Aku Bukan Pengganti

Aku Bukan Pengganti
Episode 21


__ADS_3

Alana menatap Rayan yang tampak tenang mengemudikan mobilnya. Untuk yang ke-2 kalinya Rayan mengemudikan sendiri mobil mewahnya tanpa pak Lim.


Alana menghela napas pelan. Alana masih memikirkan masalah Sandi yang begitu marah dan kecewa pada Rayan beberapa hari yang lalu.


“Apa ada masalah?”


Alana melirik Rayan. Wanita itu tampak berpikir sesaat menatap jalanan yang sedang mereka lewati.


“Papahnya Sakura, apa dia sudah menelpon kamu?” Tanya Alana tanpa menoleh pada Rayan.


Rayan mengeryit. Istrinya sedang mengkhawatirkan hubunganya dan Sandi.


“Kenapa memikirkan itu hem?” Bukanya menjawab Rayan malah balik bertanya pada Alana.


Alana berdecak. Alana takut kehadiranya membuat hubungan Rayan dan Sandi menjadi tidak baik. Terlebih Alana yang katanya sangat mirip dengan Sakura. Pasti sangat berat menerima semua itu bagi Sandi.


“Tidak apa apa.” Jawab Alana.


Rayan tersenyum. Rayan sendiri juga sebenarnya bingung harus bagaimana bersikap pada Sandi. Sandi pasti sangat marah padanya. Tapi Rayan juga tidak mungkin terus terusan mengharapkan cinta dari orang yang sudah mati.


“Rayan..”


“Hem..” Saut Rayan melirik Alana sebentar.


“Memangnya Sakura sakit apa sebelum meninggal?”


Mendengar pertanyaan Alana, bayangan saat terakhir Sakura tersenyum padanya langsung terlintas di benak Rayan. Sakura menutup kedua matanya dengan senyuman manis di bibirnya. Orang bilang jika seseorang meninggal dengan tersenyum manis itu artinya syurga sedang menunggu kedatanganya. Dan Rayan percaya itu.


“Emm.. Kalau kamu nggak mau jawab juga nggak papa. Aku hanya ingin tau saja.” Kata Alana cepat.


Rayan menepikan mobilnya di sebuah jalanan yang cukup sepi dari berbagai kendaraan. Pria itu kemudian menoleh dan memusatkan perhatianya pada Alana yang duduk disamping kemudinya.


“Apa ada bayaranya kalau aku mau bercerita?”


Alana mengeryit.


“Maksudnya?”


Lagi, Rayan tersenyum pada Alana yang terlihat kebingungan dengan kata bayaran yang Rayan maksud.


“Satu ciuman. Itu bayaran yang seimbang sepertinya.” Ujar Rayan.


Alana mengerjapkan beberapa kali kedua matanya. Alana tidak sedang memaksa Rayan untuk bercerita tapi tiba tiba Rayan mengajukan bayaran padanya.


“Aku hanya bertanya dan tidak memaksa jadi kamu nggak harus menuntut bayaran dariku.”


Rayan mengangkat sebelah alisnya kemudian mendekatkan diri pada Alana yang memundurkan tubuhnya karna wajah Rayan yang semakin mendekat padanya.

__ADS_1


“Bukankah suami istri saling terbuka itu baik hem?” Tanyanya tepat di depan wajah Alana.


Alana menelan ludahnya. Wajah tampan Rayan begitu dekat dengan wajahnya saat ini sehingga hembusan hangat napas Rayan pun bisa Alana rasakan.


“Hanya satu ciuman Alana, tidak lebih.”


Alana menatap tepat pada kedua bola mata coklat bening Rayan. Dan untuk yang kesekian kalinya Alana seperti terhipnotis. Sorot mata pria itu benar benar membuat Alana tidak bisa mengalihkan pandanganya.


“Aku...”


“Istri yang patuh akan menuruti semua kemauan suaminya selama itu baik. Dan ciuman akan membuat hubungan kita semakin membaik. Bukan begitu Alana?” Sela Rayan.


Alana mengangkat sebelah alisnya. Rayan sangat pandai dalam berbicara.


“Aku akan menceritakan semuanya sama kamu, bagaimana?”


“Tentang Sakura dan papahnya?” Tanya Alana memastikan.


Rayan menganggukan kepalanya. Pria tampan itu kemudian menjauhkan kembali dirinya dan duduk dengan posisi seperti semula di kursi kemudinya.


“Hanya satu ciumankan? Oke, Aku setuju. Sekarang ceritakan semuanya.”


Rayan melirik Alana. Pria itu tersenyum dan menepuk pundak tegapnya pelan menyuruh agar Alana bersender disana.


“Apa?” Tanya Alana tidak mengerti.


Rayan tidak menjawab. Pria itu meraih kepala Alana dan dengan lembut dia senderkan di bahunya.


Alana terdiam sesaat namun perlahan seulas senyum terukir di bibirnya. Jika sedang seperti ini Alana merasa Rayan adalah suami yang romantis.


Rayan mulai menceritakan semuanya bahkan awal pertemuanya dengan Sakura hingga akhirnya mereka menjalin hubungan serius. 5 Tahun bukanlah waktu yang sebentar. Mereka bersama kemanapun mereka pergi. Sakura bahkan tidak sungkan menemani Rayan jika Rayan sedang ada pekerjaan diluar kota bahkan sampai keluar negeri.


“Kamu suka yang mana?” Tanya Sakura pada Rayan yang sedang melihat lihat gaun pengantin di dalam butik.


Rayan tampak berpikir sambil melihat satu persatu gaun yang kebanyakan berdada rendah itu.


“Boleh aku jujur?” Tanya Rayan yang langsung di angguki oleh Sakura.


“Satupun tidak ada yang aku suka.” Katanya.


Sakura mengeryit bingung. Di tatapnya lagi deretan gaun mewah yang bahkan membuat Sakura bingung harus memilih yang mana. Bagi Sakura, semua gaun itu sangat bagus. Jika boleh Sakura bahkan ingin membeli semuanya.


“Memangnya kenapa?” Tanya Sakura menatap lagi pada Rayan yang berdiri di sampingnya.


“Gaun-nya terlalu terbuka. Aku tidak mau tubuh pengantinku menjadi objek tatapan para tamu undangan nantinya.”


Sontak Sakura tertawa mendengarnya. Rayan benar benar hanya ingin Sakura menjadi miliknya. Dan Sakura sangat bahagia mengetahui itu.

__ADS_1


“Oke oke.. Aku akan desain sendiri dan serahkan pada desainernya sesuai yang kamu inginkan.”


“Itu bagus.” Senyum Rayan kemudian mengecup singkat kening Sakura.


“Apa gaun yang aku kenakan saat pernikahan kita adalah gaun yang didesain sendiri oleh Sakura?”


Pertanyaan Alana membuat ingatan Rayan tentang Sakura pudar seketika. Rayan terkekeh. Bisa bisanya dia membayangkan masa lalunya bersama Sakura saat istrinya sendiri sedang bersender dibahunya.


“Maaf Alana..”


Alana mengeryit. Alana menegakkan kepalanya dan membenarkan posisi duduknya.


“Maaf karna gaun itu?” Tanya Alana.


Rayan menggelengkan kepalanya. Tanganya meraih tengkuk Alana kemudian menariknya cepat agar Alana tidak memberontak.


“Rayan..”


“Kedepanya aku akan sangat mencintaimu Alana. Pegang kata kataku ini.” Bisiknya tepat didepan bibir Alana.


Alana tersenyum. Tanganya perlahan terangkat kemudian mengalung di tengkuk Rayan. Alana menekan tengkuk Rayan hingga bibir mereka saling menempel.


Rayan tidak menyia nyiakan kesempatan itu. Rayan memperdalam ciumanya pada Alana yang langsung bisa mengimbanginya. Mereka berciuman cukup lama di dalam mobil meskipun beberapa kali harus menghirup oksigen kemudian kembali berciuman lagi.


Setelah puas berciuman, Rayan kembali menghidupkan mesin mobilnya. Mereka kembali ke tujuan utama mereka keluar rumah berdua yaitu untuk melihat kediaman Dion dan Michelle.


“Jadi ini rumahnya?” Tanya Rayan sambil menatap kediaman berlantai 2 milik Dion dan Michelle.


Alana mengangguk pelan. Rasanya Alana ingin sekali segera membalas sakit hatinya pada Dion juga Michelle.


“Apa yang ingin kamu lakukan sebenarnya pada mereka?” Tanya Rayan lagi.


“Aku ingin mereka merasakan apa yang aku rasakan.” Jawab Alana.


Rayan mengeryit. Pria itu menoleh pada Alana yang juga sedang menatap kediaman milik mantan kekasihnya.


“Hanya itu?”


Alana menganggukan kepalanya mantap.


“Ya.” Jawabnya.


Rayan menghela napas. Alana menyimpan dendam pada Dion yang artinya Alana juga masih mempunyai sedikit rasa pada pria itu.


“Setelah Dion merasakan apa yang kamu rasakan lalu apa lagi yang akan kamu lakukan?”


Alana diam. Alana tidak memikirkan apapun selain membalas apa yang Dion lakukan padanya.

__ADS_1


“Apa kamu berharap Dion menyesal menikah dengan Michelle kemudian kembali lagi bersama kamu?”


“Apa?”


__ADS_2