
Alana menuruni anak tangga dengan sedikit berlari. Rayan, pria itu sudah tidak ada lagi disampingnya begitu Alana membuka kedua matanya.
Alana melangkah buru buru menuju dapur karna tidak menemukan Rayan dimanapun. Baik diruang baca maupun diruang kerjanya. Alana bermaksud bertanya pada bibi atau pelayan lainya yang mungkin saja tau dimana Rayan sekarang.
“Bi..”
Bibi yang saat itu sedang berkutat didapur bersama 3 pelayan lainya langsung menoleh. Wanita itu buru buru melepas peralatan masak yang dipegangnya kemudian mendekat pada Alana.
“Saya nyonya..” Angguknya sopan setelah berada didepan Alana.
“Rayan kemana bi?” Tanya Alana langsung.
“Tuan keluar bersama tuan Luky nyonya. Mungkin sebentar lagi pulang. Tuan bilang beliau akan kembali sebelum waktu makan malam tiba.” Jawab bibi apa adanya. Rayan memang sempat berpesan agar bibi berkata seperti itu jika Alana mencarinya.
Alana berdecak pelan. Rayan pergi tanpa mengajaknya. Padahal Alana ingin sekali ikut serta.
“Apa Rayan kembali keperusahaan bi?” Tanya Alana lagi.
“Untuk itu saya kurang tau nyonya.”
Alana menghela napas. Rayan memang sempat mengatakan akan pergi saat berbicara ditelpon dengan Luky. Tapi Alana lupa menanyakan akan kemana suaminya itu pergi. Dan semua itu tentu saja karna kebersamaan intim mereka yang membuat Alana berhasil melupakan segalanya bahkan sampai rasa kesalnya pada Rayan.
“Ya sudah kalau begitu. Makasih ya bi..”
“Sama sama nyonya. Saya permisi kembali bekerja lagi nyonya.”
“Oh iya bi..” Alana menganggukan kepalanya.
Alana sesaat terdiam menatap aktivitas para pelayan yang sedang saling membantu didapur. Mereka begitu kompak bergotong royong menyiapkan hidangan makan malam untuk Alana dan Rayan. Alana sedikit bingung sebenarnya, yang dilayani hanya dirinya dan Rayan. Tapi para pelayan begitu sangat sibuk seolah apa yang mereka hidangkan harus selalu istimewa untuk Alana juga Rayan. Padahal jika hanya untuk seorang Alana, tempe goreng dan sambal saja sudah cukup nikmat.
__ADS_1
Alana menghela napas dengan senyuman yang terukir dibibirnya. Alana akan meminta pada Rayan untuk memberikan bonus pada para pelayan dirumah itu akhir bulan nanti.
Sampai waktu makan malam tiba, Rayan belum juga pulang. Alana yang sudah duduk anteng dikursinya hanya bisa menunggu meski memang terus mengumpat sebal. Perutnya sudah sangat lapar dan hidangan didepanya seolah terus melambai memohon pada Alana agar Alana melahapnya. Tapi Rayan, pria itu dengan sangat tidak tau dirinya belum juga menampakkan batang hidungnya.
“Kemana sih dia sebenarnya?” Kesabaran Alana mulai habis. Wanita itu meraih hp yang memang terus dibawanya. Alana kembali mencoba menghubungi Rayan tapi sayang, nomor pria itu masih juga tidak bisa dihubungi.
“Rayan.. Kamu benar benar membuatku kesal.”
Alana menaruh hp nya ditempat semula. Kedua matanya menatap semua hidangan yang tersaji diatas meja didepanya.
“Kalau dalam hitungan ketiga kamu masih tidak pulang juga aku akan habiskan semua makanan ini Rayan. Aku tidak akan menyisakan satu sendokpun untuk kamu.”
“Satu..” Alana menatap kearah keluar.
“Dua..”
Sampai hitungan ketiga Rayan belum juga menampakkan diri. Tidak mau putus asa Alana bahkan masih memberi waktu 5 menit. Namun 5 menit itu akhirnya berlalu juga dan Rayan masih belum juga terlihat.
“Oke Rayan, malam ini kamu makan saja nasi tanpa lauk.” Alana bergumam dengan rasa kesal yang sudah membludak kemudian mulai memakan semua lauk lezat yang berada diatas meja. Alana bahkan hanya mengambil nasi sedikit demi bisa menghabiskan semua lauk yang tersedia.
Selesai menghabiskan semua lauknya Alana pun bangkit dari duduknya. Rasa kesalnya masih juga belum hilang meski sudah melahap habis semua yang ada diatas meja kecuali nasi. Alana merasa itu belum cukup. Rayan sudah keterlaluan karna tidak mengajaknya ikut serta pergi malam ini. Rayan juga seolah merahasiakan apa yang siang tadi dibicarakanya dengan Luky lewat sambungan telpon. Lebih parahnya lagi nomor Rayan terus saja tidak bisa dihubungi sejak Alana bangun sore tadi sampai waktu makan malam tiba.
“Dasar suami tidak peka.” Lagi, Alana mengumpat.
------
Sementara itu ternyata Rayan sudah dalam perjalanan menuju pulang. Pria itu baru saja bertemu dengan pemilik perusahaan dari tabloid dan penyebar berita tentang Alana. Rayan meminta pada mereka untuk menghentikan semua berita yang sedang beredar. Tidak hanya itu saja, Rayan bahkan juga memberikan sanksi pada mereka yang berkomentar pedas termasuk juga orang yang diam diam merekam saat Rayan dan Alana berjumpa dengan Sandi direstoran.
Rayan menghela napas. Tangan besarnya menyentuh perut sixpack-nya yang sudah tidak bisa lagi menahan lapar. Sebenarnya Luky sudah menawarkan untuk makan malam diluar saja sejak satu jam yang lalu, tapi Rayan menolak. Rayan tidak mau kehilangan moment kebersamaanya bersama Alana dimeja makan.
__ADS_1
“Tuan.. Tadi saya sempat membeli roti.” Luky yang sedang fokus menyentir menyodorkan sebungkus roti yang memang sengaja dia beli tadi saat Rayan sedang berbincang dengan pemilik perusahaan berita itu. Luky sebenarnya membeli untuk dirinya sendiri tapi Luky merasa Rayan lebih membutuhkanya.
“Nanti saja.” Balas Rayan menolak.
Luky tersenyum tipis serta menganggukan kepalanya. Cinta tuan-nya sepertinya begitu besar pada Alana sehingga rela menahan lapar demi bisa makan satu meja bersama dirumah. Padahal perjalanan menuju pulang saja masih sedikit memakan waktu. Tapi Rayan mau menahan rasa laparnya.
Rayan merogoh saku dalam jas abu abu yang dikenakanya. Decakan kesal keluar dari bibir tipisnya ketika mendapati baterai hp nya habis. Rayan lupa mengecash-nya.
“Luky, ada power bank?” Tanya Rayan menoleh pada Luky yang terus fokus dengan kemudinya.
“Saya tidak membawa power bank tuan. Tapi jika anda mau menelpon anda bisa memakai hp saya.”
Rayan berdecak lagi namun tetap menyetujui saran Luky. Rayan meminjam hp milik Luky dan mencoba menghubungi Alana namun sama sekali tidak ada jawaban. Alana bahkan mengabaikan pesan singkat yang Rayan kirim menggunakan hp Luky.
“Ck. Kenapa sama sekali tidak dibuka.” Rayan bergumam kesal. Entah sedang apa sekarang istrinya itu sehingga telpon darinya sampai tidak disngkat. Pesan yang Rayan kirim pun sama sekali tidak dibaca.
Rayan memejamkan kedua matanya. Pikiranya tidak tenang sekarang. Alana pasti sedang menunggunya. Alana juga pasti merasa sangat kesal karna Rayan meninggalkanya begitu saja setelah apa yang mereka lakukan saat tidur siang.
“Luky, bisa tolong tambah lagi kecepatan mobilnya?”
“Ah ya tuan, baik.”
Luky menuruti apa yang Rayan inginkan dengan menambah kecepatan laju mobil yang dikemudikan-nya. Beruntung jalanan malam ini sedikit lenggang sehingga Luky bisa lebih leluasa mendahului kendaraan lainya guna mempersingkat waktu agar cepat sampai dikediaman mewah Rayan.
Sesampainya dirumah, Rayan buru buru turun dari mobilnya. Pria itu melangkah cepat mencari keberadaan Alana yang tidak menyambut kepulanganya malam ini.
“Dimana Alana?” Tanya Rayan pada bibi dan pelayan lain-nya yang sedang kebingungan melihat hidangan dimeja makan yang hanya tersisa nasi saja.
“Tuan..”
__ADS_1