Aku Bukan Pengganti

Aku Bukan Pengganti
Episode 137


__ADS_3

“Bagaimana? Apa teman Sechil masih mengingat jelas siapa orang itu?” Alana bertanya sambil meletakan secangkir kopi panas untuk Rayan yang sedang fokus dengan laptopnya diruang keluarga. Pria itu meski sudah sibuk seharian diluar masih saja sibuk dengan laptopnya saat dirumah.


Rayan menghela napas lalu menutup laptopnya. Pria itu menoleh dan tersenyum pada Alana yang duduk disampingnya.


“Ibu mana?” Tanya Rayan pada Alana.


“Ibu sudah tidur. Katanya kepalanya sedikit pusing. Mungkin kecapek'an karna ibu tidak mau diam seharian ini.” Jawab Alana dengan wajah sendu.


“Ya tuhan.. Tapi ibu sudah diberi obatkan?” Tanya Rayan lagi.


Alana menganggukan kepalanya. Rayan sangat perhatian pada ibunya dan Alana sangat senang karna hal itu. Dua orang yang sangat dicintainya saling perduli dan menyayangi.


“Syukurlah kalau begitu. Katakan pada ibu untuk mengurangi aktivitasnya setiap hari. Kesehatan-nya lebih penting dari apapun.” Ujar Rayan yang membuat Alana menganggukkan lagi kepalanya.


Rayan meraih laptop yang berada dipangkuan-nya kemudian meletakan-nya diatas meja.


“Hari ini aku dan Sechil sudah berhasil menemui Luna. Tapi ternyata mommy juga berhasil menemui Luna. Sayangnya mommy tidak beruntung karna Luna cukup pintar dan tidak mempercayainya.”


“Memangnya kamu mengawasi Luna juga? atau kamu punya nomornya?” Tanya Alana bingung namun sekaligus kesal membayangkan Ramon berkomunikasi dengan wanita lain meskipun hanya lewat telpon saja juga meskipun untuk misi Ramon mencari siapa ayah kandung janin yang sedang dikandung Sechil.


Rayan mengangkat kedua alisnya bingung melihat ekspresi Alana yang seperti sedang kesal padanya.


“Bukan seperti itu. Ramon yang mengatakan-nya. Ramon mendengarkan apa yang Luna dan Caterine bicarakan setelah aku dan Sechil menemui Luna.”


“Kenapa Ramon bisa sampai tau?” Tanya Alana lagi yang berhasil membuat Rayan merasa jengah. Biasanya Alana tidak bodoh seperti sekarang. Alana selalu nyambung diajak ngobrol. Alana juga selalu tau maksudnya. Tapi sekarang, Alana bertingkah sangat diluar pemikiran Rayan.


“Begini sayangku, kami aku dan Sechil datang kerumah Luna tapi Lunanya sedang dikampus. Sechil nekat mengajak kesitu kemudian mencari Luna dan mengajaknya berbicara tentang malam dimana dirinya ditolong oleh seseorang yang tidak lain adalah Bastian. Eemm.. Maksud aku belum 100% bisa dikatakan itu Bastian. Tapi Luna mengatakan Bastian memang sosok itu. Dari gaya rambut, postur tubuh, sampai tatapan matanya. Dan kamu tau, ternyata mommy mengikuti kami berdua. Mungkin mommy merasa penasaran sehingga mommy menemui Luna dan menanyakan maksud kedatangan kami berdua. Begitu. Kamu mengertikan?”


Alana menatap Rayan dengan tatapan yang Rayan tidak tau apa artinya. Tapi Rayan berharap Alana benar benar mengerti dan paham dengan apa yang Rayan jelaskan.

__ADS_1


“Mommy benar benar tidak ingin kita bahagia sepertinya..” Lirih Alana dengan wajah sendu.


Rayan menarik lembut tangan Alana kemudian memeluknya dengan penuh kasih sayang dan cinta.


“Bukan-nya kamu sendiri yang bilang kalau kita akan selalu bersama dalam keadaan apapun juga sampai kapan pun hem? Jangan pernah merasa lemah sayang. Kita berdua akan selalu selangkah bersama.” Bisik Rayan.


Alana memejamkan kedua matanya. Berada dalam pelukan Rayan membuat semua beban pikiran-nya sirna seketika. Pelukan Rayan adalah pelukan yang selalu Alana impikan sejak kecil. Pelukan seorang pria yang bisa melindungi dan menyayanginya dengan tulus.


“Permisi tuan..”


Suara Fina membuat Rayan menoleh. Pria itu melepaskan pelukan-nya pada Alana yang juga langsung melepaskan diri begitu Rayan melepaskan pelukan-nya.


“Maaf saya mengganggu tuan sama nyonya. Tapi didepan ada Roky tuan. Katanya tuan yang menyuruhnya kemari.” Ujar Fina dengan gaya santainya. Fina memang selalu tampil apa adanya.


“Oh iya.. Ya sudah kalau begitu. Kamu tolong temani Alana sebentar ya, saya mau menemui Roky.” Senyum Rayan kemudian bangkit dari duduknya.


“Siap tuan..” Balas Fina dengan memberi hormat pada Rayan.


“Eem.. Nyonya mau saya ambilkan sesuatu?” Tanya Fina sambil mendekat pada Alana.


Alana menggelengkan kepalanya. Alana menyuruh agar Fina duduk disampingnya.


“Bagaimana kabar keluarga kamu Fina?” Tanya Alana meraih remote TV kemudian menghidupkan-nya. Lagi lagi berita tentang Dion besliweran membuat Alana langsung mematikan kembali TV nya.


“Kabar keluarga saya baik nyonya. Adik saya juga sangat suka dengan hadiah yang nyonya dan tuan berikan. Dia bilang dia akan belajar dengan sungguh sungguh supaya bisa sukses dan bisa bertemu dengan tuan juga nyonya.”


Alana tertawa mendengarnya. Fina memang pulang kerumahnya kemarin. Alana dan Rayan yang memang sudah tau menitipkan bingkisan untuk adik Fina berupa tas, sepatu, bahkan laptop baru untuk adik Fina.


“Ajak dia kesini kapan kapan ya Fina.” Ujar Alana masih dengan sisa tawanya.

__ADS_1


“Baik nyonya.” Angguk Fina.


Alana menghela napas. Fina meskipun harus putus sekolah dan bekerja tapi menurut Alana Fina masih sangat beruntung karna memiliki keluarga yang lengkap. Fina masih memiliki ayah dan ibu bahkan adik yang membuatnya selalu semangat dalam bekerja.


“Kamu beruntung karna masih memiliki kedua orang tua kamu Fina. Jangan kecewakan mereka yang pasti menaruh harapan besar sama kamu. Jaga juga adik kamu dengan baik. Saya yakin suatu saat dia bisa menjadi laki laki yang hebat.”


“Ya nyonya. Saya selalu mengusahakan yang terbaik untuk mereka. Hanya mereka penyemangat hidup saya.” Senyum Fina yang merasa sangat setuju dengan apa yang Alana katakan.


------


“Minumnya tuan..” Ujar bibi sambil meletakan secangkir teh hangat diatas meja diteras dimana Rayan dan Roky sedang berbicara berdua. Setelah meletakan teh untuk Roky, bibi kembali masuk tentunya setelah mendapat ucapan “terimakasih” dari Roky.


“Mulai besok kamu berjaga disini Roky. Pasang CCTV diseluruh sudut ruangan dirumah ini. Jangan lupa digerbang juga.” Perintah Rayan.


“Baik tuan. Lalu bagaimana dengan Robin? Apa dia juga akan berjaga disini?”


Rayan menggelengkan kepalanya.


“Robin akan tetap dirumah yang lama. Dia akan mengawasi mommy.” Jawab Rayan.


Roky menganggukkan kepalanya mengerti. Caterine memang sangat membuat was was. Roky juga sudah tau keniatan Caterine yang sebenarnya hanya pura pura baik saja. Robin yang memberitahunya.


“Kalau begitu saya permisi mau mengambil barang barang saya yang dirumah lama tuan.”


“Ya.. Untuk kamar kamu nanti Fina yang akan menunjukan. Kamu hati hati dijalan. Ingat, jangan sampai mommy tau dulu alamat rumah ini.”


Roky terlihat terkejut mendengar nama Fina disebut oleh tuan-nya. Pria berbadan kekar itu memang tidak akur dengan Fina begitu juga dengan Robin yang merasa Fina adalah gadis urakan dan galak.


“Em iya tuan. Baik, saya permisi.”

__ADS_1


Rayan tersenyum dan menganggukan kepalanya. Pria itu menghela napas menatap Roky yang melangkah menuju motor besarnya kemudian naik dan berlalu dengan kecepatan sedang keluar dari gerbang rumahnya.


Rayan menghela napas. Tatapan-nya menyapu keseluruh area yang bisa dijangkaunya. Rayan tidak pernah membayangkan dirinya akan keluar dari rumah peninggalan daddy nya dan berpindah kerumah baru yang dibelinya sendiri. Dan Rayan merasa bersalah karna itu. Rayan tidak bisa menepati janjinya pada mendiang daddy nya.


__ADS_2