
Setelah selesai makan malam, Rayan dan Alana mempersilahkan untuk nelayan itu istirahat. Mereka dengan sangat ramah menunjukkan kamar yang akan ditempati nelayan itu. Bukan dikamar pelayan, melainkan dikamar tamu yang memang ada beberapa divilla itu.
Setelah menunjukan kamar yang ditempati pada pelayan itu, Rayan mengajak Alana untuk beristirahat. Rayan merasa sedikit pusing sebenarnya, tapi Rayan tidak ingin mengeluh sekarang. Rayan ingin Alana tau bahwa dirinya bisa memberikan apapun yang Alana inginkan.
“Bagaimana rasa ikan-nya?”
Alana yang sedang memainkan jarinya didada bidang Rayan perlahan mendongakkan kepalanya. Mereka berdua sudah berbaring miring saling menghadap diatas ranjang dikamar mereka. Tidak ada yang istimewa dari rasa ikan bakar itu sebenarnya. Tapi melihat ikan itu Alana merasa sangat terharu. Rayan rela terjebak dibawah guyuran hujan lebat juga ombak yang besar demi membawakan ikan itu untuknya.
“Kenapa kamu tidak lekas kembali saat langit mulai gelap Rayan?”
Rayan mengeryit mendengar pertanyaan itu. Alana menatapnya tanpa senyuman yang Rayan harapkan.
“Kamu tau Rayan, apa yang kamu lakukan itu sangat berbahaya. Kamu membuatku takut.” Kedua mata Alana mulai berkaca kaca. Membayangkan Rayan tidak kembali padanya membuat Alana kembali dihantui rasa takut.
Melihat itu Rayan tersenyum. Satu tanganya yang bebas kemudian membelai lembut pipi Chuby Alana.
“Apa setakut itu hem?” Tanya Rayan lembut.
Air mata Alana menetes melewati sudut matanya. Alana meraih tangan besar Rayan, menggenggamnya erat kemudian menciumnya.
“Aku nggak mau kehilangan kamu Rayan.” Ungkapnya.
Rayan sangat bahagia mendengar itu. Alana sudah benar benar mencintainya sekarang. Alana menangis untuknya. Alana takut kehilangan-nya.
“Jangan menangis.. Aku janji akan selalu baik baik saja untuk kamu Alana.”
Rayan membalas genggaman tangan Alana. Tatapanya tepat mengenai kedua mata Alana yang terus saja meneteskan air mata tanda rasa takut akan kehilangan sosok Rayan.
“Aku mencintai kamu, sangat mencintai kamu.”
Alana tersenyum dalam tangisnya kemudian ber-ingsut masuk kedalam pelukan hangat Rayan. Alana menyenderkan kepalanya dengan nyaman di dada bidang Rayan yang langsung melingkarkan kedua tanganya di tubuh langsing Alana.
Rayan juga mengecup berkali kali puncak kepala Alana. Perasaanya terasa sangat dalam pada wanita yang dengan paksa dia nikahi itu. Wanita yang diawal melihatnya Rayan anggap sebagai Sakura, mendiang kekasihnya dulu.
“Alana, tentang Rayan junior apa kamu masih sangat menginginkan-nya?”
Alana langsung melepaskan diri dari pelukan Rayan. Kepalanya mendongak menatap Rayan yang juga sedang menatapnya.
“Apa kamu pikir aku berubah pikiran sekarang? Aku tentu saja ingin secepatnya menjadi ibu..”
__ADS_1
Rayan tertawa mendengar itu. Pria itu kemudian menggulingkan tubuhnya membuat tubuh Alana berada dibawahnya.
“Kalau begitu kita harus rajin melakukan-nya.” Bisik Rayan kemudian langsung meraih bibir Alana.
Dan malam ini mereka berdua kembali melakukanya.
-------
Paginya Alana kembali melakukan tugasnya sebagai seorang istri untuk Rayan yaitu memasak menyiapkan sarapan pagi untuk Rayan.
“Bagaimana tidurnya pak?” Tanya Rayan pada pak Slamet. Saat ini mereka bertiga sedang menyantap sarapan pagi dengan menu nasi goreng dan telur dadar yang dibuat oleh Alana.
“Saya tidur sangat nyenyak tuan. Tempat yang anda sediakan sangat nyaman.” Kata pak Slamet menjawab.
Alana mengangguk dengan senyuman dibibirnya. Pak Slamet sudah sangat berjasa pada Rayan.
“Maaf tuan sepertinya saya harus pulang sekarang. Istri dan anak anak saya pasti sudah menunggu kepulangan saya dengan sangat khawatir.”
“Ada baiknya pak Slamet selesaikan dulu sarapan-nya.” Alana bersuara menyarankan membuat pak Slamet menatapnya sebentar.
“Ya nyonya, terimakasih. Masakan nyonya sangat lezat.”
Alana mengangguk lagi menerima pujian dari pak Slamet.
“Sekali lagi saya sangat berterimakasih pak. Pak slamet akan diantar pulang dengan asisten saya.”
“Saya yang harusnya berterimakasih tuan. Saya mendapat tumpangan untuk tidur dan bisa mencicipi makanan lezat. Itu benar benar sebuah kehormatan untuk seorang nelayan seperti saya.” Pak Slamet merendah.
Rayan dan Alana saling menatap kemudian tertawa. Bertemu dengan orang baik yang tidak pamrih membuat keduanya merasa senang.
“Pak slamet hati hati. Salam untuk istri dan anak anak pak Slamet.” Kata Alana.
“Iya nyonya. Tuan, nyonya kalau begitu saya permisi.”
“Silahkan.” Angguk Rayan.
Pak slamet kemudian menaiki kapal yang dibawa oleh Luky. Pria berkulit coklat itu duduk dengan nyaman bersama pengendali kapal.
“Tuan..” Luky mendekat pada Alana dan Rayan dan menyapa dengan hormat.
__ADS_1
“Luky, bagaimana mommy dan Sechil?” Tanya Rayan memasukan kedua tanganya kedalam saku celana pendek selutut hitam yang dikenakanya.
“Nyonya besar sering bolak balik keperusahaan tuan. Dia bahkan sempat memaki saya menganggap saya menyembunyikan keberadaan tuan.” Jawab Luky.
Rayan menghela napas pelan. Untuk saat ini memang menghindar adalah cara terbaik agar Alana tidak mendapat masalah. Apa lagi Sechil adiknya adalah gadis yang suka mengolok tanpa memandang siapa yang dia olok.
Alana yang berada disamping Rayan hanya diam saja. Alana tidak tau bagaimana sikap mommy dan adik iparnya. Tapi Alana bisa menebak mereka berdua pasti tidak menyukainya.
“Ya sudah kalau begitu. Pastikan mereka tidak tau tempat ini. Dan antarkan pak Slamet selamat sampai tujuan. Setibanya disana langsung belikan perahu baru untuknya. Kasih uang dan hadiahnya juga padanya.”
“Baik tuan. Saya permisi.”
Rayan menganggukan kepalanya. Setelah Luky dan kapalnya berlalu menjauh, Rayan meraih tangan Alana dan menggenggamnya dengan sangat erat.
“Alana..” Panggil Rayan dengan tatapan terus lurus kedepan.
“Hem?” Alana menoleh dan sedikit mendongak menatap wajah tampan Rayan dari samping. Pria itu benar benar sangat tinggi. Mungkin berkisar 190 cm.
“Mommy dan adikku, mereka bukan orang yang baik. Mereka bisa menghancurkan hati dan perasaan seseorang dengan mulutnya.”
Alana tersenyum tipis. Baginya sudah terbiasa mendapat penghinaan. Dulu saat masih berhubungan dengan Dion, Agatha juga sering menghinanya.
“Maka dari itu aku minta padamu jadilah wanita yang kuat dan tangguh. Jangan pernah menunjukan sisi lemah didepan mereka berdua.”
“Jika mereka mengatakan sesuatu yang buruk tentangku padamu kelak apa kamu akan percaya?”
Rayan menoleh menatap Alana yang terus menatapnya.
“Tergantung.” Jawabnya.
Alana mengangkat sebelah alisnya.
“Tergantung apa?”
Rayan menghela napas kemudian tersenyum.
“Yang aku tau kamu itu wanita yang keras kepala. Dan yang aku bayangkan adalah kamu bisa melawan keduanya untuk membela diri Alana. Jangan meragukan apapun jika memang kamu benar. Aku pasti akan mempercayaimu.”
Alana diam. Itu artinya Alana harus bisa membela dirinya sendiri. Alana tidak bisa mengandalkan statusnya sebagai istri Rayan untuk membuat dunia melihatnya.
__ADS_1
“Baik kalau begitu. Akan aku tunjukan padamu Rayan. Aku bukan wanita yang lemah.”
“Itu bagus.”