Aku Bukan Pengganti

Aku Bukan Pengganti
Episode 105


__ADS_3

Caterine benar benar menunjukkan perubahan baiknya selama dirumah sakit. Caterine bersikap baik pada Ramon juga Alana. Namun perubahan-nya tidak bisa langsung membuat Alana dan Rayan percaya begitu saja.


“Hari ini aku mau jemput mommy dirumah sakit. Apa kamu mau ikut?” Tanya Rayan saat mereka sarapan bersama.


Alana berhenti mengunyah makanan dalam mulutnya. Hampir seminggu Caterine berada dirumah sakit. Selama itu pula Caterine tidak sekalipun menunjukkan kepura puraan-nya walaupun dibelakang Rayan.


“Eemm.. Aku dirumah saja. Kepalaku sedikit pusing.”


Jawaban Alana membuat Rayan menatap Alana sendu. Alana memang terlihat tidak bersemangat akhir akhir ini.


“Kita kerumah sakit dulu untuk memeriksakan keadaan kamu baru setelah itu aku jemput mommy.”


Alana tersenyum kemudian menggelengkan kepalanya. Maksud pusingnya bukan pusing sakit, tapi pusing bingung. Dan kali ini sepertinya Rayan tidak bisa mengartikan maksudnya.


“Nggak usah.. Aku nggak papa. Aku dirumah aja. Kamu hati hati ya dijalan...”


Rayan menghela napas. Caterine benar benar tidak bisa ditebak sekarang. Wanita itu terlihat sangat baik dan tulus baik didepan maupun dibelakangnya. Tapi Rayan juga tidak bisa menjamin berubahan Caterine itu bukan sandiwara. Karna itu Rayan bukan merasa tenang dengan perubahan baik Caterine, Rayan justru semakin merasa was was. Apa lagi sekarang kondisi Alana sering melemah.


“Setelah mommy pulang, kita akan segera pindah.”


Alana diam namun tetap menganggukkan kepalanya. Alana akan mengikuti kemanapun Rayan membawanya pergi asal itu demi kebaikan mereka bersama.


Setelah selesai sarapan Alana mengantar Rayan sampai depan rumah. Pagi ini Rayan akan kembali bergelut dengan setumpuk berkas yang beberapa hari ini dia abaikan karna Caterine. Satu kecupan lembut dikening Alana menjadi satu penjaga baik penjaga hati maupun jiwa Alana yang mudah sekali terguncang beberapa waktu terakhir ini. Rayan juga tidak lupa meng amanahkan keselamatan Alana pada seluruh penghuni dirumahnya.


“Aku berangkat..” Bisik Rayan merasa tidak rela.


“Ya.. Hati hati..” Senyum Alana membalas.


Meski merasa sangat berat, Rayan tetap masuk kedalam mobil. Rayan langsung menyuruh pak Lim untuk segera berlalu dari kediaman-nya sebelum dirinya berubah pikiran. Rayan menyadari tanggung jawabnya sangat besar pada kemajuan perusahaan-nya. Bukan bermaksud mementingkan harta, hanya saja Rayan tau bahwa harta itu juga yang akan membuatnya dan Alana bisa memberikan tempat nyaman untuk anak anaknya kelak.


Saat dalam perjalanan menuju kantornya Rayan mendapatkan telpon dari Luky. Rayan menghela napas merasa sedikit frustasi. Hampir saja Rayan melupakan rencananya pada Dion.


“Pak Lim, tolong lebih cepat lagi.”

__ADS_1


“Baik tuan.”


--------


Sementara itu dirumah sakit Ramon sedang mengupas buah apel untuk Caterine. Pria itu baru saja tiba karna baru selesai kuliah dan bekerja.


“Kamu kuliah lagi?”


Pertanyaan Caterine membuat Ramon menoleh. Ramon kemudian tersenyum.


“Ya mom..” Jawabnya. Ramon merasa senang karna akhirnya Caterine bisa bersikap baik padanya.


“Bagaimana dengan pekerjaan? Kamu tidak berharap sesuatu pada Rayan bukan? Kamu bisa kan menafkahi Sechil?”


Senyuman dibibir Ramon langsung sirna. Pertanyaan Caterine kali ini seperti sebuah sindiran bahwa dirinya tidak mampu memberikan nafkah pada Sechil.


“Eemm.. Saya sudah mendapat pekerjaan mom. Gajinya juga lumayan. Ya... Semoga saja cukup untuk Sechil.” Ramon tersenyum tipis menatap pada Caterine yang duduk diatas brankar-nya.


“Oh ya? Kerja apa? Dan berapa gajinya?” Tanya Caterine lagi membuat Ramon menghela napas.


“Sechil itu dari kecil tidak pernah hidup susah Ramon. Sechil selalu mendapat apa yang dia mau. Uang jajan-nya bahkan bisa 3 kali lipat dari biaya masuk kuliahnya.” Katanya.


Ramon menelan ludahnya. Gajinya bahkan tidak ada separuhnya dari biaya masuk kuliah Sechil.


“Saya harap kamu benar benar bisa membahagiakan Sechil. Jangan sampai dia kekurangan.” Lanjut Caterine.


Ramon memotong kecil keci apel yang sudah dikupasnya. Mendadak Ramon merasa berkecil hati. Ucapan Caterine sedikit menyinggungnya kali ini.


“Saya akan mengusahakan yang terbaik untuk Sechil dan anak kami mom..”


“Baguslah kalau begitu.”


Tepat setelah Caterine berucap, Sechil keluar dari kamar mandi. Sechil baru saja membersihkan dirinya karna memang selama Caterine dirawat dirumah sakit Sechil menemaninya dengan menginap bersama Ramon yang selalu setia dan sigap disampingnya.

__ADS_1


“Kamu terlihat semakin berisi nak.” Senyum Caterine menatap Sechil yang sedang mengeringkan rambut pirangnya dengan handuk.


Sechil tertawa pelan. Dulu dirinya sangat takut sekali gemuk. Tapi sekarang tubuhnya sangat berisi.


“Ya mom.. Mungkin karna nafsu makanku yang semakin hari semakin bertambah juga aku bahagia.” Jawab Sechil melirik Ramon yang masih memotong buah apel untuk Caterine.


“Ya.. Mommy ikut merasa bahagia sayang.” Angguk Caterine tersenyum manis menatap Sechil.


Sechil menatap Ramon yang bangkit dari duduknya disofa. Pria itu selalu telaten menyuguhkan cemilan dan buah untuk Caterine. Benar benar pria yang sangat langka menurut Sechil. Bahkan Rayan kakaknya sendiri saja tidak setelaten itu. Mereka berdua memang sama sama baik. Tapi menurut Sechil keduanya memiliki kekurangan dan kelebihan masing masing.


“Terimakasih, kamu menantu yang baik.”


Sechil tertawa mendengar pujian yang dilontarkan Caterine pada Ramon. Caterine hampir setiap hari selama seminggu ini memuji Ramon. Itu membuat Sechil sangat yakin bahwa Caterine memang sudah benar benar berubah.


Suara pintu yang terbuka membuat Sechil, Caterine, juga Ramon menoleh. Ketiganya tersenyum begitu mendapati Rayan berdiri disana.


“Kakak..” Senyum Sechil.


Rayan melangkah mendekat ke brankar Caterine. Pria itu tersenyum tipis menatap Caterine yang sudah tidak lagi terlihat pucat.


“Kita pulang sekarang mom..” Katanya.


Caterine menganggukan kepala dengan senyuman dibibirnya.


“Biarkan mommy menghabiskan potongan apel ini dulu nak. Menantu tampan mommy yang memotongkan tadi.” Ujar Caterine membuat Ramon tersenyum merasa geli.


Rayan menganggukan kepala kemudian melirik Ramon yang berdiri disebelah kiri brankar Caterine. Sikap Caterine memang terlihat sangat natural. Wanita itu tidak menunjukkan kesan dibuat buat setiap mengatakan sesuatu sekarang.


“Kak, tunggu 1 jam setidaknya sampai rambutku sedikit kering oke?” Pinta Sechil yang mulai menyisir rambut pirangnya.


“Oke..” Angguk Rayan setuju kemudian melangkah menuju sofa dan mendudukan dirinya disana.


Rayan mulai mengaktifkan hp-nya. Pria itu membuka CCTV untuk melihat istrinya sedang apa dirumah sekarang. Pria itu tersenyum saat mendapati Alana yang sedang mengukur perutnya didepan cermin. Yang membuat Rayan juga merasa geli adalah Alana mengukur diameter dadanya juga. Itu hal yang sangat lucu menurut Rayan.

__ADS_1


Rayan menghela napas. Hari ini Rayan sangat sibuk sehingga tidak ada waktu untuk segera menelpon atau mengirim pesan pada Alana. Rayan hanya sesekali mengawasi Alana lewat CCTV itupun saat waktu makan siang.


__ADS_2