Aku Bukan Pengganti

Aku Bukan Pengganti
Episode 204


__ADS_3

Sampai semalaman Rayan terus terjaga. Rasa kantuk sama sekali tidak Rayan rasakan begitu juga dengan Alana karna kontraksinya seiring berjalan-nya waktu semakin sering terasa.


“Sayang.. Kamu mau minum atau memakan sesuatu?” Sari yang kini sudah berada disamping Alana dengan sangat perhatian menawari Alana.


Alana tersenyum. Alana tidak pernah membayangkan jika proses melahirkan akan memakan waktu yang cukup lama. Alana juga tidak pernah membayangkan sakitnya akan mendera bahkan sampai keseluruh tubuhnya.


“Boleh bu.. Aku mau sandwich boleh?”


Sari menatap pada Rayan yang tersenyum mendengar permintaan istrinya.


“Dasar tukang makan.” Canda Rayan sambil mengambilkan sandwich yang memang sebelumnya sudah disiapkan oleh Fina.


“Minum dulu ya...”


Alana mengangguk. Saat hendak menyedot air mineral yang disodorkan Rayan kontraksi itu kembali menghampirinya membuat Alana meringis namun kemudian tertawa.


“Kenapa sayang?” Tanya Rayan penuh perhatian.


“Ini sangat sakit Rayan. Kamu harus membayar ini nanti.” Katanya sambil tertawa.


Rayan ikut tertawa meski hatinya sebenarnya takut. Rayan takut Alana tidak bisa melalui prosesnya.


“Ya.. Aku akan membayar semuanya sayang. Tapi kamu harus kuat.. Kamu harus bisa.” Balas Rayan.


“Siapa takut.”


Sari tertawa dalam tangis diamnya mendengar candaan Rayan dan Alana. Sari tau bagaimana perasaan Rayan sebenarnya karna Sari melihat Rayan yang diam diam juga menangis tanpa sepengetahuan Alana.


Sari menatap Rayan yang begitu perhatian menyuapi sandwich pada Alana. Pria itu benar benar tidak mengeluh meskipun terus direpotkan oleh Alana yang bahkan untuk sekedar pipis saja tidak bisa sendiri.


“Nyonya, ini sudah hampir 7 jam. Apa prosesnya memang harus begitu lama?”


Sari menoleh pada Fina yang memang sejak datang membawakan perlengkapan untuk Alana dan bayinya tidak mau lagi pulang. Fina ngotot ingin menemani Alana bersama Sari juga Rayan.

__ADS_1


“Jujur saya tidak tau Fina. Saya tidak pernah melahirkan. Tapi kata orang orang kalau baru pertama kali melahirkan itu bisa sampai 10 bahkan 20 jam.” Jawab Sari.


Fina melongo mendengarnya. Fina tidak bisa membayangkan jika dirinya nanti mengalami hal seperti apa yang sedang dialami Alana.


“Kenapa lama sekali?” Tanyanya merasa ngeri.


“Itulah hebatnya wanita Fina. Kamu juga nanti akan merasakan-nya setelah menikah kemudian hamil dan kamu akan melahirkan.” Senyum Sari membuat Fina bergidik ngeri.


12 Jam bukanlah waktu yang sebentar untuk Alana juga Rayan. Apa lagi Alana yang tidak bisa merasakan kantuk karna kontraksinya yang semakin sering terasa.


“Rayan.. Kamu tidak tidur dari semalam..”


Rayan tersenyum. Pria itu mencium punggung tangan Alana yang digenggamnya. Meski memang tidak memejamkan matanya barang semenit saja tapi Rayan sama sekali tidak merasa ngantuk. Rayan terus membuka kedua matanya lebar untuk memastikan Alana selalu dalam pengawasan-nya.


“Kamu nggak perlu mikirin aku sayang.. Yang terpenting sekarang kamu harus semangat. Kamu harus bisa. Buktiin kalau memang kamu benar benar mencintai aku dan anak kita..” Lirih Rayan menatap Alana penuh cinta.


Alana tersenyum. Tanpa Rayan meminta pun Alana akan berusaha sekuat yang dia bisa untuk melahirkan buah hati mereka.


Alana mengeryit karna rasa sakit itu kini seperti menguasai seluruh tubuhnya. Balasan genggaman tanganya pada Rayan semakin erat membuat Rayan kembali dihimpit oleh ketakutan yang membuatnya benar benar tidak bisa keluar dari segala arah.


Suara pintu terbuka memunculkan dokter dan 2 perawat yang sudah siap dengan baju hijaunya. Mereka langsung sibuk menyiapkan perlengkapan yang dibawanya.


“Sudah lengkap.” Kata dokter tersebut pada Rayan.


Rayan tersenyum dan terus menggenggam tangan Alana. Rayan menghela napas mencoba melawan semua rasa takut yang melandanya.


Rayan mendekatkan wajahnya pada Alana. Pria itu mengusap lembut kening Alana yang berpeluh.


“Aku mungkin nggak bisa bantu apa apa sayang.. Tapi aku akan tetap disini, mendampingi kamu untuk berjuang melahirkan anak kita..” Katanya.


Alana tertawa pelan. Rasa sakit itu tidak akan mampu menyurutkan semangatnya yang semakin berkobar. Alana tidak perduli seberapa sakitnya. Alana akan terus berusaha sekuat yang dia bisa agar bisa memeluk dan mendekap anaknya.


“Aku pasti bisa..” Gumamnya yakin menatap Rayan.

__ADS_1


“Yah... Aku percaya sama kamu..” Angguk Rayan berkata lirih.


Proses persalinan dimulai. Dokter terus memberi aba aba pada Alana yang dengan tenang mengikuti. Alana bahkan sama sekali tidak mengeluarkan rintihan kesakitan. Alana begitu optimis bisa melalui masa itu dengan Rayan yang terus membisikan kata indah ditelinganya. Alana tau tidak ada yang instan didunia ini. Termasuk untuk bersama dengan anaknya, Alana harus melalui proses yang begitu nikmat dia resapi. Proses yang akan menjadi awal cerita indah kebersamaan-nya dengan bayi mungilnya.


“Oke.. Tenang nyonya.. Tarik napas dalam dalam dan hembuskan pelan pelan.. Dorong dengan tenang nyonya..”


Rayan berusaha mati matian untuk tidak menangis. Alana 12 jam tidak dapat memejamkan kedua matanya karna terus merasakan kontraksi. Dan sekarang Alana harus mengerahkan seluruh sisa tenaga yang dia miliki untuk melahirkan buah hati mereka. Benar benar proses yang panjang dan menyakitkan menurut Rayan. Andai saja Rayan bisa meminta pada Tuhan, Rayan akan meminta supaya sakit itu dirinya saja yang merasakan. Jangan Alana, wanita yang berhasil melukis warna indah dalam kehidupan-nya.


“Bagus nyonya.. Dorong terus nyonya.. Sedikit lagi nyonya..”


Alana mengatupkan giginya kuat kuat mendorong bayinya agar keluar dari persembunyian hangatnya selama 8 bulan lebih saru hari dirahimnya. Dan detik itu juga terdengar suara nyaring tangisan bayi yang membuat tersenyum bangga. Dengan tubuh yang terasa sangat lemas Alana mencoba berucap sesuatu pada Rayan.


“Ssstt.. Kamu benar benar hebat sayang. I love you..” Bisik Rayan mencegah untuk Alana berbicara dulu. Rayan mengecup lama kening Alana dengan rasa haru, bahagia, juga bangga karna buah hatinya telah lahir kedunia dengan penuh perjuangan dari istri tercintanya.


“Selamat nyonya, tuan. Anak anda sangat cantik.” Ucap dokter memberitahu pada Rayan dan Alana.


Tanpa bertanya pun Rayan dan Alana tau, anak mereka perempuan.


“Terimakasih dok..” Senyum Alana menatap dokter yang membantu proses persalinan-nya.


“Sama sama nyonya.” Angguk dokter tersebut.


Selama Alana ditangani, Rayan terus berada disamping Alana. Pria itu terus menggenggam erat tangan Alana. Rayan benar benar merasa lega sekarang. Anaknya telah lahir dan istrinya baik baik saja.


Setelah semuanya selesai, dokter memberikan bayi mungil cantik itu pada Rayan yang langsung bisa dengan lihai menggendongnya. Rayan mendekatkan putrinya pada Alana yang dengan lembut mencium pipi gembulnya.


“Dia sangat cantik. Sama seperti kamu.” Ujar Rayan membuat Alana tertawa.


Tawa Alana membuat putri mereka menangis dan berhasil membuat Rayan panik dan kalang kabut.


Dokter yang memang masih berada disitu menyarankan agar Alana segera memberikan asi pertamanya pada putri mereka.


Ketika putri mereka mulai menyedot asi Alana, Alana meringis. Rasa geli juga sedikit perih Alana rasakan karna sedotan kuat putrinya.

__ADS_1


“Apa sakit?” Tanya Rayan ikut meringis.


“Hanya sedikit geli saja.” Jawab Alana.


__ADS_2