Aku Bukan Pengganti

Aku Bukan Pengganti
Episode 150


__ADS_3

Menjelang pagi Rayan baru sampai kembali dikediaman-nya. Rayan keluar dari mobilnya kemudian melangkah lebar menuju pintu utama rumahnya. Rayan merasakan kepalanya hampir pecah sekarang. Caterine terus saja berulah dimanapun dirinya berada. Caterine bahkan sampai melukai penghuni sel lain.


Rayan membuka pelan pintu kamarnya. Dalam cahaya remang remang Rayan bisa melihat dengan jelas Alana yang duduk ditengah ranjang dengan tatapan yang tertuju pada jendela kaca besar dimana lewat kaca besar tersebut Alana bisa melihat berbagai bintang yang bertaburan dilangit. Sepertinya Alana memang sengaja tidak menutup hordeng dikamarnya dan Rayan.


Rayan tau Alana pasti sedang menunggunya yang pergi begitu saja tanpa lebih dulu mengatakan apapun padanya.


Rayan masuk kedalam kamarnya kemudian menutup kembali pintunya dan melangkah pelan menghampiri Alana yang memang belum menyadari kehadiran Rayan.


Rayan tersenyum. Ada rasa menyesal didalam hatinya karna sempat mendiamkan Alana tadi. Rayan juga menyesal karna pergi tanpa pamit sehingga membuat Alana menunggunya sampai sekarang.


Rayan melepas sepatu hitam mengkilatnya kemudian naik keatas tempat tidur. Suara decitan ranjang akibat pergerakan Rayan membuat Alana tersadar dari lamunan-nya. Alana menoleh dan terkejut begitu mendapati Rayan sudah berada disampingnya.


“Rayan..” Lirih Alana.


“Kemari sayang..” Senyum Rayan menarik lembut Alana kedalam pelukan-nya. Alana menelan ludahnya. Kedua matanya terpejam merasakan hangatnya pelukan Rayan.


“Maaf aku pergi tanpa pamit tadi.”


“Memangnya kamu darimana? Kenapa lama sekali?” Tanya Alana dengan suara pelan.


Rayan memejamkan kedua matanya mencari ketenangan lewat aroma mawar yang menguar dari tubuh Alana.


“Apa ada sesuatu yang terjadi?” Tanya Alana lagi.


Rayan tersenyum. Rayan sendiri tidak tau sampai kapan Caterine akan terus berulah. Rayan juga tidak tau kapan Caterine akan benar benar berubah dan menyadari semua kesalahan-nya.


“Mommy mencoba melarikan diri dari penjara Alana. Mommy juga melukai teman satu selnya. Dan teman satu selnya terluka lumayan parah sehingga harus dibawa kerumah sakit.”

__ADS_1


Alana melepaskan diri dari pelukan Rayan. Alana pikir setelah Caterine dipenjara wanita itu akan berubah dan menyadari semua perbuatan-nya.


“Aku tidak tau sampai kapan mommy akan seperti ini Alana..”


Alana menelan ludahnya menatap sedih pada Rayan yang selalu dibuat pusing dengan tingkah ibunya sendiri.


“Rayan.. Aku juga tidak tau harus bagaimana. Tapi aku tau kamu bisa menghadapi semua ini dengan hati sabar..” Ujar Alana yang merasa sudah tidak tau harus berkata apa lagi untuk menguatkan suaminya.


Rayan tertawa. Pria tampan yang masih memakai tuxedo abu abunya itu menarik kembali Alana kedalam dekapan hangatnya.


“Tentu saja. Asal kamu dan anak kita selalu disampingku rintangan apapun dan seberat apapun itu aku pasti bisa menghadapinya. Kalian sumber kekuatanku.” Ujar Rayan mencium puncak kepala Alana.


Alana tersenyum mendengarnya. Alana tidak punya alasan untuk meninggalkan Rayan. Meskipun sampai sekarang memang Caterine tidak merestui pernikahan mereka tapi Alana tidak pernah mempermasalahkan-nya. Bagi Alana asal Rayan mencintai dan mampu mengayominya itu sudah lebih dari cukup. Itu sudah menjadi alasan kuat untuk Alana selalu bertahan disamping Rayan dimanapun dan sampai kapanpun.


“Sudah hampir pagi. Lebih baik kita tidur sekarang sayang..”


Rayan melupakan kembali masalah tentang Caterine yang menguras kesabaran juga otak cerdasnya. Rayan tau semuanya akan bisa dia lalui. Tuhan tidak pernah tidur dan selalu akan memberinya jalan keluar yang terbaik untuk menghadapi semuanya. Baginya yang terpenting adalah berusaha dan mengusahakan segala yang terbaik untuk semua orang yang disayangi dan dicintainya.


------


“Tadi aku ketemu dan berkenalan dengan Cleo..” Sechil merasa tidak bisa memendam semuanya sendiri dan memilih untuk menceritakan semua yang dirasakan-nya pada Ramon.


“Cleo?” Tanya Ramon yang kemudian bangkit dari berbaringnya diatas tempat tidur berukuran sedang milik mereka.


Sechil tersenyum kemudian ikut bangkit dan terduduk disamping Ramon.


”Cleo itu tunangan Bastian. Dia sangat cantik dan sepertinya dia juga orang yang baik.”

__ADS_1


“Apa dia mengatakan sesuatu yang membuat kamu merasa terganggu?” Tanya Ramon yang mulai mengerti dengan kediaman Sechil sejak pulang dari pesta pertunangan Bastian dan Cleo.


Sechil menoleh menatap Ramon yang terlihat sangat mengkhawatirkan-nya. Sechil menyenderkan kepalanya dibahu nyaman Ramon kemudian menganggukkan kepalanya.


“Ya. Dia mengatakan sesuatu yang menyangkut anak ini..” Jawab Sechil sambil mengusap lembut perutnya sendiri.


“Apa yang dia katakan Sechil?” Tanya Ramon lagi tidak sabaran.


Sechil memejamkan kedua matanya sesaat menikmati rasa nyaman-nya bersender dibahu kuat Ramon. Sechil sadar semuanya tidak akan terjadi tanpa sebab. Kehamilan-nya adalah jalan-nya menuju kebaikan. Dan Sechil pikir tidak ada yang perlu disesali atas kehamilan-nya. Apa yang dilakukan-nya dengan Bastian adalah sebuah kecelakaan. Sechil dijebak oleh seseorang yang akhirnya diselamatkan oleh Bastian namun berakhir pula dengan sentuhan oleh Bastian yang membuatnya hamil sekarang.


“Dia mengatakan tidak keberatan jika Bastian bertanggung jawab atas aku dan anak ini. Mungkin maksudnya selama aku hamil. Tapi untuk anak ini akan berlaku seterusnya. Cleo mengatakan dia sangat keberatan jika suatu saat anak ini akan mengikuti Bastian.” Cerita Sechil.


Ramon meraih bahu Sechil dan menegakkan kembali posisi duduk Sechil.


“Kamu tidak ada pikiran untuk memberikan anak ini sama Bastian kan?” Tanya Ramon dengan kedua mata menyipit menatap Sechil yang malah tertawa mendengar pertanyaan tersebut.


“Kamu apa paan sih? Masa iya aku kasih anak ini ke Bastian. Ya nggak mungkin bangetlah..”


Ramon menghela napas lega. Meski memang Ramon tidak punya apa apa tapi Ramon tidak akan mungkin membiarkan anak yang susah Sechil kandung diberikan begitu saja pada Bastian. Bukan menghalangi hak asuh Bastian pada anaknya sendiri, Ramon hanya takut jika anak itu tidak mendapatkan kasih sayang tulus dari Cleo nantinya.


“Apapun yang terjadi aku akan terus berusaha menjaga anak ini. Aku akan pastikan anak ini mendapat kasih sayang penuh dariku sendiri.” Tekad Sechil menunduk menatap perutnya yang dia usap dengan sangat lembut dan penuh kasih sayang.


Ramon menghela napas. Pria itu mengulurkan kedua tangan-nya meraih kedua pipi chuby Sechil dan menangkupnya mengusap dengan sangat lembut dan hati hati.


“Jangan pernah merasa semua ini adalah beban Sechil. Memiliki anak adalah sebuah anugerah besar dari tuhan. Kita harus bersyukur dengan menjaga dan merawatnya dengan baik. Banyak orang orang disana yang menginginkan kehadiran seorang anak dan tuhan belum mempercayainya. Kamu sangat beruntung karna tuhan mempercayai kamu untuk menjaga dan merawat anak kita.” Ujar Ramon menatap Sechil lembut.


Sechil tersenyum mendengarnya. Sechil menganggukan kepala kemudian berhambur memeluk Ramon yang langsung membalasnya.

__ADS_1


“Kita jaga dan rawat sama sama anak kita ya.. Jangan pernah khawatir akan apapun karna aku akan selalu ada untuk kalian.”


__ADS_2