
Bastian menghentikan mobilnya ketika sampai didepan pintu gerbang rumahnya. Bastian merasa aneh karna mamahnya sudah menunggu disana seperti sudah sangat tidak sabar ingin bertemu dengan-nya.
Mamah Bastian langsung masuk begitu mobil Bastian berhenti didepan-nya. Seperti biasanya, wanita itu tersenyum dengan lembut pada Bastian, putra tunggal semata wayangnya.
“Ayo jalan..” Perintahnya pada Bastian.
“Jalan kemana mah?” Tanya Bastian bingung.
Mamah Bastian menghela napas kemudian tersenyum menatap putra tampan-nya.
“Begini sayang, mamah belum pernah sekalipun bertemu dengan Sechil secara langsung. Dan mamah pikir mungkin sekarang saatnya, mumpung mamah lagi ada waktu.”
Bastian mengerjapkan kedua matanya mendengar itu.
“Mah tapi...”
“Nggak ada tapi tapian. Kita ke mall sekarang untuk membelikan baju baju untuk anak kamu dan Sechil.” Sela mamah Bastian tersenyum.
Bastian tidak bisa berkata apa apa sekarang selain menuruti apa yang di inginkan oleh mamahnya. Bastian mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju mall seperti apa yang di inginkan oleh mamahnya.
“Bastian.” Panggil mamah Bastian lagi.
“Ya mah...” Saut Bastian tersenyum dan menoleh sebentar pada sang mamah.
“Tentang Cleo, dari cara bicaranya pada mamah tentang Sechil sepertinya Cleo kurang menyukai dia.”
Bastian hanya diam saja. Selama ini kedua orang tuanya tidak pernah protes dengan apa yang Bastian lakukan pada Sechil. Bahkan keduanya mendukung sepenuhnya niat baik Bastian bertanggung jawab atas anak yang dikandung Sechil.
“Mamah tau bagaimana kerasnya Cleo. Dia sama seperti kamu. Maka dari itu mamah dan papah tidak mau tau. Kalau sampai Cleo berniat macam macam pada cucu mamah dan papah, dengan sangat terpaksa mamah dan papah meminta sama kamu untuk mengakhiri saja hubungan kamu dengan Cleo.”
Bastian hanya diam saja. Cleo memang terang terangan memperlihatkan ketidak sukaan-nya pada Sechil. Tapi Bastian yakin itu karna kecemburuan saja. Mungkin Cleo pikir Bastian dimanfaatkan oleh Sechil dan Ramon, begitu pikir Bastian.
“Mamah tidak pernah melihat siapapun wanita yang mengandung anak kamu Bastian. Siapapun itu, dengan dia mau menjaga dengan baik cucu pertama keluarga kita berarti mamah berhutang budi pada dia. Kamu mengerti Bastian?”
Bastian tersenyum mendengarnya. Mamahnya memang tidak pernah memandang seseorang dari derajatnya.
“Aku mengerti mah.. Aku juga akan pastikan sendiri Cleo tidak akan macam macam pada Sechil maupun anak aku.” Balas Bastian.
“Bagus kalau begitu.”
Bastian melirik sekilas pada sang mamah. Mamahnya bisa begitu sangat percaya dan perhatian pada Sechil bahkan belum pernah bertemu dengan Sechil sekalipun.
__ADS_1
“Aku akan menelpon Ramon dulu sebelum kita datang kerumah mereka. Supaya tidak ada kesalah pahaman.” Kata Bastian.
“Ramon?” Tanya mamah Bastian mengeryit.
“Ramon itu suaminya Sechil mah..”
Mamah Bastian mengangguk mengerti. Bastian memang sudah menjelaskan bahwa Sechil sudah menikah namun tidak pernah memberitahu siapa nama suami Sechil. Itu juga sebab kenapa kedua orang tua Bastian tidak menyuruh untuk Bastian tanggung jawab. Tentu saja karna Sechil yang sudah memiliki suami dan Bastian pun sudah memiliki Cleo, orang yang dicintainya.
Tidak lama kemudian mobil Bastian sampai didepan mall. Mamah Bastian segera turun dari mobil Bastian dan memilih menunggu Bastian didepan pusat belanjaan besar itu dari pada harus ikut keparkiran.
Setelah Bastian memarkirkan mobilnya, keduanya segera masuk kedalam mall dan mulai berburu barang barang yang memang pasti akan sangat diperlukan oleh Sechil juga bayinya nanti.
Bastian sebenarnya merasa ragu. Bastian juga sedikit khawatir Ramon akan tersinggung dengan pemberian-nya kali ini. Apa lagi jika sudah mamahnya yang turun tangan memilih sendiri apa yang akan diberikan pada Sechil.
“Mah, aku pikir lebih baik kita belinya nggak usah banyak banyak deh. Aku takut Ramon salah paham sama kita.”
Mamah Bastian berhenti memilih milih baju bayi yang ada didepan-nya. Wanita ber dress coklat gelap itu menoleh menatap Bastian yang ada disampingnya.
“Kita membelinya untuk anak kamu, bukan untuk Ramon.”
“Ya iya tapi kan..”
“Ramon pasti memahami maksud mamah. Bukankah kamu bilang dia orang yang sangat bijak dan sabar?” Lanjutnya bertanya yang kembali membuat Bastian bungkam tidak bisa menjawab.
Bastian hanya bisa mengangguk pelan. Mamahnya memang tidak suka jika kemauan-nya dibantah. Apa lagi jika yang dilakukan-nya itu baik menurutnya.
“Lebih baik kamu telepon mereka sekarang. Katakan kita akan datang nanti sore.” Perintah mamah Bastian.
“Ya mah.. Bastian permisi mau nelepon Ramon dulu.”
“Ya.. Jangan lama lama.”
Bastian mengangguk kemudian segera menjauh dari mamahnya untuk menghubungi Ramon. Bastian juga berharap semoga sore nanti Ramon sudah ada dirumahnya begitu Bastian dan mamahnya datang untuk menghindari hal hal yang tidak di inginkan.
-------
Sechil tersenyum ketika mendapati nama Rayan tertera dilayar hp nya yang menyala. Dengan semangat Sechil mengangkat telepon dari sang kakak.
“Ya halo kak...” Sapa Sechil begitu mengangkat telepon dari Rayan.
“Sechil.. Kamu sedang apa?”
__ADS_1
Sechil tersenyum. Rayan tetap seperti dulu, perhatian dan menyayanginya. Padahal Sechil sudah dewasa bahkan sudah menikah dan sebentar lagi akan mempunyai anak.
“Emmm.. Aku sedang duduk kak.” Jawab Sechil.
“Sudah makan?”
“Sudah.. Kakak sendiri lagi apa dan dimana?” Jawab Sechil kemudian bertanya balik pada Rayan yang berada diseberang telepon.
“Sama seperti kamu. Kakak sedang duduk dan masih dikantor. Ini kakak baru selesai bekerja dan baru mau pulang.”
Sechil mengangukkan kepalanya mengerti. Mungkin bukan hanya Rayan saja yang baru selesai bekerja sore ini, tapi Ramon juga.
“Sechil apa besok kamu ada waktu?”
Sechil tertawa mendengar pertanyaan Rayan kali ini.
“Kakak lucu banget sih. Aku itu selalu punya waktu kak. Aku nggak sibuk kaya kakak, kaya Ramon juga. Aku cuma duduk santai dirumah menunggu Ramon pulang.”
“Kalau begitu bagaimana kalau besok siang kakak jemput kamu. Kita sama sama pergi untuk menjenguk mommy. Kamu mau kan?”
Sechil terdiam sesaat. Sejak pindah ke kontrakan Ramon memang Sechil sudah jarang bertemu dengan Caterine. Apa lagi sejak Caterine dipenjara.
“Iya kak.. Aku mau.” Jawab Sechil.
“Oke, besok siang kakak jemput. Kamu bilang dulu sama Ramon. Syukur syukur dia mau ikut besok.”
“Ya kak.. nanti aku bilang.”
“Ya sudah kalau begitu. Kamu hati hati dirumah. Jangan kemana mana sendiri. Kakak sudah mau jalan pulang.”
“Iya kakak-kuu.. Ya sudah, kakak juga hati hati dijalan. Salam buat kak Alana.”
“Oke...”
Telepon disudahi oleh Rayan setelah itu. Sechil tersenyum. Rayan benar benar kakak terbaik untuknya dan mungkin terbaik di dunia. Rayan tetap menyayangi dan memperhatikan-nya setelah apa yang Sechil lakukan dulu.
Tok tok tok
Sechil menoleh kearah pintu. Senyumnya mengembang berpikir jika yang berada dibalik pintu utama rumahnya adalah Ramon.
“Lucu banget sih. Biasanya juga buka pintu sendiri.” Gumam Sechil tersenyum geli.
__ADS_1