Aku Bukan Pengganti

Aku Bukan Pengganti
Episode 159


__ADS_3

Alana terus memikirkan apa yang Rayan katakan sampai larut malam. Tubuhnya memang tidak bergerak dalam dekapan Rayan, namun kedua matanya tetap terbuka dengan lebar sampai larut malam bahkan sampai menjelang pagi hingga akhirnya Rayan membuka kembali kedua matanya.


“Kamu mau pake kemeja warna apa?”


Rayan yang baru keluar dari kamar mandi tersenyum mendengar pertanyaan itu. Tidak biasanya Alana bertanya tentang warna kemeja yang ingin Rayan kenakan pagi ini.


Rayan mengusap rambut basahnya menggunakan handuk yang menggantung di lehernya. Pria yang bertelanjang dada dengan hanya mengenakan celana boxer pendek diatas lutut itu melangkah mendekat pada Alana.


“Warna apa aja yang kamu siapkan pasti aku akan memakainya sayang..” Ujar Rayan berdiri dibelakang Alana.


Alana tersenyum kemudian membalikan tubuhnya. Saat itu juga Alana melihat dengan jelas keterkejutan diwajah Rayan.


“Kenapa?” Tanya Alana bingung.


“Sayang kenapa dengan kedua mata kamu?” Rayan bertanya lirih dengan kedua tangan menyentuh kelopak kedua mata Alana membuat Alana memejamkan kedua matanya. Sensasi dingin menyegarkan Alana rasakan dikedua matanya begitu jari jari panjang Rayan mengusap kelopak matanya.


“Panas..” Gumam Rayan.


Alana menyingkirkan pelan kedua tangan Rayan dari kedua matanya. Wanita itu menatap tidak mengerti pada Rayan yang terus menatap khawatir padanya.


“Apa kamu tidak tidur semalaman Alana?” Tanya Rayan kemudian.


Alana tidak ingin jujur pada Rayan, tapi Alana juga tidak ingin berbohong. Rayan tau tanpa Alana memberitahu itu artinya Alana memang harus selalu jujur dalam segala hal.


“Apa karna ucapan aku semalam?” Lagi, Rayan bertanya dan masih dengan nada yang begitu lembut.


Alana hendak membuka kedua matanya saat tiba tiba Rayan mencium bibirnya dengan sangat lembut dan mesra. Dan lewat ciuman itu Rayan seperti sedang mengatakan bahwa dirinya akan selalu ada untuk Alana.


Rayan melepaskan bibir Alana kemudian tersenyum. Pelan pelan pria itu membopong tubuh berisi Alana dan membawanya melangkah ke ranjang.


Alana yang diperlakukan dengan begitu lembut hanya bisa diam dan pasrah. Selain karna kedua matanya yang terasa berat dan panas, tubuhnya juga terasa sangat lemas dengan kepala yang terkadang terasa pusing.

__ADS_1


“Ini baru jam 5, masih ada waktu untuk kamu tidur sayang..” Bisik Rayan kemudian membaringkan tubuh Alana diatas ranjang.


Rayan ikut naik keatas ranjang. Pria itu meraih selimut dan menyelimuti tubuh Alana sampai batas perut. Rayan menatap lembut pada Alana yang hanya diam pasrah dan terus menatapnya.


“Tenangkan pikiranmu sayang. Pejamkan matamu.” Lirih Rayan. Rayan mendekap Alana dan menggantikan bantal untuk kepala Alana dengan lengan-nya. Rayan tidak perduli meskipun dirinya hanya mengenakan celana boxer. Yang terpenting adalah kondisi istrinya yang harus selalu dia jaga dan pastikan baik baik saja.


Alana menurut. Pelan pelan Alana memejamkan kedua matanya. Aroma mawar yang menguar dari dada bidang Rayan membuat Alana tersenyum dengan kedua mata terpejam. Rayan memakai sabun mandi miliknya.


Tidak sampai 5 menit Alana sudah terlelap dalam dekapan hangat Rayan. Wanita itu bernapas dengan sangat teratur pertanda tidurnya sudah nyenyak.


Setelah dirasa Alana benar benar terlelap, pelan pelan Rayan melepaskan dekapan-nya. Rayan menggantikan tubuhnya disamping Alana dengan guling sebelum dirinya turun dari ranjang dan mengenakan setelan jas yang memang sudah Alana siapkan saat Rayan mandi.


Sekali lagi Rayan menoleh menatap Alana yang terlelap diatas ranjang. Tidak tega pergi begitu saja, Rayan kembali mendekat pada Alana. Rayan mencium lembut kening Alana. Tatapan-nya begitu lembut dan penuh cinta pada wajah damai Alana yang tetap terlihat cantik walaupun sedang terlelap.


“Aku berangkat sayang..” Bisiknya sebelum benar benar berlalu keluar dari kamarnya dan Alana.


Hari ini Rayan memang harus berangkat pagi pagi sekali. Rayan bahkan tidak sempat untuk sarapan karna saat itu Sari dan bibi belum selesai memasak. Rayan hanya menyeruput sedikit teh lemon hangat yang memang sudah disiapkan diatas meja makan untuknya oleh bibi.


“Pagi juga Luky. Kita berangkat sekarang saja.”


“Baik tuan.” Angguk Luky kemudian segera membukakan pintu untuk Rayan.


Rayan masuk kedalam mobil Luky. Pria tampan itu menoleh kembali pada kediaman berlantai 2 nya. Ini kali pertama Rayan keluar rumah bahkan sebelum matahari menampakkan wujudnya.


Mobil Luky berlalu dengan kecepatan sedang keluar dari pekarangan rumah Rayan dan Alana. Hal itu membuat semua orang yang menghuni rumah itu termasuk Sari bertanya tanya. Tidak biasanya Rayan berangkat begitu pagi dan mengesampingkan sarapan bersama dengan Alana.


“Ada apa ini?” Gumam Sari menelan ludahnya khawatir. Sari tau bagaimana Rayan dari dulu. Rayan bukan pria yang fanatik pada harta. Rayan juga bukan tipe orang yang mendewakan pekerjaan. Rayan selalu bersikap dengan santai dalam menanggapi segala hal. Sama seperti Daddy nya, Richard.


-------


Pukul 8 Alana terbangun. Wanita itu mengerjapkan kedua matanya beberapa kali kemudian menoleh kesampingnya. Alana mengeryit kemudian bangkit dari berbaringnya, Rayan sudah tidak ada disampingnya.

__ADS_1


Alana mengedarkan pandangan-nya. Pandangan-nya berhenti tepat pada lemari bajunya dan Rayan. Setelan jas Rayan yang Alana siapkan sudah tidak ada ditempatnya.


“Dia sudah berangkat..” Gumam Alana dengan helaan napas.


Pelan pelan Alana bergerak turun dari ranjang. Alana melangkah menuju pintu dengan sangat pelan. Saat membuka pintu Alana terkejut melihat Sari yang sudah berdiri disana dengan nampan dimana diatas nampan tersebut tersaji sarapan dan segelas susu untuknya.


“Ibu..” Gumam Alana pelan.


“Selamat pagi.. Waktunya sarapan..” Senyum Sari membuat Alana tertawa pelan.


“Ayo ibu temenin kamu sarapan. Dibalkon saja.” Ujar Sari yang langsung mendapat anggukan kepala dari Alana.


Alana mempersilahkan Sari masuk kedalam kamarnya. Keduanya melangkah beriringan menuju balkon dengan Sari yang memimpin didepan.


“Ibu sudah buatkan sandwich kesukaan kamu nak. Habiskan ya.. Jangan lupa susu hangatnya supaya kamu dan anak kamu semakin sehat.” Sari begitu sangat antusias meletakan nampan yang dibawanya diatas meja kecil yang terbuat dari besi di tengah balkon kamar Alana dan Rayan.


Sari juga menarik kursi dan mendudukan Alana dengan sangat lembut.


“Maksud ibu sehat itu gendut begitu?” Tanya Alana dengan tawa gelinya. Tubuhnya yang sekarang memang sangat berisi bahkan sepertinya berat badan-nya sudah 2 kali lipat dari berat badan-nya sebelum Alana hamil.


“Hahaha.. Tidak apa apa gendut sayang, asalkan sehat.” Jawab Sari dengan tawanya.


Alana ikut tertawa. Alana mulai menikmati sandwich dengan orak arik telur didalamnya yang di buat sendiri oleh Sari untuknya. Mereka berdua mengobrol dengan diselingi canda tawa yang membuat keduanya tertawa bahagia.


“Bu, bagaimana kalau kita pindah lagi kerumah yang lama?”


Senyuman dibibir Sari langsung memudar mendengar pertanyaan dari Alana. Sari terdiam menatap Alana yang juga sedang menatapnya menunggu jawaban atas pertanyaan-nya.


Sari menghela napas. Jika dirinya ikut pindah kerumah lama Rayan, itu pasti akan menimbulkan kesalah pahaman. Caterine, wanita itu pasti akan semakin menuduhnya dan Alana mengincar harta yang Rayan miliki.


“Nak.. Kalau memang kamu dan suami kamu mau pindah lagi kesana ibu tidak keberatan. Tapi kalau untuk ibu ikut serta, ibu sangat sangat minta maaf. Ibu tidak bisa.”

__ADS_1


__ADS_2