Aku Bukan Pengganti

Aku Bukan Pengganti
Episode 70


__ADS_3

Saat makan malam berlangsung Rayan begitu sangat memanjakan Alana. Pria itu menanyakan apa saja yang ingin Alana makan bahkan sampai mengambilkan dan menyuapinya. Hal itu berhasil membuat Caterine dan Sechil merasa semakin geram. Mereka berdua menatap dengan penuh rasa benci pada Alana yang mereka anggap sebagai penghalang bagi mereka menguasai seluruh harta Rayan.


“Kamu mau aku beliin sesuatu?” Tanya Rayan saat Alana baru saja selesai meminum segelas air putih.


Alana tersenyum kemudian menggelengkan kepalanya. Rayan sangat memanjakan-nya.


“Aku udah kenyang banget.” Jawabnya.


Rayan tersenyum kemudian bangkit dari duduknya. Pria itu meraih tangan Alana dan membantunya berdiri.


“Kalau gitu kita istirahat yah..” Katanya.


Alana tersenyum lagi kemudian menganggukan kepalanya menuruti apa yang dikatakan Rayan. Mereka berdua berlalu dari meja makan tanpa menghiraukan tatapan kesal Sechil dan Caterine.


“Kamu lihat tadi Rayan? Mommy dan Sechil, mereka sepertinya sangat marah sekali melihat kamu memanjakanku seperti ini.”


Rayan hanya tertawa pelan.


“Biarkan saja. Yang penting kamu dan anak kita sehat.”


Alana mengangguk setuju. Wanita itu menghela napas kemudian masuk kedalam lift bersama Rayan yang terus berada disampingnya. Alana sebenarnya ingin sekali berhubungan baik dengan Caterine juga Sechil. Tapi keduanya seperti sangat tidak menyukainya membuat Alana bingung. Entah dimana letak kesalahan-nya. Caterine dan Sechil belum mengenalnya dengan baik tapi sudah mengecapnya sebagai wanita murahan. Tidak tanggung tanggung mereka bahkan menuduhnya menghasut Rayan agar Rayan lebih memihak padanya.


“Rayan..”


Tepat saat Alana memanggil Rayan, pintu lift terbuka karna mereka memang sudah sampai dilantai 3.


“Kenapa Alana?” Tanya Rayan menoleh menatap Alana yang berada disampingnya.


Alana diam sesaat.


“Menurut kamu apa salahku sehingga mommy dan Sechil sangat membenci dan tidak menyukaiku?”


Rayan menggigit bibir bawahnya. Rayan juga tidak tau tentang itu. Tetapi Caterine dan Sechil bersikap seperti itu bukan hanya pada Alana saja, tapi juga pada Sakura dulu.


“Alana.. Mungkin mereka hanya belum mengenal kamu dengan baik saja. Jangan terlalu dipikirkan ya.. Kamu tidak mau kan anak kita kenapa napa?” Rayan berkata sambil mengusap lembut perut rata Alana. Pria itu tidak tau harus menjawab apa. Mungkin memang Caterine dan Sechil tidak suka jika perhatian Rayan terbagi untuk wanita lain.

__ADS_1


Alana menundukan kepalanya menatap tangan besar Rayan yang mengusap perutnya. Keinginan-nya untuk hamil sekarang sudah terwujud. Rayan juga sepertinya sudah benar benar mencintainya. Namun ternyata kebahagiaan yang Alana impikan masih harus diuji dengan rintangan berat, yaitu mommy dan adiknya Rayan sendiri.


“Jangan katakan pada mereka aku sedang hamil sekarang.” Pinta Alana lirih. Alana tidak mau mereka berbuat macam macam yang bisa membahayakan janin dalam kandungan-nya.


“Aku sangat mencintainya Rayan. Aku tidak mau dia kenapa napa.” Lanjut Alana.


Rayan tersenyum dengan anggukan kepala.


“Aku tau Alana. Aku akan melakukan apapun demi kalian berdua. Sekarang kamu istirahat yah.. Aku temani.”


“Oke..”


Rayan kemudian menggendong tubuh Alana dan membawanya melangkah keluar dari dalam lift. Pria itu sudah berjanji pada dirinya sendiri akan menjaga dengan baik Alana dan juga janin yang sedang dikandungnya. Janin itu adalah benihnya, buah cintanya dengan Alana.


Ketika sampai dikamar, Rayan membaringkan pelan tubuh Alana diatas ranjang. Rayan yakin semuanya akan baik baik saja. Sekarang bukan hanya CCTV yang menjadi matanya, tapi juga semua pekerja dirumah itu termasuk Robin dan Roky, body guard kepercayaan-nya.


Rayan ikut membaringkan tubuhnya disamping Alana. Pria itu tersenyum menatap Alana yang berbaring miring menghadapnya.


“Wanita itu, apa yang dia bicarakan padamu?”


“Siapa?” Tanyanya pelan.


“Istrinya Dion.” Jawab Rayan singkat.


Alana memonyongkan sesaat bibirnya tampak sedang memikirkan sesuatu. Michelle terlihat sangat menyedihkan saat mereka tidak sengaja bertemu dirumah sakit.


“Tidak ada. Kami hanya bertanya kabar saja.”


“Kamu tidak membencinya?” Tanya Rayan lagi.


Alana menatap Rayan yang begitu serius menatapnya. Wanita itu menggeser lagi tubuhnya semakin menempel pada tubuh kekar Rayan.


“Aku sudah tidak punya alasan untuk membencinya. Kecewa mungkin masih. Tapi hanya sedikit.” Jawab Alana menyelusup masuk kedalam pelukan hangat Rayan.


“Kecewa? Apa karna dia merebut Dion darimu dulu?”

__ADS_1


Alana mengeryit kemudian melepaskan diri lagi dari pelukan Rayan. Wanita itu mendongak menatap Rayan yang terlihat ingin sekali tau apa jawaban-nya.


“Kenapa jadi sensitif sekali?” Tanya balik Alana bingung.


“Jawab saja Alana. Kamu kecewa karna dia merebut Dion darimu atau karna yang lain-nya?”


Alana menghela napas. Rayan terus saja menuntutnya.


“Kamu mau jawaban yang jujur atau jawaban bohong untuk menjaga perasaanmu hem?” Goda Alana.


Kedua mata Rayan melebar mendengarnya.


“Apa maksudmu? Kamu milikku sekarang Alana, jangan macam macam meski itu hanya dihati dan pikiranmu saja. Kamu hanya boleh memikirkan aku.”


Alana memundurkan sedikit kepalanya menatap Rayan dengan kedua mata menyipit.


“Sekarang jawab dengan jujur, apa kamu kecewa padanya karna Dion?” Rayan kembali bertanya. Kali ini tangan besarnya bahkan memeluk erat pinggang Alana menuntut agar Alana segera menjawab pertanyaan-nya.


Alana memukul pelan tangan Rayan yang memeluk pinggangnya. Kentara sekali Rayan sedang cemburu dan menganggap Alana masih memikirkan Dion.


“Pasang kupingmu baik baik tuan. Dengarkan dan jangan sampai lupa.” Katanya.


“Aku kecewa pada Michelle bukan karna Dion. Tapi karna dia pernah menjadi teman yang sangat baik untukku. Kami dulu sering menghabiskan waktu hanya untuk mengobrol bahkan sampai tidak mengikuti kelas.” Alana menjelaskan sambil memainkan jari jari lentiknya didada bidang Rayan yang terbalut T-shirt putih polos berkerah V. Alana memang sangat menyukai bagian tubuh Rayan itu karna begitu kuat dan kokoh menurutnya. Apa lagi dada bidang Rayan juga begitu nyaman untuk Alana menyandarkan kepala.


“Aku sudah memiliki kamu sekarang. Dihati, dipikiran, bahkan disetiap detiknya aku selalu meyakini aku ini milik kamu. Hanya milik kamu. Jadi aku tidak punya lagi alasan untuk menengok kembali kebelakang. Masa lalu mungkin tidak akan bisa dengan mudah untuk dilupakan. Tapi hati juga jiwa dan ragaku milik kamu sekarang Rayan. Kamu percaya itu?” Senyum Alana mendongak menatap Rayan yang begitu serius mendengarkan penjelasan darinya.


Rayan diam. Tidak berbeda dengan dirinya yang juga mempunyai masa lalu yaitu Sakura. Sampai saat ini Rayan belum bisa melupakan Sakura, bahkan mungkin tidak akan pernah bisa. Sakura pernah hadir dalam hidupnya, mengisi hatinya yang kosong dan membuatnya bahagia. Tapi hati dan cinta yang Rayan miliki sekarang adalah milik Alana. Wanita itu berhasil memlikinya secara utuh.


“Apa itu berlaku juga untukku Alana? Apa kamu tidak marah jika aku tidak bisa dengan gampang melupakan Sakura?” Tanya Rayan lirih.


Alana menganggukan kepalanya pelan.


“Asal hati dan cinta kamu sekarang milikku seutuhnya aku tidak keberatan. Masa lalu bukan untuk dilupakan tapi untuk dijadikan pelajaran dan pengalaman hidup agar bisa menjadi lebih baik.” Jawab Alana.


Rayan tersenyum kemudian langsung merengkuh tubuh Alana, mendekapnya dengan lembut dan penuh cinta. Pemikiran Alana begitu dewasa. Mungkin memang masanya bersama Sakura dulu adalah pelajaran penting dalam hidup Rayan agar bisa dengan baik menjaga dan melindungi wanita yang sangat dicintainya sekarang, yaitu Alana.

__ADS_1


“Terimakasih untuk semuanya Sakura.” Batin Rayan sembari mengecup puncak kepala Alana.


__ADS_2