Aku Bukan Pengganti

Aku Bukan Pengganti
Episode 96


__ADS_3

Setelah tau dan merasa benar benar yakin bahwa Sechil sudah sepenuhnya berubah, Rayan memajukan tanggal pernikahan Sechil dan Ramon. Meski Caterine terus protes tidak terima bahkan sampai memohon sambil menangis namun Rayan tetap pada keyakinan-nya untuk menikahkan Sechil dan Ramon.


“Rayan...”


Panggilan Alana membuat Rayan mengalihkan perhatian-nya dari laptop yang berada dipangkuan-nya pada Alana yang baru saja naik kekasur mereka.


“Ya..” Saut Rayan menatap bingung pada Alana yang tampak sangat tidak semangat malam ini.


Alana berdecak pelan. Tangan-nya meraih laptop milik Rayan meletakan-nya sedikit jauh dari Rayan.


“Kenapa?” Tanya Rayan semakin merasa penasaran.


“Aku pengin makan diluar.” Jawab Alana menatap Rayan dengan wajah sendunya.


Rayan mengeryit. Tidak biasanya Alana menginginkan makan malam diluar. Padahal biasanya jika Rayan mengajak pun Alana menolak karna malas keluar jika hari sudah mulai gelap.


“Aku tiba tiba pengen makan ramen..” Lanjut Alana.


Sesaat Rayan terdiam sebelum akhirnya seulas senyum terukir dibibir tipisnya. Alana sedang ngidam.


“Memangnya harus sekarang?” Tanya Rayan memancing reaksi Alana.


“Memangnya kamu keberatan? Kamu tidak mau temenin aku keluar makan ramen?”


Rayan terkejut. Nada bicara Alana langsung naik pertanda wanita itu mulai emosi.


“Eemm.. Bukan, bukan begitu Alana. Aku hanya bertanya saja.”


Alana melipat kedua tanganya dibawah dada. Pertanyaan Rayan membuat emosinya hampir saja memuncak.


“Eemm.. Aku kekamar mandi dulu sebentar, abis itu baru kita keluar.” Senyum Rayan kemudian turun dari ranjang dan langsung buru buru melangkah menuju kamar mandi. Rayan tidak mau membuat Alana marah karna menunggunya terlalu lama.


Alana menganggukan kepala dengan senyuman manis yang terukir dibibirnya. Senang sekali rasanya karna Rayan mau menuruti kemauan-nya.


Setelah selesai dari kamar mandi, Rayan segera menggandeng Alana keluar dari kamarnya. Senyuman manis terus terukir dibibir Rayan mengingat istrinya yang sedang ngidam dan ingin segera kemauan-nya dituruti. Rayan tiba tiba teringat pada kejadian beberapa bulan lalu dimana dirinya hampir saja mati ditengah badai hanya karna seekor ikan yang diinginkan Alana. Saat itu Alana belum hamil dan mereka masih bulan madu dipulau. Itu adalah pengalaman hebat yang pernah Rayan lalui dimana dirinya berjuang bertaruh nyawa untuk memenuhi keinginan wanita yang dicintainya.

__ADS_1


“Kakak..”


Ketika pintu lift terbuka, mereka langsung berhadapan dengan Sechil yang saat itu hendak naik kelantai 2 rumah mewah itu. Sechil terlihat sangat kucel dengan dress rumahan serta wajah yang sedikit kusam. Rambut pirangnya pun tidak tertata rapi seperti biasanya.


“Kalian berdua mau kemana?” Tanyanya menatap bergantian pada Rayan dan Alana.


“Kita mau makan ramen. Kamu mau ikut?” Jawab Alana tersenyum begitu sumringah sambil menawarkan ikut pada Sechil. Wanita itu terlihat sekali sangat bahagia karna Rayan mau menuruti kemauan-nya.


“Alana.. Sechil sedang tidak boleh keluar. Sebentar lagi dia akan menikah dengan Ramon.” Ujar Rayan mengingatkan Alana yang mungkin saja lupa bahwa Sechil memang sedang tidak diperbolehkan keluar dari rumah.


“Ah ya tuhan.. Aku lupa. Maaf.. Tapi nanti pulangnya pasti aku bawakan untuk kamu. Kamu suka pedas?”


Sechil tersenyum. Memiliki Rayan dan Alana sebagai kakaknya rasanya seperti memiliki kedua orang tua yang lengkap. Rayan dan Alana begitu perhatian dan sangat menyayanginya.


“Tidak perlu kak.. Aku baru saja selesai makan burger.” Geleng Sechil menolak dengan lembut.


Alana mengangguk pelan.


“Baiklah kalau begitu, kami pergi dulu. Kamu minta ditemani Fina ya..” Senyum Alana tulus.


“Ya.. Kalian berdua hati hati..”


Alana menarik lengan Rayan keluar dari lift dengan sangat antusias. Bayangan semangkuk ramen super pedas sudah sangat menggodanya membuat Alana merasa tidak ingin sedetikpun menunda waktu untuk menikmati makanan jepang itu.


“Pelan pelan Alana..” Titah Rayan saat mereka menuruni beberapa anak tangga didepan rumah.


“Aku sudah tidak sabar Rayan. Ramen itu seperti sedang memanggil manggil namaku meminta untuk segera disantap.”


Rayan menggelengkan pelan kepalanya. Imajinasi ibu hamil memang sangat keterlaluan.


Sebelum pergi, Rayan meminta pada Roky dan Robin untuk menjaga Sechil dengan baik. Bukan hanya Roky dan Robin saja, tapi juga Fina.


Rayan mengajak Alana ke restoran khas jepang yang tidak jauh dari kompleks perumahan-nya. Disana Alana langsung memesan berbagai menu makanan jepang termasuk ramen yang memang sedang sangat Alana inginkan.


Rayan menelan ludahnya melihat berbagai menu makanan didepan-nya. Rayan tidak yakin Alana bisa menghabiskan semua makanan didepan-nya.

__ADS_1


“Kamu nggak makan?” Tanya Alana dengan mulut penuh makanan pada Rayan.


Rayan tersenyum kemudian menggelengkan kepalanya. Porsi makan Alana kali ini benar benar seperti orang kesurupan. Alana sudah menghabiskan semangkuk ramen, seporsi susi dan sekarang sedang menyantap hidangan lain-nya. Membayangkan bagaimana rasa penuhnya perut Alana saja Rayan sudah mulas sendiri.


“Aku sudah kenyang.” Jawab Rayan.


Alana menganggukan kepalanya kemudian kembali menyantap makanan didepan-nya. Nafsu makan-nya benar benar sedang diluar nalar sekarang. Menghabiskan 2 mangkuk ramen, 1 porsi susi belum juga membuatnya merasa kenyang.


“Alana..”


Alana berhenti menyantap makanan-nya ketika mendengar suara yang begitu sangat familiar ditelinganya. Alana perlahan mengangkat kepalanya dan mendapati Dion yang sudah berdiri tidak jauh dari mejanya dan Rayan sekarang.


Alana menelan sisa makanan yang berada dalam mulutnya. Wanita itu mengeryit melihat penampilan berantakan Dion. Kumis dan jenggot yang tidak dipotong bahkan terdapat jambang di pipinya. Benar benar bukan penampilan seorang Dion yang mengutamakan kerapian demi ketampanan-nya.


“Tidak melihatmu beberapa bulan terakhir ini membuatku merasa mati Alana..” Katanya pelan.


Rayan berdecak. Bisa bisanya Dion berkata begitu manis pada Alana didepan-nya. Benar benar pria tidak tau aturan.


“Aku merindukanmu..” Lanjut Dion lagi.


Rayan mengepalkan kedua tangan-nya. Dion sama sekali tidak menganggapnya ada.


Alana kemudian melepaskan sumpit yang dipegangnya. Ketika Dion mendekat tiba tiba Alana merasa mual karna aroma parfum yang menguar dari tubuh Dion. Alana menutup mulutnya membuat Rayan langsung panik.


“Alana, kamu kenapa?” Tanya Rayan merangkul kedua bahu Alana.


“Aku mual banget. Tolong jangan mendekat.” Ujar Alana mengangkat tangan-nya menyuruh agar Dion berhenti melangkahkan kakinya mendekat kearahnya.


Rayan yang memang sudah memendam amarah pada Dion sejak kemunculan pria itu langsung bersikap tegas.


“Tolong anda berhenti atau saya tidak akan segan melempar anda keluar dari sini.” Katanya begitu lantang bahkan sampai para pengunjung direstoran itu menatap kearahnya, Alana, juga Dion.


Dion menghentikan langkahnya. Melihat Alana yang muntah muntah dan lemas dalam pelukan Rayan membuat Dion ikut merasa khawatir. Dion kemudian mencium aroma tubuhnya sendiri. Aroma parfumnya sama sekali tidak menyengat. Parfum yang Dion gunakan bahkan adalah parfum yang dulu sangat disukai Alana.


“Alana aku..”

__ADS_1


“Berhenti disitu atau saya bunuh anda !!” Bentak Rayan dengan dada kembang kempis menatap Dion tajam. Rayan merasa khawatir juga takut. Alana memuntahkan semua makanan yang sudah dimakan-nya. Dan itu karna kehadiran Dion.


Tidak mau terjadi sesuatu yang buruk pada istri dan calon anaknya, Rayan pun segera membopong tubuh Alana dan membawanya berlalu dari restoran itu menuju mobilnya. Rayan bermaksud membawa Alana kerumah sakit.


__ADS_2