
Alana tidak bisa berkutik karna ditatap dengan sangat intens oleh Rayan. Alana benar benar sangat menyesal mengatakan akan memarahi Rayan pada bibi tadi.
“Ayo marah marah.”
Alana meringis. Bagaimana mungkin dirinya bisa marah jika Rayan saja sedang tidak melakukan kesalahan. Rayan tidak sedang memaksanya, Rayan juga sedang tidak mengabaikanya.
“Aku tadi hanya bercanda Rayan, jangan terlalu serius.” Katanya mencoba berkilah.
Rayan tersenyum sinis. Istrinya sudah pandai berkilah sekarang.
“Apa karna aku terlalu baik dan terlalu membebaskanmu makanya kamu bisa membicarakanku dibelakang seenaknya hem?”
Alana menggeleng cepat. Alarm tanda kebebasanya akan kembali direnggut Rayan mulai berbunyi.
“Mungkin juga aku harus membuat peraturan baru atau mengurungmu dikastil yang tinggi.”
“No ! Aku bukan rapunzel.” Alana menolak dengan keras. Rayan pasti tdak main main dengan ucapanya.
Rayan menghela napas. Alana sudah berani membicarakanya dibelakang. Alana bahkan mengatakan akan membalas marah padanya karena Rayan sering memarahi para pekerjanya yang dulu juga ibunya menjadi salah satu yang terkena amarah Rayan.
“Tentu saja kamu bukan rapunzel. Rapunzel itu cantik dan anggun. Tidak jelek dan kumal seperti kamu.”
“Apa?” Alana mendelik tidak percaya, Rayan menghina fisiknya.
“Kamu menghinaku Rayan?” Tanya Alana mulai kesal.
Rayan menatap Alana dengan santai. Kedua tanganya dia lipat didepan dada menunggu amarah istrinya memuncak. Saat ini membuat Alana marah adalah hiburan untuknya.
“Asal kamu tau Rayan, aku dan Sakura memiliki rupa yang sama. Menghina fisikku berarti juga menghina Sakura.” Alana bangkit dari duduknya ditepi ranjang berkacak pinggang menantang Rayan yang berdiri bersender dilemari baju mereka.
“Bagiku sekarang kalian berbeda. Kamu ya kamu. Dan Sakura ya Sakura.”
Bibir Alana mengerucut. Rayan begitu santai menanggapi ucapanya padahal Alana menyinggung tentang Sakura.
“Kamu...”
Suara deringan hp Rayan membuat Alana urung berbicara. Wanita itu berdecak sebal saat Rayan mengangkat tanganya menyuruhnya untuk berhenti bersuara.
“Ya Luk..” Rayan mengangkat telpon yang ternyata dari Luky. Pria itu melirik sekilas pada Alana dan mengedipkan sebelah matanya meledek.
“Bagus, tahan mereka.” Katanya dengan santai.
Alana yang merasa penasaran dengan obrolan Rayan dan Luky lewat telpon langsung mendekat. Alana berdiri disamping Rayan. Kedua kakinya berjinjit ingin ikut mendengarkan apa yang Luky sedang bicarakan pada Rayan.
Rayan yang melihat itu berdecak. Pria itu kemudian menghindar dengan melangkah menjauh dari Alana yang terus saja mengikutinya.
__ADS_1
“Ya sudah, malam nanti saya kesana.” Rayan menutup sambungan telponya kemudian menatap kesal pada Alana yang terus saja menguntitnya.
“Apa apaan kamu Alana !” Gertaknya.
“Kenapa marah? Aku hanya ingin tau apa yang kamu dan Luky bicarakan. Aku kan istri kamu.” Jawab Alana membela diri.
Rayan memejamkan sesaat kedua matanya. Alana selalu saja menguras kesabaranya yang memang terbatas.
“Kamu saja bisa dan boleh tau setiap yang aku lakukan, kenapa aku tidak boleh?”
Rayan diam. Rayan tau setiap apa yang dia ucapkan Alana pasti punya jawabanya.
Melihat Rayan yang hanya diam dan terus menatapnya, Alana pun mulai bingung. Rayan sepertinya benar benar marah kali ini.
“Eemm.. Sepertinya ada sesuatu yang aku lupa. Sebentar.” Kalau sudah begitu Alana lebih baik menghindar.
Saat Alana berbalik dan hendak berlalu dari hadapan Rayan, Rayan menahanya dengan memeluk erat pinggangnya. Alana menggigit bibir bawahnya dengan kedua mata terpejam. Habis sudah dirinya. Rayan pasti sedang mengumpulkan emosinya yang sudah siap membludak.
“Rayan aku..”
“Apa kamu masih mens?” Tanya Rayan lirih. Rayan menumpukan dagunya dibahu terbuka Alana.
Alana menelan ludahnya. Mens-nya sudah selesai tadi pagi.
“Masih ingin cepat hamilkan?” Rayan kembali bertanya membuat detak jantung Alana langsung bekerja lebih cepat dari biasanya. Mendengar suara bisikan Rayan membuat Alana mengingat setiap sentuhan penuh kelembutan suaminya itu.
“Lalu?” Rayan mengusap lembut perut rata Alana kemudian memutar tubuh ramping Alana agar menghadapnya.
“Kamu tidak akan nyaman jika melakukanya saat aku sedang marah.”
Rayan tersenyum. Tingkah istrinya gampang sekali berubah ubah. Wanita itu juga punya seribu alasan juga seribu jurus untuk melawan Rayan yang pada kenyataanya akan selalu menang darinya.
“Jangan sering marah nanti cepat keriput.” Senyum Rayan membelai lembut pipi Alana.
Alana mengeryit.
“Kamu juga suka marah marah. Sama aku, sama pelayan. Mungkin juga sama Luky.”
Rayan tertawa pelan. Dengan sangat mesra Rayan mendekap lembut tubuh ramping Alana. Rayan juga beberapa kali mencium puncak kepala Alana yang mulai bersender nyaman di dada bidang Rayan.
“Aku akan tetap ajak kamu pergi honeymoon..” Rayan memberitahu.
“Kamu memaksa lagi..” Alana hendak mengangkat kepalanya namun ditekan oleh Rayan agar tetap bersender didada bidangnya.
“Naik kapal tidak akan membuat kamu mabuk kan?” Tanyanya.
__ADS_1
Alana terdiam sesaat. Perlahan seulas senyum terukir dibibirnya.
“Asal tidak dengan kendaraan terbang aku akan baik baik saja.” Jawabnya.
Rayan tersenyum mendengarnya. Mencintai dan menjaga Alana dengan tulus sekarang akan menjadi misi utamanya. Alana adalah tanggung jawab mutlaknya. Apapun yang terjadi kedepanya Rayan akan tetap berusaha sekuat tenaga untuk terus membuat wanita itu nyaman.
“Sakura, aku rasa aku sangat mencintainya sekarang.” Rayan membatin dengan kedua mata terpejam. Baginya Alana bukan lagi pengganti Sakura sekarang. Alana adalah wanita yang digariskan oleh takdir tuhan untuk selalu ada disampingnya.
“Kita istirahat siang.”
Alana mengangguk. Untuk sekarang menuruti apa yang Rayan inginkan adalah yang terbaik. Toh Rayan sudah tidak marah lagi.
Rayan mengangkat tubuh Alana dan membawanya melangkah menuju ranjang mereka. Dengan sangat lembut Rayan membaringkan tubuh Alana. Pria itu melepaskan jas hitam yang dikenakanya mencampakkan-nya kelantai kemudian ikut berbaring miring menghadap pada Alana yang terus menatapnya.
“Boleh aku tau isi hati kamu sekarang?”
“Em?” Alana mengeryit bingung mendengar pertanyaan pelan Rayan. Pria itu menatapnya sangat intens sekarang dengan posisi yang sangat dekat.
“Perasaan kamu pada mantan kamu sekarang, bagaimana?”
Alana diam sebentar. Rayan kembali mengungkit tentang masa lalu yang sudah menorehkan luka dihati Alana.
“Setelah ditusuk dari belakang, kamu pikir rasa apa lagi selain rasa benci yang aku punya buat dia?”
Rayan tersenyum simpul. Rayan tau Alana sedikit kesal karna pertanyaan-nya.
“Apa setitik rasa indah itu masih ada?”
“Kamu cemburu?”
Rayan mengangkat kedua alisnya menatap Alana. Tatapanya turun pada dada Alana. Perlahan tanganya meraih tali kecil yang berada tepat dibagian depan dada Alana dan menariknya perlahan.
“Menurut kamu?” Tanya balik Rayan pelan.
“Cemburu itu adalah dinding antara cinta dan benci. Jadi sebenarnya kamu mencintaiku atau membenciku?”
Rayan kembali memusatkan perhatianya pada wajah cantik Alana. Wanitanya entah kenapa terlalu pandai dalam berbicara.
“Kamu istriku, wajar bukan kalau aku cemburu?”
“Berarti kamu sudah mencintaiku?”
Cup
Satu kecupan singkat Rayan daratkan dibibir Alana membuat Alana langsung bungkam.
__ADS_1
“Lebih dari itu.”