Aku Bukan Pengganti

Aku Bukan Pengganti
Episode 56


__ADS_3

Ketika hendak menaiki anak tangga Rayan menghentikan langkahnya. Alana yang melihat itu mengeryit bingung. Alana tau meninggalkan Caterine yang sedang marah didepan rumah memang perbuatan yang tidak baik. Tapi terus berada disana juga hanya akan membuat masalah semakin panjang.


“Rayan, aku nggak mau menjadi menantu yang tidak tau sopan santun sebenarnya. Lebih baik kita kekamar sekarang.”


Rayan tersenyum tipis.


“Tamparan mommy sangat keras. Ini sakit.”


Alana menoleh. Tanganya terulur menyentuh pipi Rayan yang memang sedikit memerah. Dari suara yang terdengar saat tangan Caterine mendarat di pipi Rayan saja Alana sudah tau bahwa itu sangat keras dan mungkin menimbulkan rasa panas dan nyeri yang hebat.


“Ayo kita kekamar. Aku bantu kompres.”


Rayan menggelengkan kepala dengan ekspresi yang dibuat buat.


“Kenapa?” Alana mulai jengah.


“Aku mau kekamar tapi nggak mau menaiki tangga. Kedua kakiku rasanya sedikit lemas.”


Alana melongo. Wanita itu tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Rayan mengeluhkan sedikit lemas pada kakinya.


“Rayan.. Aku tidak mungkin menggendong kamu kan?” Tanya Alana menatap Rayan ngenes.


Rayan tertawa mendengar itu. Gemas melihat ekspresi Alana, Rayan pun meraih tubuh langsing Alana dan menggendongnya ala bridal style.


“Rayan kamu..”


“Aku punya kejutan buat kamu..” Sela Rayan pelan.


Alana mengangkat sebelah alisnya. Rayan mengatakan kedua kakinya lemas tapi masih kuat menggendongnya.


“Tapi kaki kamu katanya lemas tadi..”


“Sssttt...” Rayan menyela ucapan Alana.


Rayan memutar tubuhnya kemudian melangkah pelan kearah lift yang sepertinya memang tidak disadari Alana keberadaanya. Lift tersebut memang dibangun tidak jauh dari tangga.


Ketika sampai tepat didepan pintu lift, Rayan segera memencet tombol disamping pintu lift tersebut dan otomatis pintu lift itu terbuka.


Melihat itu Alana terkejut. Kedua matanya sedikit melebar.


“Rayan ini..”


“Sekarang sudah nggak khawatir lagi capek naik turun tangga kalau ada Rayan junior diperut kamu.” Bisik Rayan pelan.


Alana menatap Rayan kemudian tersenyum. Rayan benar benar membangun lift dalam rumah untuknya.


“Aku tidak benar benar serius waktu itu Rayan. Kakiku kuat untuk naik turun tangga.” Alana merasa terharu lagi sekarang karna Rayan.


“Kita naik sekarang yah..” Rayan tidak ingin mendengar apapun yang menjurus penolakan halus istrinya. Pria itu masuk kedalam lift itu tanpa menurunkan Alana dari gendonganya. Rayan memencet tombol ber-angka 3 yang artinya mereka berdua akan langsung naik kelantai 3 dimana kamar mereka berada.

__ADS_1


Caterine yang diam diam melihat itu merasa semakin emosi. Alana berhasil mengalihkan dunia Rayan. Rayan bahkan begitu nurut dan memihak padanya.


“Awas kamu Alana. Akan aku buat hari hari kamu tidak nyaman mulai detik ini.” Gumam Caterine dengan kedua tangan mengepal.


Sementara Rayan dan Alana, mereka tampak santai dan tidak terlalu memikirkan sikap Caterine tadi. Mereka berdua masuk kedalam kamar untuk beristirahat dan tentunya menghindari pertengkaran dengan Caterine.


Rayan menurunkan Alana diatas Ranjang kemudian mendudukan dirinya ditepi ranjang. Pria itu menghela napas kemudian menyentuh pipinya yang masih terasa nyeri karena tamparan keras tangan Caterine, mommy-nya.


“Aku ambil es dulu.” Alana hendak turun dari ranjang namun dengan cepat Rayan menahan dengan mencekal lenganya.


“Ada baiknya kita menghindar dulu dari mommy Alana.” Katanya.


Alana menoleh kemudian tersenyum. Dengan lembut Alana melepaskan tangan besar Rayan yang mencekal lengan-nya.


“Kamu percayakan sama aku?” Tanya Alana membuat Rayan diam tidak tau harus menjawab apa.


Rayan percaya Alana bisa menghadapi mommy-nya. Tapi Rayan tidak mau jika Alana terlalu banyak mendapat hinaan dan kata yang tidak pantas dari mommy-nya.


“Aku bisa menghadapinya Rayan.” Lanjut Alana menggenggam tangan besar Rayan dengan kedua tangan-nya.


Rayan memejamkan kedua matanya sesaat kemudian membukanya kembali. Alana terus saja tersenyum menatapnya.


“Dengarkan aku Alana, jangan turun dulu. Mommy masih sangat marah.” Nada bicara Rayan sedikit memerintah membuat senyuman dibibir Alana perlahan pudar.


“Rayan tapi pipi kamu..”


Alana tertawa mendengar itu. Rayan selalu saja punya alasan hanya untuk meminta sebuah ciuman darinya.


“Apa kamu yakin tidak perlu dikompres?” Tanya Alana memastikan.


“Cium saja.” Jawab Rayan menyentuh bekas tamparan Caterine dengan jari telunjuknya.


Lagi, Alana tertawa. Alana segera menuruti kemauan Rayan dengan mencium bekas tamparan dipipi kanan Rayan yang memang masih terlihat memerah.


“Satu lagi Alana. Disini supaya sakitnya segera hilang.” Rayan menyentuh bibirnya dengan seringaian.


Melihat seringaian suaminya kedua mata Alana menyipit. Rayan kembali beralasan agar mendapat ciuman darinya. Kali ini pria itu bahkan menunjuk bibirnya sendiri. Alana yakin jika Alana menurutinya tidak hanya ciuman saja yang Rayan mau. Mereka pasti tidak akan hanya selesai dengan ciuman saja.


Alana menghela napas. Wanita itu bangun dari duduknya ditepi ranjang. Kedua tanganya dia lipat dibawah dada dengan posisi menghadap Rayan.


“Jangan banyak Alasan tuan, Aku capek mau mandi.” Katanya kemudian membalikan tubuhnya dan berlalu menuju kamar mandi meninggalkan Rayan yang malah tertawa. Rayan sendiri bingung kenapa rasanya sangat tidak bisa berjarak sedikit saja dengan Alana sekarang. Wanita itu membuat Rayan tidak bisa berpikir panjang jika sedang bersama.


“Sepertinya aku memang sedikit bodoh.” Gumam Rayan dalam senyumnya.


 


Saat makan malam tiba. Sechil dan Caterine sudah duduk disana menunggu Rayan yang belum juga turun setelah kepulanganya dari honeymoon siang tadi. Caterine bahkan yakin mereka berdua tidak makan siang tadi.


“Sepertinya kakak memang sudah dipengaruhi oleh wanita itu mom. Dia bahkan tidak menemuiku setelah aku pulang tadi.”

__ADS_1


Caterine berdecak.


“Mommy menamparnya tadi siang.”


Sechil mengangkat kedua alisnya dengan kedua mata melebar. Gadis berambut pirang itu tampak terkejut.


“Menampar Alana?” Tanya Sechil membuat Caterine mendelik sebal padanya.


“Mommy menampar kakak kamu, Rayan.” Jawab Caterine sedikit judes.


Sechil menutup mulutnya. Sechil tidak menyangka mommy-nya bahkan sampai menampar kakaknya.


“Kenapa harus kakak yang mommy tampar? Kenapa tidak dia saja?”


Caterine tidak menjawab. Wanita itu kalap saat melihat Alana keluar dari mobil tadi siang sehingga emosinya memuncak dan tanpa sengaja menampar putranya sendiri.


“Selamat malam mommy, Sechil..”


Caterine dan Sechil kompak menoleh ketika mendengar suara Alana. Mereka berdua menghela napas kemudian melengos begitu mendapati Alana dan Rayan yang sedang melangkah menghampiri mereka dimeja makan.


“Dasar murahan.” Umpat Sechil dengan wajah sebal.


Alana mengeryit. Alana mendengar umpatan itu karna dirinya dan Rayan sudah sampai didepan meja makan bahkan sedang menarik kursi untuk diduduki. Alana juga yakin Rayan pun mendengarnya.


“Siapa yang kamu maksud murahan Sechil?”


Rayan hanya diam saja. Bukan tidak mau membela istrinya, Rayan hanya ingin melihat seberapa berani Alana pada Sechil yang memang sudah sangat keterlaluan menyebutnya murahan.


Sechil melirik Alana penuh kebencian. Gadis itu kemudian menggebrak meja dan bangkit dari duduknya.


“Kenapa? Kamu tidak terima?” Tanyanya menantang.


Alana tersenyum kemudian mendorong kembali kursi yang hendak didudukinya. Alana melangkah mendekat pada Sechil dan langsung melayangkan tamparan kepipi adik iparnya itu.


Rayan yang melihat itu sangat terkejut begitu juga dengan Caterine.


“Jaga mulut kamu Sechil, aku ini kakak ipar kamu.” Marah Alana.


Sechil menyentuh pipinya yang ditampar Alana. Gadis itu tidak menyangka jika Alana berani menamparnya didepan Caterine dan Rayan.


“Apa apaan kamu !” Bentak Caterine tidak terima. Caterine langsung mendekat dan memeluk putri bungsunya yang terlihat sangat terkejut dengan apa yang Alana lakukan.


“Rayan apa kamu buta?! Lihat apa yang wanita murahan ini lakukan pada adik kamu!!”


Rayan memejamkan kedua matanya. Sechil mengkin memang harus diberi pelajaran. Menyebut Alana ****** itu adalah sebuah hinaan fatal.


“Alana, kita makan diluar saja.”


Rayan mendekat pada Alana meraih tanganya dan menuntunya berlalu dari meja makan meninggalkan Caterine yang terus memeluk Sechil.

__ADS_1


__ADS_2