
Dion terus bersikap sok manis didepan Cindy. Pria itu terus mengajak Cindy mengobrol saat makan siang berlangsung. Dion bahkan juga bersikap sok manis pada Michelle yang hanya diam dan menuruti kemauanya. Michelle bukan takut pada Dion. Michelle hanya tidak mau kedua orang tuanya terkena dampak karna hubungan tidak sehatnya dengan Dion.
Selesai makan siang, Cindy langsung pamit untuk kembali keperusahaan. Ya, wanita itu memang adalah seorang pengusaha, sama seperti suaminya.
Setelah mobil Cindy berlalu Michelle segera masuk kedalam rumahnya tanpa perduli pada Dion yang terus menatap mobil Cindy sampai akhirnya keluar dari pekarangan rumahnya dan Michelle.
“Bagaimana aktingku sayang?” Dion menoleh kesampingnya mengira Michelle masih ada disana.
Ketika menyadari tidak ada siapa siapa disampingnya Dion tertawa. Pria berkemeja biru tua itu tiba tiba merasa lucu sendiri.
“Kenapa aku baru menyadari bahwa orang tua Michelle begitu baik padaku?” Dion bergumam sendiri. Dulu dirinya sering merasa tidak enak jika ketahuan sedang bersama Michelle oleh Cindy dan suaminya meski mereka selalu bersikap baik padanya.
Dion menghela napas kemudian melangkah menyusul Michelle yang pasti berada dikamar mereka dilantai 2.
Dion melangkah menaiki satu persatu anak tangga menuju lantai 2. Jika dipikir lagi semuanya bisa dengan mudah Dion dapatkan. Rumah, mobil, bahkan sampai suntikan dana untuk menstabilkan keuangan diperusahaan-nya. Dan semua itu tentu saja dari kedua orang tua Michelle. Dion merasa beruntung untuk itu tapi tidak dengan pernikahan-nya dan Michelle. Yang Dion inginkan sekarang adalah Alana, bukan Michelle.
Ketika sampai diambang pintu kamarnya yang terbuka Dion mendapati Michelle yang sedang berdiri didepan jendela kaca dikamar mereka. Dion menatap punggung Michelle. Dion tidak berbohong dengan pujian-nya tadi. Michelle memang terlihat cantik dengan dress orange pemberian mamanya itu.
“Aku tidak bohong tadi Michelle, kamu cantik dengan dress itu.”
Mendengar suara Dion Michelle menggerakkan kedua bola matanya kesamping kanan. Bohong atau jujur Michelle tidak perduli. Pujian Dion bukan lagi sesuatu yang menyenangkan hatinya.
“Berhenti memanfaatkan kedua orang tuaku Dion.” Ujar Michelle dingin.
Dion mengeryit kemudian tertawa membuat Michelle mengepalkan kedua tangan-nya semakin merasa muak.
Dion melangkah pelan menghampiri Michelle. Pria itu dengan santai berdiri disamping Michelle, menatap lurus kedepan dengan kedua tangan dia masukkan kedalam saku celana hitamnya.
“Aku tidak memanfaatkan mereka Michelle. Mereka yang terlalu baik padaku. Dan sebagai menantu yang mereka anggap baik aku tentu tidak boleh menyia nyiakan-nya bukan?”
Rahang Michelle semakin mengeras mendengar itu. Dion benar benar pria yang tidak punya malu.
“Kamu tau Michelle aku bahkan tadi berpikir kenapa tidak dari dulu saja aku melakukan-nya?”
Michelle menoleh dengan cepat. Tatapan tajam penuh kebencian-nya dia layangkan pada Dion yang begitu santai tersenyum menatapnya.
__ADS_1
“Apa maksud kamu Dion?” Tanyanya penuh penekanan.
“Memanfaatkan kebaikan kedua orang tuamu. Itu bukan hal yang buruk.”
Merasa tidak bisa lagi menahan emosinya Michelle pun mengangkat tanganya bermaksud menampar wajah Dion namun dengan sigap Dion bisa menangkap tangan Michelle.
“Kamu..”
“Jangan macam macam denganku Michelle, atau kamu mau aku berbuat sesuatu pada kedua orang tua kamu.” Tekan Dion kemudian menghempaskan tangan Michelle.
Michelle menelan ludahnya. Dion benar benar sudah melewati batas memanfaatkan kebaikan kedua orang tuanya.
“Kamu pasti tau Michelle mereka berdua sangat menyayangi kamu. Aku tidak bisa membayangkan apa yang akan mereka rasakan jika sampai sesuatu yang buruk terjadi pada kamu..”
Michelle menyipitkan kedua matanya menatap Dion yang sedang mengancamnya dengan sangat santai.
“Kamu mengancamku?”
“Terserah kamu anggap ini ancaman atau apa. Tapi yang jelas kalau kamu nurut dan tidak ngelunjak, semuanya akan baik baik saja. Kamu tidak perlu khawatir. Secepatnya aku akan melepaskan kamu. Tapi sebelum itu biarkan aku menikmati kebaikan kedua orang tua kamu dulu.” Senyum Dion kemudian berlalu dari samping Michelle dan masuk kedalam kamar mandi.
“Apa yang harus aku lakukan sekarang?” Lirihnya bingung bercampur takut. Muchelle tidak mau kedua orang tuanya sedih. Tapi Michelle juga tidak ingin Dion terus memanfaatkan kedua orang tuanya.
-------
“Bagaimana pembangunanya?” Hari ini Rayan kembali menanyakan proses pembangunan lift dirumahnya. Setengah bulan berada dipulau hanya bersama Alana membuat Rayan merasa sedikit merindukan suasana rumahnya. Rayan memang senang bisa menghabiskan waktu berdua setiap hari selama setengah bulan itu hanya bersama Alana, tanpa gangguan dari siapapun termasuk mommy dan adiknya. Tapi Rayan juga tidak mungkin membiarkan Alana terus melakukan ini itu sendiri. Rayan tidak mau istrinya terlalu memforsir tenaganya untuk mengerjakan semua yang seharusnya memang tidak Alana kerjakan sendiri.
“Pembangunan-nya sudah selesai tuan. Hanya perlu pembersihan saja.” Jawab Luky.
Rayan menghela napas lega. Rayan sudah ingin sekali kembali kerumahnya. Meski mungkin nanti akan banyak masalah yang muncul karna mommy dan adiknya tapi Rayan yakin semuanya akan baik baik saja. Alana istrinya bukan wanita yang lemah dan gampang ditindas. Alana pasti bisa mengatasi Caterine dan Sechil.
“Pastikan besok semuanya harus sudah bersih dan liftnya sudah bisa digunakan. Besok siang saya dan Alana pulang.”
“Baik tuan.”
Setelah mendapat jawaban patuh dari Luky, Rayan pun memutuskan sambungan telpon-nya. Rayan memejamkan kedua matanya menikmati angin yang menerpa tubuhnya. Begitu tenang dan sejuk. Bayangan kebersamaanya dengan Alana selama setengah bulan ini membuat seulas senyum perlahan terukir dibibir tipis Rayan.
__ADS_1
Rayan tidak menyangka dirinya bisa begitu sangat mencintai Alana.
“Makan siang sudah siap..”
Rayan membuka kedua matanya. Pria tampan itu menunduk menatap kedua tangan kecil Alana yang melingkari perut sixpack-nya, Alana memeluknya dari belakang.
“Kalau boleh aku tau apa menu makan siang hari ini?”
Alana yang menyenderkan kepala dipunggung lebar Rayan mengeryit. Tidak biasanya Rayan menanyakan menu makanan yang Alana siapkan untuknya.
Alana kemudian melepaskan pelukan-nya dan berdiri tepat disamping Rayan dibibir pantai.
“Kamu ingin aku memasakkan sesuatu yang spesial?” Tanya Alana menatap wajah tampan Rayan dari samping.
Rayan menggelengkan kepalanya. Pria itu memposisikan dirinya menghadap pada Alana yang terus menatapnya dengan tatapan bingung. Rayan meraih kedua tangan Alana dan menggenggamnya lembut.
“Alana..” Panggilnya pelan juga lembut.
“Ya..” Saut Alana semakin merasa penasaran.
“Aku mencintai kamu. Apa kamu percaya itu?”
Meski bingung namun Alana tetap menganggukan kepalanya membuat Rayan tersenyum.
“Bisa kamu berjanji padaku?”
“Apa?”
Tatapan Rayan begitu dalam dan lembut tepat pada kedua bola mata indah Alana. Pria itu merasa sangat yakin dengan hubungan manisnya bersama Alana sekarang.
“Berjanjilah untuk menjadi wanita yang kuat bertahan disampingku dalam keadaan dan kondisi apapun.” Lirih Rayan yang bahkan suaranya hampir tidak terdengar karna terbawa angin.
Alana tidak langsung menyaut. Berdua saja bersama Rayan selama honeymoon dipulau kecil itu membuat Alana memahami tentang bagaimana seorang Rayan yang sebenarnya. Meski memang dari luar terlihat dingin, arogan, juga sedikit menyeramkan tapi ternyata Rayan adalah pria manis juga romantis yang rela melakukan apa saja demi membahagiakan orang terkasihnya.
“Ya.. Aku janji. Kita akan bersama selamanya Rayan.”
__ADS_1