Aku Bukan Pengganti

Aku Bukan Pengganti
Episode 199


__ADS_3

Ketika berada diruang pemeriksaan, dokter kandungan yang menangani Sechil dibuat bingung ketika akan membahas tentang keadaan Sechil dan bayinya. Bagaimana tidak, didepan-nya ada dua pria tampan yang duduk disamping kanan dan kiri Sechil. Keduanya terlihat sama sama sedang menunggu apa yang ingin dikatakan dokter kandungan tersebut.


“Ekhem, melihat dari tensi, berat badan juga pergerakan janin semuanya bagus. Dan karna memang usia kandungan nyonya Sechil yang sudah memasuki bulan-nya jadi saya sarankan untuk nyonya Sechil jangan terlalu banyak beraktivitas yang menguras tenaga. Tapi jalan jalan dipagi hari juga saya sarankan, asal melangkahnya pelan pelan.” Ujar dokter.


Sechil menganggukkan kepalanya mengerti. Sechil memang sering berjalan kaki baik saat pagi maupun sore bahkan siang jika dirinya pergi kewarung. Sechil sengaja berjalan kaki karna memang Ramon hampir setiap hari tidak bisa selalu dirumah untuk menemaninya.


“Baik kalau begitu dokter. Kami permisi.” Senyum Ramon.


“Silahkan nyonya, tuan..” Balas dokter tersebut ramah.


Sechil dan Ramon keluar dari ruangan dokter tersebut tapi tidak dengan Bastian yang tetap duduk anteng ditempatnya. Dan apa yang Bastian lakukan dengan tetap anteng dikursinya duduk itu membuat dokter didepan-nya sedikit kebingungan.


“Maaf, apa ada yang bisa saya bantu tuan?” Tanya dokter itu pelan pada Bastian.


Bastian menghela napas. Entah kenapa tiba tiba Bastian merasa was was mengingat kehamilan Sechil yang sudah hampir memasuki bulan lahir anaknya.


“Dokter. saya mau minta tolong jika saatnya nanti nona Sechil melahirkan tolong usahakan segala yang terbaik dokter. Pastikan nona Sechil dan anaknya selamat dan baik baik saja.” Ujar Bastian menatap dokter cantik didepan-nya dengan tatapan penuh harap.


Dokter itu tersenyum.


“Tuan, kami selalu mengusahakan yang terbaik untuk semua pasien disini. Kami akan berusaha semaksimal kami membantu nyonya Sechil bersalin nanti. Tapi tentang hasilnya kami menyerahkan semuanya pada tuhan tuan.” Balas dokter itu bijak.


Bastian menghela napas. Apa yang dokter didepan-nya katakan memang benar. Manusia hanya bisa berusaha sedang untuk hasilnya tuhan yang menentukan.


“Kalau boleh saya tau, sebenarnya ada hubungan apa antara anda dan nyonya Sechil tuan?”


Pertanyaan dokter itu membuat Bastian bungkam. Bastian tidak mungkin menjawab bahwa dirinya adalah ayah dari anak yang sedang dikandung oleh Sechil. Dokter itu pasti akan salah mengartikan maksudnya.


“Eemm.. Saya kakak sepupunya dokter..” Kebohongan itu dengan sukses keluar dari mulut Bastian. Kebohongan yang pasti akan membuat Bastian menumpuk kebohongan lain-nya suatu saat nanti jika dokter didepan-nya kembali bertanya.


“Saya hanya ingin yang terbaik untuk adik saya.” Lanjut Bastian sedikit gelagapan. Bastian tidak biasa berbohong sehingga merasa bersalah karna sudah mengatakan yang tidak semestinya pada dokter didepan-nya.

__ADS_1


“Kakak sepupu?” Tanya dokter itu. Keraguan terlihat jelas dari kedua matanya saat menatap Bastian. Siapapun pasti akan sulit percaya jika mendengar Bastian memanggil Sechil dengan embel embel nona.


“Ya dok. Kalau begitu saya permisi.”


“Oh ya, silahkan tuan..”


Bastian segera berlalu keluar dari ruangan dokter itu sebelum kembali ditanyai tentang pengakuan palsunya sebagai kakak sepupu Sechil.


Bastian berjalan cepat kearah parkiran dimana Sechil dan Ramon sedang menunggunya. Bastian benar benar merasa sangat bodoh sekarang. Padahal tidak perlu mengatakan apapun juga pasti dokter itu akan melakukan yang terbaik untuk Sechil, pasien-nya. Asal Bastian mempunyai biaya semuanya pasti akan baik baik saja.


“Eemm.. Bastian, saya buru buru ada kelas pagi hari ini. Saya dan Sechil duluan ya.. Terimakasih karna sudah mau menemani Sechil cek kandungan kedokter hari ini..” Ujar Ramon begitu Bastian sampai didepan-nya.


“Ah ya.. Sama sama Ramon.” Angguk Bastian tersenyum.


“Kalau begitu saya dan Sechil pulang duluan ya..”


“Ya, hati hati.”


Bastian menghela napas pelan setelah Ramon dan Sechil berlalu. Pria itu kemudian masuk kedalam mobilnya. Namun saat Bastian hendak menghidupkan mobilnya tiba tiba hp dalam saku celana jins belelnya berdering. Bastian segera merogoh saku celananya dan tersenyum begitu mendapati nama sang mamah tertera dikayar hp nya.


“Ya halo mah..” Bastian tersenyum sumringah saat mengangkat telepon tersebut.


“Kamu dimana Bastian?”


“Emm.. Aku masih didepan rumah sakit mah. Kenapa?”


“Cepat pulang, ada yang mau mamah bicarakan. Ini tentang kamu dan nona Sechil.”


Bastian mengeryit. Mamahnya memang tidak pernah bertemu secara langsung dengan Sechil. Tapi mamahnya juga tidak pernah telat mengingatkan Bastian untuk selalu memperhatikan Sechil karna Sechil sedang mengandung anak Bastian.


“Oke, Bastian jalan sekarang mah..”

__ADS_1


------


“Sayang..” Panggil Ramon ketika Sechil sudah turun dari boncengan-nya dan berdiri tepat disamping motornya. Mereka berdua memang sudah sampai didepan rumah kontrakan-nya.


“Ya...” Senyum Sechil menatap Ramon.


Ramon menghela napas. Ramon sebenarnya mendengar apa yang Bastian katakan tadi pada Sechil. Ramon juga mendengar apa yang lebih dulu Sechil katakan sebelum Bastian membalasnya dengan tegas.


“Aku mendengar apa yang kamu katakan pada Bastian tadi pagi.”


Senyuman dibibir Sechil langsung memudar begitu mendengar apa yang Ramon katakan. Padahal Sechil pikir Ramon tidak mendengar apapun tentang perdebatan-nya dengan Bastian sebelum mereka berangkat kerumah sakit.


“Bastian itu orang yang baik. Dia hanya sedang berusaha bertanggung jawab sayang.. Aku pikir sebaiknya kamu tidak perlu mengatakan apapun. Dan tentang Cleo, Jangan kamu perdulikan. Yang terpenting kamu tidak mengusiknya. Cleo itu urusan Bastian.”


Sechil melengos. Sekarang Sechil berpikir semua pria sama. Mereka tidak peka dengan perasaan pasangan mereka yang tidak nyaman dengan apa yang dilakukan-nya.


“Kamu sama saja seperti Bastian.” Ujar Sechil melengos malas.


Saat Sechil hendak berlalu, Ramon mencegahnya dengan mencekal pergelangan tangan-nya lembut.


“Bukan begitu sayang.. Kita tau seperti apa Bastian. Dengarkan aku dulu..”


Ramon kemudian turun dari motor metiknya dan berdiri tepat didepan Sechil yang membuang pandangan-nya enggan menatap Ramon.


“Hey... Jangan begitu didepan suami..” Ramon meraih kedua pipi chuby Sechil dengan kedua tangan-nya. Pria itu menangkupnya lembut dan mengarahkan agar Sechil menatapnya.


“Sayang dengar.. Bastian itu bukan orang bodoh. Dia pasti sudah memikirkan semuanya sebelum bertindak. Tentang Cleo mungkin dia hanya salah paham. Bukan kami tidak memikirkan tentang perasaan Cleo. Tapi untuk saat ini memang kesehatan kamu dan anak kita sedang sangat diutamakan. Kalian harus selalu sehat dan baik baik saja. Aku yakin itu juga yang dipikirkan Bastian sekarang. Apa lagi kan, maaf.. Bastian adalah ayah biologis anak kita..”


Sechil menelan ludahnya. Entah terbuat dari apa hati suaminya itu sehingga selalu bisa menyikapi segala sesuatu dengan tenang dan bijak.


“Kamu tidak perlu memikirkan apapun. Kamu harus fokus pada kesehatan kamu sendiri sayang. Kamu ngerti kan maksud aku?” Lanjut Ramon dengan suara lirih juga lembut.

__ADS_1


Sechil perlahan tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Sechil juga tidak mau jika sampai Bastian benar benar melakukan apa yang dia katakan. Yaitu menuntut hak asuh anaknya.


__ADS_2