
Pernikahan Bastian dan Cleo diadakan setelah seminggu kelahiran putra Sechil. Namun Sechil dan Alana tidak bisa hadir dalam acara itu. Hanya Rayan dan Ramon yang hadir. Mereka datang berdua tanpa membawa pasangan.
Pesta pernikahan Bastian dan Cleo berlangsung sangat meriah dengan dihadiri oleh tamu udangan dari Gery dan Aliya juga kedua orang tua Cleo.
Bastian merasa sangat lega sekarang. Cleo sudah menjadi miliknya seutuhnya. Putranya lahir dengan selamat. Dan kesalah pahaman Cleo pada Sechil sudah dapat diluruskan. Mungkin keduanya tidak akan bisa akrab. Tapi setidaknya Cleo sudah tidak lagi berprasangka buruk pada Sechil.
Sebulan kemudian.
Tepat dihari minggu ini Rayan dan Alana berencana untuk mengajak Sechil dan Ramon mengunjungi Caterine. Meski sebenarnya Rayan sedikit merasa ragu untuk mengajak Alana dan Ramon tapi Alana terus meyakinkan. Apa lagi Caterine juga sering menelpon mereka bahkan bervideo call dan terus mengungkap rasa rindunya pada Rayan dan mungkin juga pada Sechil.
“Sebentar lagi kita akan bertemu oma sayang.. Kamu senang nggak?”
Rayan tersenyum geli menatap Alana yang sedang memakaikan baju pada putrinya. Lebih dari sebulan tidak bertemu dengan Caterine membuat Rayan tidak bisa menampik rasa rindunya. Karna seburuk apapun Caterine dulu Rayan tetap menyayanginya.
“Oma juga sepertinya sudah sangat tidak sabar ingin ketemu kamu nak.. Nanti yang anteng ya disana..”
Rayan mendekat pada Alana. Pria itu duduk disamping tubuh gempal Zoya yang memang begitu aktif meski usianya belum 2 bulan. Bayi cantik itu bahkan sudah bisa tertawa dan menanggapi setiap ucapan Alana maupun Rayan. Pertumbuhan-nya sangat cepat membuat Alana dan Rayan selalu merasa terhibur setiap hari dengan tingkah lucu putri kecilnya itu.
“Sayang..” Panggil Rayan pelan.
“Hem...” Saut Alana yang sibuk memakaikan aksesoris pada Zoya.
“Bagaimana kalau ternyata mommy masih belum bisa menerima kamu dan Ramon?”
Alana tersenyum mendengarnya. Sejak semalam Rayan memang terus meragu dan tidak yakin dengan ajakan-nya sendiri.
__ADS_1
“Menurut dokter Safana, mommy berubah menjadi pribadi yang sangat baik. Dia perduli dengan sesama bahkan sering memberikan hadiah untuk keluarga dari pekerja dirumah itu. Robin juga mengatakan hal yang sama seperti dokter Safana. Aku tidak ragu. Tapi lebih kepenasaran. Jadi tidak ada salahnya kalau kita coba untuk datang. Bukankah kamu juga sangat merindukan mommy?”
Rayan menghela napas. Alana selalu berpikir positif namun cermat meski dulu Caterine sudah sangat keterlaluan padanya. Alana tidak dendam ataupun membenci Caterine yang sudah sangat jahat padanya.
“Lebih baik sekarang kamu telepon Ramon dan Sechil.” Saran Alana menatap Ramon setelah selesai mendandani putri kecilnya.
“Oke...” Angguk Rayan kemudian bangkit dari duduknya dan menjauh dari Alana untuk menghubungi Ramon.
Alana menghela napas. Alana tau keraguan Rayan adalah bentuk kekhawatiran Rayan padanya juga Zoya, putri kecil mereka. Tapi Alana juga yakin bahwa Caterine memang sudah benar benar berubah sekarang.
----------
Tidak jauh berbeda dengan Rayan dan Alana, Sechil dan Ramon juga tampak sibuk menyiapkan segala keperluan yang akan dibutuhkan oleh putra mereka. Sechil yang sedang mendandani Kenzie.
Deringan hp milik Sechil membuat Ramon yang sedang sibuk memasukan semua keperluan Kenzie kedalam tas bermotif singa lucu itu menoleh kearah nakas. Ramon menatap Sechil yang masih sibuk mendandani putranya dan memutuskan untuk mengambil hp milik istrinya itu.
“Siapa?” Tanya Sechil tanpa menatap pada Ramon yang berdiri disampingnya.
“Kak Rayan..” Jawab Ramon.
”Sebentar, aku angkat dulu.” Kata Ramon kemudian.
Sechil menganggukan kepalanya. Wanita itu kemudian menggendong Kenzie yang sudah rapi dengan setelan jins keren-nya. Bayi tampan dengan rambut coklat terang serta paras bule yang menurun dari Bastian juga Sechil. Kulit putih kemerahan dengan hidung mancung yang membuat siapa saja tidak akan bosan memandangnya.
“Halo kak...”
__ADS_1
“Ah ya.. Kami sudah siap. Sudah mau jalan ini kak.”
Sechil menatap Ramon yang sedang berbicara lewat sambungan telepon dengan Rayan. Dihari libur ini mereka memang berencana untuk mengunjungi Caterine sekaligus mempertemukan langsung Caterine dengan Zoya dan Kenzie, kedua cucunya. Sechil tidak yakin 100% sebenarnya tapi menurutnya tidak ada salahnya untuk dicoba.
“Sudah siap kan?” Tanya Ramon mendekat pada Sechil.
“Ya..” Angguk Sechil tersenyum menatap suaminya yang semakin hari semakin terlihat tampan menurutnya.
“Oke, kita jalan sekarang. Kak Rayan bilang kita ketemu didepan kompleks perumahan rumah mommy..” Ujar Ramon.
Sechil menganggukan kepalanya kemudian melangkah keluar dari kamar mereka dengan Kenzie yang berada digendongan-nya. Sedangkan Ramon, pria itu membawa tas dimana didalamnya berisi semua keperluan Kenzie seperti baju ganti dan pempers yang pasti akan sangat diperlukan nantinya.
Dengan mengendarai mobil yang memang Ramon beli sendiri dengan hasil tabungan-nya mereka menuju tempat tujuan yaitu kediaman tempat Caterine dirawat langsung oleh dokter Safana.
Sepanjang perjalanan Sechil terus tersenyum. Meski hampir setiap hari melakukan Video call dengan Caterine, namun bertemu secara langsung dan dapat memeluk wanita yang sudah melahirkan-nya itu adalah impian Sechil beberapa bulan belakangan. Apa lagi setelah melihat sendiri perubahan Caterine yang memang selalu dikirimkan oleh dokter Safana padanya juga Rayan.
Ketika mobil Sechil dan Ramon sampai di gerbang kompleks perumahan tempat Caterine dan dokter Safana tinggal, Mobil mewah Rayan juga sudah ada disana. Rayan memang mengatakan akan menunggu Sechil dan Ramon agar mereka sama sama masuk kedalam kompleks.
Saat mobil Rayan dan Ramon berhenti didepan gerbang rumah tempat Caterine tinggal, Robin yang memang selalu berjaga disana dengan sigap membukakan pintu gerbang.
Tidak ada sambutan apapun begitu Rayan, Alana, Sechil juga Ramon keluar turun dari mobil. Ya, mereka memang tidak memberitahu Caterine maupun dokter Safana akan datang. Mereka berniat memberi kejutan pada Caterine yang hampir setiap hari meneteskan air mata saat ber-video call dengan mereka.
“Kita masuk sekarang..” Ajak Rayan yang menenteng tas bayi milik putrinya.
Alana menganggukan kepalanya begitu juga dengan Ramon dan Sechil. Mereka semua masuk beriringan kedalam rumah yang memang sepi karna hanya ada Caterine, dokter Safana, perawat juga asisten rumah tangga yang setiap hari membersihkan rumah juga memasak untuk Caterine.
__ADS_1