Aku Bukan Pengganti

Aku Bukan Pengganti
Episode 141


__ADS_3

Enggan menunda waktu, Bastian langsung menyambangi tempat tinggal baru Ramon dan Sechil malam itu juga. Bastian sempat terkejut dengan kontrakan kecil yang bangunan-nya berjejer dengan bangunan lain-nya. Rasanya sangat mustahil adik dari seorang pria kaya raya seperti Rayan mau tinggal ditempat kumuh seperti yang ada didepan-nya.


Masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, Bastian pun segera menghubungi Luky. Bastian menanyakan apakah Luky salah memberinya alamat atau tidak.


Bastian menghela napas setelah memastikan kebenaranya pada Luky. Pria itu melangkah pelan menuju pintu utama rumah kontrakan Sechil dan Ramon.


Sekali lagi Bastian menghela napas. Bastian tidak tau apa yang akan terjadi nanti. Tapi yang pasti niatnya baik ingin memastikan apakah benar Sechil adalah wanita yang ditidurinya malam itu atau bukan.


-----


“Bagaimana rasanya?” Tanya Ramon menatap Sechil yang sedang mencicipi bakso yang baru saja dibelinya.


Sechil tampak berpikir sambil mencoba merasa rasa kuah bakso yang baru diseruputnya menggunakan sendok.


“Rasanya enak, tapi sedikit kurang pedas.”


Ramon tertawa pelan. Sechil memang sangat menyukai makanan berkuah juga pedas. Tidak heran jika 3 sendok sambal yang dimasukan kedalam semangkuk bakso itu masih kurang pedas menurutnya.


“Sechil, ibuku bilang ibu hamil itu tidak boleh terlalu banyak makan pedas.” Senyum Ramon menatap Sechil yang kembali mencoba kuah bakso yang masih panas itu.


“Oh ya? Kenapa memangnya? Apa takut bayiku mulas didalam?”


Ramon kembali tertawa mendengarnya. Sechil benar benar sangat polos.


“Bukan begitu. Kata ibu kalau ibu hamil terlalu banyak makan pedas, saat persalinan nanti pinggangnya akan terasa panas.” Jawab Ramon menjelaskan.


Sechil menganggukan kepalanya mengerti. Namun sedetik kemudian kedua matanya sedikit melebar. Sechil menatap Ramon dengan tatapan serius juga terkejut.


“Apa ibu tau kalau aku sedang hamil?” Tanya Sechil dengan suara pelan.


Ramon menggeleng pelan. Kedua orang tuanya tidak tau perihal kehamilan Sechil.


“Aku belum memberitahunya.”

__ADS_1


Sechil menghela napas. Entah apa tanggapan keluarga Ramon jika tau dirinya hamil sebelum menikah dengan Ramon. Apa lagi jika sampai mereka semua tau anak yang dikandung Sechil bukan anak Ramon. Mengingat semua itu tiba tiba selera makan Sechil menghilang. Sechil mendorong pelan semangkuk bakso panas yang ada didepanya. Aroma sedap bakso itu bahkan tidak lagi membuat perutnya terasa lapar.


Ramon yang melihat itu mengeryit bingung.


“Kenapa?” Tanyanya dengan sangat lembut.


Sechil tersenyum tipis kemudian menggelengkan kepalanya.


“Aku tiba tiba tidak lapar.” Jawabnya.


Ramon menghela napas pelan. Tidak mungkin Sechil tiba tiba tidak lapar jika tidak sedang memikirkan sesuatu. Apa lagi mereka baru saja membahas tentang keluarga Ramon. Ramon bisa menebak selera makan Sechil hilang karna pembahasan itu.


“Biar aku suapi..”


Ketika Ramon hendak meraih semangkuk bakso tersebut, suara ketukan pintu berhasil mengalihkan perhatian-nya. Ramon kembali menatap pada Sechil yang ber ekspresi sendu.


“Sebentar, aku buka pintu dulu.”


Ramon bangkit dari duduk lesehan-nya diatas karpet kemudian melangkah menuju pintu. Pria itu membuka pintu utama rumah sewanya. Dan begitu pintu Ramon buka pintu itu, sosok yang berdiri didepan pintu tersebut berhasil mengejutkan-nya. Ramon diam menatap Bastian yang tersenyum ramah padanya.


“Anda..”


“Selamat malam. Maaf kalau kedatangan saya mengganggu. Saya kesini mau bertemu dengan nona Sechil dan tuan Ramon.” Ujar Bastian dengan ramah.


Ramon sedikit tergagap. Ramon sendiri juga mempunyai keyakinan bahwa mungkin memang Bastian adalah ayah biologis dari anak yang sedang dikandung Sechil.


“Emm.. Saya Ramon. Mari silahkan masuk.”


“Baik tuan.” Angguk Bastian.


Ramon mempersilahkan untuk Bastian masuk. Begitu Bastian masuk Sechil terkejut. Wanita itu langsung bangkit dari duduknya berdiri menatap Bastian tidak percaya.


“Kamu..”

__ADS_1


“Saya Bastian.” Senyum Bastian berdiri berhadapan tepat dengan Sechil. Bastian melirik sekilas perut Sechil yang sedikit membuncit. Bastian bersumpah jika memang janin yang sedang tumbuh dirahim Sechil adalah anaknya, Bastian akan sangat menyayangi dan mencintainya.


“Duduk tuan..”


“Emmm.. panggil saja saya Bastian tuan.” Sela Bastian menoleh menatap Ramon yang tampak sangat canggung karna Bastian yang terlalu dekat dengan Sechil, istrinya.


Sechil yang mengerti dengan kecanggungan suaminya sedikit melangkah mundur.


“Biar saya buatkan minum..”


“Em nona, tidak perlu. Mari kita duduk bersama disini.” Sela Bastian membuat Sechil dan Ramon saling menatap.


Senyuman dan anggukan kepala Ramon membuat Sechil menghela napas. Sechil ikut menganggukan kepala kemudian melangkah menuju kursi yang berada didekatnya dan Ramon. Sechil duduk disamping Ramon yang lebih dulu mendudukan dirinya didepan Bastian.


Bastian menatap Ramon dan Sechil sesaat kemudian menghela napas. Bastian bingung sebenarnya, Bastian tidak mengenal keduanya baik pada Sechil maupun Ramon.


“Jadi begini tuan, nona..”


“Eemm.. Maaf Bastian, tidak perlu memanggil tuan. Panggil saja saya Ramon. Itu jauh lebih membuat saya nyaman.” Sela Ramon dengan senyuman dibibirnya.


Bastian tertawa pelan kemudian menganggukkan kepalanya.


“Saya baru saja dari rumah tuan Rayan. Dan tuan Rayan sudah menjelaskan semuanya sama saya. Apa yang tuan Rayan katakan memang persis seperti apa yang saya alami malam itu. Saya menyelamatkan seorang yang hampir saja dilecehkan dan sudah terpengaruh oleh obat perangsang. Saya hanya laki laki biasa. Dan saya tidak bisa menahan diri saat itu ditambah orang itu lebih dulu berinisiatif. Mungkin karna pengaruh obat perangsang itu. Saya menganggap itu kecelakaan. Saya sangat sangat meminta maaf.. Terutama pada anda nona. Saya kesini untuk memperjelas semuanya. Saya akan bertanggung jawab. Tapi bukan untuk menikahi nona Sechil karna saya sendiri sudah mempunyai kekasih dan sudah akan bertunangan.”


Sechil memejamkan kedua matanya dengan kepala tertunduk. Semuanya tidak akan terjadi jika Sechil tidak begitu liar dalam bergaul. Sechil tidak tau harus menyesal atau bersyukur sekarang. Karna menyesal juga sudah tidak ada lagi gunanya. Semuanya sudah terlanjur, benih itu juga sudah tumbuh dengan subur dirahimnya. Tapi Sechil juga terkadang merasa semua yang terjadi padanya justru seperti petunjuk untuknya. Sechil menyadari semua kesalahan-nya dan menikah dengan Ramon yang memang masih sangat dicintainya. Disitu kadang juga Sechil merasa bersyukur dengan semua kejadian yang menimpanya.


“Saya akan menanggung semua keperluan nona Sechil. Mohon untuk memberi saya kesempatan Ramon. Karna bagaimana pun juga anak yang sedang nona Sechil kandung adalah anak saya.”


Ramon mengangguk mengerti. Ramon tidak melarang jika memang Bastian berniat baik ingin ikut bertanggung jawab atas janin yang sedang dikandung Sechil.


“Saya tidak melarang niat baik anda Ramon selama itu yang terbaik untuk istri saya dan juga anak dalam kandungan-nya.”


Sedangkan Sechil, wanita itu hanya diam dengan kepala tertunduk. Sechil juga tidak bisa menolak jika memang Bastian ingin bertanggung jawab. Asal Bastian tidak membuatnya terpisah dengan Ramon saja itu sudah cukup.

__ADS_1


__ADS_2