
Dalam perjalanan menuju tempat janji temu Sechil dan Ramon suasana didalam mobil Rayan hening. Baik Rayan, Alana, juga Sechil mereka bertiga hanya diam dengan pemikiran mereka masing masing.
Sechil yang merasa grogi karna akan bertemu dengan Ramon. Sedang Rayan, pria itu masih merasa sangat emosi karna sikap Caterine.
“Kak, apa kakak nggak papa?” Tanya Sechil menatap Rayan dari kaca mobil.
Rayan tersenyum tipis. Hatinya masih sangat sakit sebenarnya, tapi Rayan tidak mungkin mengatakan-nya dengan blak blakan pada Sechil.
“Ya, l'm fine.” Jawab Rayan.
Alana yang mengerti dengan perasaan suaminya hanya bisa tersenyum saja. Rayan bisa dengan apik menutupi apa yang dirasakan-nya.
“Aku minta maaf kak..” Ujar Sechil pelan.
“Sudahlah, tidak perlu meminta maaf. Yang terpenting kamu sudah mau berubah. Kakak sudah sangat senang. Terimakasih sudah memberitahu kakak..” Balas Rayan.
Alana menghela napas. Menjadi seorang Rayan ternyata tidaklah mudah.
Deringan hp milik Alana membuat Rayan melirik kearah Alana. Alana tersenyum saat mendapati nama kontak Sari tertera di hp miliknya.
“Eemm.. Aku angkat telpon dulu..” Katanya menoleh pada Rayan sekilas.
Rayan mengangguk pelan sebagai jawaban. Mereka memang sudah lama tidak mengunjungi Sari. Dan mungkin Sari merasa sangat merindukan Alana yang memang sangat disayanginya. Begitu pikir Rayan.
“Halo bu...” Alana tersenyum merasa sangat bahagia begitu mendengar suara ibunya. Hal itu berhasil membuat Rayan merasa sangat iri pada istrinya sendiri. Alana sangat beruntung karna memiliki Sari sebagai ibunya yang sangat menyayangi Alana.
Tidak sampai 10 menit Alana menyudahi telpon-nya karna kebetulan mereka bertiga sudah sampai di cafe tempat Ramon sedang menunggu.
“Disini?” Tanya Alana.
Sechil yang berada dikursi belakang hanya tersenyum saja. Cafe itu adalah cafe yang biasa Ramon dan dirinya kunjungi saat masih pacaran. Meskipun hubungan mereka hanya terjalin selama satu minggu. Waktu yang memang sangat singkat karna kecerobohan Sechil sendiri.
“Ayo kita turun..” Ajak Rayan yang langsung mendapat anggukan kepala setuju dari Sechil dan Alana.
__ADS_1
Mereka bertiga masuk kedalam cafe dengan Sechil yang mendahului. Sedangkan Rayan dan Alana, mereka melangkah dibelakang Sechil dengan tangan saling bertaut.
Lambaian tangan Ramon membuat Sechil memusatkan perhatian-nya begitu juga dengan Rayan dan Alana. Mereka bertiga segera mendekat kearah meja Ramon yang berada disudut ruangan ramai itu.
“Maaf membuat kamu menunggu lama..” Kata Sechil merasa tidak enak hati.
“Nggak papa. Yang penting sekarang kalian sudah datang. Ayo duduk..”
Ramon bangkit dari duduknya kemudian menarik kursi untuk Sechil. Ramon juga meraih kedua bahu Sechil dan menuntun-nya untuk duduk dengan sangat lembut.
Alana dan Rayan yang melihat sikap lembut dan penuh perhatian Ramon pada Sechil saling menatap dan tersenyum. Mereka berdua yakin keputusan Sechil menerima Ramon sudah sangat tepat.
Setelah mempersilahkan Sechil untuk duduk, Ramon juga mempersilahkan Alana dan Rayan untuk duduk. Pria itu tampak sangat sumringah didepan ketiganya.
“Bagaimana perut kamu?” Tanya Ramon membuat Sechil diam. Sechil merasa sedikit malu karna pada dasarnya anak yang sekarang sedang dikandungnya bukanlah anak Ramon.
Alana yang mengerti dengan ekspresi Sechil melirik Rayan. Alana yakin Rayan juga melihat logat tidak biasa Sechil.
Tidak kunjung mendapat jawaban dari Sechil, Ramon tampak salah tingkah. Pria itu meringis merasa malu pada Rayan juga Alana.
Rayan dan Alana tersenyum lagi. Ramon bahkan bisa sangat perduli meski tau janin yang dikandung Sechil bukanlah benih yang dia tanam.
“Tidak apa Ramon. Terimakasih sudah mau menerima adik saya dengan segala kekurangan-nya.” Balas Rayan dengan senyuman yang terus terukir dibibirnya.
“Tuan, tidak ada manusia yang sempurna didunia ini..”
Sedang Sechil, dia menundukkan kepalanya. Sechil merasa sangat malu dengan apa yang sudah terjadi. Pergaulan-nya terlalu bebas sampai hamil saja Sechil tidak tau siapa pria yang menghamilinya.
Sentuhan tangan besar Ramon membuat Sechil tersentak. Sechil menatap tangan Ramon yang menggenggam tangan-nya seperti sedang meyakinkan-nya bahwa semuanya akan baik baik saja.
Ramon kemudian mengangkat tangan-nya memanggil pelayan di cafe itu. Ramon memesan minuman untuk Sechil, Rayan, dan Alana. Ramon bahkan dengan sangat perhatian menawarkan cemilan untuk Sechil.
“Jadi bagaimana Ramon?” Tanya Rayan yang sangat tidak sabar ingin tau apa yang ingin Ramon bicarakan padanya juga Alana.
__ADS_1
Ramon terdiam sesaat. Pria itu tampak memikirkan sesuatu yang mungkin ingin diutarakan-nya.
Ramon menghela napas kemudian melirik Sechil yang ternyata sedang menatapnya menunggu Ramon mengatakan sesuatu pada kakaknya.
“Begini tuan, saya jujur saja. Saya tidak punya apa apa untuk saya persembahkan pada Sechil nanti. Mungkin pernikahan kami juga tidak akan meriah seperti yang tuan duga. Tapi saya akan berusaha untuk membahagiakan Sechil tuan.”
Rayan tersenyum tipis. Ramon sepertinya sangat grogi sehingga tata bicaranya sangat amburadul dan sedikit tidak nyambung menurut Rayan.
“Saya mengerti. Saya paham. Lalu apa yang akan kamu lakukan setelah pernikahan kalian nanti?”
Ramon menoleh menatap Sechil. Genggaman tangan-nya semakin erat pada tangan Sechil. Ramon merasa sangat yakin dengan pertanyaan Rayan kali ini. Ramon yakin jawaban-nya tidak akan membuat Rayan berubah pikiran seperti Caterine yang melarangnya menikahi Sechil.
“Saya akan membawa Sechil kemanapun saya pergi tuan. Saya akan memastikan Sechil dan janin yang sedang dikandungnya aman bersama saya.”
Senyuman dibibir Rayan seketika sirna. Yang Rayan tau Ramon hanya warga biasa dikota tempatnya tinggal. Kedua orang tuanya adalah petani sayur. Hidupnya sangat sederhana. Sedang Ramon sendiri hidup dijakarta dengan menyewa kos kosan dan bekerja serabutan demi bisa membiayai sendiri kuliahnya. Rayan mulai merasa sedikit ragu. Sechil pasti tidak akan bisa menyesuaikan diri dengan segala kekurangan Ramon.
“Apa tidak sebaiknya kamu tinggal saja dirumah saya setelah menikah nanti?”
Ramon tertawa pelan.
“Tuan, bukankah tugas seorang suami adalah mengemban amanah yaitu seorang istri dan anak untuk dijaga dengan seluruh kekuatan yang si suami miliki? Saya juga ingin bisa seperti itu tuan. Tuan tidak perlu khawatir. Pekerjaan apapun akan saya lakoni demi bisa memenuhi seluruh kebutuhan Sechil dan calon anak kami nanti.”
Ucapan Ramon membuat Sechil merasa sangat haru. Ramon bahkan sudah menganggap janin yang Sechil kandung sebagai anaknya.
“Ramon tapi...”
Rayan tidak meneruskan apa yang ingin dikatakan-nya ketika tangan lembut Alana menyentuhnya. Rayan menoleh dan mendapati Alana yang sedang tersenyum menatapnya dengan anggukan pelan seolah menyuruh Rayan agar mengiyakan saja keniatan Ramon.
Rayan menghela napas pelan. Bagaimanapun khawatirnya Rayan pada Sechil, Rayan tetap harus bisa merelakan jika memang Ramon berniat memboyong Sechil setelah pernikahan mereka nanti.
“Baiklah kalau memang begitu. Asal kamu benar benar bisa menjaga adik saya dengan baik.”
Ramon tersenyum lebar mendengar persetujuan Rayan. Dengan cepat Ramon menganggukan kepalanya menyanggupi apa yang Rayan katakan.
__ADS_1
“Itu sudah pasti tuan. Saya akan menjaga Sechil dengan segenap jiwa dan raga saya.”