Aku Bukan Pengganti

Aku Bukan Pengganti
Episode 135


__ADS_3

Ramon baru saja menyelesaikan tugasnya saat tidak sengaja melihat Caterine yang berjalan dikoridor kampus. Tidak mau Caterine melihatnya Ramon langsung sembunyi. Dikampusnya tidak ada satupun yang tau bahwa Ramon sudah menikah dengan Sechil. Hal itu tentu saja Sechil yang meminta dan Ramon sudah berjanji untuk merahasiakan-nya.


“Mommy ngapain disini?” Lirih Ramon bertanya tanya sambil terus mengawasi Caterine yang melangkah dengan gaya angkuhnya. Wanita itu mengenakan kaca mata hitam dengan celana panjang yang dipadukan dengan kemeja dengan warna senada membuatnya terlihat sangat berkelas.


“Tidak mungkin kalau mommy kesini untuk mencariku..” Ramon kembali bergumam dengan berbagai pemikiran di otak cerdasnya.


Ramon terus memperhatikan gerak gerik Caterine yang menurutnya sedikit mencurigakan.


“Emm.. Numpang tanya, apa kamu kenal Luna?”


Ramon mengeryit bingung ketika mendengar Caterine menanyakan tentang Luna pada seorang mahasiswa yang tidak lain adalah teman sekelasnya. Ramon tau siapa Luna. Dia adalah salah satu teman dekat Sechil yang memang kemana mana hampir selalu bersama dulu.


Setelah mendapat jawaban juga petunjuk, Caterine segera menuju kelas dimana Luna berada.


Sedang Ramon yang masih sangat penasaran dengan tujuan Caterine terus membuntuti dengan pelan. Ramon tidak mau jika Caterine sampai tau dirinya sedang membuntuti.


Setelah sampai dikelas Luna, Caterine memanggil Luna dan mengajaknya ke taman. Wanita itu tidak langsung berbicara. Caterine terdiam dengan pandangan lurus kedepan.


“Tante ada apa mencari saya?” Luna yang tidak sabar menanyakan lebih dulu tujuan Caterine mencarinya.


Caterine tersenyum sinis. Dengan gaya elegan-nya Caterine melepas kaca mata hitam yang sedari tadi bertengger dihidung mancungnya. Caterine menoleh menatap Luna yang ada disampingnya dengan pandangan menilai nilai.


“Kamu teman sepermainan Sechil dulu kan?” Tanya Caterine.


Luna sesaat terdiam kemudian menganggukan kepala.


“Ya tante.” Jawabnya.


Caterine menghela napas. Wanita itu mencoba memikirkan apa yang harus dikatakan-nya agar Luna tidak curiga dengan pertanyaan-nya tentang kedatangan Sechil dan Rayan tadi.


“Tentang Sechil, sejak dia memutuskan untuk berhenti kuliah dia sepertinya sangat sedih.. Sechil sering merenung sendirian sambil mengusap perutnya yang mulai membuncit.”


Luna mengeryit. Luna merasa tidak percaya dengan apa yang Caterine katakan. Sechil bukan tipe orang yang suka meratap menurut Luna.


“Dia hamil, mungkin itu kesalahan terbesarnya yang membuatnya merasa malu dan enggan untuk meneruskan pendidikan-nya.”

__ADS_1


Luna hanya diam saja mendengarkan. Luna tidak mengerti sebenarnya kenapa tiba tiba Caterine seperti sedang mencurahkan isi hatinya padanya tentang Sechil. Padahal Luna sendiri baru saja bertemu kembali dengan Sechil. Dan menurut Luna Sechil tidak seperti yang Caterine bicarakan. Sechil terlihat baik baik saja bahkan terlihat semakin cantik dengan penampilan barunya yang jauh lebih sopan.


“Tadi tante lihat Sechil kemari. Tante sengaja membuntutinya dengan Rayan. Apa dia menemui kamu Luna?”


Luna mengerti sekarang. Caterine sedang mencoba mengorek informasi darinya.


“Ya tante, kami sempat bertemu tadi dan mengobrol sedikit dimobil kak Rayan. Sechil semakin cantik sekarang.” Senyum Luna menjawab.


Caterine mengeryit.


“Hanya mengobrol?” Tanya Caterine tidak percaya.


Luna menganggukan kepalanya. Luna merasa ada yang aneh dari Caterine sekarang dan Luna merasa tidak seharusnya mengatakan apa yang mereka bicarakan pada Caterine terutama tentang Bastian.


“Ya tante kami hanya mengobrol biasa saja. Meskipun sedikit merasa canggung karna ada kak Rayan. haha..” Jawab Luna lagi dengan tawa diakhirnya.


Caterine mengepalkan kedua tangan-nya diam diam. Caterine tidak percaya jika mereka berdua hanya mengobrol biasa saja apa lagi Sechil sampai nekat melawan rasa malunya masuk kearea gedung hanya untuk mencari Luna.


“Kalau tante boleh tau apa yang kalian obrolkan?”


“Laki laki tampan? siapa itu?”


Luna tertawa merasa lucu dengan sikap Caterine yang benar benar ingin mengetahui apa yang dibicarakan Sechil dengan Luna tadi.


“Apa tante mau saya ajak keliling kampus ini untuk berkenalan dengan semua laki laki tampan disini?”


Pertanyaan Luna membuat rahang Caterine mengeras. Luna benar benar bukan orang yang tepat untuk ditanya sesuatu.


“Ah tidak tidak. Tidak perlu. Kalau begitu tante pergi dulu.”


Caterine langsung bangkit dari duduknya di kursi panjang warna hitam ditaman samping kampus kemudian melangkah lebar meninggalkan Luna yang malah tertawa tawa mengingat ekspresi kesal Caterine padanya tadi.


Sedangkan Ramon yang diam diam terus mengintip dan mendengarkan apa yang Caterine tanyakan pada Luna ikut merasa penasaran. Ramon tidak melihat ada Sechil tadi. Tapi Caterine mengatakan Sechil datang bersama Rayan begitu juga dengan Luna.


“Kenapa Sechil tidak memberitahuku datang kesini?” Gumam Ramon bingung.

__ADS_1


Ramon menghela napas kemudian berlalu dari tempat persembunyian-nya. Ramon tidak mau sampai telat datang ketempat kerjanya yang pasti akan memotong gajinya akhir bulan nanti.


---------


Rayan mendudukkan dirinya dikursi kerjanya. Pria itu menghela napas dengan menyenderkan punggungnya. Ketika hendak meraih hp nya untuk menghubungi Alana, benda pipih itu sudah lebih dulu berdering dengan nama Robin yang tertera disana.


“Ada apa Robin?” Rayan langsung bertanya begitu mengangkat telpon dari Robin.


“Selamat siang tuan, maaf kalau saya mengganggu. Tapi tadi saya sempat mengikuti mobil tuan saat kekampus bersama nona Sechil. Dan dari belakang ternyata ada nyonya Caterine yang juga mengikuti tuan dan nona menggunakan taxi.” Ujar Robin memberitahu. Robin memang body guard yang sangat sigap dan mengerti apa yang harus dikerjakan tanpa harus diperintah.


Rayan berdecak pelan. Caterine sepertinya memang tidak bisa dibiarkan. Caterine selalu bertindak semaunya dengan segala keserakahan-nya tentang harta.


“Robin, beritahu Roky untuk datang kerumah saya malam ini juga. Dan untuk kamu awasi terus mommy dan sertakan bukti apapun yang mommy rencanakan.” Perintah Rayan yang mulai merasa tidak bisa lagi membiarkan Caterine.


“Baik tuan.” Jawab Robin tegas.


Rayan memutuskan sambungan telpon-nya kemudian segera menghubungi Ramon. Rayan merasa Ramon harus tau secepatnya rencananya dan Sechil agar tidak ada kesalah pahaman nantinya.


“Halo kak..”


“Kamu dimana Ramon?” Tanya Rayan tanpa basa basi.


“Saya ditempat kerja kak. Apa ada yang bisa saya bantu?” Jawab Ramon kemudian bertanya balik dengan nada sopan pada Rayan.


Rayan mengangkat tangan-nya menilik waktu.


“Kirimkan alamat kerjamu sekarang juga.”


Ramon terdiam sesaat diseberang telpon namun akhirnya mengiyakan dan Rayan segera mengakhiri telpon-nya.


Setelah mendapatkan alamat tempat kerja Ramon, Rayan segera mengajak Luky untuk menemui Ramon. Mereka memilih tempat yang mereka anggap pas sembari makan siang bersama.


“Terimakasih kak untuk makan siang nya.” Ramon tersenyum pada Rayan setelah menyelesaikan makan siangnya. Dalam hati juga pikiran-nya Ramon terus bertanya tanya dengan maksud Rayan sekarang.


“Ada yang mau saya bicarakan sama kamu Ramon. Ini tentang Sechil juga janin dalam kandungan-nya.” Ujar Rayan membuat Ramon mengangguk mengerti.

__ADS_1


Rayan menjelaskan niatnya untuk mencari siapa ayah kandung janin yang sedang dikandung oleh Sechil. Sedang Ramon, dia hanya mendengarkan saja dengan segala pemikiran-nya.


__ADS_2