
Sore ini Ramon pulang lebih cepat dari biasanya. Ramon sengaja memang izin pulang cepat pada bosnya agar bisa menemani Sechil yang pasti merasa sangat bosan karna hampir setiap hari sendirian dirumah kontrakan mereka.
Ramon tersenyum menatap amplop yang berada ditangan-nya. Bulan ini Ramon mendapat gajinya lebih cepat dari biasanya. Ramon juga berencana mengajak Sechil untuk makan malam diluar.
“Aku pulang..” Ramon membuka pintu utama rumah kontrakan mereka yang memang tidak dikunci. Seperti biasanya Ramon selalu membawakan sesuatu untuk Sechil setiap pulang dari bekerja.
Sechil yang saat itu baru selesai membersihkan dirinya tersenyum mendengar suara Ramon. Dengan dress rumahan serta handuk yang masih menggelung dikepalanya Sechil keluar dari kamar mereka. Sechil melangkah cepat menghampiri Ramon yang berdiri disamping meja kecil didepan kursi diruang tamu. Sechil bahkan langsung berhambur memeluk Ramon tanpa memperdulikan aroma oli yang menguar dari tubuh kekar Ramon.
“Aku kangen..” Rengek Sechil manja dengan pelukan eratnya.
Sesaat Ramon terdiam namun akhirnya tersenyum dan membalas pelukan erat Sechil dengan melingkarkan kedua lengan kekarnya dipinggang Sechil.
“Aku masih bau..” Ujar Ramon dengan senyuman dibibirnya.
Sechil tertawa mendengarnya. Sechil melepaskan pelukan eratnya menatap wajah tampan Ramon yang memang sedikit ternoda oleh oli. Sechil mengecup singkat pipi Ramon membuat senyuman dibibir Ramon langsung sirna.
“Kenapa?” Tanya Sechil.
“Ah enggak, nggak papa kok. Cuma aku kan masih bau, terus belum mandi juga masa udah dicium sih.” Ujar Ramon dengan senyuman.
Sechil tertawa.
“Kamu tetap yang terbaik kok walaupun cemong.”
Ramon mengerucutkan bibirnya pura pura tersinggung dengan ucapan Sechil. Namun sepertinya Sechil sudah merasa terbiasa sehingga tidak memperdulikan ekspresi Ramon dan memilih meraih tentengan Ramon kemudian duduk dikursi dan membukanya.
Ramon menghela napas.
__ADS_1
“Eemm.. Aku mandi dulu ya, kamu juga siap siap. Kita makan malam diluar.”
Sechil yang hendak mencomot burger yang dibelikan Ramon langsung mengangkat kepalanya. Sechil menatap Ramon dengan sebelah alis terangkat.
“Kita makan malam diluar?” Tanya Sechil merasa sedikit keberatan. Sechil berpikir lebih baik mereka masak sendiri saja untuk menghemat agar bisa menabung karna setiap bulan-nya mereka juga harus membayar sewa rumah.
“Iya..” Angguk Ramon terus mempertahankan senyuman dibibirnya.
Sechil terdiam sesaat. Uang yang Ramon peroleh setiap bulan-nya tidaklah seberapa. Belum lagi untuk biaya kuliah Ramon yang memang harus Ramon tanggung sendiri.
“Aku sudah beli bahan bahan makanan tadi sama tukang sayur untuk kita masak. Apa tidak sebaiknya kita makan malam dirumah saja?”
Ramon menghela napas lagi kemudian mendekat pada Sechil dan duduk tepat disamping istrinya itu.
“Sekali kali kita makan malam diluar nggak papa dong sayang.. Sayurnya buat kita masak besok. Dan kebetulan bulan ini aku gajian-nya cepet. Aku juga dapat bonus dari bos aku. Mau ya?”
“Kamu nggak perlu khawatir sayang.. Aku kuat banget loh kerjanya, aku bahkan bisa merangkap 2 pekerjaan dalam 1 hari. Ya, buat cari tambahan pemasukan kita. Kan tidak lama lagi anak kita lahir..”
Sechil menahan napasnya sejenak kemudian menghembuskan-nya perlahan. Ramon sudah mau banyak berjuang untuknya juga janin dalam kandungan-nya. Dan tiba tiba Sechil berpikir mungkin dengan mengiyakan ajakan Ramon itu bisa membuat Ramon merasa senang.
“Ya udah deh kalau begitu.” Senyum Sechil yang akhirnya menyetujui ajakan Ramon.
Ramon merasa sangat senang karna Sechil mau makan malam diluar berdua dengan-nya. Meskipun mungkin memang mereka berdua tidak akan makan di restoran mewah seperti yang biasa dulu Sechil sambangi dengan teman teman-nya. Tapi Ramon yakin Sechil pasti bisa mengerti keadaan-nya yang memang pas pasan.
“Ya udah kamu makan dulu burgernya, aku mandi dulu..” Ramon mengusap lembut bahu Sechil. Tidak lupa Ramon juga mengecup singkat kening Sechil sebelum berlalu dari ruang tamu untuk membersihkan dirinya.
Sechil tersenyum. Dulu semua yang Sechil inginkan bisa dengan mudah Sechil dapatkan. Tapi semua itu tidak bisa membuat Sechil puas dan bahagia. Sechil selalu merasa kurang. Sedangkan sekarang, entah kenapa hanya karna tentengan burger yang Ramon belikan saat pulang kerja saja Sechil bisa sangat bahagia. Sechil merasakan sesuatu yang Selama ini tidak pernah Sechil rasakan bahkan meski hidup dengan bergelimang harta.
__ADS_1
Sechil kemudian menggigit burger tersebut. Sechil menghabiskan-nya dengan cepat sebelum Ramon selesai membersihkan dirinya. Sechil kemudian langsung bersiap dan menunggu Ramon yang entah kenapa kali ini sedikit memakan waktu dalam kamar mandi.
“Kok tumben dia mandi lama banget.” Gumam Sechil bertanya tanya.
Tidak lama Ramon keluar dari kamar mandi. Pria itu hanya mengenakan handuk coklat gelap yang melilit di pinggangnya.
Sechil yang melihat itu terdiam karna terpana melihat bentuk tubuh Ramon yang menurutnya sangat bagus. Sechil memang jarang melihat Ramon bertelanjang dada seperti sekarang. Dan apa yang kali ini dilihatnya benar benar membuat Sechil tidak bisa berkata kata. Sechil terpesona melihat Ramon, suaminya sendiri.
Ramon yang merasa aneh dengan tatapan Sechil langsung sadar. Pria itu meringis dan buru buru menutupi bagian dadanya. Ramon meraih baju yang tergantung di belakang pintu kemudian masuk kembali kedalam kamar mandi karna merasa malu dengan tatapan Sechil padanya tadi.
“Ya tuhan.. Malu banget aku..” Gumam Ramon kemudian segera mengenakan bajunya.
Sechil yang juga tersadar langsung tertawa. Ramon memang sangat polos. Meskipun memang Ramon adalah pria dengan pemikiran dewasa tapi Sechil tidak bisa memungkiri bahwa pengalaman Ramon sedikit kurang dalam masalah cinta.
Setelah siap, Ramon segera mengajak Sechil yang menunggunya untuk segera pergi. Mereka mengendarai sepeda motor metik Ramon yang memang sebelum pulang sudah Ramon cuci lebih dulu supaya bersih.
“Kita mau makan dimana?” Tanya Sechil membuat Ramon langsung memutar otak memikirkan tempat yang pantas juga pas dengan isi kantongnya saat ini.
“Nanti juga kamu tau sayang. Tapi maaf banget ya sebelumnya, kita nggak bisa makan direstoran mewah. Mungkin hanya di warung warung pinggir jalan. Nggak papa kan?” Terang Ramon.
Sechil tertawa mendengarnya. Lingkaran kedua tangan-nya di perut Ramon semakin Sechil eratkan. Sechil juga menyenderkan kepalanya dibahu tegap Ramon.
“Makan dimana sekarang bukan masalah buat aku Ramon. Toh sama sama kenyang juga kan?”
Ramon tersenyum mendengarnya. Ramon benar benar tidak menyangka Sechil bisa berubah begitu derastis. Sikap sombongnya bahkan bisa hilang dalam waktu yang cukup singkat sejak mereka berdua menikah.
“Makasih ya, kamu selalu bisa ngertiin aku..” Ujar Ramon bahagia.
__ADS_1
“Aku yang terimakasih sama kamu. Kamu benar benar membuat aku merasa sangat luar biasa sekarang Ramon.” Balas Sechil membuat senyuman dibibir Ramon semakin lebar.