pelan mengikuti Caterine yang melangkah didepan-nya menuju lift. Mereka berdua duduk diruang keluarga yang berada dilantai 2 rumah mewah itu.
__ADS_1
“Kamu sudah liat sendirikan apa yang istri kamu lakukan tadi sama Sechil?”
Rayan hanya diam dengan kedua tangan dilipat didepan dada. Pria itu tau siapa yang salah.
“Apa kamu tidak marah Rayan melihat adik kamu satu satunya diperlakukan seperti itu?”
Caterine terus melontarkan pertanyaan dengan ekspresi marah. Wanita itu benar benar tidak terima dengan apa yang Alana lakukan pada Sechil.
Rayan memejamkan kedua matanya beberapa detik kemudian membukanya kembali.
“Mom.. Aku tau bagaimana istriku. Aku juga melihat dan mendengar sendiri apa yang Sechil ucapkan. Wajar bukan kalau Alana marah dan tidak terima disebut seperti itu?”
Caterine menyipitkan kedua matanya. Kepalanya menggeleng tidak percaya mendengar apa yang dikatakan oleh putranya.
“Kamu membela wanita itu Rayan? Kamu membela orang yang sudah menyakiti adik kamu?” Tanya Caterine semakin merasa tidak terkontrol emosinya.
“Aku nggak bela siapa siapa mom. Oke, Alana salah menampar Sechil. Tapi bukankah Sechil lebih salah karna tidak menghormati Alana sebagai kakak iparnya? Sechil bahkan merendahkan Alana.” Rayan mulai jengah dengan sikap mommy-nya yang selalu melakukan semuanya sendiri.
“Apapun alasan-nya mommy nggak terima Rayan. Mommy saja tidak pernah melakukan kekerasan fisik pada Sechil. Pokoknya mommy mau kamu ceraikan dia.”
Rayan tertawa mendengar itu. Bagaimana mungkin dirinya bisa menceraikan Alana sedang berada jauh sedikit saja dari Alana Rayan merasa tidak mampu.
“Kenapa malah tertawa? Mommy serius Rayan. Ceraikan dia.” Tuntut Caterine.
Rayan menghela napas kemudian menggelengkan kepalanya. Menghadapi mommy-nya hanya akan capek sendiri. Mommy-nya sangat egois juga keras kepala. Mommy-nya juga tidak pernah mau mendengarkan orang lain. Rayan mendadak berpikir mungkin daddy dan mommy-nya berpisah juga karna ketidak cocokan sikap.
“Mom.. Aku nggak bisa menuruti kemauan mommy kali ini. Aku mencintainya. Dan aku menerima semua kekuranganya.”
__ADS_1
Caterine mendelik tidak percaya mendengar itu.
“Kamu lebih memilih wanita itu dari pada mommy Rayan?”
Rayan menundukan kepalanya. Rayan merasa bahagia bersama Alana. Entah kenapa rasa sakitnya dimasa lalu mendadak hilang setelah Rayan menceritakan semuanya pada Alana saat makan malam tadi. Sakit karna hancurnya keluarga akibat perceraian mommy dan daddy-nya dimasa lalu.
“Kamu keterlaluan Rayan. Kamu tidak menghargai mommy sebagai mommy yang sudah melahirkan kamu, menyusui kamu, juga membesarkan kamu.” Caterine berkata dengan nada sedikit meninggi serta tangan menunjuk Rayan merasa sangat kecewa karna Rayan tidak menuruti kemauan-nya untuk menceraikan Alana.
Rayan mengangkat cepat kepalanya. Tatapan-nya langsung berubah datar saat Caterine mengatakan “Membesarkan-nya”.
“Membesarkan aku?” Tanya Rayan tersenyum kecut.
Caterine langsung tersadar begitu Rayan bertanya.
“Menyusui mungkin iya mom.. Tapi membesarkan aku, bukankah mommy dan daddy bercerai setelah Sechil lahir? Mommy pergi meninggalkan aku dan daddy. Bahkan mommy tidak datang saat daddy meninggal.”
Caterine terdiam. Wanita itu melengos tidak tau harus berkata apa lagi. Ucapan Rayan benar. Caterine memang tidak pernah ada untuk Rayan dari dulu. Saat masih bersama daddy Rayan pun Caterine terus saja sibuk dengan teman teman-nya. Rayan diurus oleh bibi juga Sari yang saat itu memang bekerja sebagai pelayan dirumah itu.
“Apa mommy lupa saat mommy pergi dan aku menangis karna tidak mau pisah dari mommy? Mommy juga lupa saat aku berlari mengejar mommy kemudian jatuh sampai lutut aku berdarah tapi mommy terus saja pergi seperti orang tuli. Mommy lupa itu semua?” Kedua mata Rayan berkaca kaca saat mengatakan-nya. Rayan membuka sendiri luka hatinya dimasa lalu.
“Mom.. Aku mencintaimu mom.. Aku menyayangi Sechil. Tapi aku tidak bisa terus menuruti semua yang kalian mau. Aku punya kehidupan sendiri. Aku punya cinta yang ingin aku jalani. Alana bukan Sakura yang bisa kalian tindas seenaknya. Dulu mungkin aku diam. Aku pura pura tidak tau saat kalian menyakiti Sakura. Tapi sekarang tidak mom.. Aku akan melindungi Alana dan mempertahankan-nya untuk terus disisiku bahkan sampai napas ini berhenti.”
Rayan mengusap air matanya yang tanpa sadar menetes saat mengingat masa kecilnya. Rayan tumbuh hanya bersama daddy-nya yang kemudian meninggalkan-nya saat Rayan masih berusia 16 tahun.
“Maaf kalau aku memang bukan anak yang baik menurut mommy. Aku istirahat dulu. Mommy juga sebaiknya istirahat saja, sudah malam.” Rayan bangkit dari duduknya. Pria itu berlalu meninggalkan Caterine yang tidak bisa lagi berkata apa apa.
Caterine berdecak pelan. Rayan mengungkit tentang masa lalunya yang siapa saja pasti tau semua memang salahnya. Caterine terlena oleh pria lain sampai rela meninggalkan suami dan anaknya demi pria itu. Pria yang akhirnya juga berhianat dan meninggalkanya bersama Sechil, putrinya.
__ADS_1
“Kenapa harus mengungkit masa lalu Rayan..” Gumam Caterine memejamkan kedua matanya frustasi.