
Alana menumpahkan segala apa yang dirasanya pada Sari malam itu. Wanita itu menangis sesunggukan tidak perduli meskipun setelah ini Sari akan mengejeknya lemah. Alana benar benar membutuhkan sandaran juga curahan hatinya saat itu.
Setelah puas menumpahkan rasanya, Alana pun pulang ke kediaman Rayan. Meski Sari sempat melarang dan menyuruhnya untuk menginap, namun Alana tetap merasa dirinya harus pulang. Alana masih berpikir mungkin Rayan akan khawatir mencarinya yang tiba tiba menghilang dirumah sakit.
Setelah Caterine mendapat donor darah dari Rayan, keadaan-nya mulai membaik. Rayan dan Sechil merasa sangat lega setelah itu.
Menjelang pagi Rayan baru menyadari ketidak hadiran Alana disana. Itupun karna Ramon yang mengatakan bahwa Alana tidak ditemukan dimana mana.
Seharian Rayan mencoba menghubungi Alana namun nomornya terus saja tidak aktif. Rayan juga mencari Alana kemana mana bahkan sampai kepusat kota dan beberapa tempat yang menjadi tempat favorite Alana hingga akhirnya Rayan menelpon bibi dan baru bisa merasa tenang begitu tau Alana sudah ada dirumah sejak semalam. Seperti orang linglung Rayan baru sadar bahwa dirinya bisa kapanpun dan dimanapun mengecek CCTV dirumahnya. Rayan memperhatikan diam diam Alana yang sudah terlelap diatas tempat tidur. Rasa bersalah tiba tiba mulai menguasai hatinya. Rayan membiarkan Alana pulang sendiri.
“Alana sudah ada dirumah. Kamu tidak perlu lagi mencarinya Ramon.” Ujarnya menatap Ramon dan Sechil bergantian.
“Syukurlah kalau kak Alana memang sudah ada dirumah.. Saya sangat khawatir karna kak Alana menghilang sejak semalam.”
Rayan mengangguk pelan. Rayan merasa sangat berterimakasih pada Ramon yang sudah mau mencari keberadaan Alana.
“Kalau begitu kakak pulang dulu. Ramon, tolong jaga Sechil dan mommy ya..”
“Baik kak.” Angguk Ramon menyanggupi permintaan tolong Rayan.
Setelah mendapat anggukan dari Ramon, Rayan pun berlalu. Rayan tidak sabar sekali ingin memeluk Alana yang sempat dia abaikan malam itu karna terlalu mengkhawatirkan Caterine yang kritis kehilangan banyak darah akibat sayatan dipergelangan tangan-nya.
Rayan mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Rayan takut Alana salah paham dan menganggapnya tidak perduli.
Dalam waktu singkat mobil Rayan sampai didepan kediaman mewahnya. Rayan segera turun dan masuk kedalam rumah dengan langkah cepat. Rayan bahkan sampai mengabaikan sapaan beberapa pelayan yang malam itu belum tidur.
Begitu sampai dikamarnya dan Alana, Rayan langsung menubruk tubuh Alana memeluk dan menciumin-nya membuat Alana merasa terusik hingga akhirnya terbangun dari tidur lelapnya.
“Rayan...” Alana bersuara dengan suara seraknya. Wanita itu menatap Rayan bingung karna pria itu terus mengucapkan kata maaf dengan suara bergetar.
“Kamu sudah makan?” Tanya Rayan menatap penuh perhatian pada Alana yang masih dipeluknya.
Alana menggelengkan kepalanya. Selera makan-nya mendadak hilang. Mungkin karna memikirkan apa yang sebenarnya ingin Caterine lakukan selanjutnya.
__ADS_1
“Kenapa?” Tanya Rayan sambil membelai lembut pipi Alana.
“Aku nungguin kamu..” Jawab Alana yang sebenarnya bukan jawaban yang berasal dari hati dan pikiran-nya. Karna sesungguhnya dalam hati dan pikiran Alana saat ini terus dipenuhi pertanyaan tentang apa yang akan Caterine lakukan lagi.
“Ya tuhan..” Lirih Rayan sambil mencium kening Alana penuh rasa penyesalan.
Rayan kemudian segera menelpon bibi dan meminta untuk disiapkan makan malam. Memang permintaan-nya sangat mengganggu bibi dan pelayan lainya mengingat hari yang sudah malam. Tapi demi Alana Rayan tidak perduli apapun.
Rayan membersihkan dirinya lebih dulu sembari menunggu makanan untuknya dan Alana siap. Sedang Alana, dia merenung duduk diatas tempat tidur. Alana memikirkan bagaimana keadaan Caterine sekarang.
Setelah selesai membersihkan dirinya Rayan segera mengajak Alana turun kelantai satu dengan menggunakan lift. Tepat saat mereka sampai dimeja makan, bibi dan pelayan lain-nya baru saja selesai menata hidangan diatas meja.
“Tuan, nyonya.. Silahkan..” Kata bibi mengangguk sopan.
Rayan tersenyum tipis dan sedikit menganggukan kepalanya.
“Terimakasih..” Balasnya.
Alana menghela napas. Sejujurnya Alana penasaran sekali dengan keadaan Caterine sekarang. Karna saat Rayan hendak mendonorkan darahnya Alana memilih untuk pergi.
Alana hanya tersenyum saja. Meski sempat merasa sakit hati namun Alana akhirnya sadar bahwa bagaimanapun Caterine dia tetaplah ibu kandung Rayan.
“Enggak papa. Bagaimana keadaan mommy?”
Rayan menghela napas pelan kemudian tersenyum sambil menyodorkan sesendok nasi dan lauk pada Alana.
“Buka mulutnya baru aku jawab pertanyaan kamu.” Senyum Rayan.
Alana mengangguk kemudian membuka mulutnya menerima suapan dari Rayan.
“Keadaan mommy sudah mulai membaik dari pagi. Beruntung darahku cocok dengan mommy sehingga mommy bisa tertolong.”
Alana hanya diam saja. Alana merasa lega namun juga merasa was was. Jika Caterine kembali membaik Caterine pasti akan tetap bersikap tidak baik padanya.
__ADS_1
“Kamu kenapa pergi tidak bilang dulu sama aku semalam?” Tanya Rayan menatap Alana penuh perhatian.
“Maaf.. Aku tiba tiba merindukan ibu semalam.” Jawab Alana lagi lagi bukan jawaban yang berasal dari hatinya.
Rayan mengangguk pelan. Mungkin karna melihat Caterine yang berada dalam keadaan tidak baik baik saja membuat Alana teringat pada sosok ibunya sendiri.
“Bagaimana kabar ibu? Apa dia menanyakan aku juga?” Tanya Rayan lagi sambil kembali menyodorkan sesendok nasi dan lauk pada Alana.
“He'em.. Ibu menanyakan kamu. Kabar ibu baik baik saja.”
Tepat saat Alana ingin kembali berucap, hp Rayan berdering. Rayan melepas sendok yang dipegangnya kemudian meraih hp miliknya yang berada disamping piring yang ada didepan-nya.
“Sechil..” Gumam Rayan memberitahu Alana.
Rayan segera mengangkat telpon dari Sechil. Pria itu berbicara dengan Sechil lewat sambungan telpon dengan sesekali menatap Alana yang ada didepan-nya.
“Ada apa?” Tanya Alana begitu Rayan menyudahi telpon-nya dengan Sechil.
“Mommy, dia bilang ingin bertemu dengan kamu. Dia mau sekarang tapi aku tidak mau. Sekarang sudah malam. Sudah waktunya kamu istirahat.” Jawab Rayan dengan helaan napas pelan.
Alana tersenyum mendengarnya. Senang sekali rasanya karna Rayan sangat mementingkan kesehatan-nya.
“Aku bisa kerumah sakit besok pagi.” Ujar Alana.
“Tentu saja. Dan kamu harus pergi sama aku kesana.”
Alana tertawa pelan. Rayan adalah pria yang cerdas. Alana yakin Rayan pasti bisa menilai dengan benar apa yang sedang Caterine rencanakan.
“Tentang rencana kita untuk pindah, bagaimana?” Tanya Alana yang berpikir mungkin Rayan berubah pikiran setelah kejadian percobaan bunuh diri yang Caterine lakukan.
“Kita akan tetap pindah. Mungkin memang waktunya akan diundur lagi. Paling tidak sampai mommy benar benar sembuh dan pulih kembali seperti semula.”
Alana mengangguk setuju. Rayan tidak berubah pikiran meskipun Caterine sedang berada dirumah sakit.
__ADS_1
“Sudah malam, ayo habiskan makanan-nya setelah itu kita istirahat.”
“Oke..” Angguk Alana menjawab.